
Lima bulan lima belas hari kemudian!
Saat ini, di tangan Wen Qi, seluruh Telur Naga itu sudah 97% dipenuhi dengan kegelapan, yang artinya janin naga di dalamnya telah membesar hingga memenuhi setiap sisi Telur Naga tersebut.
Kraukk...
Suara renyah seperti seorang mematahkan kripik terdengar di telinga Wen Qi, membuat dirinya semakin bersemangat dan terus menerus memasukkan Fire Qi miliknya.
Krakkk... Krakkk...
Semakin berlalunya waktu, semakin banyak cangkang telur yang retak dan terjatuh, hingga akhirnya setelah penantian panjang —
Krakkk...
Dengan suara retakan yang kuat, seketika telur naga itu benar-benar retak keseluruhannya dan memancarkan cahaya menyilaukan dari dalamnya.
"Piaaaa~!"
"Ughhh ..."
Setelah cahaya menyilaukan itu berlalu dan semua cangkang telur sudah terlepas ke bawah, tiba-tiba muncul seekor bayi naga berwarna merah tua tepat di hadapan Wen Qi.
Bayi naga itu seperti sangat bahagia dan terbang ke sana dan ke mari selama beberapa saat, hingga akhirnya dia kembali lagi ke depan Wen Qi.
"Graaa~!"
Menatap bayi naga di hadapannya ini, Wen Qi sedikit tersenyum dan berkata kepadanya, "Mulai saat ini kau adalah kepunyaanku!"
"Graaaa??" Bayi naga itu memiringkan kepalanya dengan kebingungan.
"Uhh, tidak usah pedulikan itu, kau sepertinya tidak paham!" kata Wen Qi. Dia sendiri tidak berharap bahwa Bayi Naga ini akan memahaminya.
'Ras naga sangat liar, dan mudah lepas kendali ketika marah, aku sebaiknya menaruh tanda penekan pada dirinya!' kata Wen Qi dalam batin, sebelum akhirnya menaruh jarinya pada dahi Bayi Naga tersebut.
Tap!
Seketika kilauan cahaya berwarna emas mengalir dari jari telunjuk Wen Qi hingga masuk ke dalam dahi Bayi Naga itu, membuat Bayi Naga itu seperti menegang untuk sesaat waktu sebelum akhirnya kembali seperti semula.
__ADS_1
"Graaaa??" Bayi Naga itu semakin kebingungan, dia merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, tapi dia tidak tahu apa itu.
"Xiao Long! Mulai hari ini aku akan menamaimu dengan nama itu!" kata Wen Qi, sebelum akhirnya bangkit berdiri dan menoleh ke arah Jia'er yang sudah ada di sampingnya.
"Mulai hari ini kalian berdua tinggallah bersama-sama di sini!" kata Wen Qi seraya membuka jarak agar keduanya dapat mendekat satu sama lain.
"Piaaa ..."
"Groah, Groahhh ..."
Bayi naga itu kelihatan cukup senang, begitu juga sebaliknya. Tepat ketika Jia'er baru ingin meraba wajah Xiao Long, secara tiba-tiba saja Xiao Long langsung membuka mulutnya dan menelan Jia'er.
"Lepaskan, kadal bodoh!" Wen Qi cepat-cepat datang dan membuka mulut Xiao Long sehingga berhasil membiarkan Jia'er keluar dengan kondisi basah kuyup pada seluruh tubuhnya.
"Ughhh, aku semakin ragu meninggalkan kalian berdua bersama-sama!"
Terutama karena kekuatan keduanya sangat berbeda, naga manapun yang baru menetas telah setara dengan kultivator Immortal Stage, sementara Jia'er masihlah Body Tempering Stage.
"Xiao Long, Jia'er bukan makanan! Apa kau bisa menaruh ini ke dalam otakmu?" Wen Qi mencoba menekankan dengan dalam. Tapi Xiao Long terlihat kebingungan, lagipula itu insting alaminya untuk memakan sesuatu.
"Pokoknya kau tidak boleh memakannya!" Wen Qi menegaskan dan menasehatinya.
"Anak pintar, aku akan menghadiahkan hadiah untukmu!"
Setelah selesai berkata, Wen Qi pun memejamkan matanya dan dalam sekejap muncul tembok-tembok raksasa di sekitar tempat itu yang menciptakan sebuah rumah kecil di tengah-tengah Istana Emas Langit itu.
Wen Qi segera membuka matanya kembali sebelum akhirnya dia mengeluarkan banyak daging spirit beast yang dia dapatkan di Alam Abadi Bumi, semua itu Wen Qi bakar dengan Api Merah Tuanya hingga matang merata dan membagikannya kepada mereka masing-masing.
"Groaahhh~!"
"Piaaa~!"
Kedua makhluk kecil itu menatap rakus daging yang dihidangkan, secepatnya keduanya langsung datang dan mengambil masing-masing sepotong paha Spirit Beast.
Menyaksikan keduanya yang menyantap dengan lahap masakannya, Wen Qi tersenyum senang, "Makanlah dan bertumbuhlah! kalian harus membalas semua kebaikanku suatu hari nanti!"
"Groooahhhh...!!"
__ADS_1
"Piaaa...!!"
* * *
Satu bulan berlalu sejak saat itu.
Di bawah cuaca hujan badai yang deras yang mengerikan, di suatu tempat di hulu sungai, seorang pemuda berambut hitam tengah terbaring tak sadarkan diri di sana dan mengalami luka-luka yang cukup parah di sekujur tubuhnya.
Tak lama, datanglah seorang wanita muda, berpakaian sangat sederhana, namun wajahnya bagaikan seorang Dewi yang tak tertahankan.
Wanita muda itu berhenti tepat di depan pemuda dan menatapnya, "Immortal King ... dia pasti terluka sangat parah sehingga tidak bisa sadarkan diri!"
"Ughh ..." Pemuda itu sepertinya merasakan kesakitan sesaat, tapi ia masih belum sadarkan diri juga.
"Aku sebaiknya membawanya pulang dan mengobatinya!" kata wanita muda tersebut, sebelum akhirnya menggotong lengan Wen Qi di bahunya dan berjalan pergi.
* * *
Wen Qi tiba-tiba membuka matanya kembali, dan mencoba untuk menegapkan badannya, namun tiba-tiba saja seluruh tulangnya berderit dan Wen Qi merasakan cukup kesakitan yang tak tertahankan.
"Hah ..." Wen Qi berbaring kembali dengan kondisi lemah dan dahi yang dipenuhi keringat, ia benar-benar tak berdaya saat ini.
"Kau sepertinya terkena cedera parah, maaf tapi cuman itu yang bisa aku lakukan!" Suara indah nan merdu ditransmisikan langsung ke telinganya, membuat Wen Qi cepat-cepat menoleh ke samping dan menemukan ada seorang wanita muda berambut hitam di sana yang sedang berjongkok sambil memasak bubur panas di dalam panci.
"Siapa kau?!" Wen Qi agak terkejut, pasalnya selama ini dia bahkan tidak menyadari adanya kehadiran di dalam gua batu ini.
"Siapa aku ... di mana ini ... kenapa aku menyelamatkanmu ... pasti itu semua yang kau ingin tanyakan," kata wanita itu sembari bangkit berdiri dan mengeluarkan sebuah mangkuk kuah dan mengisi bubur panas yang ia sendiri telah masak.
"Tapi untuk apa aku memberitahukannya padamu? kita tidak memiliki hubungan apapun."
Mendengar perkataan dari wanita ini, Wen Qi agak terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya berkata lagi, "Lupakan saja, ada benarnya juga, kita hanya tanpa sengaja saling bertemu."
Wanita muda itu berbalik badan dan berjalan menghampiri Wen Qi, "Ada baiknya jika kau berpikir seperti itu," katanya sebelum akhirnya duduk berlipat kaki di gua batu itu dan menaruh mangkuk bubur itu di samping Wen Qi.
"Makanlah sendiri, setelah kau sembuh, maka pergilah," ucap wanita itu sambil membetulkan rambutnya yang menjuntai ke dahinya.
"..." Wen Qi terdiam untuk sesaat. "Terima kasih, siapapun kau ini, aku Wen Qi sangat berterima kasih sudah menyelamatkan raja— sudah menyelamatkan aku ini."
__ADS_1
[Bersambung!]