Sekolah Di Bawah Kaki Gunung

Sekolah Di Bawah Kaki Gunung
Chapter 7 malam pertama di sekolah di bawah kaki gunung.


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.


Mulut Abian sedikit terbuka karena orang yang ada di hadapannya adalah kepala sekolah SMA ilmu seni dan bela diri ini, Pak Tomi Baskara.


"J-jadi, anda adalah kepala sekolah? Pak Tomi Baskara?" Kata Abian.


"Ya, aku adalah kepala sekolah SMA ilmu seni dan bela diri, nama ku Tomi Baskara." Jawab nya sambil tersenyum ramah.


"Tumben paman masih di sini, padahal sudah sore?"


Mendengar perkataan Lia, Pak Tomi memejamkan mata dan dia memasang senyuman pahit.


"Panggil aku Bapak saat di sekolah."


"Iya iya, bapak Tomi kenapa masih ada di sekolah padahal sudah sore gini?"


"Aku ingin bertemu kalian dulu, terutama kamu Abian...."


Abian menujuk wajah nya.


"Aku?"


"Iya, aku yang merekomendasikan ayahmu untuk menyekolahkan mu di sini?"


Abian begitu bingung karena ayah nya bisa kenal dengan kepala sekolah, di tambah lagi dia adalah salah satu keluarga petinggi.


Sebenarnya siapa ayah Abian ini?


"Ayah ku, kenal dengan bapak? Sebenarnya siapa ayah ku?"


Pak Tomi berjalan mendekati Abian dan menyentuh pundak nya.


"Lebih baik kamu tanyakan sendiri pada nya, siapa dia sebenarnya...."


Pak Tomi pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Oh iya, aku membawa makanan untuk Kalian. Kalian makan dan istirahat besok masih ada misi kan?" Lanjut Pak Tomi sambil terus berjalan menjauhi mereka bertiga.


Abian terlihat murung, karena sang ayah yang sudah merawat dia sejak kecil memiliki sifat yang misterius yang dia tidak ketahui dari dulu.


Nika menepuk punggung Abian agar dia tidak murung lagi.


"Tenang saja, kita pasti akan segera mengetahui siapa sebenarnya ayah mu itu, ngomong ngomong pekerjaan ayah mu itu apa?" Ujar Nika.


Abian mulai tersenyum lagi karena punya teman seperti Nika di sekolah ini.


"Ayah ku bekerja di sebuah bank...."


"Bank? Apa yang indentik dengan Bank ya......"


Nika sedikit berpikir.


"Yang identik dengan Bank adalah pengunjung, karena manusia begitu dekat uang maka yang lekat dengan manusia adalah?" Jawab Lia.


"Rasa takut....." Jawab Abian.


"Itu bener, ayah mu pasti seorang penguna teknik seni dan dia menghilangkan aura negatif sambil bekerja di bank...."


Setelah mengatakan hal itu, Lia pergi meninggalkan Abian dan Rava.


"Perkataan Lia cukup masuk akal apakah kau pernah melihat hal aneh tentang ayah mu?"


Abian menuduk melihat lantai sekolah.


"Aku belum pernah melihat dia melakukan hal yang aneh seperti mengnonaktifkan aura negatif atau mengunakan teknik seni....."


"Begitu ya....."


Nika sekali lagi memukul punggung Abian.


"Sudah ku bilang aku akan membantu mu, jangan menyerah, pertama kamu coba hubungi dia..."


Abian berusaha untuk tersenyum, kalo hanya menunduk dan tidak memikirkan apa yang harus di lakukan, penyelesaian tentang masalah siapa sebenarnya ayah dirinya itu. Tidak akan ada kata selesai.


"Kalo begitu. Ayo kita bersihkan tubuh kita dan setelah itu kita istirahat sambil memikirkan misi besok."


Nika mulai berjalan sambil melihat ke arah Abian.


"Ya... Itu bener, akan ku tanyakan kepada ayah ku, nanti...." Jawab Abian sambil berjalan mengikuti Nika.


Abian pun mulai membersihkan tubuh nya, setelah selesai dia pun mulai berpakaian dia mengunakan kaos hitam dan celana training.


Sedangkan Nika masih mengunakan sebuah kimono handuk berwarna pink, sedangkan Lia mengunakan baju tidur berwarna biru telor asin, jujur mereka manis mengunakan pakaian seperti itu.

__ADS_1


Dia di panggil Nika untuk merancang rencana untuk besok, karena mereka masih belum punya tempat berkumpul.


Jadi mereka bertiga kumpul di dalam kelas yang sebelumnya sudah di hancurkan oleh Pak Panca dan Abian.


Kini berkat kekuatan supranatural milik Pak Tomi Baskara, kelas nya sudah kembali normal seperti sediakala.


Abian begitu merasa berdosa karena sudah menghancurkankan kelas nya.


Aku minta maaf, Pak Kepala sekolah.


Sambil mendiskusikan tentang misi yang di jalankan Sonia dan Salsa ke gunung berkabut putih dan misi yang akan mereka hadapi di Laut selatan besok yang membuat mereka berkeringat dingin karena ada rumor yang akan muncul adalah makhluk tak kasat mata tingkat tinggi.


Mereka saling berdiskusi tentang misi Sonia dan Salsa, Jika Sonia dan Salsa belum kembali malam ini, maka mereka harus menyusul mereka sebelum matahari terbit.


Mereka berdikusi sambil memakan, makanan yang di siapkan Pak Tomi Baskara Sebelum nya.


Ya, walaupun makanan itu hanya Pizza yang di hangatkan microwave, Abian sedih karena makan siang dan malam nya di gabungkan dan yang dia makan adalah cuma Pizza.


Diskusi mereka pun, mencapai ke sebuah kesimpulan.


Mereka akan pergi menyusul kesana jika Sonia dan Salsa belum kembali malam ini, mereka akan pergi kesana jam 03:00.


Dan mereka pun setuju dan memutuskan untuk kembali ke kamar mereka dan beristirahat.


Di depan pintu kamar Abian, Nika mulai berbicara kepadanya.


"Selamat malam, Abian. aku tunggu kerja sama nya untuk misi besok."


"Ya, aku juga....."


"Kau harus bangun jam 3 pagi ya!" Kata Lia.


"Iya iya aku tau...."


Ngomong ngomong kamar kita berdekatan?


Kamar mereka berdekatan, di mulai dari Lia di samping kanan Lia ada kamar Nika dan samping kanan kamar Nika adalah kamar Abian.


Mereka bertiga pun masuk ke kamar masing-masing, untuk beristirahat.


Kamar Abian begitu gelap karena lampunya dimatikan, dia pun menyalakan lampunya.


Tembok kamar itu di cat berwarna putih dan ada sebuah jendela di sana.


Kamarnya terdiri dari ranjang kasur berukuran sedang yang cukup untuk tidur sendiri ada juga lemari baju yang cukup besar dan ada meja di atas meja itu ada sebuah monitor komputer dan rak untuk menyimpan buku dan tas yang di bawa tadi.


Dan di bawah meja itu ada sebuah koper bewarna biru tua, di saat dia datang ke sekolah ini dan mengetahui bahwa sekolah ini tidak biasa dan dia berpikir ayah nya pasti akan kesulitan mengirim kopernya.


Abian datang kesini tanpa membawa koper dan dia meminta ayahnya untuk mengirimkan koper nya ke sekolah ini.


Tapi, saat dia melihat lihat kamarnya untuk pertama kali ternyata koper nya sudah ada disana.


Ayah nya memang bener benar misterius, jika dia memang sudah mengetahui tentang sekolah ini sejak awal dan bahkan dia sudah kenal dengan Pak Kepala sekolah yang berasal dari keluarga petinggi.


Apakah ayah Abian mengetahui tentang para petinggi penguna teknik seni?


Abian mengingat perkataan Nika untuk menghubungi ayahnya.


Dia pun berjalan mendekati meja dan membuka tas nya dan mencari benda yang dia cari.


Akhirnya benda yang dia cari telah ketemu, benda itu adalah smartphone dan dia menghidupkan smartphone nya dan untung nya smartphone nya masih hidup.


Karena dia mengunakan tas sebagai perisai saat dia melawan Rava. Jadi dia sedikit khawatir smartphone nya rusak.


Dia melihat smartphone nya dan sinyal di sini begitu lemah.


Dia mencoba untuk membuat pesan kepada ayahnya.


Isi pesan itu adalah :


"Kenapa ayah tidak memberi tahu ku tentang sekolah ini?"


Setelah mengirim pesan nya tak lama kemudian ayah nya menjawabnya.


[Maaf,maaf. Jika aku mengatakan nya itu akan menjadi spoiler untuk mu.]


Begitu isi pesan dari ayahnya.


"Dasar ayah sialan!" Abian menjawab pesan ayahnya.


Ayah nya pun membalas pesannya lagi.


[Ahahahaha, apakah kau menikmati hari pertama mu di sekolah?]

__ADS_1


Abian yakin ayah nya sedang tertawa terbahak bahak saat ini.


Abian menjawab lagi.


"Ya, tidak buruk juga. Ya alasannya aku punya teman sekelas yang cantik-cantik."


[Begitu ya? Syukurlah kau bisa betah. Jaga dirimu baik-baik, gunakan kekuatan mu untuk melindungi temanmu dan orang yang lemah. Sekarang sudah malam, tidur lah!]


"Ya, aku akan tidur. Selamat malam."


[Ya, selamat malam.]


Balas membalas pesan mereka pun berakhir, dia belum terlalu ngantuk dia memutuskan untuk merapihkan baju yang ada di kopernya ke lemari nya.


Setelah itu dia mengatur jam weker nya agar berdering jam 02:30, terlalu pagi untuk bangun tapi ini adalah pilihan terakhir jika saja Sonia dan Salsa belum kembali.


Setelah itu dia memutuskan untuk tidur.


°°°°°°°°°°°°°°


Kriiiiiiiiinggggg


Alarm yang sudah dia atur tadi malam sudah berbunyi, dia pun mematikan suara jam weker itu.


Pukul 02:31, Jam weker nya sudah sukses membangunkan nya.


Jam weker Abian sudah bersama nya sejak kecil dan Jam weker ini memiliki deringan yang cukup keras yang membuat Abian bisa bangun dari tidur nya.


Dia pun menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi nya.


Setelah selesai dia mengeringkan wajahnya dan rambut nya dengan handuk putih nya.


"Pagi! Tidak ini masih malam, malam!"


Abian mendengar suara perempuan yang dia kenal, itu adalah suara Nika. Dia mengenakan baju tidur berwarna pink.


Rambut nya masih rapih, walaupun dia baru bangun tidur tapi dia masih saja cantik.


"O-oh malam juga!"


"Seperti nya, Sonia dan Salsa belum pulang. Kita harus segera menyusul mereka...."


"Ya.... sepertinya begitu, apalagi udara sangat dingin. Aku seperti mencuci wajah ku dengan air es..."


"Ahahahaha, wajar saja kita ada di pegunungan." Jawab Nika sambil tertawa.


Tangan nya menutupi mulut nya.


Baru pertama kali, Abian melihat Nika tertawa.


"Malam-malam gini kalian masih aja pacaran ya?"


Abian mendengar suara perempuan yang selalu punya kata kata yang tajam. Tapi dia terlihat sangat imut saat ini.


Rambut pendek hitam nya sedikit acak-acakan. Dia masih menggunakan baju tidur berwarna biru telor asin nya.


"S-siapa yang pacaran?" Jawab Abian.


Lia berjalan memasuki kamar mandi perempuan sambil menguap.


"Hey,Nika bagaimana kalo aku pakai switer? Saat pergi kesana?"


"Hmmmm, sepertinya tidak apa apa. Tapi, sepertinya Sonia dan Salsa akan kesulitan mengetahui mu jika kalian bertemu di gunung berkabut putih nanti."


"Bagitu ya? Masuk akal juga."


Setelah menunggu Lia keluar dari kamar mandi, mereka pun bersiap siap untuk segera pergi menuju ke gunung berkabut putih itu.


Mereka bertiga sudah mengunakan seragam sekolah nya, kali ini Lia mengenakan jas nya di tubuh nya, tapi dia tidak mengunakan dasi nya.


Sebelum nya, Lia hanya mengikatkannya di pinggang nya.


"Baiklah! Ayo kita pergi ke Gunung berkabut putih itu!"


Bersambung....


Ikuti penulis di Instagram juga


@taufik_hikigaya


Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)


Jika suka cerita ini jangan lupa like, komen dan favoritkan cerita ini agar dapat info saat update nanti.

__ADS_1


__ADS_2