Sekolah Di Bawah Kaki Gunung

Sekolah Di Bawah Kaki Gunung
Chapter 6 Misi pertama di sekolah di bawah kaki gunung bagian 3.


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.


Setelah laba laba raksasa itu lenyap, Nika dan Lia masuk dalam kelas.


"Jadi, aura negatif yang membuat laba laba besar itu datang dari dia, ya? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Nika.


Lia berjalan mendekati anak kecil itu, dan berjongkok di dekat nya.


"Tenang, jangan menangis. Kami semua sudah menyelesaikan masalah ini."


Lia membelai rambut anak itu, sambil tersenyum.


Lia yang keras kepala sekalipun masih bisa punya sifat keibuan yang baik kepada anak kecil.


Dan juga, Lia lebih cantik jika sedang tersenyum.


Lia pun berdiri.


"Kalau begitu, ayo kami antar pulang dan kamu bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kapada kami, dan juga agar laba laba besar itu tidak muncul lagi maka kamu harus diam dan jangan mengatakan kepada siapapun tentang ini, dan terpenting lupakan kejadian ini, kamu mengerti kan?"


Mendengar perkataan Lia, anak itu pun menghapus air mata di pipinya.


"Ya, aku mengerti...."


"Anak pintar...."


Lia tersenyum sambil membelai rambut anak itu sekali lagi.


Setelah itu, mereka bertiga mengantarkan anak ini pulang kerumahnya, rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah dasar.


Ibu anak itu sangat berterima kasih kepada mereka karena telah menyelamatkan anak nya, membuat Abian bingung kenapa ibu nya tau ada hal buruk yang terjadi pada anak nya.


Lia pun menjelaskan bahwa dia meminta bantuan kepada petinggi, untuk mengirimkan beberapa indigo dan berbohong bahwa ada bom di sekolah ini dan mengevakuasi siswa siswi SD dan para gurunya, kecuali anak yang mengeluarkan aura negatif tadi.


Dan rencana Lia untuk memusnahkan makhluk tak kasat seorang seorang diri pun di mulai.


"Anak petinggi memang luar biasa ya? Ide mu untuk melindungi orang-orang non indigo itu memang mulia, tapi jika kamu melakukan itu seorang diri seperti tadi itu sama saja membahayakan diri mu sendiri." Kata Nika.


"Kau tidak akan mengerti jalan hidupku, Nika...."


"Ya, ya tentu saja, mana mungkin aku mengerti jalan hidup orang lain."


"Oh, iya ngomong-ngomong, Lia. Tadi kau mengetakan kepada anak itu, tentang laba-laba besar. Bukannya, orang yang bukan indigo tidak akan bisa melihat makhluk tak kasat mata?" Tanya Abian.


Lia melihat Abian dengan tatapan yang sama mengerikannya saat mereka pertama kali bertemu.

__ADS_1


"Kau tidak sopan ya, langsung menyambut nama ku tanpa perkenalan terlebih dulu, dan juga kau bodoh ya?"


"B-bodoh?"


"Dia tidak lah bodoh, dia baru datang ke sekolah kita dan masih awam tentang dunia teknik seni."


"Sebelum masuk sekolah kita, seharusnya kamu sudah tau dulu, tentang teknik seni dan pemburu makhluk tak kasat mata." Jawab Lia sambil melipatkan tangan nya di bawah dadanya.


"Maaf.... Ayahku hanya menyuruhku pergi dan aku tidak tau apa-apa...."


"Ayahmu sama sama aneh kayak mu...."


Kata Lia yang tajam menusuk kedalam hati nya. Tapi, dia tidak tau letak keanehannya dirinya di mata Lia.


"Kamu mengatakan bahwa kenapa anak tadi yang non-indigo bisa melihat makhluk tak kasat mata kan? Jawabannya karena hidup dia di ambang maut oleh makhluk tak kasat mata tadi. Jadi orang non-indigo juga bisa melihat dengan jelas bila nyawa mereka sudah hampir terancam oleh makhluk tak kasat mata."


Setelah mendengar Nika yang mudah di mengerti, Abian pun memukul telapak tangan kirinya dengan tangan kanannya.


"Aku mengerti sekarang, penjelasan Nika memang mudah di pahami...."


"Terima kasih...."


Lia hanya bisa jutek melihat keakraban mereka.


Abian memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana nya.


"Agar sekolah dan teknik seni kita tidak ada yang tau kan?"


"Ya, itu benar...."


"Jika teknik sini kita di ketahui orang-orang yang tidak mengetahui teknik seni itu akan menjadi berbahaya..." ujar Lia.


"Ber-berbahaya?"


"Ya, berbahaya....." Jawab Lia.


Wajah Lia begitu serius mengatakan itu.


"Jika orang-orang sudah mengetahui tentang Teknik seni, dan para pemerintah yang tidak bertanggung jawab di negera kita mulai mengetahui tentang teknik seni, mungkin saja mereka akan memanfaatkan kita...."


Nika mengibaskan rambut panjang mengunakan tangan kirinya.


"...... Kita tidak boleh membantu masalah politik, teknik seni di gunakan untuk memusnahkan makhluk makhluk tak kasat mata, walaupun kita melindungi masyarakat, tapi sebaiknya pemerintah tidak perlu mengetahui masalah ini." Lanjut Nika.


Abian melihat ke atas lagi yang sudah berwarna jingga, dia sudah satu hari di sekolah ini dan dia baru menyadari ada sebuah kekuatan di dalam dirinya.

__ADS_1


Abian melihat telapak tangan kanannya, dan mengepalkan tangannya.


Dia akan mengunakan kekuatannya ini untuk melindungi masyarakat dari rasa takut, walaupun pemerintah tidak mengetahui dan tidak boleh mengetahui hal mulia yang mereka lakukan, tapi itu sudah menjadi jalan hidup mereka.


Abian akan bertekad untuk melindungi mereka dengan kekuatan nya.


Mereka bertiga pun sampai di sekolah lagi, dan sekolah masih sepi dan sepertinya murid bernama Salsa dan Sonia masih belum kembali.


"Seperti nya, Salsa dan Sonia belum kembali, ya..." Kata Nika.


"Kalau mereka belum kembali, apa yang harus kita lakukan? Biarkan saja mereka, mereka pasti akan kembali....." Jawab Lia.


"Bukan begitu, misi kami berdua adalah mengumpulkan kalian bertiga dan segara menyusul Pak Panca ke Laut selatan."


"Hah!? Pak Panca? Laut selatan? Bukan kah itu tempat yang di datangi Raya dan Raina?"


"Ya, katanya akan muncul makhluk tak kasat mata, tingkat tinggi di sana. Jadi kita semua anak kelas satu harus pergi menyusul kesana...."


"Misi lagi kah? Merepotkan..... Bagaimana kalo Sonia dan Salsa belum kembali malam ini?"


"Kita harus menyusul mereka ke gunung berkabut putih sebelum matahari terbit, begitu yang di kata Pak Panca...." Jawab Abian.


"Hah!? Semoga mereka segera pulang malam ini....."


"Kalian baru menyelesaikan misi kalian ya? Selamat datang murid-murid kelas satu..."


Mereka bertiga mendengar suara laki-laki dewasa.


Orang itu menggunakan jas hitam yang begitu rapih seperti para pejabat. Dia mengunakan sebuah kacamata.


Abian mengkira kira umurnya sudah lebih dari 30 tahun.


"Pak Tomi Baskara......"


Jadi? Dia kapala sekolah?


Bersambung....


Ikuti penulis di Instagram juga


@taufik_hikigaya


Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)


Jika suka cerita ini, bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.

__ADS_1


__ADS_2