
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
Mendengar penjelasan Nika tentang misi mereka ke laut selatan untuk membantu Pak Panca.
Sonia dan Salsa mengeluh karena mereka belum istirahat dari kemarin, Nika pun menjelaskan bahwa mereka bisa beristirahat di mobil.
Sonia dan Salsa pun terpaksa harus menjalankan misinya karena tugas mereka sebagai pengguna teknik seni untuk melindungi masyarakat, walaupun mereka juga manusia yang butuh istirahat.
Mereka pun kembali ke sekolah dan melaporkan ke Rava tentang misi mereka di gunung berkabut putih.
Rava mengatakan bahwa Pak Bobi sudah menunggu mereka, Pak Bobi adalah adik dari ayah salah satu teman mereka yaitu Riana.
Ayah Riana dan Pak Bobi adalah petinggi para indigo yang bekerja untuk sekolah dan keluarga petinggi.
Mereka pun menuju jalan raya dan yang membuat Abian kaget adalah ada jalan yang lebih mudah di lewati daripada saat dia pertama kali datang ke sini.
"Kenapa aku baru tau ada jalan yang enak di lewati, sedangkan saat aku pertama kali kesini harus melewati bukit dan semak-semak?"
"Hah!? Kenapa kau melewati jalan depan? Padahal Lewat jalan belakang lebih mudah? Ayah mu tidak memberi tahu jalan nya kah?" Jawab Lia.
"Ayah ku memberikan tau jalannya. Tapi,..... Ayah sialan!"
Nika melihat Abian yang tiba tiba marah.
"Ayah mu tukang iseng ya? Kamu turun di dekat pesawahan kan? Padahal kamu bisa turun sedikit lebih depan sekitar 200 meter dari tempat mu turun." Kata Nika.
"Andai aku tau lebih awal, mungkin aku gak melewati bukit berbatu itu...."
"Sudah sudah yang sudah terjadi jangan di pikiran terus....." Kata Sonia sambil menepuk nepuk kedua pundak Abian.
Sonia bisa menepuk pundak Abian karena tinggi mereka tidak terlalu jauh walaupun Abian sedikit lebih tinggi.
Mereka berjalan melewati tangga dan jalan setapak, dan dari sini mereka bisa melihat jalan raya.
Abian masih kesal kepada ayah nya.
Mereka sampai di pinggir jalan raya, mereka sudah di tunggu oleh Pak Bobi. Abian melihat nya dia sepertinya seumuran dengan Pak Tomi.
Dia mengunakan sebuah jas seperti seorang pejabat, dia membawa sebuah mobil berwarna putih, mobil ini cukup besar dan mereka berlima pasti bisa masuk.
"Tidak pake mobil yang biasanya?" Tanya Lia.
"Jika kita pake mobil yang Mercedes Benz, kita berenam gak bakalan masuk."
Mercedes Benz!?
"Baiklah, ayo kita pergi. Pak Panca sudah menunggu kalian....." Kata Pak Bobi sambil membuka pintu geser mobilnya.
Lia duduk di kursi depan, kursi tengah ada Abian yang duduk di dekat kaca dan sampingnya ada Nika.
Di kursi belakang ada Sonia dan Salsa, karena mereka belum istirahat. Jadi mereka duduk di belakang karena punya kursi yang paling nyaman untuk istirahat.
"Jangan lupa pake sabuk pengaman nya, ya!"
__ADS_1
"Baik...."
Mereka pun segera pergi menuju ke Laut selatan.
Tidak lama setelah mereka mulai berangkat dari sekolah menuju Laut selatan, Sonia dan Salsa sudah langsung tertidur.
Sepertinya mereka bener bener kelelahan gara misi di gunung berkabut, karena mereka belum sempat sarapan.
Pak Bobi menyuruh mereka untuk makan di sebuah restoran.
Mereka membangunkan Sonia dan Salsa untuk makan dan dengan terpaksa mereka pun bangun dan mulai turun dari mobil.
Sekitar 30 menit, mereka semua selesai makan. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka yang cukup masih jauh ke tempat lokasi Pak Panca.
Setelah melanjutkan perjalanan mereka Sonia dan Salsa tertidur lagi, melihat itu Abian pun jadi ingin ikut ikutan tidur dan Abian pun tertidur.
********
"Abian, bangun. Abian..... Kita sudah sampai."
Nika mengerak gerakan tubuh Abian, Abian pun membukakan ke dua matanya dan menggosok gosok kelopak matanya.
"Sudah sampai.....?"
"Ya." Jawab Nika sambil tersenyum.
"Tidur mu, nyenyak ya.... Abian?"
Mereka pun turun dari mobil dan mereka bisa merasakan angin laut yang sangat segar.
Tapi, di laut itu tidak ada air laut yang terlihat.
"Apakah air nya sedang surut?" Tanya Abian.
"Sepertinya begitu." Jawab Nika.
Nika mengeluarkan smartphone dari saku rok mininya.
"Liat ini, Abian...." Jawab Nika.
Abian melihat apa yang akan di tunjukkan Nika dan itu adalah foto dirinya yang sedang tidur tadi....
"H-hapus foto itu...." Jawab Abian histeris.
"Tidak ini cukup lucu loh, kamu tidur seperti bayi."
"Benerkah? Boleh aku liat?" Tanya Sonia yang sepertinya penasaran.
"Boleh, akan ku kirim Kepada mu. Sebagai hadiah untuk mu akan ku berikan foto yang lain juga."
Sonia pun mengeluarkan smartphone nya karena ada pesan.
Dan pesan itu datang dari Nika, isi pesan itu adalah 2 foto dari Nika. Yang kesatu adalah foto tidur Abian dan satu nya lagi adalah foto saat Sonia tidur.
__ADS_1
"H-hapus foto itu!"
"Ahahahaha, tidak akan ku hapus...."
Nika tertawa, Abian baru pertama kali melihat Nika tertawa.
Nika merasakan tatapan dan hawa dingin datang dari Salsa.
"T-tenang Salsa, aku tidak memfoto darimu saat tidur ko...." Jawab Nika berkeringat dingin.
Semua pun tertawa melihat sifat Nika yang berubah dratis.
"Kalian sudah datang ya?"
Semua orang di sana mendengar suara laki-laki yang khas di telinga mereka, suara itu adalah suara Pak Panca.
Pak Panca sedang duduk santai di tembok penahan ombak.
"Pak Panca? Dimana Raya dan Raina?" Tanya Nika.
"Mereka ada di sana, sepertinya makhluk tak kasat mata tingkat tinggi bener bener akan muncul, apalagi yang paling ku takutkan adalah wujud makhluk itu....." Kata Pak Panca sambil menunjuk ke arah laut yang sedang surut.
Pak Panca berdiri dan mulai melayang ke udara.
"Kalian segara lah menyusul mereka berdua, aku akan segera menonaktifkan aura negatif yang besar ini, Pak Bobi bawa mobil dan hati hati lah jika terjadi sesuatu...."
"Kenapa kau tidak menonaktifkan nya dari tadi Pak Panca? Bukan kah ini berbahaya ya?" Tanya Abian.
"Bukan nya aku tidak percaya kekuatan dari kedua murid ku, tetapi. Jika mereka gagal menahan makhluk tingkat tinggi itu, percuma saja, makhluk itu akan menyerang ku dan aku akan lebih fokus untuk menghadapinya, jika aku gak melawan itu sama saja dengan bunuh diri....."
Pak Panca melayang semakin tinggi mengunakan teknik anginnya.
"......Riana memang murid paling jenius di antara kalian, tetapi dia masih belum berpengalaman seperti Leonarda dan di tambah mungkin tsunami akan terjadi dan pemukiman warga di sini akan dalam bahaya! Aku curiga ada orang yang melakukan sesuatu yang mengatur masalah ini." Lanjut Pak Panca.
Mereka berlima pun bergegas untuk segera menuju tempat Raya dan Raina, tapi tiba tiba mereka berlima melihat sesuatu yang melesat ke dekat mereka.
DUAAAAARRR!
yang melesat itu menabrak tembok penahan ombak sampai hancur, kepulan debu itu pun mulai menghilang dan yang melesat menabrak tembok dengan kecepatan seperti peluru itu adalah.
Seorang perempuan yang menggunakan seragam yang sama dengan mareka.
"Raina?!"
Bersambung.....
Ikuti penulis di Instagram juga
@taufik_hikigaya
Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)
Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.
__ADS_1