
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
Orang yang mengunakan mantel putih itu, menarik kopernya dan keluar dari bandara.
Dia sudah di tunggu oleh seseorang yang membawa mobil Mercedes Benz hitam.
"Apakah kau sudah menunggu ku lama, Pak Bobi?"
"Tidak terlalu lama kok, tenang saja...."
"Begitu ya? Syukurlah...."
Dia pun memutuskan untuk menaiki mobil, di kursi belakang.
Pak Bobi pun memasuki mobil.
"Kemana tujuan kita sekarang, Tuan muda Leonarda..."
Leonarda mengerutkan keningnya, atas perlakuan yang terlalu berlebih dari Pak Bobi.
"Kau terlalu formal, Pak Bobi. Aku ingin ke sekolah dulu, aku ingin melihat adik dan adik-adik kelas ku, dan untuk bertemu teman lama ku."
"Begitu ya? Baiklah..."
Di perjalanan menuju sekolah. Pak Bobi bertanya lagi.
"Pedang mu di mana? Leonarda?"
Leonarda melipat tangannya di dada nya, sebelum menjawab pertanyaan Pak Bobi.
"Aku pulang naik pesawat, Jadi pedang ku sedang di kirim kan kesini mengunakan kurir khusus yang sudah di bayar oleh ayah ku."
"Begitu ya? Orang kaya bisa membolak-balikan dunia ya? Ngomong ngomong gak gerah masih pake mantel?"
"Yang kaya itu orang tua ku, bukan aku. Gerah sih. Tapi, aku udah biasa dari tahun kemarin."
"Begitu ya?"
Leonarda mengeluarkan smartphone nya, dan menelepon seseorang.
"Halo! Aku sedang di jalan menuju sekolah, aku membawa beberapa informasi dari negara Eropa yang ku kunjungi...."
"..... Jadi aku ingin keluarga Baskara dan Chandra berkumpul di satu tempat dan aku ingin membahas sesuatu."
Telepon nya terputus.
"Oh iya, kamu sudah tau tentang Pak Panca?"
"Kak Panca? Apa yang terjadi padanya?"
"Jadi kamu belum tau apa-apa?"
"Aku jujur. Aku tidak tau apa-apa."
"Pak Panca, dia saat ini sedang koma. Dia menjalankan misi di Laut selatan bersama anak anak kelas 1. Dia di serang oleh seseorang pengguna Teknik seni yang tidak di ketahui...."
Leonarda sedikit tidak percaya, seorang pengguna teknik seni terkuat bisa kalah, Pasti orang itu cukup terampil untuk mendesak Kak Panca dan melukainya.
"Apakah kau tau ciri-ciri orang yang melukai, Kak Panca."
"Ya, sedikit. Menurut anak anak kelas satu, dia punya teknik seni melayang dan membawa pedang."
"Melayang? Membawa pedang?"
Entah kenapa dia seperti mengenal seseorang yang punya ke mampuan seperti itu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Membutuhkan waktu 3 jam untuk melakukan perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta menuju ke sekolah ilmu seni dan bala diri.
Pada akhirnya Pak Bobi dan Leonarda sampai di sekolah.
__ADS_1
"Waaahhh. Aku rindu sekali, sekolah ini."
"Kalau begitu, selamat datang di sekolah...." Kata Pak Bobi.
"Ya, Terima kasih. Karena sudah menjemput dan mengantar ku ke sini." Jawab Leonarda sambil tersenyum.
Dia pun berjalan menuju suatu tempat, tempat itu adalah ruang OSIS, Leonarda yakin bisa menemukan seseorang di sana.
Dia pun membukakan pintunya, dan di dalam sana ada 8 orang, 2 laki laki dan 6 perempuan.
Ada beberapa yang dia kenal tapi, hanya satu laki laki yang dia tidak kenal. Tapi, yang pasti dia adalah pasti anak kelas 1.
"Kau datang lebih awal yang ku kira ya? Leonarda."
"Lama tak jumpa, Rava. Apakah kau masih cengeng?"
"Aku bukan Rava yang kau kenal dua tahun lalu."
"Kalo begitu, aku juga sudah tidak seperti dua tahun yang lalu...."
Sudah jelas anak anak kelas 1, kurang memahami apa maksud dari percakapan Leonarda dan Rava.
"Selamat datang kakak, apakah pergi ke Eropa itu menyenangkan?"
"Terima kasih, Salsa. Kau tumbuh cepat ya, kalian semua juga. Aku hanya pergi ke 3 negara dalam dua tahun ini. Ya, walaupun ini cuma misi, tapi aku menikmati nya, bisa pergi ke benua biru itu. Dan ngomong ngomong kamu siapa?" Leonarda melihat anak laki-laki yang ada di antara anak anak perempuan kelas 1.
"Nama ku Abian, aku baru datang kesini. Jadi aku minta maaf jika aku tidak terlalu mengetahui tentang dunia teknik seni, jadi aku minta bimbingan nya."
Dia cukup sopan, dan juga akhirnya Leonarda bisa bertemu dengan anak kelas 1 yang cukup misterius ini.
"Abian kah? Jadi kau yang punya teknik seni copy itu ya?"
"Eh? Kakak sudah mengetahui ku?"
"Ya, mas mas cengeng yang di sana, yang memberi tau ku."
"Jaga kata-kata mu..."
"Begitu ya?"
"Ya, terima kasih!"
Rava melihat mereka dengan serius.
"Mumpung lagi bahas misi, bagaimana kalo kita bahas misi sekalian?"
Semua orang melihat Rava, dan tidak ada orang yang melihat Rava diam dalam sunyi.
Rava pun berpikir bahwa diam artinya setuju.
"Aku ingin yang menjalankan misi untuk pergi mencari dokter bedah ke Jakarta adalah Raya,Lia, dan Raina."
"Siap!"
"Dokter bedah? Untuk Kak Panca?" Tanya Leonarda.
"Ya, kau juga akan mendapat misi juga besok, pedang mu belum sampai bukan?"
"Ya, kau benar jadi misi apa itu?"
"Mencari orang yang sudah melukai, Kak Panca..."
Leonarda melihat Rava dengan serius.
"Begitu ya? Serahkan pada ku, hari ini aku akan mengadakan rapat dengan keluarga petinggi. Untuk membahas negara Eropa yang ku kunjungi dan untuk membahas orang misterius yang bisa melukai, Kak Panca."
"Begitu ya? Kalau begitu ajak Abian dan Salsa bersama mu, dia belum mengetahui tentang para petinggi, aku mengandalkan mu sebagai seniornya."
"Serahkan padaku, soal nya kau akan memerintahkan dia untuk ikut menjalankan misi dengan ku untuk mencari orang misterius itu kan?"
Rava tersenyum.
__ADS_1
"Tepat sekali...."
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Di sebuah bekas gudang di sebuah pabrik yang terbengkalai. Terlihat sosok laki-laki yang memiliki tubuh tinggi kurus.
Dia sedang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari besi yang berwarna hitam. Kursi yang terbuat dari besi itu cukup tidak nyaman dia duduki.
Kursi ini keras dan dingin.
Dia melihat seseorang yang datang dari kegelapan, dia membawa pedang di punggungnya.
Dia terlihat babak belur, mungkin itu terjadi saat dia pergi ke Laut selatan untuk menjalankan rencana awal mereka.
"Ryan, kau terlihat babak belur. Apa yang terjadi?"
"Anak anak kelas 1 sekolah itu mengeroyok ku. Tapi, aku berhasil melukai si pengguna teknik seni terkuat Panca. Walaupun aku gak tau di sudah mati atau tidak."
"Begitu ya?" Jawab pria yang duduk di kursi besi.
Dia melemparkan sebuah toples kaca kecil yang berisi seperti pelet pakan ikan.
Ryan pun menangkapnya.
"Itu adalah penemuan terbaru Profesor Luis sebelum meninggal, satu toples itu berisi 100 butir pil, dan satu butir itu sangat bermanfaat karena bisa menyembuhkan sebuah luka. Jadi gunakan dengan sebaik mungkin."
Ryan pun menelan satu pil itu dan tubuhnya pun sudah tidak merasakan sakit lagi.
"Apa ini?"
"Itu adalah pil yang di buat oleh Profesor Luis, pil ini adalah obat herbal yang di isi kekuatan supranatural milik Profesor Luis."
"...."
Orang yang duduk itu tersenyum.
"Jadi? Apakah ada hal yang unik di sana?"
"Ya, ada murid kelas 1 yang sepertinya kurang dekat dengan para petinggi, dan dia punya kekuatan mengcopy, teknik seni seseorang."
"Oho!? Benarkah? Sepertinya dia menarik, kalau begitu aku punya misi lagi untuk mu. Tangkap dia hidup hidup dan jadikan dia sebagai teman kita."
"Tapi? Bagaimana kalo dia di lindungi oleh para petinggi?"
"Jika seperti itu, maka kau gunakan ini saja..."
Dia menunjukan sebuah 2 kubus kecil yang berwarna emas.
"Itu? Bukankah itu, kekuatan teknik seni tingkat lanjut mu? Bukankah membuat satu penjara besi emas itu butuh 3 bulan? Apakah tidak apa-apa. Aku mengunakan nya?"
"Itu tidak apa-apa. Aku ingin mengujinya, dan terlebih aku sudah membuat lagi beberapa lagi...."
Sepertinya persiapan untuk melawan para petinggi teknik seni, begitu matang.
Siapa dia sebenarnya?
"..... Teknik ini akan aktif jika kau suruh aktifkan kepada target mu, penjara ini tidak bisa di buka, kecuali jika penguna nya pingsan. Jika kau tidur sekalipun mereka tidak akan terbuka, kecuali kau pingsan."
Lanjut nya sambil melemparkan 2 kubus itu kepada, Ryan dan Ryan pun menangkapnya.
"Aku akan segera melaksanakan misi ini...."
Bersambung....
Ikuti penulis di Instagram juga
@taufik_hikigaya
Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)
Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.
__ADS_1