Sekolah Di Bawah Kaki Gunung

Sekolah Di Bawah Kaki Gunung
Chapter 8 Tragedi gunung berkabut putih bagian 1


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.


"Baiklah! Ayo kita pergi ke gunung berkabut putih itu!" Ujar Abian.


"Hah!? Sejak kapan kau jadi pemimpin kami?" Jawab Lia.


"Kamu terlalu bersemangat...." Jawab Nika sambil tersenyum.


Abian jadi malu sendiri karena hal yang dia kata tadi.


"Oh. Kalian akan pergi sekarang ya?"


Mereka bertiga mendengar suara laki-laki yang sudah familiar di telinga mereka.


"Kak Rava?"


"Kenapa kau bangun jam segini Rava?"


"Panggil aku kakak atau senior, Lia."


"Baik-baik, senior Rava kenapa kau bangun jam segini?"


"Mana mungkin aku tidur di saat adik kandung ku dan adik kelas ku akan pergi untuk menjalankan misi."


Kali ini Rava, belum mengenakan seragam sekolahnya. Kali ini dia mengenakan kaos abu dengan celana hitam panjang.


"Apakah Kak Rava tidak kesepian saat kami pergi?" Tanya Abian.


"Tenang saja, aku sudah terbiasa. Terkadang Pak Tomi juga suka datang kesini, merepotkan memang menjaga sekolah sendiri. Tapi, ini adalah darurat maka anak kelas 1 di izinkan pergi semua."


"Begitu ya? Memang nya tidak ada kelas 2 yang bersekolah di sini?" Jawab Abian.


"Sayangnya tidak ada, kelas 3 hanya 2 orang dan kelas 1 ada 7 orang, murid sekolah ini hanya 9 orang. Dan cuma 2 guru di sekolah ini, kita hanya bergerak 11 orang."


"Sangat sedikit ya?"


"Ya,sangat sedikit. Orang yang bisa mengunakan teknik seni hanya sedikit, sedangkan manusia dengan rasa takutnya terus meningkat."


"Jadi kita harus segera mengatasi dan mencari tau kenapa makhluk tak kasat mata bisa muncul dari rasa takut manusia, dan apa tujuan mereka kalo hanya untuk menghancurkan umat manusia, dan kapan mereka pertama kali dan dimana mereka muncul." kata Nika.


"Itu bener, jadi kalian kembali lah hidup-hidup dan jangan mati sebelum kita semua bisa melenyapkan para makhluk tak kasat mata dari dunia ini." Kata Rava.


Nika tersenyum, Abian pun ikut tersenyum. Tapi wajah Lia masih biasa saja, tetep tanpa ekspresi.

__ADS_1


Mereka bertiga pun mulai berjalan menjauhi Rava.


"Abian, tolong lindungi adik ku dan teman teman nya....."


Mendengar perkataan itu, Abian pun berhenti berjalan dan Melihat Rava dengan senyuman.


"Ya, serahkan padaku..."


Abian pun kembali berjalan mendekati Lia dan Nika yang sudah berjalan lebih dulu.


Pergi ke gunung berkabut putih itu, tidak perlu mengunakan sebuah kendaraan karena gunung ini tidak terlalu jauh dari sekolah mereka.


Jalan ke gunung berkabut putih itu melewati sebuah pemukiman warga yang bisa terlihat dari jendela kamar Abian.


Bahkan dari sana, Abian bisa melihat sekolah nya yang cukup besar. Abian berpikir apakah para warga di sini tidak bisa melihat sekolah nya yang besar?


Setelah melewati pemukiman warga yang masih sepi karena masih dini hari, mereka bertiga mulai tidak melihat pemukiman warga.


Dan sekarang setiap sisi mereka hanya sebuah pohon besar dan juga udara di sini semakin dingin, mereka harus tetep bergerak agar tidak hipertermia.


Mereka bertiga melihat sebuah cahaya dari lampu, apakah masih ada rumah warga di sini?


Setelah berjalan mendekati cahaya lampu itu ternyata di sana ada sebuah warung dan sebuah tempat seperti pos jaga.


Di sana ada tulisan pos 1.


Di warung ini cukup hangat karena pemilik warung membuat sebuah perapian yang cukup besar.


Warung ini di jaga oleh sepasang suami istri. Karena mereka bertiga cuma makan Pizza semalam mereka pun memesan sebuah roti dan kopi.


Dan sambil sedikit meminta informasi.


"Maaf, apakah kalian pernah melihat dua orang perempuan seumuran kami yang mengunakan seragam seperti kami?" Tanya Nika.


"Ya,aku tadi pagi melihatnya. Tapi aku belum melihat nya kembali, jika mereka ingin naik gunung dan menginap seharusnya mereka membawa sebuah tenda." Jawab sang suami.


"Naik gunung? Jadi ini gunung suka di naiki pendaki?" Tanya Abian.


"Kamu tidak tau ya? Memang benar sih sudah satu tahun sejak ada orang yang hilang di gunung ini, gunung ini jadi sepi. Di tambah kabut gunung ini terlalu tebal yang membuat para pendaki ketakutan."


"Masalah nya sudah terlihat...." Bisik Lia yang hanya bisa terdengar oleh Nika dan Abian.


Nika mengangguk. Tapi, Abian sedikit kurang memahami apa maksudnya.

__ADS_1


"Jadi tujuan kalian kemari untuk apa? Mendaki gunung?"


"Kami berniat untuk menaiki gunung. Tapi, dua teman kami pergi duluan dan belum kembali, kami berniat untuk membatalkan nya karena ada kabar tentang kabut di gunung ini." Lia berbohong.


"Begitu ya? Jadi kalian mencari teman kalian ya? Tapi, kami tidak tau mereka ada dimana. Jika mereka tidak membawa alat berkemah."


"Terima kasih atas informasinya, kami harus segera menyusul kesana karena mengkhawatirkan mereka berdua." Jawab Lia.


"Ya, sama-sama. Jika terjadi sesuatu datang lah ke sini lagi." Jawab sang suami.


Mereka pun bergegas untuk segera pergi, dan mereka membayar makanan dan minuman yang mereka beli dan melanjutkan perjalanan.


"Seperti biasa ya? Lia suka berbohong saat menjalankan misi....." Ujar Abian.


"Jika tidak berbohong kita harus bicara apa? Bahwa kita penguna teknik seni dan pemburu makhluk tak mata? Itu tidak mungkinkan? Bodoh...." Jawab Lia.


"Jika yang di pikiran, Lia. Memang benar tentang kabut ini, sepertinya akan sedikit sulit dan itu sepertinya alasan kenapa Sonia dan Salsa belum kembali...." Kata Nika.


Abian masih saja kebingungan, apa maksud dari perkataan Lia saat di warung itu.


"Aku masih belum mengerti maksud mu...."


"Ini juga masihlah sebuah prediksi, jika ini benar maka akan ku katakan maksud perkataan ku." Jawab Lia sambil melipatkan tangan nya di bawah dada nya, dia mengesek gesekan kedua tangannya karena mungkin dia sedang ke dinginan.


Perjalanan mereka jadi lebih menanjak dan udara di sini semakin dingin saja, dan juga seperti namanya, di sekitar sini sudah mulai sedikit berkabut.


Dan semakin mereka berjalan lebih dalam kabut nya samakin tebal.


Di depan mareka ada sebuah tangga yang sudah berlumut. Mereka berjalan melewati tangga itu secara perlahan karena takut terpeleset.


Setelah menaiki tangga seperti mereka ada di sebuah puncak gunung, dan Kabut nya semakin tebal dan mereka merasakan bahwa oksigen di sini cukup tipis.


"Apa-apaan kabut ini?!" Kata Lia.


Kabut itu semakin tebal dan membuat mata Abian tidak bisa melihat, dan saat dia bisa melihat lagi.


Nika dan Lia sudah tidak lagi ada dekat nya.


Bersambung.....


Ikuti penulis di Instagram juga


@taufik_hikigaya

__ADS_1


Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)


Jika suka cerita ini, bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.


__ADS_2