
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
Bogel-anak nakal itu kini sudah jadi anak pesantren, Bang Parlin membiayai semua. Tadinya ada tujuh orang anak angkat Bang Parlin yang mondok di pesantren. Sekarang tinggal tiga lagi, karena empat orang sudah tamat dan sudah dewasa. Tambah si Bogel ini jadi empat orang.
Selama tiga hari Bang Parlin meluangkan waktu mengurus anak tersebut. Ibu anak tersebut sampai tak bisa berkata-kata lagi. Ayah kandungnya saja tak pernah meluangkan waktu satu hari saja untuk anaknya. Itulah yang menyebabkan anak itu nakal. Katanya bila anak kami yang dia ganggu, ayah kandungnya akan datang. Datang memang, tapi hanya memarahi setengah jam, setelah itu pergi lagi tanpa solusi.
Bang Parlin pulang dari kampung membawa dua orang pemuda. Aku kenal dua pemuda tersebut, mereka anak angkat Bang Parlin yang sudah tamat dari pesantren. Sudah dewasa pula.
"Mereka mau cari kerja, Dek," kata suami sebelum aku sempat bertanya.
Dua pemuda itu tampak lain dari pemuda biasa di kota, peci hitam tak pernah lepas dari kepalanya. Mereka juga selalu memakai sarung. Pekerjaan apa yang cocok untuk mereka di kota ini?
Bang Parlin mulai membantu kedua pemuda tersebut mencari kerja, akan tetapi tak dapat juga.
"Bang, bagaimana kalau kita kasih usaha aja sama mereka?" usulku pada Bang Parlin.
"Mau usaha apa, Dek, mereka masih muda, butuh pengalaman kerja."
Setelah dua minggu di rumah, kedua pemuda itu akhirnya dapat kerja juga, kerja di rumah makan. Tinggalnya pun di rumah makan itu juga.
"Ayah, ayo mancing," kata Ucok di suatu pagi di hari minggu.
"Mancing?" aku yang mendengar perkataan Ucok ikut terkejut, tak biasanya Ucok ngajak begini.
"Iya, Mak, kata Pak Guru, mancing itu bisa buat kita sabar," kata Ucok.
"Memang Ayahmu kurang sabar lagi, Cok?" tanyaku lagi.
"Iya, Mamak pun gak sabaran,"
"Gak sabaran bagaimana, Cok?"
"Kemarin itu Mamak marahi adek, kan gak sabaran itu namanya,"
Dalam hati aku tertawa ngakak, aku memang marah sama si Butet yang sudah lima tahun tapi suka serakkan mainan mulai dari dapur sampai depan. Ternyata Ucok bisa punya ide seperti itu.
"Ayah pun gak sabaran, mau jajan bentar pun ayah suruh cepat," kata Ucok lagi.
"Ok, kita pergi mancing hari ini," kata Bang Parlin.
Si Ucok berteriak gembira. Masalah datang karena kami gak punya alat pancing sama sekali. Bang Parlin orangnya gak hobby mancing. Ketika kami singgah di tempat penjualan alat pancing, Bang Parlin terkejut dengan harganya. Katanya itu tak sebanding dengan harga ikan yang didapat.
"Ah, masa harganya lima ratus ribu," kata Bang Parlin. Biarpun dia kaya, dia orang yang perhitungan bila membeli barang yang tidak perlu.
__ADS_1
Akhirnya kami hanya beli mata pancing yang harga lima ribuan, baru beli benang pancing yang murah juga. Kami berangkat.
Tujuan kami adalah sungai di luar kota, jaraknya dari medan dua jam perjalanan. Aku sudah sarankan ke kolam pancing saja, demi memuaskan si Ucok. Akan tetapi Bang Parlin tidak mau, katanya kolam pancing itu pembodohan.
"Capek kita mancing, tapi yang dipancing beli juga, lebih mahal lagi harganya," begitu alasan Bang Parlin.
Kami tiba di sungai itu, airnya cukup tenang, Bang Parlin dan Ucok cari tempat mancing, aku dan Butet memilih cari tempat makan.
Satu jam, dua jam, Bang Parlin dan Ucok akhirnya datang bawa ikan yang cukup banyak. Akan tetapi si Ucok tampak tidak gembira, ada apa?
"Ayah lucu, Mak," kata Ucok ketika aku tanya kenapa dia murung.
Kulihat Bang Parlin, dia hanya tertawa, dia tampak basah.
"Lucu bagaimana, Cok?"
"Kan kami mancing, Mak, dah lama baru dapat ikan satu, Ayah gak sabaran, ayah masuk ke sungai, menyelam-nyelam udah dapat ikan, kan kita mancing untuk melatih kesabaran, masa gak sabaran juga," kata Ucok.
Bang Parlin tertawa, dia memang orang yang malas mancing, katanya mancing itu untuk orang yang kurang kerjaan, duduk hanya menunggu. Bang Parlin pasti sudah menggunakan kepandaiannya, dia memang bisa tangkap ikan dengan tangan kosong di sungai yang besar, aku sudah sering lihat bang Parlin nangkap ikan. Katanya di bawah batu dan pinggir sungai mudah menangkap ikan dengan tangan kosong.
Kami pulang, di tengah jalan kami singgah di warung, aku mau beli cemilan.
"Ini semua berapa, Bang," tanyaku setelah mengambil keripik dan beberapa coklat.
Tentu saja aku heran, kulihat wajah lelaki penjual tersebut, dia tersenyum ramah. Ada apa ini, coba kuingat siapa dia, barangkali kenal. Akan tetapi tak kuingat juga.
"Mana bisa begitu, ini bayarnya," kataku lagi.
"Benar, Bu, ini sebagai terima kasihku pada Bang Parlin," katanya seraya menunjuk Bang Parlin yang masih di mobil.
"Bang, sini dulu," panggilku kemudian, aku penasaran juga.
Bang Parlin turun dari mobil, lelaki tukang warung itu langsung menyalami Bang Parlin dan mencium punggung tangan suamiku. Bang Parlin juga sepertinya heran. Tapi dia tersenyum juga.
"Terima kasih, Bang Parlin, perkataan Abang waktu itu sungguh membuka pikiranku," kata lelaki itu.
Lalu seorang perempuan datang dari belakang, perempuan itu menggendong anak sekira umur dua tahun.
"Ini Bang Parlin yang kuceritakan itu," kata pria tersebut.
Wanita itu lalu salim pada Bang Parlin dan padaku, aku masih heran, butuh penjelasan.
"Maaf, bukan sombong, tapi kita kenal di mana ya, sungguh aku lupa, maklum lah sudah tua," kata Bang Parlin. Bang Parlin seakan tahu rasa kepoku yang meronta-ronta.
__ADS_1
"Ini aku, Bang, yang kerja di toko pupuk dulu," kata Lelaki itu.
"Toko pupuk? oh, kaunya itu," kata Bang Parlin.
"Siapa, Bang?" tanyaku kepo.
"Ini, dia dulu kerja di toko alat-alat pertanian tempat abang biasa beli pupuk," kata Bang Parlin.
"Begitu kulihat mobil Abang, aku sudah tahu ini pasti Bang Parlin, terima kasih, Bang," kata lelaki itu lagi.
Istrinya datang lagi dari belakang bawa minum, kami akhirnya singgah dan dijamu minum dan makan cemilan. Aku belum tahu, mungkin Bang Parlin pernah bantu modal untuk pria ini, akan tapi setiap kami bayar zakat, aku selalu ikut, rasanya lelaki ini bukan salah satu orang yang pernah menerima zakat kami.
"Perkataan Abang waktu itu sungguh memberikan semangat baru untukku, membuka wawasanku, hasilnya inilah, aku sudah punya warung sendiri," kata pria itu lagi.
"Tolong, aku butuh penjelasan," kataku akhirnya.
Akhirnya Bang Parlin menceritakan juga, saat itu dia mau beli pupuk pagi-pagi, tapi karyawan toko itu belum datang, karyawan toko itu, adalah lelaki ini. Bang Parlin menunggu, setelah datang, yang punya toko memarahi karyawannya habis-habisan. Sampai bicara kasar dan ancaman pecat. Karyawan itu sudah menjelaskan kenapa dia terlambat, istrinya baru melahirkan, dia harus nyuci dulu baru pergi kerja.
"Gak ada pengertiannya bos itu, Bang, mau berhenti gak tau mau kerja apa," kata lelaki itu pada Bang Parlin ketika memuat pupuk ke mobil Bang Parlin.
"Kerja usaha sendirilah, dari pada kena marah terus," kata Bang Parlin waktu itu.
"Mau usaha apa, Bang, sudah enam tahun aku kerja di sini, yang aku tau cuma ini, mau buka usaha kek gini modalnya ratusan juta, mana sanggup," kata Lelaki itu.
"Begini ya, bukan sombong, kalau misalnya aku, dari pada kerja begini, lebih baik aku jualan rokok di lampu merah sana, dari pada kerja supir lebih baik aku bawa becak, biarpun usaha kita kecil kitalah bosnya di situ, memulai usaha itu tak harus besar dulu, buka warung kecil dulu, gak mungkin kau gak ada modal barang dua juta. Kalau bukan sekarang kapan lagi, nunggu tua? kalau kerja di sini selamanya kau akan jadi karyawan." begitu kira-kira perkataan Bang Parlin waktu itu.
Besoknya lelaki itu langsung minta berhenti ketika diancam pecat lagi. Dia lalu jualan rokok di lampu merah, enam bulan kemudian sudah bisa buka warung. Setelah empat tahun warungnya sudah besar seperti sekarang ini.
"Wah, Ayahmu ternyata Mario Teguh, Cok," kataku pada si Ucok setelah mendengar cerita Bang Parlin dan lelaki tukang warung itu.
"Siapa Mario Teguh, Mak?" tanya si Ucok.
"Itu, tukang beri semangat orang, dia orang hebat,"
"Gak lah, Mak, Ayah lebih hebat," kata si Ucok. Ah, gak rela saja si Ucok ini ada orang lebih hebat dari ayahnya.
"Bang, bagaimana kalau Abang jadi motivator saja, kayaknya Abang berbakat ini," kataku di malam harinya, saat itu kami lagi berduaan, Ucok dan Butet sudah tidur.
"Apa itu motivator, Dek?"
"Itu yang tukang beri semangat orang,"
"Cocok juga, abang mulai ajalah, yang pertama abang beri semangat adalah istri Abang sendiri, ayo, Dek, semangat kita bikin adek untuk si Butet," kata Bang Parlin seraya tangannya mulai nakal.
__ADS_1
Lah!