Sebuah Rahasia Almeera

Sebuah Rahasia Almeera
29.Tidak di inginkan


__ADS_3

(Kenapa Ken jadi membandingkan Dafi sama Edward,kenapa juga tiba-tiba dia bisa ingat sama Dafi,aku harus jelasin apa,pasti mama sama papa Penasaran banget sama om baik, yang di sebut kendra.") batin Almeera.


"Wah,nanti kenalin ke Opa yah,opa pengen tau siapa om baik itu." ucap Candra.


"Iyah Opa,eemm tapi,memang nya boleh kalau om baik main ke rumah kita?" tanya Dafi dengan wajah yang terlihat sangat senang.


"Eemm boleh, selama itu bisa membuat Ken senang, Opa mengizinkan nya." ucap Candra.


"Terimakasih Opa,Ken sayang Opa." Kendra memeluk Candra.


"Opa juga sayang sama Ken,eemm ya sudah, sekarang Ken pergi ke kamar duluan yah,Ken bersih bersih abis itu tidur, Opa sama Oma mau berbicara dulu sama bunda,oke." ucap Candra.


"Iyah Opa,Ken ke kamar dulu yah bunda." tanpa menunggu jawaban dari Almeera,Kendra langsung berlari ke arah kamar nya.


Candra melihat ke arah Almeera,ia sangat penasaran dengan seseorang yang di bicarakan oleh Kendra. "Bisa kamu jelaskan siapa itu om baik,apa itu pria yang sedang dekat dengan mu?" tanya Candra.


"Bukan pah,dia itu customer ku,dia dan calon istrinya memesan gaun pengantin di butik ku,tapi waktu itu,kami pernah bertemu di minimarket,pria itu membantu Ken mengambilkan eskrim, setelah kejadian itu mereka jadi deket,Al juga nggak tau kenapa Ken bisa segampang itu dekat dengan dia, padahal baru dua kali bertemu." Almeera menjelaskan.


"Apa Sebelumnya kamu tidak mengenal nya?" tanya Tri.


"Tidak mah,aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan nya." ucap Almeera.


"Papa jadi penasaran,siapa laki-laki itu." ucap Candra.

__ADS_1


("Kenapa papa jadi penasaran sama Dafi,apa jadinya kalau papa dan mama lihat muka Dafi yang mirip dengan Ken,apa mereka juga akan berpikiran hal yang sama dengan ku,hmm tapi aku sebaiknya tak memberitahu nya dulu,biarkan mereka yang menilai sendiri nanti.") batin Almeera.


"Dia bukan siapa-siapa pah,kenapa papa jadi tertarik gitu sama dia,hehehe." Almeera tertawa kecil.


"Bukan begitu sayang,papa cuma penasaran aja,kenapa Ken sampai sampai bilang kalau dia lebih suka sama om baik itu ketimbang dokter Edward, padahal Ken sama dokter Edward sudah sangat lama saling mengenal." ucap Candra.


"Namanya juga anak anak pah." ucap Almeera.


Candra menghembuskan nafasnya. "Eemm terus kamu kenapa sebentar sekali keluar nya, bukan nya kamu makan malam sama dokter Edward?" tanya Candra.


"Al kepikiran Ken pah,mungkin Al nggak biasa aja keluar tanpa mengajak Ken,jadinya agak kurang pokus gitu." ucap Almeera.


"Hmm kamu ini, bagaimana mau punya pacar,kalau setiap pergi harus sama Ken terus." ucap Candra.


"Papa sama Mama kenapa ngomong nya pada kompak yah." Almeera menghembuskan nafasnya.


"Al sudah berjanji untuk mengurus Ken mah, semenjak Ken belum lahir pun,Al sudah berjanji untuk mengurus Ken dan Al juga sudah sanggup untuk merawatnya,karena kalau tidak seperti itu,mungkin sekarang Ken tidak akan ada di dunia ini,Karena El tak pernah menginginkan nya,jadi menurut Al,Ken adalah tanggung jawab Al sepenuhnya, sampai dewasa nanti." ucap Almeera.


"Mama bangga sama kamu sayang,kamu benar benar sayang sama Ken,mama tidak tau bagaimana jadinya,jika waktu itu kamu tidak sanggup untuk merawatnya." ucap Tri.


"Al juga tau,mama sama papa pasti tidak setuju,kalau misalnya El mengg***rkan kandungan nya kan,jadi menurut Al,inilah jalan terbaik yang harus Al ambil,dan terbukti kan sekarang, pengorbanan Al nggak sia sia,kini Ken tumbuh menjadi seorang anak yang sangat tampan, manis,cerdas,santun,baik hati dan yang paling penting bisa sayang sama Al walaupun dia tau kalau Al hanyalah ibu pengganti untuk nya." ucap Almeera.


"Iyah sayang,mama sangat bersyukur kamu bisa sesayang itu sama Ken, makasih yah,kamu bisa menjaga dan merawat cucu mama dengan sangat baik." Tri memeluk Almeera.

__ADS_1


"Iyah mah." Almeera membalas pelukan mamanya.


Dari pintu kamarnya, Kendra melihat dan mendengar percakapan mereka,ia termenung melihat kejadian tersebut,Kendra meneteskan air matanya saat mendengar ternyata ibu kandungnya tak menginginkan nya lahir ke dunia ini.


("Ternyata momy tak menginginkan ku,pantas saja aku tinggal dan di urus sama bunda, dia tidak menyayangi ku seperti Bunda,tapi kenapa? padahal aku tidak nakal,aku juga bisa sayang sama momy,tapi kenapa Momy tidak seperti Bunda yang sangat menyayangi ku.") batin Kendra.


Kendra langsung menutup kembali pintu nya, kemudian ia naik ke atas tempat tidur,ia termenung sambil menangis,ia memikirkan pembicaraan tadi, hatinya sangat hancur saat mengetahui bahwa ia tak pernah di inginkan oleh ibu kandung nya sendiri.


"Momy jahat, hiks hiks hiks." Kendra menangis sesenggukan.


Saat tadi, awalnya setelah bersih bersih dia mau menghampiri bunda nya lagi,ia mau mengambil makanan yang tadi di bawa oleh Bunda nya dari dokter Edward,tapi ternyata,ia melihat percakapan antara ketiganya,ia pun mengurungkan niatnya.


Namun ternyata itu malah membuat hati nya hancur,ia sangat kecewa dengan apa yang baru di dengarnya,kini ia pun sangat kepikiran dan tak bisa menahan tangisnya.


Sementara di ruang tamu, Almeera masih mengobrol bersama dengan orang tua nya,namun tiba-tiba ia teringat akan makanan yang ia bawa.


"Mah,aku lupa, bukan nya Ken, belum makan makanan ini,tapi kok dia tidak balik lagi kesini yah?" ucap Almeera merasa heran.


"Mungkin dia sudah tidur,coba lihat ke kamar." ucap Tri.


"Ya sudah aku ke kamar dulu yah, sekalian mau ganti baju juga,abis itu mau istirahat,aku besok kayaknya nggak ke butik dulu, soalnya, yang mau ngedesain kamar untuk Kendra besok desainer interior nya datang kesini buat ngecek sama kasih pilihan,mau di bikin bagaimana kamar nya nanti." ucap Almeera.


"Hmm kamu memang tidak mau asal asalan kalau menyangkut Kendra,masalah kamar untuk nya saja,kamu harus memanggil desainer interior segala,padahal pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membayar jasa nya." ucap Tri.

__ADS_1


"Tidak apa apa mah,Al hanya ingin Kendra nyaman di kamar baru nya,nanti dia kan harus tidur sendiri." ucap Almeera.


"Iyah sayang mama mengerti." ucap Tri,ia tersenyum bangga melihat putrinya itu.


__ADS_2