
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
Dia pun berjalan memasuki gerbang sekolah, dari gerbang sekolah bisa langsung melihat sebuah lapangan, di tengah lapangan itu ada seseorang yang menggunakan seragam sekolah dan juga menggunakan sebuah kecamata.
Mungkin dia kakak kelas?
Dia pun mendekati, seseorang itu.
"Selamat datang di sekolah ilmu seni dan bela diri. Siapa nama mu? Dan datang darimana kamu?"
Seperti nya orang ini, orang yang baik.
"Namaku Abian, aku datang dari Jakarta. Dan kemana perginya anak anak kelas 1? Apakah aku yang datang lebih dulu?"
"Begitu ya? Salam kenal Abian, nama ku Rava. Aku tahun ke 3 disini dan aku ketua OSIS untuk tahun ini, anak anak kelas 1 sedang pergi melaksanakan sebuah misi."
Misi? Apa maksud dari kata misi?
"Maaf, misi?"
Raut wajah Rava berubah menjadi dingin dan dia mengangkat tangan kanan nya dan mengepalkan jari-jarinya selain jari telunjuk dan manis.
"Barier....."
Tiba-tiba sebuah cahaya ungu berbentuk sebuah kubus mengurung mereka berdua.
"A-apa ini?"
"Kau datang kesini, tanpa mengetahui apa-apa? Siapa sebenarnya dirimu?"
"A-aku sudah bilang kan? Aku Abian. Aku datang di sini gara-gara ayah ku yang menyuruh ku untuk sekolah disini!"
"Oh begitu ya? Teknik seni yang ku punya adalah membuat sebuah penghalang yang bisa membuat orang yang terjebak di dalam nya tidak akan bisa keluar sampai ku bunuh."
"Haah!? Teknik seni? Apa itu? Aku gak tau apa-apa!"
"Ayah mu tidak memberi tahu apa itu teknik seni? Apakah kau punya teknik seni? Tapi, orang biasa tidak akan bisa melihat sekolah ini."
"Haah!? Aku bisa melihat nya......"
"Ya, kau bisa melihat nya dan setelah kau masuk ke dalam area sekolah tubuh mu tidak akan bisa di lihat dari luar area sekolah oleh orang-orang yang ada di luar kawasan sekolah, hei apakah kau pernah melihat semacam hantu?"
"Hantu? Tidak aku tidak pernah melihat seperti itu...."
"Tapi aneh ya? Kau bisa melihat sekolah ini. Kalo kau bukan seorang indigo itu aneh."
"Indigo? Rey Kiyoshi?"
"Ya, ya seperti itu....."
Tiba-tiba Rava menghilang dan tiba-tiba muncul di sisi kiri Adian dan mempukul pipi Abian sampai terpental,tubuh Abian membentur barier yang di buat Rava.
Pipi yang di pukul Rava begitu sakit dan membuat kepala Abian sakit.
Dia merasakan bahwa mulut mengeluarkan darah, Abian pun meludah dan berkata.
"Apa yang kau lakukan!?"
Rava, berjalan mendekati Abian.
"Aku hanya ingin menghajar mu, siapa tau kan kau adalah mata-mata yang berniat menyelidiki sekolah ini."
Abian pun berusaha berdiri.
"Aku bukan mata-mata. Aku berniat untuk sekolah di sini."
"Kalo begitu, tunjukan kemampuan mu dan lawan lah aku!"
Rava melesat mendekati Abian dan siap memukul nya lagi.
Abian tau, bahwa pukulan Rava itu menyakitikan dan dia harus berpikir untuk mengatasi pukulan Rava.
Abian pun melepaskan tas yang ada di punggung nya dan menggunakan nya untuk menjadi tameng dari pukulan Rava.
Pukulan Rava berhasil di tahanan oleh tas Abian.
"Oh? Kau boleh juga. Kau tau Teknik seni ku kurang bagus untuk melawan makhluk tak kasat mata, jadi. Aku melatih bela diriku untuk memusnahkan mereka."
"M-makhluk makhluk tak kasat mata!?"
"Kau bener, manusia selalu punya rasa takut dalam hidup mereka dan rasa takut itu mengeluarkan aura negatif dari manusia dan aura itu membuat makhluk tak kasat mata yang mereka takuti."
"Haaa?"
"Kau ke sekolah ini membawa buku banyak? Di sekolah ini satu buku dan alat tulis aja cukup yang lebih penting adalah membasmi makhluk yang tak kasat mata yang membahayakan makhluk hidup lainnya."
"M-membasmi?"
Rava mengendorkan pukulannya dan membuat Abian bisa bernafas lega. Tapi, sebenarnya Rava berniat untuk menganti serangannya.
__ADS_1
Rava menendang ke dua kaki Abian dan membuat Abian kehilangan kendali.
Sebelum Abian jatuh ambruk ke tanah. Rava menendang wajah Abian sampai terpental.
Tubuh Abian berguling-guling di tanah.
"Uhuk....Uhuk...."
Batuk Abian mengeluarkan darah dari mulut nya.
Abian berusaha untuk bangkit lagi, dan mulai memikirkan rencana berikut nya.
Tiba-tiba sosok wanita berambut panjang berwarna sedikit pirang muncul di luar barier milik Rava.
"Oh hey, kak sedang apa kamu pasang barier?" Kata nya.
Dia melihat kearah Abian yang babak belur di hajar Rava.
"Oh, bagaimana misi mu, Nika?"
"Aku cuma ikut pak kepala sekolah rapat dengan para petinggi. Dan juga kenapa kau melukai dia? Seragam itu, bukannya rekan kita?"
"Oh ini? Ini cuma untuk membimbing siswa baru masuk sekolah kita." Jawab Rava sambil tersenyum kepada Nika.
Mereka begitu dekat? Apakah mereka saudara? Pikir Abian.
"Siswa baru!? Apakah dia kelas 1?"
"Itu bener. Tapi, dia sepertinya kurang mengetahui tentang sekolah ini, musuh yang kita hadapi. Aku serahkan kepada mu."
"Eh!? Kenapa masuk ke sekolah ini, jika tidak mengetahui apa-apa?"
"Kalian terlalu banyak berbicara, aku siap menyerang mu lagi loh, kakak ketua OSIS!"
Rava tersenyum.
"Maju lah! Abian!!"
"Jangan meremehkan ku! Saat SMP aku jago tauran loh..."
"Apa yang harus dipuji dari tauran?" Kata Nika.
Abian berlari mendekati Rava sambil mengepalkan tangannya dan siap meninju Rava.
"Ancang ancang pukul yang bagus. Tapi, aku tau bahwa bukan tangan mu yang akan menyerang...."
Tendangan Abian berhasil di tangkap oleh tangan Rava.
Rava pun melemparkan Abian sembarang.
Pikirkan lagi, lagi dan lagi.
Abian terus mengunakan otak nya untuk mengalahkan sang ketua OSIS ini.
Tiba-tiba Abian mengingat perkataan ayahnya sebelum dia pergi ke sekolah ini.
"Sesampainya di sana, kau harus berjabat tangan dengan seseorang sekolah itu."
Abian berlari mendekati Rava lagi dan mengincar tangan kanan Rava, Abian berhasil mencengangkan pergelangan tangan kanan Rava dan dia mempertemukan tangan mereka.
Abian dan Rava pun bersalaman dengan paksa dan tiba tiba rambut hitam milik Abian berubah menjadi putih.
Nika dan Rava terkejut melihat perubahan Abian.
Rava sampai tercengang karena terkejut. Dia pun menyerang Abian dengan tendangan yang mengarah ke wajah nya.
Tapi tendangan itu berhasil di tahan lengan Abian walaupun Abian tetep sedikit mundur atas serangan itu.
"K-kenapa!? Kanapa rambut mu jadi putih!?" Kata Nika.
Abian melihat kearah Nika.
"Haah!? Rambut ku jadi putih?" Jawab Abian sambil memegangi kepalanya.
"Apa? Itu teknik seni mu?"
"Aku tidak tahu....."
Abian tidak tau apa-apa. Tapi, setelah dia memegang tangan Rava rambut nya berubah warna, apakah ini alasan ayah menyuruh nya untuk bersalaman dengan seseorang di sekolah ini?
Tubuh Abian tidak merasa apapun yang berbeda dari sebelum rambut nya berubah warna.
Tapi insting di otak nya. Dia harus melakukan itu.
Abian pun memejamkan kepalanya, dan mengepalkan tangannya kecuali jari manis dan tengah nya seperti Rava tadi.
"Barier..... Lenyap lah....."
"!?"
__ADS_1
"?!"
Tiba-tiba pelindung yang berwarna ungu yang mengurung Abian dan Rava menghilang.
Rava memasang wajah kagum dan tidak percaya dengan kemampuan yang di miliki Abian.
"Kau punya bakat yang luar biasa...."
"Benarkah? Aku tidak tau apa-apa, aku hanya melakukan hal yang ada di kepala ku."
"Bakat mu bisa mengcopy bakat yang telah kau ajak untuk berjabat tangan, bakat mu tidak cocok dengan ku, lebih tepatnya teknik seni ku."
"Begitu ya?"
Abian melihat telapak tangan nya dan mengempalkannya.
"Dan sekarang. Aku bisa menghajar mu tanpa ada sebuah penghalang."
Abian berlari mendekati Rava dan berusaha untuk memukul Rava. Tapi, Rava dengan mudah bisa menghindarinya.
Rava terus menghindari serang Abian.
"Bakat mu luar biasa. Kau akan cocok untuk misi berkelompok daripada misi sendiri."
"Tunggu dulu, jangan langsung bahas misi. Aku saja tidak di beritahu apa apa oleh ayahku tentang sekolah ini." Jawab Abian sambil terus mencoba menyerang Rava.
"Tenang saja, kau akan paham nanti juga. Bakat mu sangat di butuhkan dan juga kita selalu saja kekurangan siswa."
Abian terus menyerang Rava, walaupun Rava dengan mudah menghindari setiap serangan Abian seperti sudah tau arah serangan nya.
Dan seperti nya, Abian juga geregetan ingin memukul Rava sekali saja.
"Kau bilang tadi bahwa kau bisa menyerang ku, tanpa penghalang? Akan ku tunjukan penghalang tingkat lanjut ku...."
Rava meloncat ke belakang dan mengepalkan tangannya kecuali jari manis dan tengah nya.
"Barier....."
Sebuah penghalang berwarna ungu muncul lagi, dan sekarang lebih luas dari tadi. Sekarang barier Rava menutupi kawasan sekolah.
"Heh!? Seberapa besar kau buat akan ku hilangkan penghalang mu itu!"
Abian membentuk tangan nya sama seperti Rava.
"Oh!? Rambut mu menghitam lagi?"
"Barier..... Lenyaplah...."
Abian berusaha untuk menghilangkan barier, Rava tapi barier itu tidak lenyap.
"Oh ho!? Jadi seperti itukah cara kerjanya?"
"Maksudnya?"
"Kau bersalaman dengan orang yang punya teknik seni, rambut mu memutih, dan kau bisa mengcopy orang yang kau sentuh tangan nya."
Abian memiringkan kepalanya.
"Di hitung-hitung, rambut mu berubah putih itu sekitar 1 menit. Bakat mu luar biasa tapi ada batas waktu yang bisa kau gunakan."
"Begitu ya?"
"Ya begitulah. Dan juga saat rambut mu memutih, aku merasakan kekuatan supranatural mu sungguh besar."
"Aku juga merasakan hal yang sama..." Jawab Nika.
"Benerkan? Abian selamat datang di SMA ilmu seni dan bela diri, Nika tolong bantu dia untuk menjelaskan tentang tujuan dan mus-"
Di saat mendengar perkataan Rava, kepala Abian begitu pusing dan jatuh pingsan.
Bruk
Tubuh Abian ambruk tidak sadarkan diri.
"Hey!"
"Oy sialan! Jangan pingsan dulu sebelum kakak kelas mu menyelsaikan kata katanya.!" teriak Rava.
Rava menghela nafas dan melanjutkan kata-katanya.
"Haah, Nika kau tolong rawat luka nya dan jelaskan apa yang ku katakan tadi."
"Baik, kak...."
Bersambung.....
Ikuti penulis di Instagram juga
@taufik_hikigaya
__ADS_1
Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)
Jika kalian suka kalo bisa like,komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update tadi.