Sebuah Rahasia Almeera

Sebuah Rahasia Almeera
51.Nasehat


__ADS_3

Tentu saja, semua itu ada hubungan nya dengan Elmeera,karena akhir akhir ini, setelah kejadian malam itu,Rey dan Elmeera sering sekali melakukan nya,mereka merasa candu satu sama lain.


"Papa nggak papa kan?" tanya Risti.


"Papa cuma capek aja,kalau papa istirahat dulu nggak papa kan?" ucap Rey sambil memejamkan matanya.


"Iyah pah,ya udah kalau gitu mama keluar dulu,papa tidur aja." ucap Risti.


Walaupun ia sedikit heran,namun Risti mencoba untuk berpikir positif,mungkin memang Suami sangat lelah hari ini.


Risti pun langsung keluar dari kamar,karena ia pun cukup sibuk untuk mengurus persiapan pernikahan Dafi dan juga Luna besok.


Saat Risti baru saja keluar dari kamar, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara dering ponsel nya, dengan begitu ia pun langsung mengangkat telponnya.


"Halo,Iyah kenapa lun?" ucap Risti.


"Dafi ada di rumah kan Tante?" tanya Luna,di balik telpon.


"Ada,memang nya kenapa?" Risti duduk di sofa.


"Kenapa dari tadi dafi nggak angkat telpon ku Tante?" Luna terdengar sedih.


"Luna sayang,besok kan kalian akan menikah,jadi memang sebaiknya begitu,lebih baik kalian jangan berkomunikasi dulu,kan kalian lagi di pingit." ucap Risti menjelaskan.


"Tapi Tante,aku kangen banget sama Dafi,kalau begitu aku ke rumah yah sekarang?" ucap Luna.


"Nggak boleh Luna,kalian besok kan ketemu di gedung,biar pas ketemu nanti pangling,eemm bagaimana,apa semuanya sudah siap?" tanya Risti.


"Hmm,udah siap semua Tan,MUA nya juga udah siap , walaupun kemarin ada sedikit kendala." ucap Luna.


"Kendala? memangnya kenapa?" tanya Risti.


"Ada drama sedikit,tapi sekarang udah aman kok." ucap Luna.


"Ya udah kamu yang sabar aja yah,mending sekarang kamu ke tempat treatment wajah,atau nggak ke spa biar wajah kamu jadi fresh,dan pasti kamu bakalan cantik di pesta pernikahan besok." ucap Risti.

__ADS_1


"Oke Tan,kalau gitu aku tutup yah telpon nya." ucap Luna.


Tanpa menunggu jawaban dari Risti,Luna pun sudah mematikan telponnya.


"Hmm dasar anak jaman sekarang." Risti menghembuskan nafasnya,ia pun langsung berjalan kembali,ia berniat untuk mengecek Dafi yang belum juga keluar dari kamar nya.


Tok... tok... tok...


"Daf,kamu di dalam kan sayang?" Risti mengetuk pintu kamar Dafi.


Tak lama kemudian,Dafi pun membuka pintu nya. "Iyah mah kenapa?" tanya Dafi,ia terlihat murung.


"Kenapa kamu nggak keluar dari tadi,papa sudah pulang,tadi nanyain kamu." Risti memberi tahu.


"Kapan papa pulang?" tanya Dafi,ia memang cukup dekat dengan papa nya,makanya mendengar papa nya pulang,ia terlihat antusias.


"Tadi, tapi sekarang papa lagi istirahat,katanya dia capek banget,mau tidur dulu." ucap Risti.


"Oh,ya udah kalau gitu." ucap Dafi.


"Kamu kenapa sih kok kayak nggak semangat gitu, padahal besok kan hari pernikahan kamu, seharusnya kamu bisa lebih ceria." Risti melihat raut wajah Dafi.


Risti menghembuskan nafasnya,kemudian ia mengajak Dafi untuk mengobrol sambil duduk di sofa supaya ia bisa lebih nyaman.


"Ada apa lagi sih mah." Dafi sepertinya sedang tidak ingin berdebat.


"Daf,mama tau kamu terpaksa menikah dengan Luna,karena kamu tidak mencintainya,tapi mama harap kamu tidak akan membatalkan pernikahan ini,karena mama berharap, setelah berlangsung nya pernikahan kamu nanti,lama lama kamu akan mencintai nya,kalian akan hidup bahagia." Risti melihat wajah Dafi.


"Tapi,jika harapan mama tidak sesuai dengan keinginan mama bagaimana? apakah aku boleh mengambil keputusan untuk meninggalkan Luna jika memang setelah pernikahan pun aku tak bisa mencintai Luna seperti yang mama harap kan?" tanya Dafi.


"Mama tidak bisa memberikan janji atau menjawab nya sekarang,tapi mama yakin,cinta akan tumbuh dengan seiring nya waktu,mama cuma minta,jangan sakiti Luna, sekali pun kamu tidak mencintainya." Risti memberikan nasehat.


"Dafi pun sama seperti mama,Dafi tidak bisa berjanji atau menjawab nya sekarang,karena Dafi tak tau apa yang akan terjadi pada hidup Dafi nanti,namun satu yang harus mama tau,cinta tak bisa di paksakan." ucap Dafi,ia hanya tak ingin mama nya terlalu berharap lebih padanya.


***

__ADS_1


Sementara di tempat lain, terlihat Kendra seperti sedang melamun di dekat jendela,ia sengaja membuka jendela nya, agar angin dari luar masuk ke dalam kamar nya.


Kendra memang sengaja memilih kamar yang jendela nya langsung menghadap kolam renang,karena ia sangat senang melihat air kolam renang yang terlihat tenang,dan itu salah satu cara agar dirinya bisa merasa tenang.


"Ken,are you oke?" tanya Almeera tiba-tiba.


Kendra terkejut ketika mengetahui Almeera datang ke kamar nya.


"Bunda." ucap Kendra.


"Kamu kenapa,bunda ketok ketok pintunya kok nggak di buka,maafin bunda yah langsung buka pintunya gitu aja, soal nya tadi bunda khawatir." Almeera duduk di sebelah Kendra.


Almeera memang selalu mengajarkan kesopanan sejak dini, agar Kendra menjadi orang yang sopan sejak kecil,dan itu bisa menjadi kebiasaan baik nanti nya, contoh nya itu tadi, Almeera selalu memberikan contoh agar selalu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar.


"Don't worry bunda,I am fine,maafin ken juga,Ken tidak dengar tadi." ucap Kendra.


"Hmm,Ken jangan bohong sama bunda,bunda tau kok,pasti ada yang sedang Ken pikir kan?" Almeera menatap wajah Kendra.


Sepertinya memang Almeera tahu betul apa yang sedang di rasakan putranya,ia pasti tau dan merasakan jika Kendra sedang merasakan sesuatu.


"Sebenarnya Ken kangen sama momy,tapi jangankan meluk Ken, bertanya kalau Ken sehat atau nggak nya pun momy tidak bunda." Kendra menghembuskan nafasnya.


Almeera menghela nafasnya. "Sayang,Ken kan tadi dengar sendiri kalau momy lagi capek,jadi mungkin momy butuh istirahat,momy kan habis perjalanan jauh." Almeera mencari alasan yang tepat.


"Jadi,kalau nanti momy habis istirahat,momy tidak akan cuek lagi bunda?" Kendra terlihat senang.


"Iyah,nanti momy tidak akan cuek lagi." Almeera tersenyum.


"Eemm bunda?" tanya Ken, sepertinya mood nya sudah lebih baik sekarang.


"Iyah." jawab Almeera.


"Bagaimana,kalau besok,kita ajak momy ketemu sama om baik,Ken mau lihatin sama om baik,kalau selain punya bunda,Ken juga punya momy." ucap Kendra.


"Eemm,ya udah,kalau besok momy nya nggak ada kerjaan,kita ajak yah." ucap Almeera.

__ADS_1


"Yang benar bunda?" Kendra terlihat sangat senang.


"Iyah bawel." Almeera mencubit pipi tembem Kendra,ia gemas dengan putranya itu.


__ADS_2