
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
07:30
Anak laki laki yang mengunakan seragam sekolah serba hitam sedang menalikan sepatu nya.
Seragam nya, terdiri dari jas hitam, kemeja putih,dasi hitam dan celana panjang hitam.
Dan juga dia mengunakan sebuah kacamata.
"Kalo begitu. Aku pergi dulu.... Tolong jaga adik."
"Tenang saja, Rava. Nika sudah ku anggap seperti anak ku Lia. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Jawab laki laki yang mengunakan pakaian serba putih, pakaian itu seperti kimono Jepang.
Dia adalah pemimpin keluarga Baskara, Sanjaya Baskara.
"Akhirnya datangnya juga, waktu mu untuk masuk sekolah kita, Rava..." Kata seseorang yang dekat dengan Pak Sanjaya.
Dia adalah Tomi Baskara, adik dari Sanjaya Baskara. Dia adalah guru SMA Ilmu seni dan bela diri, sekaligus dia juga seorang kepala sekolah di sekolah yang akan di datangi oleh Rava.
Sekolah ini hanya memiliki satu guru dan satu murid kelas 3.
Sekolah ini cukup sedikit, tapi Rava sudah pernah melihat lihat ke sekolahnya, sejak dia datang kesini.
Setelah orang tua nya meninggal dia dan adiknya di adopsi keluarga Baskara, mereka di adopsi karena berpotensi akan menjadi penguna teknik seni yang berpengalaman.
Rava juga sempat berpikir bahwa sekolah yang akan dia datangi bukanlah sekolah biasa, tetapi adalah perkumpulan orang orang penguna teknik seni untuk membasmi hantu yang berkedok sekolah menengah atas.
Rava berjalan melewati gerbang besar kediaman keluarga Baskara.
Dia melihat mobil Mercedes Benz hitam, seperti nya mobil ini sedang menunggu dirinya.
Kaca belakang mobil terbuka dan sosok seseorang anak laki-laki yang dia kenal terlihat dari dalam mobil.
"Persiapan mu lama bener, Rava..." Kata nya.
"Maaf...."
Rava masuk ke mobil dan duduk di dekat anak itu. Rava sudah kenal anak ini sejak kecil dan sekolah di SMP yang sama dengannya.
Dia anak tertua dari keluarga Chandra, karena keluarga adik ayah nya meninggal, maka posisi untuk menjadi pemimpin keluarga Chandra di masa depan mungkin adalah dia.
"Apakah kita bisa pergi sekarang?" Kata Pak Supir.
Supir ini adalah Pak Budi dia adalah salah satu petinggi pada indigo yang bekerja untuk para petinggi.
Indigo yang bekerja di bawah keluarga petinggi adalah indigo khusus yang membantu para pengguna teknik seni untuk menyelesaikan misinya.
Indigo ini hanya bisa melihat dan merasakan makhluk tak kasat, dan tidak bisa menggunakan teknik seni untuk memusnahkan makhluk tak kasat atau menonaktifkan aura negatif.
"Ya, kita berangkat sekarang." Jawab Leonarda.
Mobil pun berjalan menuju sekolah.
Perjalanan dari keluarga Baskara cukup jauh. Dan akan melelehkan jika harus pulang pergi dari sekolah ke rumah.
Untung saja, sekolah ini di fasilitasi sebuah kamar untuk beristirahat dan para murid bisa tinggal di sana dalam 3 tahun ke depan.
Mereka pun sampai di sekolah yang akan mereka ikuti selama 3 tahun.
__ADS_1
"Sekolah ini pelosok sesekali dan juga besar, apakah benar orang orang di sekitar gak bisa melihat sekolah ini?" Tanya Rava.
"Ya, itu bener hanya orang yang punya kekuatan supranatural di dalam tubuhnya, yang bisa melihatnya."
Mereka berjalan menaiki tangga dan memasuki wilayah sekolah dari pintu belakang.
"Sekolah ini luas, tapi sepi amat. Kayaknya di sekolah ini gak punya murid cewek nya dah...."
"Di kepala mu hanya cewek saja, Leonarda...."
"Aku akan cowok sehat yang suka cewek, emang kau yang cuma suka belajar. Oh, lihat itu. Itu kelas kita...."
Leonarda melihat tanda di atas pintu sebuah ruangan, di sana ada tulisan kelas 1.
Rava dan Leonarda pun memutuskan untuk masuk ke kelasnya, tapi di mereka berdua berhenti di depan pintu.
Mereka melihat sosok yang mustahil akan ada di sekolah ini.
Ada sesok perempuan yang seumuran dengan mereka, ada cahaya cahaya biru muda di sekitarnya. Sepertinya dia yang menciptakan itu. Dia tersenyum melihat cahaya itu.
Ya. Dia cantik, dia memiliki rambut panjang yang terurai dan dia mengunakan sebuah pita tali berwarna merah yang di gunakan nya untuk hiasan di rambut nya yang indah.
"Kenapa kalian bertiga malah bengong?" Tanya seseorang yang sudah tiba tiba muncul di sana.
"K-kak Panca?!" Rava dan Leonarda kompak.
"Oh, karena dia ya? Dia teman sekelas kalian..."
"Teman sekelas? Kenapa kami tidak mengenalnya? Bukan nya sebelum kita masuk ke sekolah ini. Kita akan di bimbing oleh keluarga petinggi?" Tanya Rava.
"Dia ingin merawat ayah nya yang sedang sakit. Saat itu jadi dia menolaknya untuk ikut ke keluarga Chandra, ibu nya sudah meninggal dan ayahnya sakit-sakitan, jadi dia merawat ayahnya. Tetapi, ayahnya meninggal 2 bulan yang lalu. Jadi aku ingin kalian tidak membuat nya sedih...."
"Si-"
Kata-kata Leonarda dipotong, oleh Rava.
"Kalo begitu, berteman lah dengan nya..."
"Ya..."
"Kenapa kau jadi semangat setelah melihat nya, Rava."
Mereka berdua pun mendekati perempuan nya dan duduk di kursi yang ada di kiri dan kanan perempuan itu.
Karena melihat kedatangan mereka berdua, dia menonaktifkan teknik nya.
"Jadi kalian juga murid kelas ini?" Tanyanya.
"Iy-"
"Iya! Nama ku Rava, salam kenal."
"Baru pertama kali, aku melihat mu begitu berantusias melihat perempuan." Tanya Leonarda.
"A-aku hanya ingin berteman, saja. Tidak lebih." Jawab Rava sambil merona.
"Begitu ya? Kalo begitu nama ku Sinta, senang bertemu dengan mu. Rava ya?" Kata Sinta sambil tersenyum kepada Rava.
Cantiknya pikir Rava.
__ADS_1
"A-aku, nama ku Rava. Senang bertemu dengan mu, Sinta...."
"Rava kah? Jangan terlalu gugup berbicara dengan ku, aku tidak akan memakan mu kok...."
"Kalo kamu mau makan aku, makan aja..."
"Eh!?"
"Kok? Kenapa kau jadi idiot gitu? Oh iya perkenalankan namaku Leonarda Chandra."
Sinta berbalik, dan melihat Leonarda.
"Chandra? Jadi keluargamu yang mengundang ku ke keluarga nya ya? Terima kasih berkat Pak Ilham Chandra yang memberi banyak bantuan kepada ku dan mendiang ayah ku." Kata Sinta sambil menemukan kedua telapaknya sambil tersenyum kepada Leonarda.
"Ya, kamu jangan berterima kasih kepada ku. Berterima kasih kepada Ayah ku jika kamu bertemu dengannya." Jawab Leonarda sambil mengaruk belakang kepalanya.
Rava cemberut melihat keakraban Sinta dan Leonarda.
"Tapi, kamu sudah tentang apa tujuan kita kan?" Tanya Rava.
"Ya, aku sudah mengetahuinya. Tenang saja, dan juga teknik seni ku adalah mengumpulkan debu di sekitar dan menciptakan sebuah kekuatan yang bisa menyembuhkan. Aku sudah siap untuk menjalankan misi..." Sinta tersenyum lagi.
"Begitu ya? Kita punya kekuatan yang sempurna untuk menjalankan misi bersama..." Kata Rava.
"Sempurna?"
"Ya, dengan teknik berpedangku dan teknik pembekuan ku, teknik seni bertahan milik Rava, dan teknik seni menyembuhan mu kita akan membuat masa depan yang cerah untuk melindungi umat manusia dari rasa takut."
"Begitu ya? Kalo begitu aku mohon kerjasamanya untuk 3 tahun ke depan ya. Fisik ku lemah dan aku sepertinya tidak cocok dalam pertarungan. Jadi aku keserakahan kepada kalian..."
"Ya, dengan serangan terkuat ku...."
"Dengan pertahanan terkuat ku..."
"Kita akan menjadicahaya yang terang untuk melindungi masyarakat..." Ucap mereka bertiga kompak.
Dan membuat mereka tertawa bersama.
Mereka menjalankan misi demi misi, hubungan pertemanan mereka semakin dekat setiap hari nya.
Dan rasa cinta Rava terhadap Sinta terus membesar tiap hari nya.
Misi yang paling sulit untuk mereka bertiga pun datang.
"Misi?"
Kata mereka bertiga kompak.
Mereka sedang ada di ruangan Kak Panca.
"Sebenarnya. Aku ingin menjalankan misi ini sendiri saja, tetapi. Aku tidak bisa meninggalkan sekolah dan tugas tugas dari para petinggi ini. Jadi aku meminta kalian untuk menjalankan misi ini. Aku sudah melihat misi kalian yang selalu punya keberhasilan, jadi aku percaya kalian bisa menyelesaikan misi ini...."
"Kami siap menjalankan misi ini....."
Bersambung....
Ikuti penulis di Instagram juga
@taufik_hikigaya
__ADS_1
Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)
Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.