
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...
Suasana jadi berubah ricuh, dua pria itu terus saja melontarkan ancaman pada kami. Kata mereka guru ngaji kami telah melakukan pelecehan seksual pada murid perempuan. Tuduhan yang sangat menyakitkan.
Salah satu anak angkat Bang Parlin itu sepertinya termakan emosi. Dia menghadang kedua pria tersebut.
"Tunjukkan buktinya sekarang, Pak, jangan asal tuduh," kata Anak Angkat Bang Parlin.
"Kita jumpa di kantor polisi, akan saya tunjukkan semua bukti, akan saya bawa saksi korban," kata pria itu.
"Apa tujuan Bapak ? kenapa harus datang ke acara ini dengan tuduhan tanpa bukti," Bang Parlin ikut bicara.
"Hei, kau Parlin, gak usah sok membela kau, desa ini kacau setelah kau datang," kata pria itu.
Aku mulai paham, ini persaingan antara aku dan kepala desa lama. Mungkin mereka kehilangan lahan setelah aku menggantikan kepala desa lama. Aku baru ingat dua hari yang lalu, ada sekelompok pemuda mengusulkan proposal ke kantor desa. Mereka dari salah satu Ormas kepemudaan. Aku tak mau tanda tangan karena dana yang mereka minta tidak jelas peruntukannya.
Keesokan harinya, semua baru terang dan jelas, ternyata memang kepala desa lama sudah bebas dari tahanan. Aku kurang mengerti bagaimana dia bisa bebas secepat itu, akan tetapi begitu dia bebas sepertinya langsung melakukan perlawanan. Ustadz yang batal datang itupun ternyata ulah kepala desa. Entah bagaimana cara dia mempengaruhi ustadz tersebut. Aku tahu setelah kutelepon kembali ustadz tersebut.
"Mulai ada goyangan, Dek, pohon makin tinggi, di sini lah adek buktikan bahwa adek tangguh, tak mudah goyah dengan angin." kata Bang Parlindungan, ketika aku minta pendapatnya.
Malam harinya murid yang datang mengaji jauh berkurang, ada juga beberapa orang tua murid yang terpengaruh dengan isu tersebut. Padahal, tak jelas siapa yang dilecehkan, belum ada keterangan sama sekali.
Setelah selesai mengaji, Bang Parlindungan memanggil ketiga anak angkatnya, mereka diinterogasi satu persatu. Biarpun sebenarnya aku tak percaya ada pelecehan seksual pada murid, akan tetapi ada baiknya ditanyakan juga.
"Seperti kalian tahu kita dituduh melakukan perbuatan terkutuk, jadi kutanya sekali saja, tolong jawab dengan jujur, adakah kalian merasa melakukan pelecehan seksual ?" tanya Bang Parlin.
"Sumpah demi Alloh, kalau saya tidak ada," kata mereka, satu persatu di antara mereka bersumpah atas nama Allah.
"Baiklah, aku percaya, perjuangan kita akan berat, mungkin kita akan berat melalui ini, karena lawan kita orang yang punya pengaruh di desa ini,"
"Bang Parlin, boleh bertanya ?" kata seorang pemuda tersebut.
"Boleh, silakan,"
"Apakah mengajari murid bagaimana cara Istinja' termasuk pelecehan seksual ?" katanya lagi.
"Kamu ajari istinja bagaimana ? Apakah praktekkan ?" tanya Bang Parlin.
"Tidak, Bang, aku ajari seperti guru kita ajarkan dulu,"
Bang Parlin tampak berpikir, aku jadi ikut berpikir, apa iya mengajari anak-anak bagaimana cara istinja termasuk pelecehan ?
__ADS_1
"Apa kamu pegang anak-anak itu waktu mengajari ?" tanyaku kemudian.
"Tidak, Bu, tapi kan namanya istinja, dijelaskanlah apa maksudnya, bagaimana caranya, aku bilang begini, membersihkan ******** dari najis dan kotoran, ada yang bertanya, ******** itu apa ? Saya jelaskanlah,"
"Oo, begitu," kataku, aku jadi ikut bingung, apa iya menjelaskan tentang itu pada anak-anak termasuk pelecehan ?
"Baiklah, kita menunggu saja apa yang akan mereka lakukan, jika memang kita akan diadukan, aku janji akan membela kalian semampuku," kata Bang Parlin.
Pagi harinya, aku menemukan dinding sekolah ditempel kertas bertulisan. ( Usir pelaku pelecehan dari desa ini ) begitu tulisan di kertas tersebut. Ah, ini sudah keterlaluan. Segera kutunjukkan pada Bang Parlin, dia lalu mencopotnya.
"Kita harus bagaimana lagi, Bang ?" tanyaku kemudian.
"Sabar, Dek, kita tunggu saja,"
"Orang sudah berbuat, kita masih menunggu, bagaimana sih, Bang ?"
"Gak usah khawatir, Dek, kita di jalan yang benar," kata Bang Parlin.
Ketika aku datang ke kantor desa, ternyata kepala desa lama sudah ada di situ, entah dia mau apa kurang jelas, tapi semua tahu, dia bukan lagi kepala desa.
"Selamat pagi, Pak ?" sapaku ramah.
"Pagi juga, gak usah pake basa-basi segala, ini pekerjaan saya dulu, selesaikan ini, tanda tangan semua," katanya seraya menumpuk berkas di meja.
"Gak usah pelajari segala, cukup tanda tangan, selesai," katanya lagi.
"Tidak bisa begitu, Pak, saya harus tetap pelajari dulu," jawabku kemudian.
"Heh, tau kau, aku kepala desa terpilih, kau hanya kepala desa karena kecelakaan, dulu masyarakat desa memilihku, kau dapat jabatan ini hasil menjatuhkan orang dan menjilat bupati," katanya kemudian.
Aku mengelus dada, kucoba menahan sabar, kulihat satu persatu berkas tersebut. Ada berkas pengurusan surat tanah, ini pernah kutolak, karena tanah itu masuk hutan lindung. Satu lagi permohonan biaya untuk organisasi kepemudaan, mereka minta proyek dari dana desa, ini juga sudah kutolak, karena proyek mereka tidak jelas di mana dan proyek apa, satu lagi surat keterangan tidak mampu dari seorang warga, ini juga sudah kutolak karena warga itu orang kaya, sawitnya saja luas.
"Maaf, Pak, semua ini tak bisa saya tanda tangani," kataku tegas.
"Hei, sini kuajari kau ya, kepala desa itu harus kompromi, bukan masalah benar atau salah, tapi apa yang dapat siapa yang dapat," katanya lagi.
"Itu bapak, kalau saya maaf saja, masih memakai sistem benar salah, ini salah, itu hutan lindung, jika kutandatangani, perusahaan besar akan membahas habis hutan tersebut, dan jadi kebun sawit, bagaimana nanti anak cucu kita, ini saja hujan sebentar sudah banjir, apalagi dibabat lagi hutan tersebut." aku coba memberikan pengertian.
"Itu perusahaan besar, sadar napa, gak usah sok suci, inipun dulu hutannya semua ini, sekarang sudah kebun sawit," katanya lagi.
"Tetap tidak bisa, Pak," kataku tegas.
__ADS_1
"Baik, kau minta berapa ?" dia mulai jurus lain.
"Maksudnya ?"
"Ini sudah saya kerjakan sejak lama, maaf, jujur saja, mereka tak bisa dilawan, mereka itu perusahaan besar, bilang saja hargamu, nanti kuusulkan," kata kepala desa tersebut.
Oh, jadi begini cara kepala desa ini bekerja, dia kerjasama dengan perusahaan besar menggeruk keuntungan dari hutan lindung. Aku heran sekali, bagaimana bisa mereka dapat ijin ?
"Lihat ini, dinas Kehutanan saja sudah tanda tangan, tinggal tanda tangan kepala desa," katanya lagi.
"Anda mencoba menyuap saya ?" kataku seraya menghidupkan kamera HP, aku belajar dari Bang Parlin, mempersiapkan bukti.
"Benar sekali, jika kau masih sok suci tak mau tanda tangan, kami lakukan cara lain,"
"Cara apa ?"
"Jika kau mempersulit, lihat saja, polisi akan menciduk kalian satu keluarga, ini ancaman saya ya, tanda tangan ini, sekolah mengujimu bersih, jika menolak, kalian diciduk," mantan kepala desa ini masih saja bicara terlalu jujur dan bodoh, apa dia tak sadar kalau aku sudah merekam ?
Dia akhirnya pergi dengan kecewa, sebelum pergi dia masih sempat mengancam akan mempolisikan kami sekeluarga. Aku mulai khawatir juga, bagaimana nanti anak-anakku jika kami tersangkut hukum?
"Pak, baik, aku pertimbangkan dulu, sinj berkasnya," kataku akhirnya sebelum dia pergi.
Kebawa berkas tersebut ke rumah, minta pendapat pada Bang Parlin, kutunjukkan juga rekaman pembicaraan kami, saat itu kurekam tapi kamera tak mengarahkan ke wajah mantan kepala desa tersebut, akan tetapi jelas terdengar suara dia mengancam
"Bang, lawan kita ternyata perusahaan sawit besar, kita gak akan sanggup, kita mengalah saja ya, demi kebaikan bersama," kataku pada Bang Parlin.
"Jangan, Dek, lebih baik kau mengundurkan diri dari jabatan itu dari pada ikut bersekongkol dengan kejahatan," kata Bang Parlin.
"Mengundurkan diri ?"
"Iya, Dek, itu lebih baik, dari pada menandatangani ini,"
"Tapi, Bang dinas Kehutanan saja sudah tanda tangan,"
'Itu tanah ulayat desa, Dek, dari dulu sudah diincar perusahaan besar, mau dibuat kebun sawit, jika pun memang harus jadi kebun sawit karena kekurangan lahan, masyarakat desa ini yang seharusnya dapat, bukan perusahaan besar tersebut, tapi dari dulu, lahan itu tak pernah diganggu masyarakat," Bang Parlin menjelaskan panjang lebar.
Sebenarnya lahan itu jauh dari desa,akan tetapi tetap masuk wilayah desa ini. Aku mulai gamang, mungkin jika terus ditekan, mundur adalah jalan terbaik.
Keesokan harinya, kukembalikan berkas tersebut kepada mantan kepala desa. Aku tetap menolak, jika dipaksa terus aku mundur.
Ternyata benar ancaman mantan kepala desa tersebut, tiga hari kemudian, salah satu murid mengaji kami mengadu ke polisi, tuduhannya pelecehan seksual. Aku sudah siap dengan bukti ancaman tersebut. Akan tetapi guru mengaji kami sepertinya takut, mungkin juga sudah diteror. Lawan kami memang ternyata kuat, bukan hanya kepala desa lama, tapi perusahaan perkebunan sawit. Orang dari perusahaan itu juga yang ternyata mengeluarkan kepala desa lama itu dari tahanan.
__ADS_1
Siang itu, ketika aku pulang dari kantor desa aku terkejut ramai orang di depan rumah, hampir separuh penduduk desa berkumpul di halaman sekolah. Ada juga mobil khas polisi. Wah, apa lagi ini ?
_Bersambung ..._