Sekolah Di Bawah Kaki Gunung

Sekolah Di Bawah Kaki Gunung
Chapter 39 Kenapa kita selalu saja kehilangan seseorang?


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.


Matahari sudah mulai turun.


Insiden di sebuah mall berakhir dengan kegagalan.


Laura terluka parah dan langsung di bawa ke sekolah SMA bela diri dan ilmu seni. Untuk mendapatkan perawatan medis dari Arlita.


Dokter penguna teknik seni sekaligus alumni SMA ini.


Nika yang memaksa diri juga langsung pingsan dan beristirahat di kamarnya.


Nika mungkin akan pulih tidak lama lagi. Tapi, Rava tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan dari Laura.


Lagi-lagi dia tidak berguna dan membuat teman satu misi-nya selalu terluka.


Langit mulai mendung pertanda sepertinya hujan akan segera turun.


Rava sangat khawatir terhadap kondisi Laura yang kritis.


Pertempuran tiada akhir ini terus saja membuat seseorang terluka dan terluka. Rava sudah muak dengan hal ini.


Dia ingin segera semua ini berakhir dan menikmati hidup seperti orang pada umumnya.


Hidup damai jauh dari sebuah pertarungan.


Kapan hal tersebut bisa terjadi di kehidupannya? Apakah dia akan mati terlebih dahulu sebelum bisa merasakan hal tersebut?


Pintu tempat pemeriksaan Laura terbuka dan sosok perempuan dan assisten laki-laki pribadi nya keluar dengan wajah pucat.


"Kak Arlita? Bagaimana kondisi Laura?"


Sebelum menjawab itu, Arlita menghela nafas berat yang membuat pikiran Rava begitu buruk.


"Dia kehilangan banyak darah dan nyawanya tak tertolong..."


Mendengar perkataan Arlita yang dingin dan menusuk hati membuat sekujur tubuh Rava membeku.


Lagi-lagi seseorang yang dia kenal harus kehilangan nyawanya. Apakah kita semua di takdir seperti ini?


Pertama dia kehilangan temen sekelas sekaligus perempuan yang dia cintai yaitu Sinta.


Setelah itu dia kehilangan adik kelas perempuannya yaitu Sonia.


Dan sekarang dia harus kehilangan adik kelas perempuannya lagi yang bahkan dia belum lama datang kesini.


Laura.


Semuanya kehilangan nyawanya karena pertarungan konyol ini.


"Maafkan aku Kak Arlita. Ini kesalahanku andai saja Teknik seniku lebih berguna dan semua rencana yang ku lakukan tidak seperti ini. Mungkin Laura tidak akan kehilangan nyawanya..." Kata Rava sambil menunduk.


Arlita memegang pundak kirinya dan menjawab perkataan Rava.


"Angkat kepalamu,Rava. Ini bukan kesalahammu. Beginilah takdir kita sebagai penguna teknik seni. Kita bertarung untuk mati dan bertarung untuk hidup. Beginilah takdir kita...."


Arlita memegang erat pundak Rava.


".....Kita tak boleh berputus asa. Kita harus tetap melangkah maju agar nyawa-nyawa orang yang telah mendahului kita tidak berakhir sia-sia."


"Baik...."


Memang berat menjawab perkataan Arlita, tapi Rava tidak punya pilihan lain selain menjawab seperti itu.

__ADS_1


Arlita melepaskan tangannya dari pundak Rava dan berjalan meninggalkan Rava, dia memasukkan kedua tangannya ke saku jubah putihnya dan sambil berkata kepada Rava lagi.


"Kata-kata terakhir Laura. Sepertinya sangat penting untuk pertarungan kita kedepannya. Jadi kita harus segera menghubungi para keluarga petinggi..."


Rava membukakan matanya dan berpikir apa pesan terakhir yang di tinggalkan Laura?


Dia harus kembali bekerja lagi.


Rava mengeluarkan smartphone dari saku celananya dan menghubungi seseorang.


Itu adalah keluarga Laura. Rava ingin memberikan informasi apa yang terjadi dengan Laura.


Ini menyakitkan. Tetapi keluarganya harus mengetahui tentang ini.


"Permisi. Saya Rava dari Sekolah Teknik seni. Saya ingin memberi kabar buruk tentang Laura. Dia telah gugur sebagai penguna teknik seni. Dia tertelah bertarung dan melindungi orang-orang di sekitarnya dengan sangat baik.... Mungkin ini mendadak dan mengejutkan dan kami semua ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa melindungi Laura."


[Begitu, ya? Ini sangat menyedihkan.... Tapi, ini jalan yang sudah di pilih Laura. Kami sangat bangga kepadanya kerena telah bertarung demi melindungi seseorang...]


Mendengar perkataan perempuan yang sangat lembut itu membuat Rava tidak bisa menahan untuk tidak menumpahkan air matanya.


"Ya, itu benar...."


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kabar tentang kematian Laura membuat orang-orang di sekolah shock kecuali Abian, dan Leonarda yang masih belum kamar.


Nika juga saat ini belum mengetahui tentang Laura karena tidak sadarkan diri.


Raina dan Raya cukup shock kerena mereka harus kehilangan seseorang yang baru dia kenal itu.


Di tambah mereka baru saja kehilangan Sonia.


Lia juga terlihat sedih dan murung, dia sudah kehilangan teman seangkatannya sebelumnya, di tambah kakaknya juga telah meninggal juga yang membuat jauh lebih sedih.


Tapi, dia sudah meninggal sebelum mengenalnya lebih dekat.


Dia juga kehilangan sahabat sekaligus partner dan bahkan sudah dianggap seperti saudara sendiri yaitu Sonia.


Membuatnya tambah sedih, dia ingin berbicara dengan seseorang untuk melepaskan depresi ini.


Tapi, saat ini tidak ada yang bisa menemaninya.


Sonia sudah tidak ada, biasanya dia yang bisa membuatnya semangat. Nika saat ini sedang tidak sadarkan diri.


Dia biasanya pintar dalam berkomunikasi dan membuat nyaman berbicara dengannya di bandingkan dengan Raina,Raya,dan Lia.


Di tambah Kakaknya masih belum keluar kamar setelah dia gagal menyelamatkan Sonia dan tidak bisa membunuh sepupu mereka yaitu Ryan Chandra yang telah berbuat jahat.


Abian juga masih di kamarnya. Menurut Nika dia sudah baik-baik saja. Walaupun dia masih belum sehat untuk keluar kamar.


Apa yang terjadi jika mereka di beritahu bahwa ada seseorang lagi yang telah meninggal?


Terutama Kakaknya Leonarda yang cukup dekat dan kenal dengan Laura?


Salsa berdiri dari kursi yang ada di kamar Nika. Saat ini dia sedang melihat keadaan Nika di kamarnya yang masih tertidur.


Salsa berharap agar Nika segera sadar.


Dia berjalan meninggalkan kamar Nika dan melihat pintu kamar Kakaknya Leonarda yang masih tertutup.


Salsa juga melihat kamar Abian yang entah kenapa dia ingin melihat keadaan Abian.


Pada akhirnya, dia memberanikan untuk mengetuk pintu kamar Abian. Walaupun dia khawatir akan membuat Abian tambah terbebani dengan kabar kematian Laura.

__ADS_1


Setelah mengetuk pintu beberapa kali akhirnya dia mendengar suara kunci pintu kamar yang di buka.


Dan sosok Laki-laki yang mengunakan pakaian kaos hitam dan celana panjang hitam muncul di hadapannya.


Dia terlihat baik sekarang.


"Salsa? ada apa? kamu terlihat sedih?"


Perkataannya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi saat ini.


Apakah dia harus memberitahu Abian? Tentu saja cepat atau lambat Abian harus tahu.


"Hei, Abian kamu tahu tentang Kak Laura murid yang datang dari Jerman kan?"


Salsa berkata sambil menunduk.


"Y-ya itu benar. Apakah dia sudah tiba di Indonesia? di mana dia sekarang?"


Salsa mengigit bibir bawahnya.


"Dia menjalan misi hari ini dan dia telah meninggal karena misi ini..." Jawab Salsa sambil kedua tangannya menggenggam baju Abian.


"E-eh? me-meninggal? Kau tidak berbohong kan? Salsa...."


Ini mungkin mengejutkan Abian dan membuatnya merasa bersalah karena tidak mengetahui Kak Kelasnya itu sudah tiba di Indonesia.


Abian melihat Salsa yang tersedih dan mendekap erat kepalanya dia dadanya Abian.


"Apakah Kak Leonarda sudah mengetahuinya?"


Salsa tidak menjawab, tapi kepalanya bergeleng-geleng.


Abian melihat pintu kamar Leonarda yang masih tertutup. Abian mengetahuinya. Selain dirinya yang mengurung diri. Leonarda juga mengurung diri di kamarnya.


Abian memegang kedua pundak Salsa dan Salsa pun melepaskan dekapannya.


Abian melangkahkan kakinya meninggalkan kamarnya untuk pertama kalinya setelah beberapa saat dia diam di kamarnya.


Dia berjalan mendekati pintu kamar Leonarda dan mengetuk-getuk pintunya.


"Kak Leonarda! Kak Leonarda! Buka pintunya!"


Karena tidak ada jawaban, Abian berusaha mendobrak pintunya. Tapi dia mendengar sesuatu di dalam kamar Leonarda.


Suara sebuah jendela yang terkena angin.


Salsa langsung terkejut karena melihat Abian lari meninggalkan asrama sekolah.


Dia memutari asrama sekolah dan melihat ke bagian belakang asrama sekolah. Abian melihat jendela kamar Leonarda yang terbuka.


Abian melihat ke dalam kamar dari jendela dan melihat tidak ada siapapun di kamar Leonarda.


Kemana perginya Leonarda? Di saat seperti ini?


Rintikan air hujan mengenai puncak kepala Abian yang terkejut entah pergi kemana perginya Kakak kelasnya itu.


Rintik-rintik hujan ini mengiringi mereka menuju kesebuah pertarungan akhir yang akan mereka hadapi.


Dengan ini FINAL ACT Di mulai.....


Bersambung....


Instagram?

__ADS_1


@muhammad_taufik040801


__ADS_2