
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
Sebenarnya aku malas ke Bandung, melihat Bang Parlindungan bertemu Rara serasa mengusik rasaku. Membuat benih cemburu bertunas kembali. Cemburu itu belum sepenuhnya mati. Tetap ada, mungkin selamanya akan ada.
(Iya, memenuhi undangan teman Bang Parlin) kubalas komentar Rara.
(Kapan ke Bandung?)
Sudah kuduga, pasti akan diajak, aku harus bilang apa, kalau Bang Parlin baca ini, dia akan langsung ajak ke Bandung.
(Belum ada rencana, nanti kutanya Bang Parlin) balasku akhirnya.
Belum sempat aku bertanya ke Bang Parlin, dia sudah bilang duluan.
"Dek, kira gak usah ke Bandung kali ini," kata suami.
"Lo, kenapa, Bang?" tanyaku heran.
"Gak enak, Dek," kita ketempat lain saja,"
Ada apa dengan perubahan suamiku ini, biasanya dia selalu suka ke Bandung, ini tumben? Suami ke kamar mandi, dia letakkan HP-nya di meja. Iseng kubuka HP tersebut, begitu terbuka langsung terlihat Facebook, dan komentar Rara. Ooo, berarti Bang Parlin baru lihat statusku. Hmmm, ada apa dengan Bang Parlin?
"Bang, kita ke Bandung, yuk?" kataku memancing.
"Gak enak, Dek, kita mau liburan, kalau liburan kita membuat ada hati yang tersakiti, buat apa?" kata Bang Parlin.
"Hati siapa?"
"Hatimulah, Dek, Abang menjaga hatimu,"
"Hmmm,"
"Iya, Dek, sama hati suami Rara, bagaimana pun juga, pasti ada rasa cemburu,"
Kami masih berada di rumah kapolsek, tiga hari sudah, belum tahu rencana akan lanjut ke mana liburan kami. Entahlah, mungkin kami akan pulang. Bang Parlin belum mengusulkan akan lanjut ke mana.
"Kita pulang, Bang?" tanyaku kemudian.
"Tanggung, Dek, sekalian libur satu bulan maunya, begitu pulang nanti langsung ke kampung ambil panen sawit," jawab Bang Parlin.
"Kita lanjut ke mana, Bang?"
"Ke mana aja, Dek, terserah adek lah?"
"Ke tempat Udak Dame aja, Mak," tiba-tiba si Ucok ikut bicara.
"Iya, Juga ya, coba telepon si Dame," kata Bang Parlin.
Segera kuambil HP, langsung ke aplikasi WA dan cari nama Rina. Memanggil, berdering, lalu terhubung ...
"Halo, Kak Nia, kami lagi di jalan ini, mau ke tempat Bang Nyatan," kata Rina dari seberang.
"Oalahh, padahal kami mau ke tempat kalian,"
"Kakak sih, gak bilang-bilang,"
"Ya, udah, semoga selamat sampai tujuan,"
Segera kulapor pada suami, dia justru menyarankan supaya kami ke tempat Bang Nyatan saja, sekalian telepon Bang Parta. Kumpul sekalian seluruh keluarga. Bang Parta pun kutelepon, ternyata mereka lagi berencana liburan juga, ini waktunya memang liburan sekolah. Wah, suatu kebetulan yang luar biasa. Keluarga Pa akan berkumpul di rumah Abang tertua.
"Cari tiket ke Jambi, Dek, kita berangkat besok," kata Bang Parlin. Segera kubuka aplikasi yang melayani pesanan tiket. Dapat, segera kupesan.
"Mana si Ucok?" tanya Bang Parlin.
"Entah, tadi kan di sini?" jawabku seraya melihat sekeliling. Saat itu kami duduk di depan rumah Pak Kapolsek. Ali Akhir Pulungan- Kapolsek tersebut sedang berada di kantor, sedangkan istrinya juga kerja, di rumah ini hanya ada kamindan ibu Ali Akhir.
Bang Parlin memberikan si Butet padaku, dia berjalan seraya memanggil nama anakku.
__ADS_1
"Gak ada, ke mana dia, tadi barusan di sini," kata Bang Parlin.
Aku ikut khawatir, segera ku ikut mencari, tapi tak ada, seluruh pekarangan rumah telah dicari.
"Mungkin dia jajan ke warung sebelah," kata ibunya Ali.
Apa iyaa, si Ucok sampai keluar pagar? Aku makin panik karena memang pintu pagar terbuka sedikit. Aku keluar, bertanya kiri kanan, tak ada yang lihat si Ucok.
"Bang, anakku, Bang, cari itu Bang?" teriakku kemudian.
Bang Parlin pun ikut mencari, Ya Allah ke mana anakku, baru lima menit hilang dari pandanganku, dia baru saja usulkan pergi ke tempat udaknya kini sudah hilang tanpa jejak.
Pak Kapolsek datang, entah siapa yang hubungi dia aku tak tahu, beliau datang bersama dua polisi temannya. Begitu datang dia langsung periksa CCTV rumah dan rumah tetangga depan.
Ya, Allah, ternyata anakku diculik, di layar terlihat mobil avanza putih berhenti di depan rumah, seorang wanita turun dari mobil dan bicara dengan si Ucok yang ternyata berdiri di pintu pagar. Lalu si Ucok naik ke mobil. Ya, Allah.
"Anakku, kembalikan anakku," kataku setengah berteriak.
"Tenang, Kak, tenang," katae Pak Kapolsek.
"Bagaimana aku bisa tenang, anakku diculik di depan rumah kapolsek," teriakku.
"Anak Ibu tak akan diapa-apakan," kata Ali Akhir lagi.
"Cari anakku, cari itu," kataku sambil menangis histeris.
Pak kapolsek justru sibuk telepon, sementara aku sudah khawatir sekali. Setelah sekian lama Pak kapolsek menelepon, dia kemudian mendatangi kami.
"Maaf, Bang Parlin, Kak Nia, sasarannya bukan kalian, akulah sasarannya, maaf sekali, mereka mungkin mengira si Ucok anakku," kata Kapolsek itu. Memang ada anak mereka seusia Ucok, sekarang lagi dibawa pengasuhnya.
"Pokoknya kembalikan anakku," teriakku kemudian.
"Kami tak tahu menahu urusan polisi dan penjahat, maaf, Ali, aku akan lakukan caraku," kata Bang Parlin.
"Cara apa? biar kami yang tangani ini, kami sudah berpengalaman, aku sudah telepon ahli negosiasi, bentar lagi dia datang," kata Ali Akhir.
"Tidak, aku lebih percaya caraku," kata Bang Parlin seraya pergi masuk kamar dan mengunci diri.
"Kak Nia, ini masalah serius, harus ditangani dengan serius, tunggu saja datang ahlinya," kata Ali Akhir.
"Bang Parlin lebih ahli dari kalian semua," jawabku kesal.
"Tolonglah, Bu, aku ikut bersalah, akulah sasarannya, kita hanya menunggu telepon dari mereka, lalu negosiasi, si Ucok pasti aman, sejahat-jahatnya penjahat gak akan tega sakiti anak-anak," kata Kapolsek tersebut.
Aku duduk di sofa, berdoa untuk keselamatan anakku. Sementara rumah ini semakin ramai. Ahli yang dibilang kapolsek tersebut mulai bekerja, telepon sana telepon sini. Aku hanya menunggu Bang Parlin, Bang Parlin pasti punya solusi.
"Jangan sampai wartawan tahu," kudengar Ali Akhir memberikan perintah pada anak buahnya.
Dua jam kemudian, si penculik belum menghubungi, Pak Kapolsek tampak mondar-mandir di rumahnya. Bang Parlin keluar dari kamar, segera kudekati sambil menggendong si Butet.
"Bang," kataku seraya menatap mata suami.
"Iya, Dek," jawab suami seraya mengangguk.
"Tiba-tiba HP jadul suamiku berbunyi, segera kuraih dari kantong suami.
"Mak, jemput aku, Mak," terdengar suara si Ucok.
"Ya, Allah, Ucok, di mana kau?"
"Gak tau, Mak, semua orang sakit di sini, aku takut, Mak," kata Ucok.
"Hp siapa yang kau pake ini, Ucok?"
"HP Om itu, dia yang suruh telepon, dia sakit perut," kata si Ucok.
Aku memang menyuruh si Ucok menghapal nomor ayahnya, untuk mengantisipasi hal yang begini, sering kusuruh dia beli pulsa tanpa kubilang nomornya. Dia sudah hapal, biarpun tak bisa tulis sendiri.
__ADS_1
Bang Parlin mengambil HP dari tangankuu, kemudian menempelkan di telinga.
"Hidupkan speakernya, Bang," kataku.
Sementara itu Pak Kapolsek dan beberapa orang datang mendekat ke kami.
"Cok, apa kabar, Cok?" kata suami.
Ah, suamiku ini masih sempat basa-basi tanya kabar segala.
"Baik, Ayah, semua orang sakit di sini, Yah, aku takut," terdengar suara si Ucok dari seberang.
"Berikan HP-nya ke Om itu," kata Bang Parlin.
"Tapi dia sakit, Yah,"
"Berikan saja, Cok,"
Lalu terdengar suara pria dari seberang telepon, suaranya lemah.
"Tolong kami, jemput saja anak ini," katanya dari seberang.
"Alamatnya?" bentak Bang Parlin.
Dia kemudian mengatakan alamat, Pak kapolsek yang mendengar langsung bergerak. Aku minta ikut.
"Sebaiknya gak usah, Bu, ini daerah penjahat," kata Kapolsek tersebut.
"Nanti kami kabari," kata pria tegap itu lagi.
Gelisah aku menunggu, Bang Parlin justru terus berzikir. Waktu terasa lama berjalan, satu jam kemudian, HP jadul Bang Parlin berbunyi.
"Si Ucok gak apa-apa, dia sehat tak tergores sedikit pun," kata Ali Akhir lewat telepon.
Alhamdulillah, aku sujud syukur.
Ternyata Ucok korban salah sasaran, penjahat tersebut menculik Ucok karena menyangka itu anak kapolsek. Mereka culik karena bos mereka baru ditangkap polisi. Yang kebetulan ditahan di sel polsek tempat Ali Akhir menjabat.
"Bang Parlin, ajari aku, Bang," kata kapolsek ketika malam harinya dia sudah pulang.
"Gak bisa, Ali," jawab Bang Parlin.
"Kalau begitu, Bang Parlin kerja di sini saja, kita berantas kejahatan bersama," kata Ali Akhir.
"Gak, aku hanya tahu lembu dan sawit, gak ngerti urusan polisi," kata Bang Parlin.
"Seandainya Bang Parlin mau, aku bisa usulkan ke, atasan Bang Parlin jadi polisi khusus," kata Ali lagi.
"Udah dibilang tidak, cemana sih, tau gak, Bang Parlin itu paling anti berurusan dengan kantor polisi," kataku kemudian.
"Jadilah polisi yang baik, Ali, jadilah polisi yang beriman," kata Bang Parlin.
"Iya, biar orang seperti Bang Parlin tidak malas berurusan dengan kantor polisi," sambungku.
"Iya, Bang, Kak, tapi ngomong-ngomong, bagaimana caranya biar orang itu sakit semua, suruh hubungi Abang pula?" kata Ali.
"Rahasia," aku yang jawab.
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Jambi. Seluruh biaya pesawat ditanggung Pak kapolsek. Berkali-kali dia berterima kasih pada kami. Masih berharap supaya Bang Parlin mengajarinya.
"Kita gak cocok di Jakarta ini, Dek, betul juga kata si Ateng, ibukota itu kejam, baru berapa hari kita di sini, sudah terlibat dua kasus," kata Bang Parlin ketika kami sudah di pesawat.
"Siapa si Ateng, Bang?"
"Masa gak tau?"
"Iya, gak tau, Bang?"
__ADS_1
* Nah....nah.... tengok itu sudah bisanya bang parlin ledek si niyet! ðŸ¤*
"Ish, adek jadul."