SERENDIPITY

SERENDIPITY
11. Bilioner


__ADS_3

"Kalau ku perhatikan kau berangkat pagi sekali bahkan aku belum bangun pun kamu sudah datang "sindir Sean pada Darlen.


"Aku yang memintanya. "jawab Freya.


"Memang ada urusan apa hingga menyuruh Darlen berangkat pagi ? "


"Dia kan di tugaskan menemaniku jadi aku butuh dia. Kalau bisa Darlen tinggal sini saja itu jauh lebih bagus "


"Kan ada aku "Freya mengerutkan kening.


"Jadi maksudmu,Darlen tinggal disini mulai sekarang temani Freya, begitu. " Titah Sean.


"Benarkah ? " Ucap Freya dan Darlen bersamaan.


"Kalian seperti orang yang berselingkuh saja "Ocha menyeringai.


"Jadi kamu mengizinkan Pak Darlen disini ? "


"Kalau tidak bagaimana ? "


"Eits kamu ini bicara apa. Kamu tadi bilang iya kenapa sekarang berubah "


"Freya, Darlen itu tinggal 12 rumah dari sini untuk apa dia tinggal di rumahku "


Freya terdiam saja entah kenapa Freya selalu ingin bersama Darlen ketimbang suami siri itu.


Ocha memperhatikan perubahan ekspresi wajah Freya.


"Aku semakin curiga jika anak itu bukanlah anak suamiku "


Freya melirik sinis Ocha.


"Diamlah sebelum mulutmu aku potong " Sean melirik ke Freya lalu kemudian ke Ocha.


Sean mencermati Freya.


"Upss aku takut, tapi aku tau kamu tidak mungkin melakukan itu karena kamu tidak punya hak apapun selain hanya bayangan disini "


"Sayang, aku harus keluar kota malam ini mungkin aku akan pulang dua minggu lagi "


Sean mengangguk-ngangguk. "Aku pergi dulu, sampai jumpa dua minggu lagi. Aku sayang sama kamu "


Muach


Freya menikmati sarapan dengan melihat adegan romantis di depan.


Selepas kepergian Ocha bersamaan dengan Freya yang sudah menghabiskan sarapan dan meminum susunya hingga tandas.


Freya berdiri, "Aku pergi dulu yaa sayanggg, sampai jumpa dua minggu lagi. Aku sayang sama kamu..Muach "Freya menirukan kecupan Ocha namun Freya tentu tidak sudi mencium Sean.


Freya memilih mencium angin. " Muach sayang.. Muach.. Muach "


"Hahahahahahaha " Darlen tertawa keras melihat Freya yang mengikuti centilnya Ocha bahkan kalau bisa dinilai Freya terlalu melebih-lebihkan.


Sean menggunakan tangan untuk mata nya istri keduanya benar-benar hiperaktif dan penuh ekspresi. Seolah-olah tenaga dan energi yang dimiliki Freya tidak habis.


"Jadi kamu sekarang mengakui kalau kamu sayang aku "


"Demi Allah pencipta diriku. Aku tidak mencintaimu "


"Kau menyakiti hati ku "


"Aku tidak mau kamu ke ge erran "


"Jadi kamu sayang Darlen ? " Freya menoleh ke samping dimana Darlen sedang duduk.


"Aku mulai menganggapnya sebagai pria tapi untuk sayang aku belum "kata Freya sambil memandang mata Sean tanpa rasa takut.


" Sudahlah untuk apa bertanya hal seperti itu kamu seperti orang yang butuh cinta "


Freya tak tau jika Sean diam membeku, Freya tak tau jika ucapan itu di maknai lain oleh Sean.


Freya langsung naik ke kamar nya.


Darlen tersenyum sembari menikmati keripik di meja. Ia tak perduli bagaimana perasaan Sean atau apapun.


Menurutnya Sean hanya menambah daftar kecewa. Di selingkuhi istri pertama dan tidak di cintai istri kedua.


Papa Sean datang mengunjungi putra nya di kantor.


Pria yang masih terlihat muda itu tengah berbicara pada putra kebanggaan nya. Tentang urusan kantor dan pekerjaan. Sean tertunduk dengan wajah sedih ketika papa keluar dari ruangan.


...*****...


Sean memijat pelipisnya di sebuah ruangan yang kurang penerangan dan musik yang mengema di seluruh ruangan.


Club


Sean mengenal tempat penghibur diri itu sejak tiga tahun yang lalu. Teman nya Axel yang sering pergi ke Club.


Panjang umur pria yang memakai setelan jas itu datang kemudian menutup pintu yang bertuliskan ruang VIP.


Gelas kecil berisi minuman berakohol itu di ambil oleh Axel. "Gausah sok, lo ga bisa minum lebih dari 10 gelas "


Axel meminum wine di gelas milik Sean.


"Ingat pas SMA loe minum 10 gelas terus lo masuk rumah sakit gua juga yang repot. "


"Menyedihkan dari SMA gua ga bisa kayak lo "


"Lo harusnya beruntung karena tubuh lo mau sehat. "


"Pasti lo stres lagi "


Sean tersenyum miris dan mengangguk.


Axel tersenyum " Apa lagi Ocha ? Anak ? Kerja ? Kantor ? "


"Ternyata masalah gua cuman itu mulu yaa"


"Tapi gue harus bersyukur loh. Ocha ga milih gua pada saat itu mungkin nasib gue sama kayak loe kali. "


"Gimana rasanya punya anak Axel ? "


"Menyenangkan Sean."


"Hanya itu ? "


"Sobat mengertilah, Aku tak bisa menjelaskan secara rinci sebab aku menjaga perasaan mu "


"Tidak apa-apa aku hanya ingin tau karena sebentar lagi aku juga akan memiliki anak "


"Hah benarkah ? Ja.. Ja.. Ja.. Jadi Ocha hamil "


Sean tersenyum menjawab, "Wah kalau begitu selamat " Axel mengambil tangan Sean dan menjabat nya. Wajah Axel sumringah sebaliknya Sean yang mendung.


"Hhehehe akhirnya kamu akan jadi ayah. seharusnya kamu tidak disini bukan,kamu mestinya merayakan hadirnya penerusmu "


"Freya yang hamil "


Deg!


Tangan lepas begitu saja dari Sean.


"Freya siapa ? "


"Dia istri kedua ku dia sedang hamil anakku sekarang. "


"HAH "Beo Axel.


" Panjang ceritanya. Aku akan segera menjadi ayah maka dari itu aku bertanya perihal anak tentang mu "


Axel mengusap wajahnya kasar, "Sebentar, Ocha tau "


Sean mengangguk. "HAH "


"Bahkan dia yang mengirim Freya untuk ku hamilii "


"HAH "


Di tengah HAH, HAH, HAH, HAH Axel tiba-tiba saja mendapat telfon. Pria itu langsung mengangkat dengan panik karena panggilan ini dari singa berwujud istrinya.


Axel dan Sean menjauhkan telinga mereka mendengar suara cempreng dan omelan dari sih penelfon.


"Iya yaya sayang. Ini aku bentar lagi pulang "putus Axel.


"Istri mu ? "


"Iya siapa lagi kalau bukan baginda Ratu "


"Pulang sana "


"Elo gimana ? "


"Gampang gua bukan anak kecil lagi "

__ADS_1


"Oh iyaya bahkan bini loe aja dua ngalahin gua yang masih satu "


Kali ini giliran ponsel Sean yang berbunyi. Tertera nama Freya.


"Assalamu'alaikum "


"Apa " Jawab Sean ketus


"Iss yang sopan dong, jawab dulu "


"Waalaikumsalam, ada apa ? "


"Kamu dimana ? , ini ada yang nyari kamu loh ke rumah "


"Sapa ? "


Freya menjauhkan ponsel dan bertanya siapa nama wanita paruh baya itu.


"Mohon maaf nek, namanya siapa ? "


"Bilang saja orang yang membuatnya takut "


"Sean, ini katanya orang yang membuatmu takut "


Sean menghela nafas. "Kamu ini ngelawak yaa, "


"Ihh aku ga becanda. Ini loh ada nenek di rumah kamu "


"Berikan ponsel mu padanya " Freya mengangguk.


"Nenek ini, saya tinggal ke dapur nenek mau minum apa ? "


"Tidak usah Terima kasih nak Freya " Freya mengangguk namun ia pergi ke dapur tidak enak saja jika tidak menyuguhkan sesuatu untuk tamu apalagi ia seorang nenek. Sebagai tata krama dan kesopanan.


"Sean, "


"Hallo nek "


"Kamu mabuk ? "


"Tidak kok nek "Sean menutup mata sembari bersandar.


"Nenek mau bertemu besok di kantor. "


"Apa ada yang ingin dibahas nek ? "


"Tentu saja, perihal Freya istri kedua mu ini "


" Apa dia melakukan kenakalan ? "


"Dia tidak tapi alat kelamin mu iya. "


"Baiklah, aku akan menemui nenek besok. Tolong berikan ponselku pada Freya "


Freya datang membawa kue dan jus.


"Aku tidak tau apa yang nenek suka. Jadi ku suguhkan ini saja. Semoga nenek suka. Silakan di nikmati "


"Terima kasih nak "


"Ini, suami mu ingin berbicara dengan mu "


Kembali ke club,


Setelah memastikan bahwa Sean akan pulang Axel barulah pamit.


Di pintu ia berpapasan dengan seorang perempuan yang tengah hamil dalam kondisi habis kehujanan.


Mata Freya dan Axel saling memandang.


"Oii Freya " Panggil Sean yang melayangkan tangan. Freya masuk begitu saja menghampiri Sean yang hendak berdiri dengan sempoyongan.


"Astaga kamu ini " Ucap Freya berdecak kesal.


Axel menoleh ke belakang melihat perempuan bernama Freya itu sedang berjongkok di hadapan suaminya sambil melepas jaket kulit yang besar.


"Frey, rambutmu kok basah "


"Aku menjemputmu kesini lari-lari kehujanan tau "


"Dimana Supir dan pengawal ku ? "


"Mereka mengantarku tapi di tengah jalan mobilnya mogok jadi aku terpaksa jalan kesini pake google maps. "


"Kamu mabuk sudah jangan bicara "


"Aku mau bicara terus Freya " Rajuk Sean.


"Mulut mu itu terlalu ganas ! "


Sean meletakkan wajah di pundak Freya. Axel tersenyum dia masih tetap di pintu dan memperhatikan keduanya. Lalu pergi saat ada panggilan lagi dari istrinya.


Axel meruntukki kebodohan. Ia berjanji akan segera pulang dan janji nya itu satu jam yang lalu.


"Ayok kita pulang "


"Apa kamu bawa mobil ? "


"Aku tadi pakai naik mobil kantor "


"Pakai naik aku tak paham bahasa mu "


"Ya itulah, jadi tidak ada mobil "


"Yasudah naik taksi saja ayook "


Karena perumahan tempat tinggal Sean begitu elit dan mahal mengharuskan Sean dan Freya masuk berjalan kaki karena pagar di tutup.


"Akan ku marahin besok pengamanan disini. "


"Perumahan ini milik nenekku Freya dan akan jadi milikku karena aku adalah cucu nya. Dan akan ku wariskan pada anak kita karena dia anakku hahaha ya kan darah daging ku. "


"Iyaya jangan jauh-jauh dari ku nanti kamu kehujanan " Kata Freya menarik Sean untuk dibawah payung.


"Separuh diriku dan dirimu terbentuk jadi janin dan Janin itu adalah bayi kita. Anak kita "


"Iyaa " Jawab Freya malas.


Sean berlari sembari menikmati hujan lebat dan cahaya lampu di sepanjang perumahan.


"Sean jangan lari.. Sean " Freya menutup payung dan mengejar Sean yang berteriak tak karuan.


"Astaga umur 29 tapi kelakuan umur 10 tahun. Bisa juga gaa nih orang jadi bapak "


Freya berlari meraih tangan Sean.


"Sean jangan lari. Kamu lagi mabuk. Nanti kalau jatuh gimana kanan kiri itu paritnya besar loh. "


Sean berada di jarak satu meter dari Freya melihat dengan jelas perempuan yang memakai dress panjang warna putih itu.


Dengan wajah yang di basahi oleh hujan yang turun menambah kecantikan wanita hamil.


"Sean terkadang jodoh itu tidak mesti dari orang yang kita cintai kadang jodoh itu datang disaat kamu memilih kebutuhan ketimbang keinginan. "


"Perasaan papa hangat, nyaman, aman dan tentram ketika bersama ibumu. Papa merasa takut sekali kehilangan mama dan ingin terus dia ada disisi papa meski papa tau dia bukan perempuan yang papa cintai. Tapi Tuhan memberitau papa jika mama mu adalah perempuan yang tepat untuk papa "


"Saat mama hamil dirimu. Papa begitu cuek, kamu ada karena papa menjadikan mama pelampiasan. Papa menyesal disaat mama mu terpeleset di depan teras saat mencari taksi untuk segera melahirkan mu hingga rahim bermasalah dan kamu lahir. Papa menyesal kamu yang kecil dan suci harus terpaksa hidup berbeda alam tanpa mama mu selama dua bulan. "


"Papa ga mau kamu menyesal di kemudian hari. Menyesal dan rasa bersalah tidak akan ada penawarnya "


"Ya pa, begitulah perasaan ku sekarang padanya "


Sean melangkah maju dan mencium bibir Freya yang rasanya strawberry. Freya membulatkan mata.


Di tengah hujan deras malam hari sepasang suami-istri siri berciuman. Sean bergerak namun Freya tidak.


Aish dia dulunya anak baik-baik dan pintar malah jadi mesum sekarang karena ulah pria tua di depannya ini.


Sean memberi jarak lalu memegang sisi leher Freya.


"Aku mencintaimu Freya. Jadi Terima cintaku dan biarkan aku selamanya bersamamu "


Freya dan Sean saling memandang satu sama lain


..._________...


Keesokan harinya, Sean terbangun karena kicauan burung.


Wangi parfum pemilik kamar ini dapat Sean cium. Ini wangi milik Freya. Sean melihat sekeliling ia ternyata sendirian di atas ranjang.


"Jam berapa ini ? " Ujar Sean mengambil jam di nakas.


"Aduh ga bisa lihat lagi ada gambarnya. "Sean tak bisa melihat karena ada gambar pantai.


" Oh,Jam 8 "ujar Sean kembali menjatuhkan diri di kasur.

__ADS_1


Sean memperhatikan dengan sisa kesadaran yang sedikit ruangan di sekitar yang berwarna biru muda dan ada gambarnya.


" Kepala ku sakit banget "


Cup


"Aku mencintaimu Freya. Jadi Terima cintaku dan biarkan aku selamanya bersamamu "


" Astagaa "Sean terbangun.


"Aku...aku..aku..aku..aku menyatakan cintaku."


" Astaga bodoh kamu Sean! Bodoh! Aku adalah presdir terhebat dan terpintar bisa-bisanya aku menghancurkan reputasi ku bahkan aku menyatakan cinta pada bocah baru lulus SMA " Sean melempar selimut bergambar pantai itu ke bawah.


Freya masuk ke dalam kamar membawa sarapan.


"Ada apa Sean ? Kenapa selimutnya dibuang sih "


Sean terkejut mendengar suara Freya masuk ke kamar wajah Sean memerah melihat Freya terutama bibir perempuan itu warna pink ahh jangan lupakan rasa manis.


"Kamu mandi dulu, terus sholat baru sarapan "


Freya bingung dengan tatapan Sean apalagi wajahnya yang memerah.


"Kamu masih mabuk ya ? Pipi mu merah tuh "


Freya terpaksa mendorong Sean ke kamar mandi dan menutup pintu karena Freya mengetahui sesuatu. Freya di depan pintu kamar mandi itu dengan membelakangi.


"Tenang saja Sean aku sudah melupakan kejadian semalam dan kamu tidak perlu khawatir "


Sean menarik rambutnya dan tubuhnya ia biarkan jatuh ke lantai.


"Apa nya yang lupa dia saja bahkan masih ingat. Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada gadis bodoh itu "


Sehabis sholat Sean makan di kamar Freya di temanin pemiliknya yang duduk di depan nya.


"Bicara saja "ketus Sean.


"Nanti saja tunggu kamu selesai makan "


"Tapi kamu membuatku terintimidasi Frey. Aku bahkan ketakutan saat menguyah."


"Yasudah okey. Aku akan siap-siap dulu "


"Kamu mau pergi ? "


"Jam 10 ada peresmian toko kue ku "


"Pergi dengan siapa? "


"Darlen lah masa sama Ocha "


"Apa perlu aku menghadirinya ? "


"Tidak perlu "


"Kenapa ? "


"Kamu lupa ya aku ini istri siri mu jika media tau yang ada aku bangkrut sebelum jualan "


"Oh ya bener juga "


"Kalian berdua sama-sama terkenal lalu aku siapa ? Toko ku bisa saja di lempari telur dan bau kotoran aku tidak mau itu terjadi "


"Kamu mau mikirin Ocha setelah apa yang dia lakukan ? "kata Sean yang tak habis pikir.


"Aku benci dan jengkel padanya tapi aku harus tetap terkendali dan berpikir begitulah cara kerja wanita anggun. "


Setelah bersiap dengan pakaian dan tas nya. Freya duduk kembali.


"Sudah makan nya " Sean mengangguk.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan, sepertinya penting sekali "


"Iya penting untuk dirimu dan anakku "


"Anak kita "


"Yayaya anakku "


"Anak kita Freya " Freya menempelkan jari telunjuknya pada bibir Sean.


"Ini bisa memakan waktu berjam-jam hanya menentukan status kepemilikan anak "


"Kamu kan sudah kembali sholat kenapa harus ke club. Karena mu aku pun juga harus masuk ke dalam tempat yang tidak disuka Allah "


"Aku stres dan selalu kesana "


"Sejak kapan ? "


"Tiga tahun yang lalu "


"Lama juga ya. Begini saja aku akan mengabulkan permintaan mu sebagai gantinya kamu tidak boleh ke Club bagaimana ? "


"Masalahnya aku tidak tau apa yang ku inginkan Freya "


"Iyaya kau kan punya segalanya. Ahh bodoh sekali aku "Freya menepuk jidat.


"Tidak apa-apa pasti ada yang kamu inginkan. Tidak usah buru-buru memikirkan nya. Aku akan pergi dulu kau punya waktu "Sean tersenyum melihat Freya menghitung jam.


" Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Sepuluh jam. Habis sholat magrib kamu sudah harus menentukan keinginan mu "


"Yasudah aku pergi dulu "


Sean memikirkan apa yang ia perlukan dari Freya. Tapi sebelum berpikir lebih jauh Sean mendapat telfon dari neneknya.


"Astaga aku lupa jika nenek ingin bertemu di kantor "


"Aduh nenek kenapa juga pengen ketemu, repot aja untung nenek ku kaya raya "


"Pak ke kantor "


"Baik Tuan Muda "


"Selamat pagi nenek "sapa Sean. Nenek duduk di kursi nya sambil membaca dokumen-dokumen.


" Jam berapa ini Sean "


"Maaf Nek aku baru bangun "


"Ada apa Nenek kemari ? "


"Bukannya nawarin minum atau makanan atau apapun kamu justru nanya ada apa ? Beda sekali kamu dengan Freya dia tidak kenal nenek tapi menyuguhkan nenek minum "


Sean memutar matanya malas. "Jadi nenek mau apa ? "


"Sudahlah tidak usah, Nenek hanya sebentar disini "


"Nenek sudah tau tentang Freya. Sebentar lagi anak itu lahir dan kita akan membuat akta kelahiran nenek tidak mau status kalian tidak jelas "


"Ma.. Maksudnya ? "


"Ceraikan Ocha dan sahkan pernikahan mu dengan Freya "


"Apa ?? Nek tidak, aku mencintai Ocha nek. Aku sudah berjanji akan hidup menua bersamanya "


"Sean kamu tidak lagi mencintai Ocha perasaan mu itu berpindah pada Freya. "


"Nenek tidak tau perasaan ku "


"Justru nenek bilang itu karena nenek tau kamu "


"Tidak bisa di pungkiri Sean orang yang di cintai akan kalah dengan orang yang menemani. "


"Nenek aku tidak bisa. Tidak bisa ku ceraikan Ocha aku mencintainya "


"Yasudah berati kamu siap jika Freya nenek pasangkan dengan Darlen "


"Nenek sih ga masalah. Pokoknya Freya tetap harus jadi bagian keluarga nenek. "


"NENEK " Pekik Sean.


"Jangan campuri urusan rumah tangga ku. Ocha dan Freya adalah urusanku. Nenek ga ada hak mengurus pernikahan ku "


"Hei Sean, terakhir kali nenek diam kamu gagal kan bahkan detik ini pun kamu tetap gagal. Semua yang kamu miliki ini adalah harta nenek dan papa mu. Kamu bisa saja gembel detik ini juga kalau nenek mau. "


"Kamu itu sulit menerima saran Sean karena kami terlalu menyayangimu. Hingga akhirnya kamu melunjak apalagi pengaruh buruk istrimu "


"Kekayaan mu tak membuat dia miskin lalu apa yang dia pikirkan hingga tak memiliki anak. Tanyakan itu Sean padanya. "


"Lalu bagaimana jika kamu masih belum di karuniakan anak dan Freya belum hamil. Mau sampai kapan ? "


Nenek berjalan ke arah pintu namun sebelum itu ia melempar sebuah map kuning ke lantai.


"Setelah ini kamu akan mengerti "

__ADS_1


__ADS_2