Sekolah Di Bawah Kaki Gunung

Sekolah Di Bawah Kaki Gunung
Chapter 24 Pencarian bagian 4


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.


Abian dan Sonia sedang berjalan menuju rumah sakit yang akan di datangi regu Raina, tapi, mereka tidak tau apakah mereka ada di sana atau tidak.


Lia berusaha untuk menelpon ketiga teman nya, tapi mereka gak menjawab seperti pergi ke tempat yang tidak ada sinyal.


"Haah..... Mereka semua gak bisa ku telepon, mereka seperti pergi ke tempat tanpa sinyal...." Kata Sonia sambil menghela nafas.


Perempuan muda berambut hitam panjang yang di ikat pony tail itu sedikit cemberut karena temen temen nya gak bisa di hubungi.


"Begitu ya? Apa yang terjadi dengan mereka?"


Sonia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Abian pun berpikir apa yang sebenarnya terjadi kapada mereka?


Dia saat Abian sedang merenung, tiba tiba sosok yang tidak dipikiran Abian akan datang lebih cepat apa yang dia kira pun muncul di sisi kiri Abian sambil siap menebasnya dengan pedang.


Abian memegang tas hitam khusus pedang nya dan dia pun berjongkok untuk menghindari tebasannya.


Abian mengeluarkan pedang pemberian Kak Leonarda untuk menahan tebasan selanjutnya dari Orang yang bernama Ryan.


Di mana Kak Leonarda? Pikir Abian.


Suara benturan baja terdengar, Ryan sedikit terkejut dengan pedang yang di gunakan Abian.


"Pedang itu? Milik Leo kan?"


"Y-ya! Di mana Kak Leonarda?!"


Mereka masih saling menahan pedang mereka.


"Apa yang di kata Leonarda tadi? Jika kau ingin menyentuh adik kelas ku, maka kau harus melewati nyawa ku, benar begitu bukan?"


"Hah!? Mana mungkin Kak Leonarda mati dengan mudah oleh mu...."


Abian berusaha untuk mendorong pedang nya yang ditahan oleh pedang Ryan, melihat itu Ryan tersenyum.


"Dan juga..... Aku sudah membunuh ketiga teman kalian, dan aku juga membunuh dokter yang kalian yang cari...."


"Aku tidak percaya kau teleh membunuh mereka!"


Abian tidak percaya apa yang di katakan Ryan kepadanya, jika dia telah membunuhnya, seharusnya pedangnya sudah berlumuran darah.


Tapi, dia sudah mengetahui tentang ke 3 teman Abian dengan rencana apa yang sedang mereka rencanakan.


Apakah dia juga tau rencana regu Abian untuk menangkap Ryan?


Ryan terlalu fokus memperhatikan Abian yang berusaha menang adu pedang dengannya.


Sampai tak sadar bahwa Sonia sudah melompat dan mengembungkan pipinya.


"AAAAAAAAAAAAAAA!!!"


"!?"


Ryan pun terkena serangan Sonia sampai terpental ke sebuah gudang yang sepertinya sudah terbengkalai.


Abian dan Sonia pun memasuki gudang itu, seperti yang mereka berdua kira, Ryan sangat tangguh.


Dia masih bisa berdiri tegak, bahkan Lia yang punya fisik kuat dari antara anak anak kelas 1, Lia saja bahkan sampai tak sadarkan diri terkena teknik seni milik Sonia.


"Kau.... Memang merepotkan..." Kata Ryan.


Ryan pun tiba tiba muncul di depan Sonia, tapi Sonia bisa menyadarinya dan mundur beberapa langkah, Abian bergerak untuk menahan tebasan Ryan yang mengarahkannya ke Sonia.


Benturan baja terdengar lagi.


Berat! Pikir Abian.


"Kau boleh juga. Apakah kau tau pedang mu punya kelemahan di bagian sisinya...."


"Hah?!"

__ADS_1


Ryan mengerjakan pedang dan berusaha untuk memotong pedang Abian.


*Krekkk


Pedang Abian patah dan menyisakan mata pedang nya yang sepanjang pisau dapur.


Karena gak ada baja lagi yang menahan pedang Ryan, pedang dia pun bisa menebas perut Abian dengan leluasa.


Untung saja, Sonia menarik kerah jas hitam milik Abian dan Abian pun selamat dari tebasan Ryan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Aku berhasil mematahkan pedangnya. pikir Ryan.


Sekarang kau tidak akan bisa menyerang mengunakan pedang mu kan?


Dan teknik seni nya aktif saat dia berjabatan dengan teman nya, dengan begitu aku akan membunuh anak perempuan itu.


Ryan mengunakan teknik tingkat tinggi nya lagi, dia tiba-tiba muncul di antara Sonia dan Abian dan Ryan mencoba untuk menyerang Sonia.


Untung saja, Sonia bisa menghindar dari tebasan Ryan dan berjalan memutari tubuh Ryan dan mendekati Abian.


"Abian!"


"Aku mengerti!"


Abian dan Sonia berjabat tangan dan rambut Abian pun memutih, Ryan merasakan kekuatan supranatural yang keluar dari tubuh Abian saat teknik seni nya aktif sangat besar.


Bahkan Ryan berpikir bahwa kekuatan supranatural nya lebih besar dari Panca saat ini.


Abian bergerak ke sisi Ryan dan sepertinya dia akan mengunakan kekuatan milik teman perempuan nya.


Tapi, saat Ryan melihat Abian. Dia tidak terlihat akan mengunakan teknik seni nya, Ryan pun sadar bahwa temannya perempuan nya ada di belakang nya.


Jadi dia bergerak sebagai umpan?


Sonia mengembungkan pipinya.


"AAAAAAAAAAAAAAA!!!"


Ryan berusaha untuk bangkit, dia tidak boleh tidak sadarkan diri. Jika itu terjadi maka penjara yang dia aktifkan akan terbuka.


Untuk sekarang membunuh Sonia akan sangat sulit, tapi Ryan punya cara untuk mendesak mereka berdua.


Ryan mengunakan teknik tingkat lanjut nya, dan muncul di dekat Sonia, Sonia sedikit terkejut karena Ryan masih bisa bergerak.


Ryan melihat tangan kanan Sonia yang sedikit mengangkat dan tanpa ragu sedikitpun Ryan menebaskan pedangnya ke tangan Sonia.


Tangan kanan Sonia pun terpotong.


"Kyahhhh....."


Darah Sonia berceceran di tanah, dia berusaha merobek kain jas lengan nya dan mengikat tangan nya agar darah nya tidak terlalu keluar.


Dia menggigit bawah bibirnya, dia pasti menahan rasa sakit.


"SONIAAAA!!"


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Abian berlari mendekati Sonia yang sedang berjongkok, setelah sampai di sisi Sonia, rambut Abian kembali menghitam.


Abian melihat Sonia khawatir dan berjongkok di sisinya.


"Tenang saja, Abian..... Aku masih hidup, aku hanya kehilangan satu tangan ku." Jawab Sonia sambil tersenyum pahit.


Ini adalah pertama kalinya, Abian melihat orang yang dia kenal terluka sangat parah, andai aja Sonia berpergi dengan Nika bukan dengan nya.


Mungkin dia tidak akan terluka seperti ini.


Abian berkaca-kaca, dia ingin menangis. Tapi, dia takut di marahi Sonia.


"Seorang penguna teknik seni, kehilangan satu tangan atau kaki bahkan kehilangan nyawa sudah menjadi bayaran untuk menjalankan misi untuk melindungi orang yang gak punya dosa apa-apa, jadi walaupun penguna teknik seni mati. Maka tekad mareka akan di lanjutkan kapada rekanya yang masih hidup....."

__ADS_1


Abian melihat Sonia dan berusaha tersenyum dengan sedikit rasa terpaksa.


"..... Abian kau masih bisa mengunakan teknik mu kan?"


Abian mengangguk dan berjabat tangan dengan tangan kiri Sonia.


Abian memejamkan mata dan rambut nya kembali memutih saat Abian buka kan matanya dia melihat Ryan dengan tatapan marah.


Melihat aura supranatural milik Abian yang besar membuat Ryan sedikit mundur.


Mereka berdua berlari menuju Ryan, Abian melemparkan pedang nya yang sudah patah ke Ryan.


Ryan mengerakan kepalanya, dan baru sadar bahwa Sonia sudah ada di sini kiri nya, Ryan melihat Sonia, tapi dia melakukan seperti Abian tadi.


Menjadikan dirinya sebagai umpan dan yang akan menyerangnya adalah temannya.


Ryan melihat Abian mengembungkan pipinya.


"AAAAAAAAAAAAAAA!!!"


Ryan belajar dari kesalahannya yang tadi dia lakukan.


Ryan meloncat menghindar dari serangan Abian, tapi saat Ryan sedang meloncat. Sonia pun ikut meloncat dan mencoba untuk memukul Ryan dengan tangan kirinya.


Tapi, Ryan bisa menghindarinya. Tetapi, dia jadi lebih cepat turun ke kebawah karena tarikan gravitasi bumi jadi lebih cepat menarik nya karena dia bergerak di udara.


Hal itu membuat Ryan jengkel dengan Sonia dan dia pun memotong tangan kiri Sonia tanpa ragu lagi.


"Kyaaah....."


"SONIAAAA!!"


"A-aku baik baik saja! Apakah kau masih bisa mengunakan teknik ku sekali lagi?"


"Ya! Aku bisa...."


"Kalo begitu ayo kita lakukan!" Jawab Sonia sambil tersenyum pahit karena menahan rasa sakit.


Bertepatan dengan kaki Ryan yang menyentuh tanah, mereka berdua siap melakukan serangan terhadap Ryan.


"AAAAAAAAAAAAAAA!!"


"AAAAAAAAAAAAAAA!!"


Mereka berdua menyerang Ryan secara bersamaan dan membuat Ryan terhimpit oleh serangan itu dan membuatnya.


Ambruk tak sadarkan diri.


Abian dan Sonia bisa bernafas lega karena mereka bisa mengalahkan Ryan.


Sonia berjalan mendekati Abian dan jatuh di pelukan Abian dan membuat Abian terduduk dengan paksa karena menahan bobot tubuh Sonia.


"A-apakah kau baik-baik saja, Sonia?"


Itu adalah pertanyaan yang seharusnya tidak Abian katakan sekarang.


"A-aku baik saja, tenang saja!" Kata Sonia yang berbicara di dada Abian.


Abian hanya bisa diam membisu, dia harus segera membawa Sonia ke rumah sakit. Darah Sonia keluar begitu banyak.


"Hei.... Apakah kau ingin tau tentang masa lalu ku? Sebelum aku datang ke sekolah kita?"


Sonia akan membicarakan masa lalunya?


Bersambung...


Ikuti penulis di Instagram juga


@taufik_hikigaya


Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)


Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.

__ADS_1


__ADS_2