
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
"Misi kalian adalah menonaktifkan aura negatif, di sebuah kampung yang begitu pelosok, aura negatif ini cukup besar karena semua aura itu berasal dari semua penduduk disana..."
"Apa yang mereka takutkan?" Tanya Rava.
Kak Panca memasang wajah serius sebelum menjawab pertanyaan Rava.
"Aku tidak mengetahuinya, karena semua penduduk di sana yang berjumlah 74 di bunuh semua dengan keji, sepertinya rasa takut mereka adalah gara gara orang yang telah membantai mereka, mungkin ini akan menjadi misi pertama kalian menghadapi makhluk tak kasat mata tingkat tinggi."
"Tingkat tinggi?" Jawab mereka tiga.
Mereka belum pernah bertemu dengan tingkat tinggi, paling tinggi mereka hanya menghadapi tingkat 3.
"Ya, menghadapi dia pasti akan menyulitkan. Alasan itu lebih baik aku saja yang pergi, untuk menonaktifkan aura negatif nya dengan penetral tingkat lanjut ku. Tetapi....."
"Kami mengerti! Tenang saja kami akan segera menyelesaikan misi ini...." Kata Sinta.
Leonarda dan Rava melihat Sinta dan tersenyum.
Rava dan Leonarda yang memiliki fisik kuat, dan di tambah bahwa mereka adalah laki-laki, masa mereka kalah dari seorang perempuan.
"Kalo begitu. Kembali lah dengan selamat...."
Mereka bertiga pun mengangguk dan siap siap untuk pergi ke TKP.
Mereka di antar oleh seorang indigo, dia adalah adik dari Pak Budi yaitu Pak Bobi.
Membutuhkan waktu sekitar 4 jam menuju sana, dan akhirnya mobil yang di bawa Pak Bobi sudah tidak bisa melewati kampung ini.
Mereka bertiga pun memutuskan untuk berjalan kaki dan sampai di kampung itu.
Mereka melihat pemukiman warga yang sudah sepi dari bukit, rumah di sini masih tradisional. Mungkin ini adalah kampung yang sudah tertinggal.
Mereka mendekati pemukiman pemukim itu.
Rava melihat menampilan Sinta yang berbeda, kali ini dia tidak memakai dasi hitam tapi pita hitam.
"Pita? Aku baru tau kamu mengunakan itu?" Tanya Rava.
"Oh, iya. Aku tidak biasa pakai dasi, jadi aku meminta kepada Pak Tomi untuk menggantinya dengan pita."
__ADS_1
"Oh, begitu ya?"
"Oh, ya. Ngomong ngomong sudah berapa lama, tragedi pembantaian ini." Tanya Leonarda.
"Ini terjadi kemarin pagi, begitu yang di kata Kak Panca..." Jawab Rava.
"Masuk akal sih.... Masih belum ada bau busuk yang tercium." Kata Leonarda.
"Ya, kita harus cepat segera memakamkan mereka dengan layak----"
Tiba tiba mereka merasakan bahwa ada kekuatan besar di belakang mereka, Leonarda memegang tas hitam khusus pedang nya dan mengeluarkan pedang nya.
"Aaaaaaaaaa........"
Leonarda berusaha menebas sosok yang ada di belakang nya. Tapi, makhluk itu menghilang dan muncul di sisi kanan Leonarda dan menendang pipi nya sampai terpental.
"Leonarda!" Teriak Rava dan Leonarda.
"Uhk.... Pergilah! Cepat nonaktifkan aura nya, dia. Dia bukan makhluk tak kasat mata tingkat tinggi, tapi. Makhluk tak kasat mata tingkat yang tidak terdaftar."
"Tidak terdaftar?!"
"Ya! Biar aku yang menahannya, cepat nonaktifkan aura nya! ......Jika kalian tidak ingin melihat aku mati." Kata Leonarda.
Makhluk tak kasat mata itu, menggunakan sebuah jubah abu dan membawa pedang.
Gerakan dia cepat, tubuh dia seperti manusia yang memiliki tinggi badan yang mungkin seumuran dengan nya.
Apakah sosok seperti itu yang melakukan pembantaian ini? Dan membuat rasa takut dan menciptakan sosok seperti ini.
Di saat Leonarda sedang memperhatikan nya. Tiba-tiba dia menghilang lagi dan dia pun muncul lagi di sisi kanan Leonarda.
Makhluk berjubah itu menebaskan pedangnya ke arah leher Leonarda.
Untung saja, Leonarda bisa menahannya dengan pedangnya.
Suara benturan baja terdengar cukup keras, kekuatan tebasan itu sangat kuat.
Leonarda kesulitan untuk menahan serangan itu, Leonarda pun meringankan genggamnya.
Dan mendorong nya untuk membalas tebasannya.
__ADS_1
Tapi dia menghilang lagi dan muncul di belakang tubuh Leonarda, Leonarda telat menyadarinya bahwa dia ada di belakang nya.
Punggung Leonarda pun di tebas dan darah Leonarda tercecer di tanah merah.
Leonarda Chandra si murid kelas 1 terkuat pun tumbang tidak sadarkan diri.
**********
Rava dan Sinta baru menonaktifkan aura negatif yang ke 1 dan sisa ada 73 lagi.
Tapi, mereka merasakan bahwa sosok makhluk itu ada di dekat mereka lagi.
Rava memberanikan diri nya untuk melihatnya, di saat melihat nya, di saat dia melihat nya dia berkeringat dingin.
"Dimana Leonarda?!" Teriak Rava.
Rava melihat pedang yang di bawa, makhluk berjubah itu. Pedang itu sudah berlumuran darah.
Ini tidak mungkin kan? Leonarda? Piki Rava.
Makhluk itu menghilang dan muncul di hadapan Rava dan menendang nya, untung saja Rava mengunakan kedua lengannya untuk bertahan.
Jika saja tandangan keras itu mengenai wajahnya, mungkin dia akan langsung tidak sadarkan diri.
Walaupun kesadaran Rava baik baik saja, efek tandangan itu sukses membuat Rava terpental.
"Rava!" Teriak Sinta.
"Awas Sinta!"
Clebbb
Rava melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, dia melihat dada Sinta di tusuk oleh pedang.
Tujuan makhluk itu menedang Rava adalah agar dia bisa menjauh dari Sinta dan setelah itu dia melukai Sinta.
Bersambung.....
Ikuti penulis di Instagram juga
@taufik_hikigaya
__ADS_1
Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)
Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.