Sekolah Di Bawah Kaki Gunung

Sekolah Di Bawah Kaki Gunung
Chapter 22 Pencarian bagian 2.


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.


Raina dan yang lainnya terjebak di dalam sebuah kubus emas yang di lemparkan Ryan.


Kak Arnita mencoba untuk melepaskan beberapa tembakkan gumpalan kekuatan supranatural nya.


Tapi, itu percuma karena hanya buang buang kekuatan supranatural dan waktu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Ryan melihat penjara emas yang menjebak mereka berempat dari udara.


Penjara itu tidak akan bisa dibuka, kecuali si pengaktif tidak sadarkan diri. Bahkan jika si pengaktif hanya tertidur, penjara itu tidak akan terbuka.


Asalkan dia tidak pingsan atau mati, mereka yang terjebak di sana hanya bisa berdiam diri sambil menunggu ajal mereka.


"Penjara itu bukan penjara biasa. Penjara itu di khusus dengan teknik seni khusus dan memakan waktu cukup lama untuk membuatnya, jadi nikmati lah sisa hidup kalian di dalam sana...."


Ryan pun terbang entah kemana meninggalkan penjara itu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Penjara khusus ya?...." Kata Kak Arnita.


Arlita melihat lihat penjara ini, penjara ini begitu rapat.


Raina masih merasakan kelelahan, sehabis mengunakan tingkat lanjut nya.


"Haah.... Maafkan aku, andai saja aku bisa mengunakan teknik tingkat lanjut ku lebih dari satu kali, maka mungkin dia sudah kalah...."


"Tidak, kau gak salah. Aku seharusnya mengunakan teknik seni ku yang lebih kuat, mungkin kita gak akan terjebak di sini...." Jawab Lia sambil memegang smartphone nya.


Dia berusaha untuk menghubungi Kak Leonarda, tapi dia tidak bisa menghubunginya karena gak ada sinyal di dalam penjara ini.


"Sial.... Gak ada sinyal di sini..."


Semuanya di sana menghela nafas dan hanya bisa menunggu penjara ini terbuka.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Ryan terbang menuju kesuatu tempat.


Sebenarnya dia tidak mau untuk mengunakan penjara baja besi emas untuk mengurung mereka berempat.


Tapi, karena gara gara Panca yang gak mati saat dia lukai, dan orang-orang dari sekolah itu berencana untuk membawa Arlita untuk mengobati Panca.


Ryan memang tidak tau, apakah Arlita 100 % bisa menyembuhkan Panca atau tidak, tapi dia pernah mendengar bahwa Arlita adalah dokter muda jenius.


Jadi mengurungnya di dalam penjara dalam waktu yang belum pasti akan menguntungkannya karena Ryan bisa membuatnya mengulur waktu agar bisa menghabisi Panca dengan bener.


Maka, Ryan akan menuju ke sekolah Ilmu seni dan bela diri, ini memang melakukan hal yang nekad, tetapi tanpa adanya sosok yang terkuat Panca.


Tidak ada yang harus Ryan takutkan.

__ADS_1


Ya, walaupun ada sosok yang lain yang merepotkan, mereka tidak merepotkan seperti Panca.


Di saat Ryan akan pergi menuju sekolah, dia merasakan aura supranatural sosok yang dia kenal sejak kecil di sekitar sini.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Leonarda sedang bersama Abian dan Sonia, sudah satu jam setelah berpisah dengan regu Raina.


Tapi, Leonarda masih belum ada kabar dari mereka, apakah ada yang terjadi dengan mereka? Apakah mereka terlalu sibuk mencari Kak Arlita dan lupa untuk memberitahu kabar ke mereka?


Leonarda berniat untuk menyusul mereka, tapi mereka masih punya misi lain dan Leonarda tidak perlu berpikiran jelek tentang misi yang regu Raina jalankan.


Leonarda merasakan aura kuat mendekatinya, dia pun memegang tas khusus pedangnya.


Dia pun mengeluarkan pedang nya dan siap menebas orang yang siap menyerangnya.


Suara baja berbenturan terdengar oleh Abian dan Sonia, dia melihat siapa yang datang dan menyerang Leonarda.


Dia mengunakan mantel abu dan membawa sebuah pedang, dia adalah orang yang melukai Pak Panca.


Ryan Chandra.


"Lama tak jumpa, sepupuku Leonarda...."


"Kau masih menganggap sepupu? Ryan."


Ryan memiringkan kepalanya sambil tersenyum.


"Ya, aku masih menganggap mu sepupu, walaupun kau jahat kepada ku di masa lalu..."


Ryan melihat seseorang yang ada di belakang Leonarda, Ryan pun menghilang dan muncul di belakang anak yang dia lihat sebelumnya.


Tapi, dengan kecepatan fisik Leonarda, anak itu bisa terlindungi oleh serangan Ryan.


"Kanapa kau mengincar Abian?"


"Aku tertarik dengan teknik seni copy nya..."


Leonarda tidak mengerti kata "tertarik" yang dia katakan, tapi gerakan cepatnya mengingat dia sesuatu.


Ya, tragedi berdarah yang merenggut nyawa temannya Sinta.


"Kenapa kau bisa bergerak cepat?! Bukan nya teknik seni mu hanya melayang!"


Leonarda menebas pedangnya dan membuat Ryan mundur beberapa loncat-loncatan.


"Ini adalah teknik tingkat lanjut ku....."


Tingkat lanjut? Pikir Leonarda.


Jika di pikir pikir makhluk tak kasat mata tingkat yang tidak diketahui itu, membawa pedang dan mengunakan pakaian abu seperti Ryan.


"Apakah... Kau yang telah membunuh 74 penduduk di kampung pelosok itu, Ryan!"

__ADS_1


Ryan memasang wajah jahat.


"Kalo iya? Mau marah karena teman mu mati, di misi saat ingin memusnahkan makhluk yang terlahir dari rasa takut ku?"


"DAAAASSAAR SIALLAAAN!!!"


Ryan menghilang muncul di atas kepala Abian.


"Dari dulu kau gak berubah ya? Saat kau marah, kau tidak fokus dalam pertarungan...."


Setelah mengatakan itu, Ryan siap menebas puncak kepala Abian, tapi.


"AAAAAAAAAAAAAAA!!!"


Sonia mengunakan teknik seninya untuk melindungi Abian dan membuat Ryan terpental dan berguling-guling di trotoar.


"Anak kelas 1 merepotkan juga!"


Ryan siap menyerang Sonia. Tapi, dengan gerakan cepat dan menahan tebasan pedang Ryan dengan pedang.


Leonarda melihat Ryan dengan wajah di dingin.


"Jika kau ingin menyentuh adik kelas ku, maka langkahi dulu mayatku...."


Ryan tersenyum.


"Baiklah.... Ayo kita pindah tempat, aku akan membunuhmu..."


Ryan mundur beberapa langkah.


Leonarda berbisik kepada Abian dan Sonia.


"Serahkan dia kepadaku, misi kita adalah untuk mencarinya, kalian carilah regu Raina jika mereka dalam masalah bantu mereka...."


"Jangan sampai mati.... Kak Leonarda." Jawab Abian.


Leonarda tersenyum.


"Mana mungkin aku mati, bodoh...."


Leonarda pun melihat Ryan dan dia pun terbang, karena Leonarda gak mau kehilangan jejak Ryan.


Maka dia pun meloncati pagar pembatas jalan dan moloncat menaiki tiang lampu jalanan dan loncat di atap pemukim warga.


Kekuatan fisik yang luar biasa.


Bersambung....


Ikuti penulis di Instagram juga


@taufik_hikigaya


Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)

__ADS_1


Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.


__ADS_2