
"Terserah kamu aja,aku tidak begitu paham soal makanan." ucap Dafi datar.
"Lagi lagi kamu selalu seperti ini jika aku tanya,bisa nggak sih Daf,sekali aja kamu nggak bikin aku kesel,aku tuh harus bagaimana supaya kamu nggak terlalu cuek gini, Sebentar lagi kita tuh bakal nikah,tapi kamu tetep aja nggak bisa hargain aku sedikit aja." ucap Luna.
"Terus,kamu maunya aku kayak gimana,kamu sendiri kan yang menginginkan pernikahan ini,dan kamu bilang minta di hargai?seharusnya kamu hargai dulu diri kamu sendiri." ucap Dafi.
"Stop Daf,kamu jangan bicara begini di sini,mama malu." Risti melihat sekeliling.
Sementara Luna,ia merasa malu karena beberapa orang sedang melihat ke arah nya,ia bahkan tak menyangka,Dafi akan mengatakan hal seperti itu di depan umum, walaupun tidak terlalu keras,tapi yakin, beberapa orang mendengar nya.
"Kalian lanjutkan saja,aku mau pulang duluan!" Dafi langsung berdiri kemudian pergi dari tempat tersebut.
"Daf,kamu mau kemana?" Luna terlihat panik. "Tante,gimana ini?" Luna terlihat sangat bingung.
"Sudahlah,biar kita saja yang pilih makanan nya, dari pada kita harus balik kesini lagi nanti,kita sudah tidak ada waktu lagi, pernikahan kalian tinggal dua Minggu lagi." ucap Risti pelan.
"Iyah Tante." jawab Luna, walaupun sebenarnya ia sedikit kesal dengan Dafi.
("Walaupun kamu tetap menolak,tapi pernikahan ini akan tetap terjadi Daf,kamu harus tau itu, Sebentar lagi,kamu akan jadi milik ku.") batin Luna.
Sementara Dafi,kini ia sedang berada di dalam mobil, pikiran nya tampak sangat kacau sekarang,ia sangat pusing memikirkan pernikahannya itu.
Saat sedang mengemudikan mobil,ia pun langsung menghentikan mobilnya saat melihat seseorang yang di kenali nya seperti sedang menunggu seseorang.
"Itu kan Almeera,sedang apa dia di sini?" gumam Dafi.
Tanpa pikir panjang,ia pun langsung turun dari mobil dan menghasilkan nya.
"Eh Al,sedang apa di sini?" tanya Dafi.
"Eemm lagi nunggu taksi,tadi abis belanja di sana?" Almeera menunjuk sebuah minimarket.
"Eemm kamu sendiri? kenapa nggak bawa mobil?" tanya Dafi,ia melihat sekeliling.
"Lagi males nyetir,udah lama juga nggak keluar malem,mumpung Ken lagi anteng main sama Opa nya." ucap Almeera.
("Apa sebaiknya aku ajak Al aja yah.") batin Dafi.
__ADS_1
"Eemm,dari pada nunggu taksi lama,jika kamu mau, bagaimana kalau aku anterin kamu ke rumah." Dafi menawarkan.
("Sebenarnya aku agak ragu ikut Dafi,tapi dari pada nunggu taksi dari tadi nggak ada juga,nggak papa lah kali yah.") batin Almeera.
"Memangnya enggak ngerepotin?" tanya Almeera.
"Nggak sama sekali,ayo! mobilnya di sana." Dafi menunjuk mobilnya.
Mereka pun langsung berjalan berdampingan menuju mobil. "Silahkan!" ucap Dafi,ia membukakan pintu mobil untuk Almeera.
"Terimakasih!" Almeera pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
Saat berada di dalam mobil, mereka hanya terdiam, seperti ada kecanggungan di antara keduanya,mungkin Almeera juga merasa tidak nyaman, mengingat jika Dafi sudah memiliki pasangan,bahkan Sebentar lagi akan menikah.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Almeera,karena jarak antara minimarket dan rumah Almeera tidak terlalu jauh, mereka pun tak memerlukan waktu yang lama untuk sampai.
("Kenapa tiba-tiba aku kangen sama Ken yah,apa aku mampir aja, sepertinya ini belum terlalu malam juga.") batin Dafi.
"Eemm Al,boleh nggak kalau aku mampir,aku kangen sama Ken?" ucap Dafi tiba-tiba.
("Duh gimana yah,kalau aku nggak ngizinin, takut nya gimana gimana,apalagi Ken tadi bilang,ia juga kangen sama om baik,gimana yah.") batin Almeera.
"Boleh kok,tadi Ken juga sempet bilang kalau dia pengen ketemu kamu." ucap Almeera.
"Hah, serius?" Dafi terkejut mendengar nya, Almeera pun mengangguk.
Tanpa pikir panjang mereka pun langsung turun dari mobil, mereka pun langsung masuk ke dalam rumah,saat mereka masuk terlihat Opa Candra dan juga Oma Tri sedang mengobrol di ruang tengah.
"Om,Tante?" Dafi menyalami keduanya.
"Loh,kok bisa barengan gini?" tanya Oma Tri,ia sedikit heran.
"Tadi kita ketemu di depan minimarket Tante,ya udah Dafi ajak pulang aja sekalian,kan searah juga." jawab Dafi dengan ramah.
"Oh ya udah, silahkan duduk,biar Tante bikin minum dulu!" ucap Oma Tri.
"Nggak usah repot-repot tante." Dafi merasa tidak enak.
__ADS_1
"Nggak kok." Oma Tri langsung berjalan ke arah dapur.
"Ayo duduk!" ucap Opa Candra.
"Iyah om." Dafi pun langsung duduk.
"Ken mana pah?" tanya Almeera,ia pun langsung duduk.
"Ken baru aja tidur,tadinya dia mau nunggu kamu Al,tapi sepertinya udah ngantuk banget." ucap Opa Candra.
"Yah sayang banget, padahal Dafi tadinya mau ketemu sama Ken om." ucap Dafi.
"Lain kali kesini lagi aja,eemm maaf sebelumnya,om mau istirahat dulu,tadi cape banget di ajak main sama Ken,dia lagi aktif aktif nya jadi nggak bisa diem." ucap Opa Candra.
"Oh Iyah nggak papa om,Dafi malah nggak enak ganggu om." ucap Dafi.
"Nggak papa,kalian lanjutkan saja ngobrol nya yah." ucap Opa Candra sambil tersenyum,ia pun langsung pergi ke kamar nya.
Beberapa saat kemudian,Oma Tri pun datang membawa minuman, kemudian ia meletakkan nampan berisi minuman itu di atas meja.
"Silahkan di minum! eemm papa kemana Al?" tanya Oma Tri.
"Papa ke kamar mah istirahat, katanya capek abis di ajak main sama Ken." ucap Almeera.
"Oh Iyah mama lupa,tadi papa minta di pijit,kalau begitu mama tinggal juga yah,kalian lanjutkan ngobrol nya." ucap Oma Tri,ia pun langsung berjalan ke arah kamar nya.
("Kenapa semuanya malah pergi sih,gimana ini,masa aku malah berduaan sama Dafi sih di sini.") batin Almeera.
Keduanya pun seperti salah tingkah, awalnya mereka hanya melihat sekeliling dan sesekali saling berpandangan karena merasa canggung.
("Entah apa yang sebenarnya aku rasakan Al,tapi jujur saja sejak pertemuan pertama kita,aku merasa nyaman bila dekat dengan mu.") batin Dafi.
"Almeera?" ucap Dafi pelan.
"Hah,Iyah." jawab Almeera sedikit terkejut.
"Terserah kamu mau anggap aku apa atau bagaimana,tapi aku nggak bisa pendam rasa ini terlalu lama, jujur saja sejak pertemuan kita,aku menyimpan perasaan padamu." ucap Dafi tiba-tiba.
__ADS_1
"Hahahaha,kamu ini bercanda nya kayak gitu,Dafi Dafi,ada ada aja." Almeera langsung terkekeh mendengar perkataan Dafi, ia hanya menganggap ucapan Dafi sebagai bercandaan.