
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
Saat Abian begitu panik karena terpisah dengan Nika dan Lia.
Abian tidak bisa memikirkan apapun yang di kepalanya.
Kenapa hal ini harus terjadi? Kepada ku?
Alasan Abian panik adalah karena teknik seni nya yang harus meminjam milik teman nya, jika dia bertemu makhluk tak kasat mata di saat seperti ini, mungkin dia gak akan selamat.
Tenang lah, aku harus tenang.
Abian menarik nafasnya untuk tetep tenang, jika dia panik dan nafas nya tidak teratur mungkin dia akan dalam masalah karena di gunung ini sangat tipis oksigen nya.
Abian sedikit mundur beberapa langkah untuk mencari salah satu dari Nika atau Lia.
Tiba tiba sikut kiri Abian seperti menyikut sesuatu yang lembut seperti marsmellow.
"Hyaaa..."
Sesaat setelah Abian meyikut sesuatu, tiba-tiba dia mendengar suara yang mirip seperti suara perempuan.
Abian berpikir apakah dia berhalusinasi?
Setelah beberapa saat kabut di dekat nya sedikit menipis dan dia pun melihat sosok perempuan yang cukup tinggi, tinggi nya hampir sama rata dengan Abian.
Dia memiliki rambut hitam yang di ikat pony tail.
"Jadi kamu yang menyetuh dada ku? Dasar laki laki itu mesum semua!" Ujar nya sambil menutupi dada nya dengan kedua tangannya.
"J-jadi? M-maaf aku tidak sengaja, oh iya, kau manusia?"
"Aku Manusia tulen loh! Oh iya baju mu? Kau dari SMA ilmu seni dan bela diri?"
"Eh kau? Eh baju mu juga?"
Abian baru sadar bahwa perempuan itu juga mengunakan seragam sekolah nya, dia mengenakan jas hitam, rok mini dan kemeja putih tanpa dasi.
Dan yang paling membuat Abian tidak bisa berpaling adalah kancing atas kemejanya terbuka dan tubuh bagian atas nya bisa terlihat oleh Abian.
"Mata mu melihat ku dengan tetapan mesum!"
"T-tidak! Kau cuma salah paham...."
Dia mengembungkan pipinya, dia terlihat cantik.
Ayah terima kasih sudah mengirim ku sekolah ini.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu..." Tanya nya dengan wajah yang masih cemberut.
"A-aku Abian, aku baru masuk ke sekolah dan baru kenal teknik seni dan makhluk tak kasat mata yang kita basmi...."
"Baru masuk? Apakah kau kelas 1 juga?"
"Ya, aku kelas satu, kita seangkatan...."
"Hmmmm.... Abian ya? Aku Sonia, salam kenal ya. Kau datang ke sini sendiri?" Jawab dia sambil memperkenalkan diri.
Abian berpikir orang yang bernama Sonia ini akan terus cemberut padanya, tapi dia bisa tersenyum dan mengajak nya berjabat tangan
"Sonia ya? Maaf aku tidak bisa berjabat tangan dengan mu karena teknik seni ku akan akan aktif jika aku berjabat tangan dan itu melelahkan, aku datang bersama Nika dan Lia. Tapi, aku terpisah sekarang..." Jawab Abian sambil mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Begitu ya? Kabut ini merepotkan sih....." Jawab nya sambil mengembungkan pipinya.
Abian keanehan karena Sonia mengembung pipi nya lagi.
"AAAAAAAAAAAA!!!" Sonia tiba tiba berteriak.
Sebuah gelombang keluar dari mulut nya, dan kabut di belakang Abian sedikit terbuka oleh gelombang itu.
Abian terkejut dengan teriakan itu, sampai sampai tubuh nya merinding.
Di balik kabut yang tersingkir oleh gelombang yang di buat oleh Sonia, sosok Nika dan Lia terlihat.
Nika terlihat panik. Apakah dia panik gara gara Abian menghilang?
"Abian! Kamu ini membuat kita khawatir saja." Kata Nika
"Aku gak khawatir...." Jawab Lia.
Mereka berjalan mendekati Abian dan Sonia.
Wajah Abian tersenyum pahit karena perkataan santai Lia.
"Oh, Sonia. Kamu sudah bertemu dengan Abian ya?"
__ADS_1
"Ya, dia menyikut dada ku saat panik terpisah dengan kalian..."
Mendengar perkataan Sonia, tatapan Lia dan Nika melihat Abian dengan tatapan yang mengerikan.
"A-aku sudah bilang kan?! Aku tidak bisa melihat gara gara kabut."
"Ahahahaha, kau laki-laki yang lucu ya."
Abian menarik nafas dengan kasar.
"Oh iya ngomong-ngomong, kenapa kalian sudah saling kenal?" Tanya Abian.
"Kau seperti nya kurang mengetahui tentang kami ya? Kami semua sebelum masuk ke sekolah ini. Kami sudah didik oleh para petinggi...." Jawab Sonia
"...... Aku anak didik Pak Panca. Dan aku di serahkan kepada keluarga Chandra untuk tinggal di sana, jadi aku selalu bersama dengan Salsa yang salah satu keluarga petinggi yaitu Chandara, jadi mungkin aku bisa di sebut sebagai pasangan emas nya Salsa...."
"Begitu ya? Oh iya teknik seni mu itu apa?"
"Oh, teknik seni ku ada mengubah suara teriakan ku menjadi gelombang, dan itu menjadi teknik serangan yang cukup kuat menurut ku."
"Sonia adalah siswa kelas 1 dengan serangan terkuat...." Kata Nika.
Abian juga sempat berpikir bahwa kekuatan serangan nya kuat, tapi sekarang kita kekurangan seseorang.
"Oh, iya dimana Sal-"
Sebelum Abian menyelesaikan kata kata nya, tiba tiba tubuh nya tidak mau bergerak, suara nya pun ikut tidak mau keluar.
Bahkan Ketiga temannya juga merasakan hal yang sama, mereka merinding ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin.
Abian juga merasakan ketakutan, seluruh pori pori di tubuhnya mengatakan bahwa mereka sangat ketakutan.
Sebenarnya apa yang ada di belakang mereka? Makhluk tak kasat mata?
"M-makhluk tak kasat mata tingkat yang tidak terdaftar...." Bisik Nika yang sepertinya memberanikan diri untuk melihat sosok itu.
Makhluk tak kasat mata tingkat tak terdaftar itu apa? Ayo lah! Bergerak wahai Tubuhku!
Abian berusaha menggerakkan tangannya dan memegang tangan Sonia. Sonia pun sontak kaget karena Abian menyetuh tangannya.
Tapi yang membuat Sonia kaget adalah rambut hitan Abian berubah menjadi putih.
Abian berbaik dan dia mengembung pipi nya seperti Sonia dan berteriak ke arah Makhluk tak kasat mata.
"AAAAAAAAAAAAAA!"
Makhluk serba putih itu mengumpulkan kabut nya dan menggunakan menjadi sebuah perisai.
Serangan Abian tidak melukainya, tapi serangan itu membuat dia sedikit mundur sekitar 3 meter kebelakang.
Abian pun bisa jelas melihat makhluk tak kasat mata itu. Dia begitu cantik, tapi wajah nya dingin tanpa ekspresi.
Abian berpikir bahwa Lia juga bersifat dingin. Tapi, Lia masih bisa memasang ekspresi sedang makhluk ini tidak.
"Kenapa kau bisa memakai teknik seni ku?!"
"Maaf, aku pinjam tanpa izin dulu, aku tadi mengatakan kepada mu kan? Jika aku berjabat tangan dengan mu, maka teknik seni ku akan aktif. Dan ini lah teknik ku, Nika kumohon bantu aku untuk menyerang nya."
"Baik....."
Nika pun muncul di samping kiri makhluk serba putih itu. Nika memunculkan pedang cahayanya.
"Gerakan ku cukup lambat karena kurangnya cahaya, untung saja sinar bulan masih bisa terlihat jika tidak..... Aku mungkin tidak akan bisa menggunakan kekuatan ku."
Setelah mengatakan itu, Nika menebaskan pedangnya ke arah leher makhluk itu.
Tetapi, setelah berhasil menebasnya. Makhluk itu merubah diri nya menjadi kabut.
Dan di atas kepala Nika muncul sebuah kabut yang membentuk makhluk putih itu lagi.
Nika mendecakan lidah nya, dan melemparkan pedang cahaya nya ke arah makhluk itu.
Nika yakin bahwa pedang nya akan mudah di hindari oleh makhluk putih itu, jadi Nika memiliki sebuah ide.
"Meledak!"
Padang cahaya itu meledak di depan wajah makhluk itu, dan membuat sebuah kepulan kabut.
Dari kepulan kabut itu, sosok makhluk putih itu bergerak lagi dan kaki dia menyentuh tanah, beberapa saat setelah kaki nya menyentuh tanah.
Lia melesat ke arah nya dan siap untuk menyerang dengan pukulan nya.
Sebelum pukulan Lia mengenai nya dia mengunakan sebuah kabut untuk menjadi perisai nya seperti tadi dan membuat pukulan Lia tertahan oleh kabut itu.
Makhluk serba putih itu mengeluarkan kabut dari mulut nya dan mengarahkan ke arah Lia, sontak Lia pun langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.
__ADS_1
Tubuh Lia tertutupi kabut dan makhluk itu memegang kabut yang di tiupkan dari mulut nya.
Setelah menyetuh nya, kabut itu berubah menjadi kain putih dan membelit tubuh Lia.
"Kihh...."
"LIAAA!!!"
Makhluk tak kasat mata ini punya akal sehat, dan juga kenapa dia bisa membuat sebuah kain? Pikir Abian.
"Makhluk ini sulit kita hadapi...." Ucap Abian yang rambut nya sudah menghitam lagi.
"Makhluk tak kasat mata tingkat tak terdaftar itu, bukan dia tidak terdaftar tingkatkan nya. Tapi, tingkat ini adalah tingkat yang tidak di ketahui entah tingkat 1,2,3 atau tinggi dan kalo kita lihat makhluk ini bisa bisa dia setara dengan tingkat tinggi." Ujar Sonia.
"Tingkat tinggi!? Apakah kita bisa mati terbunuh oleh Makhluk ini...."
"Ya, bisa saja kita terbunuh.... Itu sebabnya kita harus mempercayai Salsa bisa menemukan aura negatif yang menciptakan makhluk ini...."
"Salsa?"
Abian melihat Nika yang siap menyerang lagi.
Nika harus berhati-hati karena dia bisa saja tertangkap seperti Lia. Nika menyerang makhluk itu lagi dengan pedang nya.
Tapi, dia bisa menghindari dengan menundukkan kepala nya, setelah itu makhluk serba putih itu menedang perut kiri Nika dan membuat Nika terpental dan membentur sebuah batu.
"NIIIKAAAA!!!"
Nika tidak bergerak lagi, sepertinya Nika tidak sadarkan diri, Abian berpikir bahwa Nika tidak akan mati semudah itu.
"Sialan....." Kata Abian.
"Kekuatan mu cuma bisa bertahan satu menit kan? Kalo begitu serahkan padaku...."
Sonia melompat tinggi, dia menarik nafas dalam-dalam di udara dan berteriak untuk menyerang makhluk itu.
"AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"
Melihat gelombang serangan itu, makhluk tak kasat mata serba putih itu menarik kain yang mengikat Lia dan menggunakan Lia sebagai perisai.
Tubuh kecil Lia pun terkena serangan gelombang milik Sonia dan membuatnya terpental tidak sadarkan diri.
Tubuhnya membentur sebuah batu dan Lia pun tidak bergerak lagi.
"LIAAAAAAA!!!"
"Maaf Lia! Aku aku tidak s-sengaja...." Kata Sonia.
Kaki nya menyentuh batu ddan dia duduk lesu di sana karena telah mencelakakan teman nya.
"Sonia tetep tenang.... Aku yakin Lia baik baik saja!"
Keadaan saat ini benar benar sangat berat. Nika tidak sadarkan diri,Lia juga, dan Sonia pun seperti nya terkena serangan mental.
Sialan! Mana mungkin aku bakal mati di sini....
°°°°°°°°°°°°
Seorang perempuan yang rambut pendek berwarna kopi sedang berjalan di sebuah gunung yang sangat berkabut.
Dia mengenakan jas hitam, kemeja putih, rok mini, dan juga dia mengunakan syal rajut berwarna biru muda.
Dia terus berjalan dan pada akhirnya di berhenti karena di depan nya ada sebuah jurang.
Jurang ini tidak terlalu curam, tapi jurang ini di isi bebatuan yang sangat banyak.
Perempuan itu melihat sesuatu di bawah jurang itu, walaupun tidak jelas di lihat karena barkabut.
Tetepi anak perempuan itu tau bahwa di balik kabut itu adalah sebuah kerangka manusia.
Dia tetap memasang wajah tenang walaupun dia melihat kerangka manusia di depannya.
Kerangka itu mengeluarkan aura yang berwarna hitam, dia pun menarik aura itu dan aura itu pun lenyap.
"Sepertinya masalah ini, sudah berakhir....."
Kata nya lirih, kata kata yang keluar dari mulut nya sedikit mengeluarkan uap udara seperti orang yang berbicara di musim dingin.
Bersambung....
Ikuti penulis di Instagram juga
@taufik_hikigaya
Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)
__ADS_1
Jika suka cerita ini, bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.