
Cerita ini hanya fiktif dan jangan di anggap bahwa cerita ini benar-benar ada, jika ada nama tokoh yang sama maka itu murni tidak kesengajaan.
SONIA P.O.V ON
Aku adalah anak yang pendiam dan penyendiri, mau itu di sekolah atau di lingkungan sekitar rumah ku.
Tapi, aku hanya bisa tersenyum dan tertawa di dalam rumah karena punya seorang ayah dan ibu yang sangat baik kepada ku.
Mereka selalu memanjakan ku, dan hanya dalam rumah lah aku bisa tertawa dan tersenyum bahagia.
Tapi, pada saat aku kelas 6 SD, saat itu tanggal 16 Juli. Bertepatan dengan ulang tahun ku yang ke 12.
Ayah dan ibuku merayakan ulang tahunku, tidak ada orang lain yang datang, tapi ini sudah cukup membuat ku bahagia.
Tapi, saat itu menjadi hari terakhir ayah dan ibu ku hidup di dunia bersama ku, ada 2 orang perampok yang datang kerumah kami.
Mereka mengunakan jaket kulit hitam, celana hitam panjang dan menggunakan punutup wajah.
Karena ayah dan ibu ku melawan mereka, mereka di tembak oleh mereka dan mati di tempat.
Aku ingat kata kata ibu ku sebelum di tembak.
"Sonia, larilah dan hidup lah!"
Begitu ucapnya sambil meneteskan air mata.
Melihat kejadian itu membuat ku menangis dan berteriak dan membunuh perampok yang telah membunuh ayah dan ibu ku.
Mereka meninggal dan aku melihat darah mereka yang berceceran di depan ku.
Itu membuat ku takut dan muntah.
Polisi, ambulans, dan wartawan mulai berdatangan ke rumah ku.
Aku hampir saja, akan di masukkan ke rehabilitasi sebelum aku di kirim ke sebuah panti asuhan.
Tapi, Pak Panca yang datang dan berbohong bahwa dia adalah kerabat ku, aku sudah tidak punya kerabat.
Pak Panca menjelaskan bahwa bakat yang ku punya akan bisa melindungi orang-orang.
Tapi....
Aku menolak, aku mengatakan bahwa.
"Apakah ada cara untuk menghilangkan kekuatan yang ku punya? Kalau tidak bunuh saja aku...."
Pak Panca hanya menjawab.
"Aku bisa saja mengeksekusi mu karena mengunakan teknik seni untuk membunuh seseorang non penguna teknik seni, tetepi aku memaklumi mu karena kau hanya anak kecil yang baru membangkitkan teknik mu."
"Jangan ragu-ragu, karena aku ini seorang perempuan atau anak kecil yang tidak tau apa-apa, aku sudah tidak punya siapa siapa lagi, dan aku sudah mempunyai dosa karena membunuh orang."
Mata merah Pak Panca melihat ku.
"Kau masih bisa berbicara lancar? Setelah kejadian mengerikan ini? Jika kau sudah tidak punya siapa siapa lagi maka cari lah teman, ada beberapa orang yang seumuran dengan mu yang punya teknik seni seperti mu, dan orang yang kau bunuh itu orang yang membunuh orang tua mu, tetapi kau juga telah membunuh 2 orang yang tidak mengetahui teknik seni, makanya ikut lah dengan ku dan tebuslah dosa dosa mu sebelum kau mati...."
Mendengar perkataan Pak Panca, aku pun ikut kediaman keluarga Pak Panca, aku tinggal disana beberapa bulan dan Pak Panca membimbing ku untuk mengunakan teknik seni ku dan cara untuk bertarung dengan makhluk tak kasat mata dan menetralkan aura negatif.
Dan pada akhirnya, aku pergi ke kediaman keluarga Chandra dan bertemu dengan orang yang seumuran dengan ku yang bisa mengunakan teknik seni yaitu Raya.
Kekuatan es dia begitu kuat dan punya kekuatan supranatural yang besar.
__ADS_1
Dia juga punya kakak yang lebih tua dua tahun dari dia, Kak Leonarda tubuh nya tegap kekuatan fisik nya kuat dan kekuatan supranatural yang besar juga.
Keluarga petinggi memang luar biasa.
Di keluarga petinggi lain nya juga yaitu Baskara ada orang yang kehilangan orang tuanya.
Mereka adalah Nika, dia seumuran dengan ku dan kakak nya seumuran dengan Kak Leonarda Yaitu Kak Rava.
Mereka adalah orang yang terlahir tanpa kekuatan supranatural sama seperti ku, tapi kekuatan mereka bangkit saat tau orang tua mereka meninggal.
Itu sama seperti ku, menurut perkataan Pak Panca.
"Kekuatan supranatural, itu hanya muncul dari orang orang khusus. Mereka yang di takdirkan punya kekuatan supranatural mereka akan terlahir dengan kekuatan supranatural, tetapi untuk dirimu yang terlahir dengan kekuatan supranatural yang terpendam dan pecah di saat tertentu..."
Begitu yang di katakan Pak Panca, Pak Panca Sudah seperti kakak dan mentorku yang sudah melatih dan mengajariku.
Walaupun aku sudah tinggal bersama dengan keluarga Chandra, tapi aku sering ikut Pak Panca karena Pak Panca lah orang yang telah membawa ku ke sini dan dia bertanggung jawab untuk melihat tumbuh kembang ku.
Kami duduk di padang rumput sambil melihat aliran sungai, Pak Panca melihat aliran sungai dengan serius.
Sepertinya, dia akan mendapatkan misi yang sulit.
"Ada waktu sekitar dua tahun untuk mu, sebelum masuk ke sekolah ilmu seni dan bela diri, jadi kuat lah dan aku minta bantuan mu di sana. Ya, walaupun saat kau masuk nanti, aku sudah lulus sih...."
Begitu katanya.
Aku sudah menikmati hidup seperti ini, dan aku memutuskan untuk menggunakan bakat ku untuk melindungi masyarakat sambil sedikit sedikit untuk melupakan hal tragis yang menimpaku di masa lalu.
2 tahun berlalu, aku mulai akrab dengan semua nya orang orang yang ada di lingkungan keluarga petinggi ini.
Kak Leonarda dan Rava sudah pergi 2 tahun yang lalu tidak ada kabar tentang mereka mungkin kita yang di siapkan untuk masuk ke sekolah itu tidak di perbolehkan mengetahui tentang sesuatu yang terjadi di sekolah itu.
sekolah yang benar benar tertutup.
Dan juga Pak Panca yang telah lulus dari sekolah dia pun memutuskan untuk menjadi pengajar, sepertinya dia akan menjadi pengajar kita semua saat kita mulai bersekolah di sana.
Aku telah lulus SMP dan tidak seperti saat SD dulu aku punya teman di sekolah itu, ya walaupun aku sering di sebut anak orang kaya karena selalu di jemput mobil.
Dan para Keluarga Chandara pun meminta ku untuk mengatakan kepada teman teman ku bahwa supir itu adalah supir milik ayah ku.
Ya, aku sudah di anggap anak oleh mereka aku sudah seperti Kak Leonarda dan Salsa.
Kak Leonarda dan Salsa juga menganggap ku sebagai saudaranya, dan itu yang membuat ku betah di sini.
"Sonia, rambut mu sudah panjang loh... Gak mau di potong?"
Aku mendengar suara perempuan yang ada di dekat ku. Dia adalah Salsa, dia bertanya seperti itu mungkin karena rambut ku pendek saat pertama kali aku datang kesini.
Dan membuat dia beranggapan bahwa aku suka rambut pendek, untuk dulu sih aku suka rambut pendek.
Tapi, sekarang aku ingin memanjangkan rambut ku.
"Oh, aku ingin memanjangkan rambutku. Rambut ibu ku panjang dan membuat dia menjadi lebih cantik...."
Aku pun mengikat rambutku.
"Begitu ya? Hmmm *mengangguk* kamu cantik Sonia..." Kata Salsa dengan wajah yang tetap datar.
Kata kata nya membuat ku ingin ketawa.
"Ahahaha, terima kasih. Tapi, aku akan senang di sebut cantik sama laki-laki tampan."
__ADS_1
Salsa memiringkan kepalanya.
"Begitu ya? Ya, gak bakalan ada murid cowok sih sekolah kita..., Hanya Kak Rava mungkin."
"Kau benar..."
Kemungkinan tidak akan ada murid laki laki di sekolah itu, tapi ya bodo amat lah...
Sebenarnya ada calon anak laki-laki yang bakal masuk ke sekolah sana, tapi mungkin dia akan masuk saat Sonia dan yang lain nya sudah kelas 3.
Dia adalah Rio anak dari salah satu dari anak petinggi indigo yang bekerja di bawah para keluarga petinggi yaitu Pak Bobi.
Dia adalah sepupu Raina.
Dan waktu kita masuk ke sekolah pun datang dan aku dan Salsa mendapatkan misi pertama kami yaitu pergi kesebuah gunung yang selalu berkabut tebal dalam satu tahun terakhir ini.
Dan pertemuan ku dengan mu pun tiba,Abian.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sonia mengatakan tentang masa lalunya kepada Abian, Abian sekarang tahu alasan kenapa dia masuk ke sekolah yang sama dengannya.
Tapi saat ini keadaan Sonia tidak lah baik-baik saja, kedua tangannya di potong Ryan.
Darah nya keluar cukup banyak membuat nya menjadi pucat.
Saat ini Ryan masih tidak sadarkan diri ini kesempatan yang bagus untuk pergi membawa Sonia ke rumah sakit.
"A-ayo kita pergi ke rumah sakit! Kondisi mu Tidak akan baik-baik saja jika tidak mendapat pertolongan pertama..."
"Aku baik-baik saja.... Aku tidak ingin merepotkan mu...." Jawab Lirih.
Tidak kondisi seperti ini sangat tidak baik-baik saja.
"Kau tidak merepotkan ku! Aku akan membawa mu..." Abian berusaha mengendong nya.
"Kau sangat baik ya, Abian.... Padahal kita baru kenal beberapa hari..."
"Kita kan teman sekelas, bukan nya pas sebelum sekolah di SMA Teknik seni, kau juga tidak kenal dengan teman sekolah mu dulu kan? Tapi dalam beberapa hari kalian pun berteman dengannya kan?"
Abian berusaha berdiri sambil mengendong Sonia di punggungnya, kebaikan Abian membuat Sonia tersenyum.
"Hey Abian.... Jangan membuat ku jatuh cinta kepada mu dong...."
"Apa yang kau bicarakan?"
"......"
Tidak ada balasan dari Sonia, Abian merasakan sesuatu yang membuatnya takut.
Tubuh Sonia mulai mendingin.
"O-oy! Sonia? Kau masih sadarkan? Sonia!"
Saat ini Abian dalam keadaan yang membuat nya takut dan sedih perasaannya bercampur aduk saat ini.
Bersambung.
Ikuti penulis di Instagram juga
@taufik_hikigaya
__ADS_1
Maaf jika ada kata-kata yang gak enak di baca dan typo di mana-mana aku ucapkan minta maaf dan terima kasih :)
Jika suka cerita ini, kalian bisa like, komen dan favoritkan novel ini untuk mendapatkan info update.