
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
Laura Kiehl P.O.V : ON
Aku baru pertama kali merasakan hal yang menyakitkan seperti ini.
Aku adalah perempuan yang jarang sekali. Tidak, mungkin aku tidak pernah terluka dan merasakan hal yang menyakitkan seperti ini.
Bahkan ini adalah pertama kalinya, aku melihat darahku sendiri dan aku pun sadar bahwa aku juga memiliki darah yang berwarna merah juga.
Aku terlahir di sebuah keluarga yang cukup berada.
Ayahku punya lahan perkebunan anggur terbesar di negara Jerman.
Sementara Ibuku seorang menteri luar negeri untuk Indonesia di Jerman dan aku adalah anak tunggal dari blasteran Jerman Indonesia.
Banyak orang yang berbicara aku cantik, kata mereka aku punya tinggi badan yang tinggi dan rambut yang sedikit pirang khas Jerman, tapi aku juga punya kulit lembut seperti orang Indonesia dari Ibuku.
Dengan begitu, aku cukup populer di sekolah dari SD sampai SMA sebelum pindah ke Indonesia.
Aku tidak keberatan menjadi orang populer terutama punya banyak teman, tapi mereka semua terlalu berlebih-lebihan menyanjungku, karena aku orang yang ber-ada dan mereka semua hanya mengagumi ku seperti melihat seorang tuan putri kaya saja.
Itu terlalu berlebih-lebihan, aku juga selalu di jemput oleh jemputan Ibuku dan aku punya assiten yang selalu bersamaku selain di sekolah.
Keseharian ku hanya diam di rumah, kalau keluar rumah cuma dihalaman rumah dan aku tidak punya hobi selain minum teh di halaman rumah.
Aku ingin mempunyai hobi, aku percaya dengan tubuhku yang terlahir atletik ini, mungkin aku bisa mengikuti beberapa bidang olahraga.
Tapi, orang tua ku terlalu berlebihan dan melarang ku untuk melakukan hal itu karena takut aku terluka atau jatuh sakit.
Aku berpikir justru jika aku terus dikurung di rumah besar ini. Aku pasti akan jatuh sakit atau bahkan mati karena bosan.
Sesekali aku juga suka bermain keluar rumah walaupun gak terlalu jauh sih, cuma di taman di alun-alun kota.
Itu pun aku gak sendirian, aku di temani oleh asisten ku yang mengunakan pakaian maid yang mencolok.
Aku berpikir apakah ini jaman abad pertengahan ?
Menjadi sorotan orang-orang membuatku malu dan aku cuma bisa narik napas panjang berkali-kali.
Pernah suatu ketika, aku tertarik untuk belajar memasak. Ya, karena aku dilarang untuk punya hobi di luar rumah maka kenapa aku gak coba cari hobi yang ada di dalam rumahnya aja.
Contohnya memasak.
Saat itu, assisten ku sedang menyiapkan makanan untuk ku dan jari tangannya tiba- tiba teriris pisau dan mengeluarkan sebuah cairan berwarna merah.
Ya, itu adalah darah.
Aku baru pertama kali melihat darah dan ternyata memang benar bahwa warna darah itu berwarna merah.
Aku jarang terluka, tidak bukan jarang mungkin aku belum pernah terluka seumur hidupku dan membuatku sedikit penasaran apakah aku punya darah berwarna merah juga?
__ADS_1
Aku pernah ingin mencoba melukai diriku sendiri, tapi tidak jadi karena pasti akan ada bekas lukanya dan orang tua ku pasti akan marah besar jika melihatnya.
Mereka terlalu protektif.
Tapi yang terpenting sekarang adalah aku ingin belajar memasak.
Aku melihat Assisten ku sedang mencuci tangannya yang terluka.
Aku mendekatinya.
"Apakah kamu tidak papa?"
"Tidak ini cuma luka kecil... Nona Laura tunggu saja masakannya akan segera saya hidangkan."
"......."
Setelah lukanya benar- bersih-bersih, dia mencari sesuatu di kotak P3K.
"Hei, apakah kamu mau mengajari ku memasak? Aku juga seorang perempuan dan itu wajib bisa memasak bukan?"
"Tidak itu tidak perlu....."
"Eh? Tapi, bagaimana kalau aku mempunyai suami dan anak nanti? Bukannya aku harus menghidangkan makanan untuk mereka?"
"Anda tidak perlu melakukan itu, karena saya akan terus ada di sisi anda sampai kapanpun.. "
"Walaupun begitu. Aku ingin tetap bisa masak!"
Menjadi seperti Ibu? Perempuan karir? Dan membayar seorang asisten sepertinya untuk menjaga anaknya gitu?
Apakah aku memang di takdir kan harus hidup seperti ini?
Mungkin inilah yang di maksud dengan istilah "menjadi seseorang yang kaya tidak akan membuat mu hidup bahagia."
"Aku harus seperti Ibu? Tapi, bukannya Ibu bisa memasak dan masakannya juga enak dan itu tidak kalah dengan masakan mu?"
Dia membalut lukanya dengan sebuah plester.
"Anda dan nyonya itu berbeda dan juga saya di bayar disini untuk memasak, bukan untuk menjadi guru memasak anda, Nona Laura."
Aku hanya bisa diam dalam sunyi dan
mengembungkan pipi ku kecewa.
Sepertinya walaupun cuma belajar memasak aku tidak di perbolehkan.
Aku jadi berpikir bahwa hidupku begitu sempit dan sebenarnya hidupku ini untuk melakukan apa sih?
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Tahun pertama ku di SMA hampir segera berakhir, aku mendapatkan nilai yang cukup bagus di sekolah.
__ADS_1
Oleh kerena itu, aku menjadi lebih populer lagi di sekolah, menjadi orang populer itu ternyata cukup merepotkan.
Aku hanya ingin teman yang benar-benar menanggap ku teman yang apa adanya.
Walaupun itu sedikit itu tak masalah.
Aku menghela nafas, aku sedang duduk di halaman rumah sambil melihat awan yang sedikit berwarna kelabu.
Ini musim gugur dan hampir mendekati musim dingin, sekitar 3 bulan lagi. Aku akan segera naik kelas ke kelas 2.
Aku tidak sadar setahun serasa begitu cepat berlalu.
Akhir-akhir ini aku merasakan bahwa di dalam tubuhku merasakan seperti sedang bergejolak dan aku pernah bermimpi melihat makhluk yang mengerikan.
Hal ini membuatku tidak nyaman untuk tidur dan aku pun memutuskan untuk bertanya kepada Ayah dan Ibuku.
Tiba-tiba mereka berbicara.
"Sepertinya sudah bangkit, ya?"
Aku bingung apa yang di maksud dengan kata bangkit itu.
Ibuku menjelaskan bahwa Ibuku adalah seorang keturunan Indigo dan dia bisa melihat sejenis hantu atau sejenis makhluk tak kasat mata lain nya.
Orang yang mengetahui hal itu cuma Ayahnya dan sekarang dengan dirinya saja yang baru mengetahui bahwa dirinya adalah seorang keturunan orang khusus yang bisa melihat makhluk yang tak kasat mata.
Dia pun melanjutkan berkata bahwa dirinya akan mempunyai anak yang bisa mengunakan kekuatan supranatural yang di sebut teknik seni.
Aku berpikir apa itu teknik seni? Jika sesuatu yang ku rasakan bergejolak di dalam tubuhku adalah kekuatan supranatural, maka aku adalah anak yang di takdir untuk bisa mengunakan kekuatan yang di sebut teknik seni.
Aku melihat ke dua telapak tanganku, aku coba untuk berkonsentrasi dan gejolak panas di tubuh mulai terasa lagi.
Aku mencoba mengalirikan rasa panas di tubuh ku ke dua telapak tanganku dan sesuatu muncul di atas telapak tangan ku.
Itu adalah bola berwarna biru muda seukuran bola pingpong, karena aku cukup terkejut dengan hal tersebut maka aku pun tiba-tiba melepaskan bola itu dari kedua telapak tanganku dan bola itu melesat ke arah dahan pohon tetanggaku.
Dahan pohon itu langsung patah terkena bola yang melesat dari tanganku itu, aku melihat itu begitu kaget dan heran.
Bahkan tanganku masih kesemutan karena melakukan hal ini.
Apakah ini yang di sebut teknik seni?
Aku pun membicarakan tentang hal ini kepada orang tua ku lagi dan mereka berbicara dengan wajah serius.
"Kebetulan sekali, akan ada seseorang yang seperti mu yang akan datang kesini, jadi setelah dia datang kesini maka putuskan lah apa yang akan kamu lakukan. Memperkuat ilmu teknik seni mu di Indonesia atau ingin tetep menjadi seorang tuan putri di Jerman ini?"
Aku sangat terkejut mendengar perkataan itu? Tapi, apa yang harus ku pilih sekarang?
Bersambung....
Instagram : @muhammad_taufik040801
__ADS_1