
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
Setelah memakan waktu 2 jam dari sekolah mereka sampai di pinggiran Jakarta pusat.
Abian dan yang lainnya pun turun dari mobil dan Melihat lihat tempat pingiran Jakarta pusat ini.
Mereka berada di perbatasan antara Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.
2 regu itu akan segera berpisah untuk menjalankan misi mereka masing-masing.
Regu Raina sudah punya rencana untuk mencari Dokter Arlita, karena di sini ada sebuah rumah sakit, mungkin mereka bisa mendapatkan informasi tentangnya dari sana.
Sedangkan regu Leonarda, masih belum menemukan rencana untuk memancing Ryan keluar dari serangnya.
Tapi, karena dia adalah sepupu Ryan maka mungkin bisa saja. Ryan tertarik kepadanya dan datang menemuinya.
Jadi regu Leonarda akan berjalan-jalan disekitar sini, daripada mereka mencari Ryan yang gak pasti.
Mereka hanya akan menjadi pembantu regu Raina jika regu mereka dalam kesulitan.
Itu rencana dan asumi Leonardo.
"Baiklah kita berpisah di sini. Kalian ber tiga jalan misi dengan terbaik ya...." Kata Abian.
Raya tersenyum.
"Kalian juga...." Jawab Raya.
Mereka berenam pun berpisah disini.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Regu Raina sedang menuju kesebuah rumah sakit yang mereka rencanakan sejak awal.
Di saat mereka bertiga berjalan untuk menuju rumah sakit yang ada di sana tiba-tiba Raya berhenti berjalan sambil melihat sebuah gang di antara sebuah gedung.
"Ada apa? Raya?" Tanya Raina.
"Aku merasakan ada aura negatif disana." Jawab Raya sambil menunjuk ke arah gang.
"Aura negatif? Haah... Mumpung kita ada di sini lebih baik kita nonaktifkan saja, gimana? Apakah ada Makhluk tak kasat mata di sekitar sini?" Kata Lia sambil menghela nafas.
"Aku tidak merasakan ada makhluk tak kasat mata, sepertinya aura negatif ini baru saja keluar." Jawab Raya.
"Kalo begitu. Ayo kita nonaktifkan." Kata Raina.
Mereka masuk ke gang itu, gang itu begitu sempit dan cukup gelap padahal ini siang hari.
Mereka sampai di ujung gang itu dan di sana ada sebuah tembok dan ternyata gang ini buntu.
"Buntu? Terus aura negatif yang kau katakan ada di mana?" Tanya Lia.
"Ada di balik tembok ini..." Jawab Raya.
"Begitu ya? Kalo begitu...." Kata Raina sambil kedua tangannya menyentuh ke dua pundak temannya.
Dan mereka menghilang sekejap mata.
Mereka bertiga tiba tiba muncul di atas sebuah gedung. Tembok yang menghalangi mereka di sebuah gang itu adalah tembok gedung yang mereka pijak.
Alasan mereka bisa bergerak cepat adalah karena teknik seni yang di miliki Raina. Teknik seni yang dia miliki adalah waktu.
Dia bisa mengendalikan waktu, cara dia bisa bergerak cepat adalah dengan cara mempercepat waktu menjadi 1 detik untuk dirinya sendiri.
Dia berpikir mungkin dia butuh waktu paling lambat adalah sekitar 30 menit, tapi. Dia melakukan dengan cepat.
Teknik seni waktu miliknya mungkin bisa bergerak sama cepatnya dengan teknik seni cahaya milik Nika.
Mereka bertiga melihat dari atas gedung dan di bawah sana ada sebuah pemakaman, mereka semua berpikir sama bahwa aura negatif ini berasal dari pemakaman.
Mereka melihat seorang laki-laki yang tidak sadarkan diri pojok pemakaman di pinggir sebuah pohon beringin besar.
Dia menggunakan baju kemeja putih dan celana panjang, dia seperti seorang pengawai kantoran.
Dan yang membuat mereka terkejut adalah dia mengeluarkan darah dari perutnya dan dialah seseorang yang mengeluarkan aura negatif itu.
Di saat mereka akan turun ke sana, mereka merasakan aura supranatural cukup kuat datang menghampiri pemakaman.
Orang itu adalah seseorang perempuan, mungkin umurnya tidak lebih dari 25 tahun.
Dia mengunakan jas putih panjang seperti seorang dokter. Dia berjalan mendekati laki laki yang tidak sadarkan diri itu.
Dia pun menonaktifkan aura negatifnya, membuat mereka bertiga terkejut dia bisa menonaktifkan aura negatif.
Perempuan yang punya rambut hitam panjang itu, melihat kearah mereka bertiga dan mengangkat tangan kanannya untuk menyuruh mereka turun dari atap gedung.
__ADS_1
Raina pun mengunakan teknik seni nya dan mereka pun muncul di hadapan perempuan ini.
"Kalian dari sekolah ilmu seni dan bela diri kan?"
"Ya! Itu benar." Jawab Raina.
Dia tersenyum.
"Seragam nya masih belum berubah ya? Apa yang kalian lakukan di sini? Apakah untuk menonaktifkan aura negatif ini?"
"Tidak, kami dalam misi lain...." jawab Raya.
"Begitu ya? Misi apa itu?"
"Mencari seorang dokter alumni SMA Ilmu seni dan bela diri, Arlita..." Jawab Raina.
"Aku?"
"Eh!?" Kata mereka bertiga kompak.
"Sebelum menayakan lebih lanjut, aku sudah memastikannya. Dia sudah meninggal, dia terluka karena tusukan sejenis pedang." Kata Kak Arlita sambil melihat korban itu.
"Pedang? Apakah dia di luka oleh orang yang sama yang melukai Pak Panca?"
Kak Arlita mengerutkan keningnya.
"Panca yang terkuat di lukai?"
"Ya, saat ini. Dia sedang koma, teman kami yang punya teknik menyembuhkan juga tidak bisa menyembuhkan luka dalamnya, dia perlu seorang dokter bedah untuk mengoperasinya, dan Pak Tomi Baskara sepakat bahwa anda lah orang yang bisa menyembuhkan nya." Jawab Raya.
"Penguna pedang? Siapa orang bisa melakukan itu kepada Panca?"
"Menurut, Kak Leonarda. Dia adalah Ryan Chandra...."
"Ryan Chandra? Aku pernah mendengarnya. Bukan nya dia meninggal di sesuatu tragedi-----"
Tiba tiba seorang yang pedang muncul di dekat Kak Arlita dan mengarahkan tebasannya kearah lehernya.
Tapi, Kak Arlita bisa menghindari serangannya dengan cara menunduk dan dia mendang orang yang tiba-tiba menyerang nya dan orang itu pun terpental ke arah gedung.
Kekuatan fisik yang kuat biasa.
Dia adalah Ryan Chandra! Pikir mereka bertiga.
Dan siap menyerang Lia dengan pedangnya.
Tapi, bukan Lia. Jika tidak bisa menghindari serangan seperti itu, kaki nya menyentuh atap gedung dan terus berusaha untuk nyerang Lia.
Lia terus menghindari serangan Ryan, karena takut serangan pedang Ryan mengenai Lia, Raina mengarahkan tangannya ke arah gerakan Ryan.
Raina menebakan cahaya biru muda ke arah Ryan, tapi tiba-tiba Ryan menghilang dan muncul di belakang tubuh Raina.
"Teknik seni waktumu cukup merepotkan. Jika aku terkena tembakan itu waktu ku akan terhenti bukan?" Kata Ryan sambil siap menebas punggung Raina.
Untung saja Raina bisa menghindarinya, tebasannya hanya mengenai sedikit rambut hitam nya yang panjang.
Tiba-tiba sebuah gumpalan kekuatan supranatural yang di padatkan melesatkan ke arah Ryan yang datang dari atas.
Ryan melihat beton atap gedung yang sedikit Berlubang dan mengeluarkan asap dari lubang bekas serang itu.
Orang yang menyerang Ryan pun turun dari udara di hadapan Raina.
Dia adalah Arlita.
"Teknik seni mengumpulkan kekuatan supranatural di telapak tangan dan melepaskannya ke arah yang di tentukan, kau punya kekuatan yang cukup unik, di tambah kau punya kekuatan supranatural yang banyak...."
Kak Arlita tersenyum.
"Aku sangat senang di puji oleh salah satu anak dari keluarga petinggi...."
"Jangan sama kan. Aku dengan para orang-orang sialan seperti mereka...."
Ryan mengacung pedangnya ke arah mereka berempat.
"..... Rencana kalian adalah membawa Arlita ke sekolah kalian kan? Untuk menyembuhkan Panca? Aku kira aku sudah membunuhnya."
"Kenapa kau melakukan ini kepada Pak Panca?" Tanya Raya.
"Pikirkan saja sendiri...."
Ryan tiba-tiba menghilang lagi, dan muncul di sisi kiri Arnita dan siap menebasnya.
Arnita menghindari serangannya lagi.
"Kalian berpikir. Aku hanya bisa melayang sajakan? Tapi, sebenernya aku bisa meningkatkan teknik seni ku ke tingkat lanjut...."
__ADS_1
Ryan muncul lagi di atas kepala Kak Arlita, dan menebaskan pedangnya untuk mengincar kepalanya.
Arnita mundur beberapa langkah untuk menghindari serangannya.
Jadi teknik tingkat lanjutnya, memungkinkan dia untuk bergerak cepat? Dia bisa bergerak seperti teknik seni waktu milik anak ini? Pikir Arlita.
"Apakah kalian bertiga ada yang bisa mengunakan teknik tingkat lanjut? Teknik tingkat lanjut lebih efektif di hadapi oleh teknik tingkat lanjut lagi...."
"Mana mungkin anak kelas 1 bisa mengunakan teknik tingkat lanjut..." Kata Ryan sambil menebaskan pedangnya kearah Kak Arnita lagi.
Tebasan itu menggores lengan Kak Arnita, dan darahnya pun sedikit keluar membasahi baju lengan panjangnya yang berwarna putih.
"...... Apakah kalian ada yang bisa melakukan nya?"
"Aku bisa! Tapi, kumohon tahan dia selama beberapa detik...." Jawab Raina.
"Serahkan pada ku...." Jawab Arnita tersenyum.
Arnita menyiapkan kuda-kuda nya dan siap menyerang Ryan, dia selalu menghindari serangan Ryan dan sekarang dia akan bertarung habis-habisan dengan Ryan sambil mengulurkan waktu nya untuk menunggu Raina menyiapkan teknik tingkat lanjut nya.
Raina menarik nafas beberapa kali.
Kedua tangan Raina mempertemukan kedua jari jempol dan kelingking nya.
Raina memejamkan matanya berusaha untuk mengeluarkan semua kekuatan supranatural yang dia punya dari dalam tubuhnya.
Karena kekuatan supranatural nya sudah terkumpul maka dia akan melepaskan nya untuk teknik tingkat lanjut yang sudah dia pelajari.
Ryan melihat Raina yang mengeluarkan supranatural yang cukup lumayan besar.
"Kenapa kau menyuruh anak kecil untuk melakukan teknik tingkat lanjut? Apakah kau tidak bisa mengunakan teknik tingkat lanjut?" Tanya Ryan sambil menghindari pukul pukulan dari Arnita.
"Aku bisa melakukan teknik tingkat lanjut. Tapi, aku takut merusak fasilitas masyarakat ini dan juga di sini pasti ada banyak warga sipil."
Arnita mengumpulkan kekuatan supranatural di kedua tinjunya, bukan untuk di lepaskan tapi, untuk di gunakan sebagai sarung tinju.
Raina sudah siap mengunakan teknik tingkat lanjutnya, sebuah lambang jam besar muncul di belakang punggung nya.
Dia harus bisa menahan nya selama 5 detik. Tanpa bergerak, terserang, dan apa pun yang bisa membatalkan teknik nya.
Melihat teknik Raina membuat Ryan sedikit tercengang karena kekuatan Raina cukup berbahaya untuk keselamatan diri nya.
Dia pun muncul di sisi kanan Raina dan siap untuk menebas lehernya.
Tapi, Arnita melepaskan tembakan supranatural nya untuk membuat Ryan terhenti sejenak.
Dan Teknik tingkat lanjut milik Raina telah aktif. Siapa pun yang sudah di incar oleh penglihatan Raina maka dia tidak akan bisa menghindarinya, bahkan jika harus lari kemana pun, tubuh korban harus terdiam selama 5 detik karena waktu nya di hentikan secara paksa.
Ryan pun tidak bergerak di udara karena waktu nya terhenti dalam waktu 5 detik.
"Lia! Kumohon serahkan padamu!" Teriak Raina.
Lia pun meloncat dan memukul pipi Ryan.
5 detik sudah berlalu dan bertepatan dengan teknik seni Lia yang akan dia aktifkan.
"Pukulan 10X lipat!"
Ryan pun terpental dan berguling-guling di beton atap gedung.
Dia pun berusaha untuk bangun dan pun meludah karena mulutnya mengeluarkan darah.
Saat ini Ryan terpojok.
Tapi, dia melihat Raina yang sepertinya sudah mencapai batasnya.
Dia pun melayang dan cuma ini hal yang bisa dia lakukan sekarang.
Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan melemparkannya kearah mereka berempat.
Lia sedikit terkejut. Dia berpikir bahwa yang dia lempar adalah granat. Tapi, itu bukan sebuah granat. Tapi sebuah kubus kecil yang sepertinya terbuat dari emas.
"Penjara.... Terbukalah...."
Kubus emas itu pun membesar dan menjebak mereka berempat di dalamnya.
Bersambung...
Ikuti penulis di Instagram juga
@taufik_hikigaya
Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)
Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.
__ADS_1