
Tut...Tut..Tut..
Almeera beberapa kali mencoba untuk menelpon Elmeera,tapi tidak juga di angkat oleh nya,tapi Almeera berpikir sepertinya dia sudah sampai, soalnya ponselnya aktif,kalau dia masih di pesawat,pasti handphone nya di matikan.
"Ken, telponnya nggak di angkat,mungkin momy baru sampai jadi dia capek,tidak apa apa kan,kalau nelpon nya nanti?" Almeera menatap wajah Kendra.
"Biasa nya juga memang seperti itu kan bunda,saat momy di sana,dia tidak pernah perduli dengan ku,bahkan dia tak pernah bertanya, bagaimana keadaan ku di sini,jadi ken sudah terbiasa." Kendra terlihat sedih.
("Ken terlihat sangat kecewa,aku tau dia pasti sedih walaupun dia mencoba untuk tegar,maafkan momy mu yah Ken.") batin Almeera.
"Eemm,lebih baik kita bersiap siap untuk pulang yah, sebentar lagi butik akan tutup,nanti Ken,main sama Opa sama Oma di rumah." Almeera mencoba menghibur Kendra.
"Iyah bunda." Kendra masih terlihat sedih.
Sementara Dafi,ia baru saja sampai di rumah nya,di sana sudah ada Elsa dan juga orang tuanya, sepertinya mereka sedang membahas pernikahannya yang tinggal beberapa Minggu lagi.
"Daf,dari mana aja kamu, kenapa nomor mu tidak aktif?" tanya Risti.
"Dafi ada urusan mah." jawab nya datar.
"Ya udah, sekarang kamu duduk,kita lagi memilih milih desain undangan pernikahan kalian,kalau masalah gedung, catering,dan urusan lainnya, sudah kita atur." ucap Risti.
Terlihat Luna sepertinya sedang memilih milih undangan,Dafi tak habis pikir dengan nya, walaupun ia sudah menolak mentah mentah Luna di hadapannya,tapi Luna tetap melanjutkan rencana pernikahan ini.
Mau tak mau Dafi pun menghampiri mereka,ia duduk di sebelah Luna yang sepertinya masih terlihat canggung karena kejadian waktu itu.
"Nah, silahkan kamu pilih,yang mana yang kamu suka!" ucap Risti.
"Kalian saja yang pilih,aku nggak mau ribet." ucap Dafi.
"Daf,kamu jangan gitu lah,ini kan pernikahan kalian!" ucap Dafi.
"Tapi kalian kan yang mau,aku sudah menolak nya dari awal,jadi,kalian urus saja semau nya,aku tidak mau ikut campur." Dafi langsung berdiri dan pergi dari tempat tersebut.
"Maafkan Dafi yah,saya yakin kok nanti kalau sudah menikah,dia akan sangat menyayangi luna,Iyah kan sayang?" Tanya Risti pada Luna.
"Iyah Tante." ucap Luna.
"Eemm,jadi bagaimana soal gaun pengantin kalian,apa sudah selesai?" tanya Risti.
__ADS_1
"Belum Tante,nanti Luna akan telpon dulu ke butik nya,mudah mudahan sudah selesai Minggu ini juga,biar persiapan nya selesai." ucap Luna.
"Ya sudah,Tante sudah tidak sabar ingin melihat kalian menikah." Risti sangat terlihat bahagia.
"Eemm Iyah Tante,eemm,aku pilih ini aja undangan nya Tan,bagus dan menarik." ucap Luna.
"Eemm sepertinya pilihan kita sama,oke Tante setuju." Risti pun tersenyum bahagia.
"Tante,aku lihat Dafi dulu yah." ucap Luna.
"Ya udah sana." ucap Risti.
Luna pun langsung berjalan ke arah kamar Dafi,ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,Dafi sangat terkejut ketika Luna masuk ke dalam kamar nya.
"Daf." Luna menghampiri Dafi.
"Aku sudah bilang,kamu jangan sembarangan masuk kamar ku,apa kamu lupa atau memang sengaja." ucap Dafi tak suka.
"Kalau aku sengaja emang nya kenapa?" Luna seperti tidak merasa bersalah.
"Kamu ini yah benar benar." Dafi bingung harus bagaimana menghadapi Luna yang keras kepala.
"Bukan urusan mu." ucap Dafi.
"Hmm,kenapa sih,kamu cuek banget sama aku, padahal aku ini calon istri mu Daf." ucap Luna.
"Aku tak pernah menganggap kau sebagai calon istri ku, seharusnya kau sudah tau." ucap Dafi datar.
"Dan aku akan terus melanjutkan rencana pernikahan ini,supaya aku bisa cepat cepat jadi istri mu." ucap Luna tak mau kalah.
"Terserah kamu,aku tidak peduli." ucap Dafi cuek.
("Dafi kenapa sih, padahal aku sangat merindukan Dafi yang dulu, yang lembut, perhatian,tidak secuek dan sedingin ini padaku,pokonya aku akan membuat Dafi kembali seperti dulu,aku yakin,aku pasti bisa." ) batin Luna.
"Daf,kita keluar yuk!" ajak Luna.
"Aku lagi males." sahut Dafi.
"Eemm kalau gitu kita main game bareng yuk,kaya dulu!" Luna membujuk Dafi.
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin bermain game,lebih baik kamu keluar,aku sedang ingin sendiri." ucap Dafi.
Luna pun berdecak kesal,ia keluar dari kamar tersebut,karena Dafi sangat cuek terhadap nya.
***
Sementara di tempat lain,Kendra dan Almeera baru saja sampai di rumah,Ken langsung mencium tangan Oma dan Opa nya saat mereka sedang berada di ruang tamu.
"Cucu Oma udah pulang,eemm tapi kenapa muka nya di tekuk gitu?" tanya Oma Tri.
"Ken tidak apa apa Oma." ucap Kendra dengan lesu.
"Ken, sekarang kamu ke kamar,ganti baju yah sayang,bunda mau di sini dulu sebentar,Ken bisa kan?" tanya Almeera.
"Bisa bunda." ucap Ken,ia langsung berjalan ke kamar nya.
"Dia kenapa Al?" tanya Tri.
"Tadi, Ken ingin menelpon El, kayaknya dia kecewa karena telponnya tidak di angkat." ucap Almeera.
"El Memeng seperti itu,dia tidak peduli sama sekali dengan putranya,hmm ya sudah kamu bujuk Ken supaya dia tidak sedih lagi,mama kasian melihat nya seperti itu." ucap Oma Tri.
"Iyah mah,kalau begitu,Al ke kamar dulu yah." ucap Almeera yang langsung berjalan ke arah kamar nya.
Almeera membuka pintu kamarnya,ia melihat Kendra yang masih cemberut sedang duduk di sofa,sambil melamun.
"Ken,kamu masih inget momy yah?" tanya Almeera.
"Iyah bunda, sepertinya memang momy tidak sayang sama Ken,dia lebih sayang sama pekerjaan nya." ucap Kendra.
"Sayang,Ken jangan berbicara seperti itu yah nak,momy itu sayang sama Ken,tapi untuk saat ini, sepertinya pekerjaan momy lagi banyak,jadi momy sibuk,nanti kalau momy udah ada waktu,dia pasti telpon balik,Ken jangan sedih lagi yah." Almeera mengusap kepala Kendra.
"Beneran bunda?" Kendra melihat ke arah Almeera.
"Iyah sayang." Almeera tersenyum.
"Ya sudah,kalau begitu Ken mandi dulu yah,abis itu Ken mau main sama Opa." ucap Kendra,ia kembali ceria.
"Iyah sayang,anak bunda memang pintar." Almeera tersenyum.
__ADS_1
("Entah harus bagaimana lagi,aku berbicara dengan mu El,Kendra juga sangat butuh kasih sayang mu,tapi kamu tidak pernah memberikan nya,aku harus bagaimana, walaupun mungkin aku sangat menyayangi nya,tapi aku sadar,kau dan Kendra punya hal yang tidak aku punya dengan nya.") batin Almeera.