
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
Hari itu datang, seseorang anak laki-laki datang dari Indonesia.
Dia adalah Leonarda, anak kelas 2 SMA sekolah khusus Teknik seni.
Sekolah Teknik seni adalah sekolah swasta yang bergerak untuk memusnahkan makhluk tak kasat mata.
Makhluk ini tercipta karena rasa takut dari manusia dan rasa takut itu menciptakan makhluk tak kasat mata.
Makhluk ini memiliki tingkatan, semakin tinggi tingkat nya semakin sulit untuk di hadapi.
Tingkatan itu adalah 0,1,2,3,4 dan tinggi.
Tapi, walaupun kita menghadapi teknik tinggi yang terpenting kita menonaktifkan aura negatif yang di keluarkan manusia dari rasa takut itu, maka makhluk tak kasat mata tingkat tinggi pun itu pun bisa di kalahkan dengan mudah.
Dengan alasan seperti itu, dia datang ke Eropa dan terutama ke Jerman untuk mencari tahu apakah ada manusia di Jerman ini yang bisa mengeluarkan aura negatif atau tidak.
"Nak Leonarda, mau sampai kapan kamu bisa berada di Jerman ini?" Kata Ibuku.
"Negara Jerman adalah Negera terakhir yang saya kunjungi. Kemungkinan saya akan segera kembali ke Indonesia sekitar 2 bulan lagi. Jadi, mungkin selama 2 bulan saya akan berada di sini. Maaf mungkin ini akan merepotkan."
"Tidak-tidak, itu tidaklah merepotkan sama sekali. Justru aku senang karena Laura jadi punya temen di tambah keluarga besar selalu membantu keluarga kami dulu dan juga dia sepertinya memiliki bakat untuk menjadi penguna teknik seni. "
Ibuku berbicara seperti itu kepada Leonarda. Keluarga besar penguna teknik seni, mereka adalah 2 keluarga yang membuat pondasi pengguna teknik sini.
Mereka suka di sebut keluarga petinggi oleh Pengguna teknik seni. Nama keluarga itu adalah keluarga Baskara dan Keluarganya Leonarda yaitu Chandra
Leonarda melihatku dan tersenyum.
"Aku masih belum percaya, ada seseorang di Eropa yang bisa mengunakan teknik seni..."
"Ya, walaupun dia orang Eropa, dia adalah anak dari Indonesia juga, ahaha.... " Jawab Ayahku
"Hei, apakah kamu mau menunjukkan teknik seni mu kepadaku?"
Dia mengunakan bahasa Inggris.
"Pakai Bahasa Indonesia aja. Bahasa Inggris ku buruk...."
"Ah, maaf... Apakah kamu keberatan, menunjukan teknik seni mu?"
"Tentu saja, tidak. Lagi pula apakah Teknik seni ini akan berguna untuk ku?"
"Selama teknik seni mu di gunakan untuk kebaikan, maka itu akan sangat berguna."
Dia sangat menjunjung yang namanya sebuah kebaikan. Walaupun umur dia denganku cuma beda setahun, tapi dia sudah sangat dewasa dan matang.
Mungkin itu karena pengaruh kehidupan di sekitarnya yang membuatnya dewasa lebih cepat.
Kami ke halaman rumah untuk menunjukan teknik seniku padanya. Aku menjelaskan cara kerja teknik seni ku.
Dalam sekejap dia sepertinya mengerti.
"Mengumpulkan kekuatan supranatural dan melepaskan nya, ya? sepertinya kamu harus melatih akurasi tembakanmu dan itu cocok untuk latihan agar kamu bisa menyempurnakan teknik seni mu..."
Dia berjalan mencari sesuatu dan mengambil keleng bekas dan menyimpannya di sebuah tembok pembatas rumah ku dan tentanggaku.
"Coba kau incar keleng ini. Hati-hati, ya. jangan sampai meleset...."
Aku mencoba untuk konsentrasi dan mengumpulkan kekuatan supranatural ku di telapak tanganku.
Bola yang pernah ku lihat sebelumnya kembali muncul di kedua telapak tanganku. Walaupun ukurannya masih sama kayak pertama kali mencoba.
Kali ini aku tidak akan kaget dan akan mencoba untuk menebak dengan tetap pada sasaran.
Setelah aku berpikir bahwa bidikan dan akurasi ku sudah pas akupun melepaskan bola yang ada di telapak tanganku dan bola itu melesat dengan sangat cepat.
Bola yang besar bola pingpong itu, mengenai bagian kiri dari kaleng itu. tapi, kaleng itu tidaklah rusak berkeping-keping.
Karena bagian kirinya saja yang terkena bola itu, maka yang rusak itu cuma bagian kirinya. keleng itu tidaklah jatuh ketanah.
Kaleng itu masih berdiri kokoh di atas tembok pembatas.
"Hmmm? begitu ya cara kerja Teknik seni mu..."
Aku yang mempunyai tekniknya saja tidak mengerti, tapi kenapa dia bisa mengerti?
"Kamu mengumpulkan kekuatan supranatural mu di kedua telapak tanganmu, setelah itu kamu melepaskannya ke arah yang kamu tuju dan pas bola itu mengenai targetnya, bola itu menghilang bersamaan dengan bagian yang terkena oleh bolamu...."
Aku cuma bisa memiringkan kepalaku.
"Jadi bola mu itu bukan mirip seperti sebuah peluru senapan yang melesat, mengenai tubuhmu dan keluar dari tubuhmu. Tapi, teknik mu itu lebih mirip peluru sebuah meriam yang melesat, mengenai dan hancur bersama dengan target yang di kenai-nya."
Aku melihatnya begitu bersemangat karena melihat teknik seniku, apakah dia seorang maniak teknik seni?
Aku hanya bisa tersenyum masam.
"Teknik seni mu akan sangat berguna untuk menghadapi makhluk tak kasat mata di tambah kekuatan supranatural mu yang besar. Kamu bisa-..."
Aku melihat berhenti berbicara di tengah jalan.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Tidak, maaf... Aku tidak bermaksud untuk mengajak mu ke Indonesia dan membahayakan keselamatan mu karena bertarung dengan makhluk tak kasat mata..."
"Aku masih belum mengerti apa maksudmu. Omong-omong untuk apa kamu ke Eropa?"
Dia tersenyum dan mengaruk belakang kepalanya.
"Ah, iya aku lupa menjelaskannya kepada mu. Sebelum aku sampai ke Jerman ini, aku mendatangi Negara Prancis dan Negara Inggris dulu..."
"Begitu, ya? Setelah dari Jerman kau akan pergi kemana?"
"Aku akan kembali ke Indonesia. Aku terlalu lama Eropa dan juga semua misi ku sudah mulai menemukan titik terang..."
Jadi dia akan pulang, ya? Alasan itu Ibu dan Ayah menyuruhku untuk segera memutuskan apakah aku akan pergi ke Indonesia untuk memperdalam ilmu teknik seni ku?
Atau menetap sebagai tuan putri di sini.
"Oh, iya Laura. Aku masih belum tahu tempat di sekitar sini, jika kamu mau. Apakah kamu berkenan untuk ikut jalan-jalan bersamaku?"
Dia berbicara seperti itu, aku juga tidak terlalu tahu tempat di sini. Karena selalu diam di rumah.
Tapi, walaupun begitu. Aku tahu sih beberapa tempat untuk di kunjungi.
"Hmm? Boleh sih, tapi aku minta izin dulu orang tua ku, ya..."
Dia pun tersenyum dan mengangguk.
Aku langsung saja minta izin, aku di beri izin sih. Tapi, assiten ku harus ikut.
Karena itu akan merepotkan, jadi aku berusaha untuk menolaknya.
Pada akhirnya, Leonarda pun minta izin untuk tidak perlu membawa assitenku dan sebagai gantinya.
Dia akan berusaha untuk melindungiku, jika terjadi hal sesuatu yang tidak di inginkan.
dengan begitu, aku bisa pergi berdua dengannya.
Leonarda meminta untuk menunjukan tempat yang sering di lalui atau di kunjungi oleh banyak warga sekitar sini.
Aku pun mengajaknya ke sebuah jalan yang dekat dengan taman kota.
Di sekitar sini banyak pertokoan dan di tambah jalanan ini adalah jalan menuju taman kota yang sering di kunjungi warga kota.
Membuat hal itu, banyak orang-orang yang masih berlalu-lalang walaupun sudah sore.
Aku masih belum tahu, tujuannya kesini untuk apa?
"Omong-omong. Apa yang kita lakukan disini?"
"Saat aku pergi ke Inggris aku tidak menemukan adanya makhluk tak kasat mata. Walaupun aku melihat beberapa orang ada yang mengeluarkan aura negatif di tubuhnya."
"Aura negatif?
Ibuku memberi tahuku bahwa Aura negatif dari manusia di ciptakan dari sebuah rasa takut dan rasa takut itu melahirkan makhluk tak kasat mata yang harus di basmi oleh pengguna teknik seni.
"Tapi, saat aku di Perancis. Aku sempat bertarung dengan makhluk tak kasat tingkat 3 dan aku bertemu dengan seseorang Penguna teknik seni yang menyalahgunakan kekutan nya untuk kepentingan diri sendiri dan aku mengeksekusi nya di tempat..."
Aku hanya melihat dia tetep berkata dingin setelah berkata "mengeksekusi"
Tapi yang terpenting sekarang adalah kenapa di Inggris aura negatif dari manusia tidak melahirkan makhluk tak kasat mata?
Apakah ini....
"Aku tidak mengerti, tapi apakah itu..."
"Ya, kau benar. aura negatif dari rasa takut manusia gak akan hilang sampai kapanpun tapi jika ada orang penguna teknik seni yang menyalah gunakan kekuatan nya maka makhluk itupun lahir..."
Aku masih tidak mengerti kenapa makhluk tak kasat mata bisa lahir dan membahayakan makhluk hidup di sekitarnya terutama manusia itu sendiri.
Dan kenapa ada Penguna teknik seni yang menyalah gunakan kekuatannya untuk melahirkan makhluk tak kasat mata itu.
Di saat aku sedang memikirkan hal yang mengganjal ini, tiba-tiba Leonarda mengeluarkan suaranya.
"Laura! Liat itu...."
Aku melihat seseorang perempuan yang berjalan didepan kami sambil memegangi pundak kirinya.
Seluruh tubuhnya di lapisi oleh aura berwarna gelap dan sepertinya itu adalah aura negatif yang di maksud itu.
Leonarda sedikit bergerak dan menarik aura itu sampai menghilang dari tubuh si perempuan.
Perempuan itu tampak bingung dan sepertinya dia merasakan bahwa beban di pundaknya telah menghilang.
"Tadi itu..."
"Ya, itu adalah aura negatif. Dengan cara kau menariknya maka aura itu akan hilang..."
"Apakah aku akan bisa melakukannya?"
"Tentu saja. Aura negatif adalah kekuatan supranatural negatif dan teknik seni adalah kekuatan supranatural positif. Jadi, penguna teknik seni selalu menyebutnya menetralkan aura negatif..."
__ADS_1
Jadi teknik seni yang ada tubuhku ini adalah salah satu senjata dalam pertarungan yang tidak tahu akan berakhir entah kapan ini, kah...
Aku berkata seperti itu di dalam benak ku sambil melihat telapak tanganku dan mengepalkan tanganku.
Tiba-tiba Leonarda melirik kearah sebuah gang di sebuah pertokoan.
Aku juga melihat bahwa ada dua laki-laki sedang menyeretnya seseorang kedepan sebuah gang itu.
Leonarda pun segera berjalan mendekati gang, aku pun mengikutinya dari belakang.
Kami melihat dua laki-laki itu sedang memukuli seseorang laki-laki yang mereka seret.
"Sudah cukup sampai di situ!"
Leonarda berteriak menggunakan bahasa Inggris.
"Hah!? Ini Jerman berbicaralah mengunakan bahasa Jerman!" kata salah satu dari mereka.
"Maaf... Tapi aku hanya seorang turis yang kebetulan lewat..."
Leonarda melesat ke arah mereka dengan cepat.
"Kau!" kata orang itu.
Leonarda memukul perut salah satu dari
penyeret itu sampai ambruk ke tanah.
"Sialan! Kau..."
Temannya siap memukul wajah Leonarda, tapi dia menghindarinya dengan mudah dan menghantamkan tangannya ke tengkuknya sampai ambruk ke tanah.
Mereka berdua terkapar tidak sadarkan diri dengan sekali serang oleh Leonarda.
Dia sangat kuat. Bahkan dia bertarung tanpa menggunakan teknik seninya tapi sudah begitu hebat.
Dia mendekati orang yang di seret itu dan menanyakan keadaannya.
"Apakah anda tidak apa-apa?" Kata Leonarda berkata menggunakan bahasa Jerman.
"T-tidak! Tidak aku baik-baik saja..." ucapnya.
Setelah menjelaskan kenapa ini bisa terjadi, kepada kami. Kami pun menghubungi polisi dan mengamankan mereka berdua dan menjelaskan apa yang terjadi.
Mereka bertiga sebenarnya rekan kerja. Tapi, orang yang di pukuli mereka berdua mendapatkan bonus dari gajinya karena kerjanya lebih baik daripada mereka berdua dan pada akhirnya mereka berdua iri dan menyeret sang korban ke dalam gang ini.
Tapi untungnya ada Leonarda yang menghentikan hal ini.
Manusia selalu saja iri dengki kepada manusia lain, ya?
Setelah menyelesaikan masalah ini. Kami memutuskan untuk pulang karena langit sudah berubah menjadi warna oranye.
Aku melihat tas hitam panjang yang ada di punggungnya. Aku tidak bertanya apa yang ada di dalam tas nya itu. Tapi, aku menebaknya sepertinya itu adalah sebuah pedang.
"Hei, kenapa kamu menyelamatkan nya? Ini tidak ada hubungannya dengan tugas penguna teknik sini, loh?"
"Tidak, ini ada hubungannya kok. Bagaimana jika korban itu mengeluarkan aura negatif?"
Aku tidak berpikir sampai kesana...
"Di tambah kejadian ini terjadi di depan mataku. Aku harus ikut menyelesaikam masalah ini. Aku terlahir sebagai manusia yang lebih kuat daripada manusia biasa. Alasan itu aku harus melindungi manusia yang lebih lemah dariku, terdengar naif tapi ini adalah takdir ku...."
Leonarda berkata seperti itu.
Aku juga anak yang terlahir spesial juga. Tubuhku lebih atletis daripada perempuan lain.
Bahkan aku punya kekuatan supranatural yang harus bisa ku kendalikan.
Sebenarnya apa yang harus aku pilih saat ini? Tetap hidup sebagai tuan putri? Atau bertarung menggunakan kekuatan ku di Indonesia dan belajar untuk bisa menjadi seorang penguna teknik seni yang kuat?
"Jadi Laura. Kamu tidak perlu dilema untuk memilih jalan hidupmu. Semua tergantung dengan pilihan mu, walaupun kami sangat terbantu jika kamu mau ikut denganku ke Indonesia yang sepertinya akan menjadi kalut-malut...."
Semua tergantung diriku, ya?
"Ya, walaupun menjadi penguna teknik seni sangat berbahaya dan mungkin saja kau akan terluka bahkan kehilangan nyawamu karena bertarung yang tidak ada artinya ini, sih.... Jadi kau harus memilihnya sangat matang-matang, Laura...."
Lanjut Leonarda sambil tersenyum kepadaku.
Aku ingin hidup bebas, tapi ada cara yang bisa membuatku hidup bebas walaupun bayaran nya bisa saja aku terluka bahkan sampai kehilangan nyawaku.
Kenapa hidupku sepertinya ini, ya?
Tapi, aku ingin seperti Leonarda yang hidup untuk melindungi manusia lain dengan kekuatannya.
Aku ingin menggunakan kekuatanku, itu tidak masalah walaupun aku harus terluka atau bahkan harus mati sekalipun yang terpenting aku ingin menggunakan kekuatanku.
Sepertinya aku sudah menentukan pilihanku.
Aku tidak akan menyesal karena ini adalah pilihan hidupku dan juga takdirku yang terlahir sebagai penguna teknik seni.
Bersambung...
__ADS_1
Instagram : @muhammad_taufik040801