SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 24


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Ketika aku sadar, yang pertama kuingat justru anakku.


"Butet, anakku Butet, mana dia ?" kataku seraya memegang kening. Kulihat sekeliling, ada abangku, ada Risda-adik iparku. Kepalaku terasa pusing, ternyata kepalaku cdiperban.


"Mana anakku si Butet ?" tanyaku lagi.


Ya, Alloh, apa yang telah kulakukan, aku telah lalai menjaga anak. Bang Parlin akan sangat marah padaku.


"Mamak !" tiba-tiba kudengar suara khas anak kecil, itu suara anakku. Butet lalu muncul di pintu, dia menangis.


"Maafkan aku, Mak, aku pulang sama teman gak bilang-bilang," kata Butet.


"Terima kasih ya, Allah," batinku.


Abangku yang mengurus semuanya, aku sudah pingsan lima jam, kepalaku sudah dironxen. Dan Alhamdulillah tak ada hal yang mengkhawatirkan, hanya luka luar saja. Ternyata Butet pulang bersama temannya, dan singgah di mini market untuk belanja, makanya aku cari-cari tidak ada. Aku sungguh menyesal. Keesokan harinya ....


Bang Parlin muncul dari pintu bersama Ucok-anak bungsuku.


"Bang, maafkan adek, Bang, adek telah durhaka," kataku seraya menangis.


"Iya, Dek, syukurlah hanya luka kecil," kata Bang Parlin.


Ternyata begitu mendengar kabar aku jatuh, Bang Parlin langsung berangkat dari desa, sepuluh jam kemudian sudah sampai di Medan, kukira dia akan marah besar, ternyata tidak. Aku justru diurus dengan baik, dia juga mencium keningku. Tiga hari di rumah sakit, aku sudah boleh pulang. Baru aku tahu, ternyata mobil mewah yang kutabrak minta ganti rugi yang banyak. Karena pintu mobilnya sudah penyok dan harus diganti. Alhasil habislah belanjaku yang sebulan. Karena ingin dapat tambahan, justru tambah uang keluar.


"Bang, maafin adek ya," kataku lagi pada Bang Parlin, saat itu aku lagi menontonnya masak.


"Iya, Dek, semoga ini bisa membuat adek sadar," jawab Bang Parlin tanpa menoleh, dia terus asyik masak. Cara Bang Parlin masak masih seperti jaman dahulu. Dia menggiling cabe manual, padahal ada blender. Masak nasi pun pakai periuk. Akan tetapi masakan Bang Parlin selalu enak, mungkin dia masaknya pakai hati.


Karena aku sakit, terpaksa Bang Parlin tak pergi ke desa lagi, padahal banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Akhirnya pakai pekerja lagi. Selama ini Bang Parlin di desa untuk menghemat upah pekerja. Kini karena ulahku, tak bisa lagi.


Uang pemberian para saudara Bang Parlin mulai menipis, sementara kebun masih butuh pemupukan, dan Bang Parlin tidak mau tinggalkan kami lagi, sudah kubilang pun supaya dia pergi saja ke desa, dia tak mau, katanya tak bisa tinggalkan kami lagi, belum sebulan dia tinggalkan sudah begitu.


Kami terpaksa menghemat biaya, di saat seperti ini benar-benar Tuhan terasa mengujiku. Malam itu kami kedatangan tamu, adik bungsuku datang ke rumah. Dia yang dulu pernah kami bantu sampai sukses, bahkan bisa beli rumah kontrakan kami. Aku senang dia datang.


"Bang, boleh aku minjam modal lagi, modalku habis beli rumah itu tempo hari," kata adikku tersebut. Rasa senangku dengan kedatangannya seketika berubah, aku jadi benci, dia masih tega meminjam uang pada suamiku, padahal dia tahu kami sudah bangkrut, bahkan rumah kontrakan kami juga sudah dijual, dan dialah yang beli.

__ADS_1


"Boleh gantian dulu, kami dulu yang minjam," aku yang menjawab karena Bang Parlin tampak tak bisa berkata-kata.


"Kakak kok gitu ?"


'Kau yang seharusnya ditanyakan, kamu kok gitu ? kami bantu kau, kami berikan tempat, kami kasih uang untuk biaya beli peralatan, sudah sukses kau apa balasanmu ?"


"Kan aku minjem, Kak, Bang Parlin kan banyak uang," dia masih coba berkilah.


"Minjem kepalamu, yang taunya kau bagaimana keadaan kami, masih minjem lagi, kami dulu pinjam, gak usah pinjam, yang lama dulu bayar, kau pakai rumah kami dua tahun tampa bayar, sampai kau sukses, itu dulu bayar, sepuluh juta satu tahun, dua puluh juta, sini, cepat!" aku justru jadi emosi.


"Kakak gitu kali sama sodara ? Namanya saudara itu musti saling bantu,"


"Benar sekali, saling bantu, tapi maaf, saat ini kami tak bisa bantu," Bang Parlindungan akhirnya bicara.


"Aku dapat proyek, Bang, motor antik ada lima itu, setelah dimodifikasi nanti bisa laku ratusan juta, tapi butuh modal," kata adikku lagi.


"Aku ulang perkataanmu ya, saling bantu, artinya ada timbal balik, bukan kami saja yang bantu, kami lagi susah, malah kau tega pinjam lagi, kali ini aku dukung kakakmu, kami dulu yang pinjam bagaimana ? Atau jual dulu rumah itu, uangnya kami pakai, boleh ?" kata Bang Parlindungan.


Adikku terdiam, Bang Parlin memang begitu, dia jarang bicara, tapi kalau bicara selalu mengena. Akhirnya adikku pulang, jelas sekali terlihat raut wajahnya yang kecewa.


Hari itu aku dapat telepon, gaji pekerja kebun harus dibayar, banyaknya hanya tujuh juta setengah, akan tetapi di saat begini, itu uang yang sangat banyak, kemana lagi akan kucari, apakah harus menjual motor, atau jual rumah sekalian ?


"Dek, kita jual rumah ini ya, kita pindah ke desa, mungkin uang rumah ini cukup untuk biaya kebun dan modal usaha ternak sapi lagi," saran Bang Parlin di suatu malam.


"Iya, Bang, terserah abang," jawabku pasrah.


Bang Parlin lalu mulai menawarkan rumah tersebut, aku bantu posting di Facebook, ketika ada yang komentar kenapa dijual, aku jujur saja butuh dana untuk modal ternak sapi, besoknya langsung ada inbok yang nawar, akan tetapi tak ada yang serius, kebanyakan hanya agen yang mencari komisi.


Dua hari kemudian, aku terkejut dengan kedatangan Bu Purwati, luar biasa, dia datang dari Jawa khusus bertemu kami, aku heran, dari mana dia tahu alamat kami, sebelum aku sempat bertanya, dia sudah menjelaskan, kalau saja dia lihat alamat rumah kami di iklan yang kubuat.


"Bang Parlin, sampai sekarang aku masih belum bisa membalas kebaikan Abang dulu, jadi sekarang mungkin saat yang tepat, dulu Abang kasih aku udah puluh lima juta, jika dinilai jaman sekarang sudah ada seratus juta, jadi melihat abang lagi butuh uang sekarang, saya mau bayar utang saya, tolong jangan tolak, Bang," kata Bu Purwati.


Bang Parlin tidak menjawab, akan tetapi dia menitikkan air mata, aku juga ikut terharu. Hari itu juga, Bu Purwati menjual emasnya yang uangnya lebih seratus juta, semua diberikan padaku.


"Dulu, uang pemberian Bang Parlin kubelikan emas, segini dapatnya, itulah semua yang kujual," kata Bu Purwati.


Belum pulang Bu Purwati, kami kedatangan tamu lagi, kali ini seorang polisi dia bernama Ali Akhir Pulungan. Ternyata iklanku banyak mengundang orang datang. Polisi ini juga salah satu yang sukses karena metode zakat Bang Parlin.

__ADS_1


"Bang Parlin, tolong terima ini, ini bukan zakat, ini bayar utangku, karena Bang Parlindungan aku bisa begini," kata Polisi tersebut.


Iklan itu benar-benar mengubah hidup kami, satu persatu orang yang dulu dibantu Bang Parlin berdatangan. Aku sangat bersyukur sekali. Bang Parlin juga seperti berubah, tak lagi menolak bantuan orang. Inilah mungkin yang namanya iklan mengubah nasib.


Bang Parlin mulai mencari pedet untuk dipelihara lagi, karena sawit juga sudah mulai besar. Inilah yang sulit sebenarnya, cari sapi anakan itu susah, apalagi dalam jumlah banyak.


Ada lagi orang datang karena iklan, kali ini yang datang adalah Rara. Dia memang memberi kabar sebelum datang, antara senang dan cemburu perasaanku ketika dia bilang mau datang. Masih ada rasa cemburu itu sampai kini, apalagi Bang Parlin kini sudah gobel lagi, model rambut permintaan Rara dulu.


"Nia, bagaimana ceritanya kalian sampai begini ?" tanya Rara setelah basa-basi sejenak.


"Panjang ceritanya,"


"Aku punya banyak waktu,"


"Begini, Rara, Bang Parlin ditipunya orang, dia beli tanah, ternyata tanah sengketa, akhirnya terjebak mafia tanah, kami harus mengganti rugi, jadi dua kali merugi, rugi ratusan milyar, semua sapi terpaksa dijual, rumah kontrakan juga dijual, ujian belum selesai, sawit tak berbuah lagi karena memang sudah terlalu tua, akhirnya diremajakan, butuh uang lagi, mobil dijual, sampai Bang Nyatan dan Bang Parta sudah membantu, akan tetapi tetap kurang juga." aku bercerita panjang lebar, kuceritakan semua apa adanya, tak menambah atau mengurangi.


"Bang Pain, dulu kau sukses karena dimodali Ayah,sapimu sukses dimulai dari pedet punyaku, biarkan aku bantu Bang Pain lagi." kata Rara.


Panggilannya pada Bang Parlin memang lain, dia sendiri yang panggil Pain, itu saja sudah membuat aku cemburu, kenapa dia punya panggilan khusus pada suamiku ?


"Gak usah, Rara, kami sudah ada modal, Alhamdulillah," tolakku kemudian.


"Rara benar, mungkin modal yang dia berikan berkah," kata Bang Parlin.


Duh, aku justru makin cemburu ...


. _Bersambung dulu yaa ..._


.


"Kenapa harus Rara, kenapa, Bang ?" tanyaku lagi.


"Seperti Williams Shakespeare bilang, " what is the meaning of a name ?" kata Bang Parlin.


Duh, ini benar-benar kejutan, aku yang terkejut, Bang Parlin kini sudah tahu Williams Shakespeare ...


. _Bersambung ..._

__ADS_1


__ADS_2