Sekolah Di Bawah Kaki Gunung

Sekolah Di Bawah Kaki Gunung
Chapter 20 Masa lalu yang suram bagian 3


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.


Rava melihat Sinta yang tergeletak di tanah, darah nya sudah mulai mengalir ke tanah, Rava begitu panik.


Lulut Rava begitu lemas sampai dia ambruk dan mengenai tanah.


Rava melihat Sinta, mata Sinta masih terbuka dan Rava masih bisa melihat nya bernafas.


"C-cepat! Sembuhkan luka mu!"


"Aku.... Sudah tidak bisa mengunakan teknik ku...." Jawab nya lirih.


Darah mulai keluar dari mulut Sinta, darah itu mengalir melewati sudut bibirnya.


"Jangan.... Bercanda dong!!"


"Ahhhh..... Sekarang aku bisa bertemu ayah dan ibu ku." Jawab nya sambil tersenyum.


Rava mulai menangis, dia sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi, dia merasakan bahwa makhluk itu ada di depannya.


Makhluk itu sudah siap menyerangnya dengan pedang nya, Rava sudah pasrah jika harus di bunuh oleh nya.


Makhluk itu pun mengerakkan pedang dan siap untuk menebas Rava, tapi Rava mendengar suara benturan baja.


Dan ternyata, tebasan itu berhasil di tahan oleh Leonarda.


Leonarda sudah berdarah-darah, sambil menahan sakit Leonarda berusaha untuk menahan pedang yang hampir mengenai temannya itu.


"Cepat bawa Sinta pergi! Biar aku yang menghadapinya."


Rava melihat Leonarda dengan mata kosong.


"Leonarda? Maaf aku...."


"Minta maaf lah setelah masalah ini selesai...."


Leonarda membantingkan tebasannya dan membuat makhluk itu mundur beberapa langkah.


"Sinta!? Sudah tidak bernafas...."


Leonarda melihat Rava dengan mata kosong tak percaya.


"Jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda!!"


Rava menetaskan air mata, tapi. Dia tidak ingin menangis, tetapi air matanya tetap keluar.


Leonarda pun memejamkan mata dan air mata nya juga keluar, dia berbalik ke hadapan makhluk itu.


"Sialan kau.... Aku bunuh kau!"


Leonarda marah, dia berlari mendekati makhluk itu. Terbesan Leonarda mengincar pergelangan tangan nya ya memegang pedang.


Tangannya pun putus, tangan nya yang terpotong pedang oleh Leonarda pun membeku.


Itu karena teknik seni milik Leonarda, teknik seni Leonarda adalah apapun yang terkena tebasannya maka luka tebasanya akan membeku.


Tentu saja, luka tebasan itu akan sangat menyakitkan karena gara gara es nya.

__ADS_1


Tidak cukup begitu saja, Leonarda terus menebasnya secara membabi-buta.


"Aaaaaaaaaa...."


"Aaaaaaaaaa...."


Leonarda terus-menerus menebas tubuh makhluk itu sambil teriak teriak seperti orang yang sedang kesetanan, berkat serangan Leonarda, tubuhnya membeku semua.


"Kau tau? Makhluk tak kasat mata sepertimu hanya bisa di musnahkan dengan cara di hancurkannya sampai menjadi debu, dan itu alasan kenapa? Para pengguna teknik seni lebih memilih untuk menonaktifkan aura yang melahirkannya, karena mustahil jika harus menghancurkannya sampai menjadi debu...."


"Tapi, sekarang aku membuktikannya bahwa, tidak akan ada yang mustahil jika tidak di coba."


Setelah mengatakan itu, Leonarda menebas makhluk itu yang sudah membeku, dan es itu pun hancur menjadi berkeping-keping dan makhluk itu dengan segala aura negatif yang ada di pemukiman ini pun lenyap.


Mereka berdua hanya bisa menunduk karena kehilangan teman terdekatnya dalam sebuah misi.


Misi menonaktifkan aura negatif di pemukiman terpencil berhasil di selesaikan, 1 murid kelas 1 SMA Ilmu seni dan bela diri telah gugur dalam misi.


*************


Mendengar kematian Sinta, membuat Panca marah dan menyesal karena lebih baik dia saja yang pergi ke pemukiman itu.


"Kenapa? Ini harus terjadi? Apa yang harus aku katakan kepada mereka berdua? Karena memerintahkan mereka untuk melakukan misi kesana...."


"Kamu tidaklah salah-"


"Hah!? Apakah kau gila Pak Tomi?" Sebelum kata kata Pak Tomi selesai, Panca sudah memotongnya.


"Dengarkan dulu perkataanku sampai selesai!" Bentak Pak Tomi.


Kornea Panca yang merah mulai mengendur dan mencoba untuk menenangkan kepada panas nya.


Panca berdiri dari kursi pribadinya dan berjalan mendekati Pak Tomi, mata merahnya melihat Pak Tomi.


"Percuma kalau kau atau para keluarga petinggi lainnya yang pergi ke sana, kau akan terbunuh seperti Sinta, hanya aku yang bisa menonaktifkan aura negatif skala besar, hanya aku yang bisa meningkatkan teknik penetral tingkat lanjut, tidak ada yang bisa....."


"Aku sadar atas batasanku, kau memang kuat. Kau hanya murid sekolah ini, tapi kau bisa melampaui para pengguna teknik seni yang lebih tua darimu."


"Akulah yang terkuat. Aku sadar akan hal itu, aku patut sombong atas bakatku. Jadi aku akan tetap menjadi seperti ini, seorang pemburu makhluk tak kasat mata, sampai aku mati atau sampai aku bisa menemukan apa asal mula aura negatif dan makhluk tak kasat mata bisa muncul...." Mata merah Panca melihat Pak Tomi dengan serius.


Panca mengengam pundak Pak Tomi dengan keras.


"Tapi, kau akan segera lulus. Apa yang akan kau lakukan? Kau tidak akan mendapatkan uang jika sudah lepas dari ikatan sekolah dan para petinggi...."


Panca melepaskan tangannya dari pundak Pak Tomi.


"Masalah uang memang nomor satu, penguna teknik seni terkuat juga butuh makan. Kalo begitu, aku putuskan. Setelah lulus aku akan menjadi pengajar di sekolah ini, bukan kah sekolah ini kekurangan pengajar dan pelindung untuk anak anak didik?"


Pak Tomi Baskara pun terdiam atas keputusan yang di ambil oleh Panca.


************


Rava dan Leonarda mendatangi pemakaman Sinta, mereka tidak saling menyapa dan berbicara.


Rava begitu malas berbicara dengan Leonarda karena dirinya tidak bisa melindungi teman dan sekaligus orang yang dia cintai.


Padahal dia punya kekuatan yang kuat dalam pertahanan.


Leonarda juga begitu, dia ingin berbicara dengan Rava. Tapi, dia takut membuat Rava malah bersedih atas kehilangan perempuan pertama yang di suka.

__ADS_1


Padahal Leonarda mendapatkan julukan murid kelas 1 terkuat tapi, dia malah tumbang di pertarungan pertama.


Dan gagal melindungi temannya.


Mereka cuma punya satu pilihan yaitu menjadi kuat.


Rava datang kepada Kak Panca untuk melatihnya bela diri dan mempelajari bagaimana bisa meningkatkan teknik seninya ke tingkat lanjut.


Sedangkan Leonarda mendatangi pemimpin keluarga Baskara, Sanjaya Baskara untuk menjadi penguna pedang yang kuat.


Latihan berat mereka sampai mereka naik kelas ke tahun kedua, hubungan Leonarda dan Rava masih tetap jauh.


Leonarda mendapatkan pujian karena dia orang pertama yang memusnahkan makhluk tak kasat mata tanpa menonaktifkan aura negatif nya.


Rava juga jadi pandai melakukan bela diri dan kekuatan fisiknya juga bertambah kuat, dan sekarang dia bisa mengoptimalkan kekuatan supranatural yang ada ditubuhnya dengan sempurna.


Di tambah dia pintar dan sangat cocok menjadi ketua OSIS mengatikan Kak Panca yang sudah lulus.


Kak Panca resmi menjadi pengajar di sekolah ini, karena para petinggi masih ingin dia ada dunia perteknik senian karena kekuatannya masih sangat di perlukan.


Karena kepercayaan para keluarga petinggi, Leonarda mendapatkan misi untuk pergi ke Eropa untuk misi pengamatan.


Di saat Leonarda akan pergi, Rava melihat Leonarda mulai menjauh dari hadapannya.


"Jangan sampai mati, Leonarda!"


Leonarda berhenti berjalan dan melihat kearah Rava.


Leonarda tidak melihat senyuman Rava yang seperti dulu, sepertinya dia sudah menjadi pria cengeng pikir Leonarda.


Leonarda berusaha untuk tersenyum.


"Kau juga, Pria cengeng. Aku akan membawa oleh-oleh dari Eropa untuk membalaskan kematian teman kita dan perempuan yang kau cintai....."


Leonarda pun pergi meninggalkan Rava dan sekolah.


***************


Setelah mendengarkan cerita masa lalu Rava.


Nika dan Salsa meneteskan air mata dan mereka berusaha untuk menghilangkan bekas air mata di pipinya.


"Jangan menangis. ini hanya cerita masa lalu, semoga saja tidak akan terjadi lagi di masa sekarang..." Kata Rava sambil tersenyum.


Nika dan Lia mengangguk sepertinya air mata mereka masih belum bisa berhenti.


Leonarda, aku berharap kau bisa melindungi Abian dan Sonia.


Dan untuk Raya,Lia,dan Raina semoga misi kalian sukses dan bisa kembali dengan selamat.


Bersambung....


Ikuti penulis di Instagram juga


@taufik_hikigaya


Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)


Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.

__ADS_1


__ADS_2