
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
"Bukan karena mencuri, Dek, mereka keracunan miras oplosan," kata Bang Parlin ketika lagi- lagi aku merasa bersalah, akulah yang mendesak Bang Parlin mempergunakan ilmunya.
"Apa iya, Bang, adek merasa bersalah sekali," kataku sedih.
"Iya, Dek, buktinya sudah enam orang yang pulang dengan sehat, kita sudah memaafkan, seharusnya memang mereka sudah sehat," kata Bang Parlin lagi. Saat itu kami lagi makan siang bersama.
Tok, tok, tok.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara ketukan di pintu diiringi salam dari seseorang.
"Waalaikumsalam," aku dan Bang Parlin menjawab salam hampir bersamaan.
Aku segera berjalan dan membuka pintu, ternyata yang datang seorang anak perempuan masih berpakaian sekolah putih abu-abu. Aku kenal anak ini, dia Putri, anak tertua Pak Kosim.
"Ada apa ya, Putri?" tanyaku seraya mempersilahkan masuk.
"Papaku, Bu, tolong papaku, dia sudah sekarat di rumah sakit, tetangga bilang aku harus minta tolong ke mari," kata Putri, wajahnya kelihatan sedih.
Aku dan Bang Parlin berpandangan, tak tahu harus bilang apa, kata Bang Parlin itu karena miras oplosan, bukan lagi karena mencuri.
"Tolong, Bu, tolong papaku," kata gadis cantik itu lagi.
"Baik, kami segera datang," kataku akhirnya.
Jarak dari desa ke rumah sakit cukup jauh juga, ada tiga jam perjalanan naik mobil. Kami berangkat, Ucok dan Butet kutitipkan di tempat Ria.
Ketika kami sampai di rumah sakit, Putri langsung mengarahkan ke ruangan Pak Kosim dirawat. Begitu kami masuk ruangan, istri Pak Kosim lagi menjaga suaminya.
"Belum cukupkah penderitaan suamiku kalian buat, jabatannya kau ambil, proyeknya kau hentikan kini kau dukuni lagi," teriak istrinya.
Duh, padahal kami datang mau membantu, malah diomeli sedemikian rupa. Aku hanya bengong, tak mampu berkata apa-apa lagi.
"Lihatlah itu, sudah senang kalian, dia terus sebut nama Parlin, orang mau mati sebut nama Tuhan, suamiku malah sebut nama Parlin karena apa itu, karena kalian dukuni, kaulah dukun itu," katanya seraya menunjuk wajah Bang Parlin.
"Mama, mereka datang mau bantu Papa, aku yang minta," kata Putri.
"Mau bantu apanya? Mau bantu biar papamu cepat mati gitu?"
"Bukan, Ma, mama kok gitu sih, macam gak tau aja bagaimana papa?" kata Putrinya lagi.
__ADS_1
"Bang Parlin," terdengar suara lemah Pak Kosim.
Bang Parlin mendekat, "boleh, Bu?" tanya Bang Parlin.
"Ya, silakan," kata istri Pak Kosim, wajahnya seperti tak suka.
Pak Kosim sepertinya ingin berbicara dengan Bang Parlin, tapi Bang Parlin sepertinya ragu melihat istri Pak Kosim yang memasang wajah tak suka.
Bang Parlin lalu mendekatkan telinganya ke mulut Pak Kosim, lama juga mereka bicara seraya berbisik, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, akan tetapi wajah Bang Parlin terlihat berubah, dia melihatku, melihat istri Pak Kosim.
"Apa apa lihat-lihat?" kata istri Pak Kosim.
"Boleh bicara di luar?" kata Bang Parlin.
"Boleh, siapa takut, kau pikir aku bisa kau dukuni," kata istri Pak Kosim seraya keluar.
Kuikuti Bang Parlin, sedangkan Putri tinggal menjaga orang tuanya
"Bang, ada apa, sih?" tanyaku pada Bang Parlin, seraya mencubit lengannya pelan.
"Udah, Dek, nanti kita bicara," kata Bang Parlin.
Kami bertiga pergi ke kantin rumah sakit, aku makin penasaran untuk apa Bang Parlin sampai menyajak istri Pak Kosim bicara berdua.
"Begini, Bu, Pak Kosim berpesan, dia tahu perbuatan Ibu,"
"Perbuatan apa, heh?" tanya istri Pak Kosim, matanya melotot. Dalam hati aku juga ikut bertanya, perbuatan apa?
"Bu, Pak Kosim bilang, dia hanya percaya padaku, jadi dia minta saya menghubungi keponakanku yang polisi, Pak Kosim punya bukti, dia hanya ingin supaya anaknya tetap aman, tak perlu tahu perbuatan ibunya." kata Bang Parlin.
"Wanita itu menunduk, perbuatan apa sih Bang?" aku yang bertanya jadinya.
Tapi Bang Parlin bukannya menjawab, tapi terus memperhatikan wajah Ibu tersebut. Ah, mereka main teka-teki.
"Pak Kosim meminta aku sampaikan ini pada Ibu, dia minta Ibu pergi jauh, tinggalkan dia dan anaknya, jangan sampai anak Ibu tahu perbuatan Ibu dan Pak Kosim, jadi dia minta Ibu pergi dan jangan pernah kembali, jika kembali akan dipenjarakan," kata Bang Parlin.
"Dia yang duluan selingkuh, dia selingkuh kubalas dengan selingkuh, dia mau singkirkan aku, kubalas dengan singkirkan dia," kata Ibu itu, air matanya mulai tumpah.
Aku mulai menduga-duga ke mana arah pembicaraan ini. Sementara Ibu tersebut masih terus emosi.
"Jika perbuatan jahat dibalas dengan perbuatan jahat, apa bedanya kita dengan mereka? Jika selingkuh dibalas selingkuh, kita justru lebih hina," kata Bang Parlin. Aku mulai paham, ternyata kepala desa selingkuh, dan dibalas selingkuh pula. Wah, keluarga yang komplit.
__ADS_1
"Aku sudah sabar selama ini, dia sudah tujuh kali selingkuh, aku baru sekali," kata Ibu itu lagi.
"Iya, Bu, aku hanya sampaikan pesan Pak Kosim, jadi Ibu pilih mana sekarang, saya panggil polisi atau Ibu pergi," kata Bang Parlin.
"Emang polisi mau apa, Bang?" tanyaku kemudian.
"Begini, Dek, Ibu ini yang campur minuman mereka hari itu, ternyata ada campuran racun serangga, makanya sampai ada yang mati, Pak Kosim tahu, tapi dia tak ingin anak-anaknya tahu perbuatan Ibu mereka, jadi dia kasih kesempatan supaya Ibu itu pergi jauh dan jangan kembali, jika kembali akan dipolisikan,"
Ibu itu akhirnya makin menangis, aku juga ikut sedih melihat tangisan Ibu ini. Ibu itu lalu bercerita.
"Ketika dia ditangkap polisi, aku baru tahu ternyata dia selingkuh, bahkan dia punya tujuh orang selingkuhan yang biasa dia temui, aku tahu karena ketika ditangkap polisi HP-nya tinggal di rumah, akhirnya bisa kubuka, kutemukan kenyataan pahit, aku bertekat membalasnya, aku selingkuh dengan seorang pekerja kami, tapi langsung ketahuan, dia ancam akan singkirkan aku, gak adil memang, dia tujuh kali selingkuh tidak ketahuan, aku baru satu kali langsung ketahuan," kata ibu tersebut seraya menangis.
"Aku gitu orangnya, tak ada batu lawan pisang, dia selingkuh aku juga selingkuh, dia mau singkirkan aku, aku balas dengan singkirkan dia, tapi dia bandell, sudah gitu gak mati juga," kata istri Pak Kosim ini.
Ya, Allah, Ibu ini pasti depresi.
"Suamimu yang bersalah, lima belas orang kau racuni," kataku kesal.
"Iya, itu memang salah, sementara sasaran utama tak mati, ingin juga kusuntik mati dia, ingin kubekap pakai bantal, tapi ruangan itu ada CCTV-nya," kata Ibu ini lagi.
Ya, Allah, ternyata sampai begitu. Keras lawan keras memang seperti ini jadinya. Heran juga Pak Kosim ini, masa cuma sama Bang Parlin dia yang percaya, kan bisa dia bilang langsung ke istrinya.
"Bagaimana, Bu? saya hanya penyampai pesan kata bapak itu beliau tidak berani bilang sendiri, karena kesalahan berawal dari dia," kata Bang Parlin lagi.
"Jika aku pergi tak ada penyelidikan? Nanti aku pergi orang makin curiga," kata Ibu itu lagi.
"Lebih berbahaya lagi jika Ibu tetap di sini, jika suami Ibu sembuh, dia balas dendam, apa Ibu ingin anak Ibu melihat ibu dan suami saling bunuh?" kata Bang Parlin.
"Baiklah, aku pergi sekarang juga, tolong jaga anakku, tolong nasehati suamiku, jika dia berubah mungkin kami masih bisa bersama, Terima kasih Bang Parlin," kata Ibu tersebut.
Ibu itu langsung pergi, kami kembali ke ruangan rumah sakit, Bang Parlin berbisik ke Pak Kosim yang masih terbaring lemah. Aku melihat ada air mata di sudut mata kPak Kosim, semoga dengan kejadian ini, Pak Kosim bisa sadar.
Ajaibnya, ketika kami permisi mau pulang Pak Kosim sudah tampak baikan, dia bahkan sudah bisa berdiri.
"Kita akhiri perseteruan ini, Bang Parlin, aku sudah berani ambil resiko, meminta tolong pada musuh," kata Pak Kosim.
"Baik, Pak, kita lupakan semua," jawab Bang Parlin, kami pun pulang.
"Abang memang cocok jadi penasehat," kataku pada Bang Parlin, ketika kami dalam perjalanan pulang.
"Abang udah merasa bersalah sekali ini, Dek, abang bantu lari pelaku pembunuhan," kata Bang Parlin.
__ADS_1
Kadang memang, tak selalu benar atau salah, ada pertimbangan lain.
BERSAMBUNG