
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
Kami dapat kabar, sekolah yang dibangun di kampung itu ditawar pemerintah daerah supaya dinegerikan. Karena pemerintahan mau bangun sekolah di daerah tersebut. Jadi karena sekolah kami sudah punya murid banyak, pemerintah daerah menawarkan supaya sekolah itu diubah jadi sekolah negeri.
Bang Nyatan, Bang Parta dan Bang Parlindungan pun bermusyawarah lewat virtual.
"Kalau diubah, otomatis namanya juga berubah, hilanglah nama ayah kita," Kata Bang Parlindungan. Setelah mendengar penuturan Bang Nyatan.
"Iya, benar, tapi kalau diambil alih pemerintah, kita tak lagi suntik dana seperti selama ini," kata Bang Parta.
Selama ini sekolah itu memang gratis. Semua biaya ditanggung Pa Siregar sekeluarga. Tak ada yang bayar sama sekali. Karyawan kebun sangat terbantu dengan keberadaan sekolah itu.
"Iya, jika kita tolak pun pemerintah akan buka sekolah baru,"
"Jadi begini saja, kita ambil suara, aku tak setuju" kata Bang Parlin.
Aku memandang wajah Bang Parlin, biasanya usulnya selalu disetujui para saudaranya. Akan tetapi kali ini kulihat Bang Parta dan Bang Nyatan lain pendapat. Sedangkan Domu tak diajak, karena memang dari awal dia tidak ikut ngurus sekolah.
"Aku setuju, maaf, Parlin," kata Bang Parta.
"Iya, Bang, gak apa-apa, namanya demokrasi,"
Sekarang tinggal Bang Nyatan, ternyata dia juga setuju sekolah itu diambil alih pemerintah. Bang Parlin kalah suara.
"Baik, tolong kalian datang, biar kita urus semua," kata Bang Parlin, jelas sekali raut wajah kecewa Bang Parlin.
Sekolah itu sudah tujuh tahun, biarpun muridnya tidak banyak sekali, tapi tetap ada minimal dua puluh lima orang satu kelas.
"Bang, benar juga Bang Parta, tak mungkin selamanya kita bisa subsidi, kalau diambil alih pemerintah, sudah pasti bisa bertahan itu sekolah." kataku pada Bang Parlin.
"Iya, Dek," kata Bang Parlin singkat.
Jelas sekali kelihatan raut wajah Bang Parlin sedih. Sekolah itu memang perjuangan kami, Bang Parlin lah yang usulkan sekolah tersebut. Namanya memakai nama Almarhum ayah mertua.
Akhirnya sekolah itu benar-benar dinegerikan,, kakakku tetap jadi guru di situ, akan tetapi kepala sekolah ditunjuk oleh pemerintah daerah. Ada juga untungnya, para guru diusulkan jadi ASN.
__ADS_1
Ada sejumlah uang diberikan pemerintah sebagai ganti rugi, aku yang menjabat sebagai bendahara menerima uang tersebut. Uang yang cukup banyak juga. Bang Parlin dan dua saudaranya kebetulan berkumpul di rumah kami. Bang Parta datang dari Kalimantan, Bang Nyatan juga, akan tetapi istri mereka tidak ikut.
"Sebagai bendahara sekolah, aku mau buat laporan. Sesuai kesepakatan pemerintah daerah sudah mengganti rugi lahan dan bangunan sekolah tersebut. Jumlahnya sekitar tiga ratus lima puluh juta. Sudah ditransfer ke rekeningku. Jadi kita apakan uang ini, apakah dibagi atau bagaimana?" kataku di depan Bang Parta, Bang Parlin dan Bang Nyatan.
"Sama kalian saja, sekolah itu ide kalian, lagi pula tanahnya kan punya si Parlin," kata Bang Nyatan.
"Iya, setuju," kata Bang Nyatan.
"Tapi, Bang, waktu bangunnya kan pake uang abang," kata Bang Parlin.
"Udah, sama kalian saja," kata Bang Parta.
Luar biasa keluarga ini, tak ada rakusnya sama sekali. Uang tiga ratus juta pun tak mau dibagi. Aku justru jadi senang, siapa yang gak senang rekening bertambah jadi tiga ratus juta. Akan tetapi aku berinisiatif membeli tiket mereka pulang, membeli oleh-oleh yang lumayan banyak. Mereka tak bisa menolak lagi.
"Bang, kita kemanain uang itu, Bang?" tanyaku pada Bang Parlin.
"Terserah adek lah," jawab Bang Parlin.
"Bang, kan sekolah udah dijual, kita bangun lagi sekolah mengaji," usulku kemudian.
Ucok kini delapan tahun, si Butet sudah enam tahun, wabah corona melanda negeri ini. Kami tak bisa ke mana-mana, hanya di rumah saja seharian. Untunglah kami punya simpanan. Ini ternyata maksud dari uang tersebut. Harga sawit turun drastis, hasilnya hanya cukup untuk gaji pekerja.
Suatu hari tetangga kami yang tukang becak sakit keras di rumahnya, para tetangga tak ada yang mau melihat, karena gejalanya mirip Corona, beliau tinggal seorang diri, anaknya semua tinggal di luar daerah.
"Mau ke mana, Bang?" Tanyaku pada Bang Parlin ketika suatu sore dia membawa beras dan mie instan.
"Ke rumah bapak itu, kasihan dia, gak ada yang urus," kata Bang Parlin.
"Nanti abang tertular, tak ada yang berani dekat dia," kataku.
"Abang gak bisa tenang kalau ada tetangga yang tidak makan," kata Bang Parlin.
"Tapi Bang, Corona lagi ganasnya, lihat itu jalan sepi, Abang mau jemput penyakit ke sana" ,kataku lagi.
"Udah, Dek, gak usah berlebihan," kata suami.
__ADS_1
Dia tetap pergi, lama juga dia di situ, sampai ada satu jam, ketika dia kembali, aku langsung menyuruh dia mandi dan mengganti pakaian.
Pagi harinya aku terkejut mendengar suara khas ambulans, ternyata ambulan itu berhenti di rumah bapak tukang becak. Dua orang berpakaian seperti astronot turun dari ambulans. Ya, Tuhan, ternyata Bapak itu sudah meninggal dunia, aku jadi khawatir sekali, bagaimana kalau suamiku kena, bagaimana anak-anakku?
Siang harinya petugas puskesmas datang ke rumah kami, kata mereka kami harus isolasi mandiri, tak boleh keluar. Para tetangga yang melihat kedatangan petugas sepertinya mulai menjauhimu kami. Sedih rasanya, si Ucok dan Butet pun harus dikurang.
"Itu makanya, Bang, gak usah sok baik, kan kita juga yang kena," Omelku pada suami.
"Kita gak kena, Dek, hanya diduga-duga mereka, ini hanya karena baru-baru, makanya heboh," kata suami.
"Baru-baru lagi Abang bilang, lihat di TV itu, sudah ribuan orang mati,"
"Udah, Dek, gak usah takut kali,"
Keseharian kami di rumah justru makin asyik, setiap hari Bang Parlin masak, para tetangga banyak mengirim bahan makanan. Anak-anak juga tidak bisa dipisahkan dari ayahnya. Aku jadi pasrah saja. Kalau memang kena, biarlah kami kena sekeluarga.
Petugas puskesmas datang lagi, mereka mengabarkan hasil pemeriksaan kami, ternyata memang benar, Bang Parlin positif. Aku merasa seperti bumi berpijak terasa runtuh. Karena ingin berbuat baik, suami jadi kena.
Kedua anakku ikut diperiksa, syukurlah mereka negatif. Hanya suami yang kena, setelah divonis Corona. Bang Parlin justru makin rajin. Pagi sampai sore dia habiskan berkebun. Malam hari dia habiskan berzikir. Sampai dua minggu kemudian alhamdulillah, tak ada kejadian yang fatal. Bang Parlin hanya seperti flu biasa. Dia tetap beraktivitas di rumah.
"Semua ada di sini, Dek," kata Bang Parlin seraya menunjuk kepalanya.
"Apanya Bang?"
"Kuncinya ada di sini, Dek," kata Bang Parlin sambil menunjuk keningnya.
Aku paham maksud Bang Parlin, semua ada di kepala, ketenangannya menghadapi penyakit itu yang membuat dia bisa bertahan. Padahal di luar sana orang mulai panik. Suara ambulans tiap hari terdengar. Kami hanya berobat kampung dan makan makanan bergizi.
Selama enam bulan tak ada pemasukan sama sekali, uang keluar sangat besar. Uang tiga ratusan juta itulah yang kami gunakan selama sakit ini. Sementara uang sawit hanya cukup untuk bayar upah pekerja. Selama enam bulan penuh kami tak keluar rumah. Segala kebutuhan diorder melalui HP.
Luar biasanya, sudah enam bulan pun, para tetangga tetap tak mau datang ke rumah kami, jika aku keluar ke warung pun orang-orang pada menjauh. Sudah begini pun, Bang Parlin tak menyesal menemui Bapak tukang becak tersebut.
"Kebaikan itu tak selamanya harus dibalas kebaikan. Hanya ibadahlah yang kita harapkan pamrihnya pada Tuhan, kebaikan pada manusia tak perlu mengharap pamrih pada manusia. Mari kita melakukan kebaikan, biar pun resikonya kita dimusuhi, dihindari. Karena pada dasarnya kebaikan yang kita lakukan akan kembali juga pada kita. Bila tak sekarang, mungkin kelak. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai," begitu nasihat terakhir Bang Parlin.
* Yuk kita masih lanjut lagi *
__ADS_1