SERENDIPITY

SERENDIPITY
13. Kecelakaan


__ADS_3

Freya dan Darlen berjalan ke arena bermain di sebuah pusat pembelanjaan.


"Aku mau main bola-bola "


Darlen menuruti saja bahkan penjaga arena bermain itu tak bisa mencegah Freya jika itu hanya untuk anak-anak karena Freya sedang hamil.


Darlen ikut tertawa di arena bola-bola bermain bersama Freya.


Setelah bermain bola-bola kemudian Freya dan Darlen bermain basket, lomba menggambar dan bermain hula hoop bersama anak-anak disana. Kemudian makan daging makan ini dan itu. Seperti suami-istri yang sedang ngedate beberapa pandangan orang memperhatikan mereka yang tampan dan cantik. Juga ada yang memuji Darlen sebagai suami siaga.


Sean sedang minum-minum di club hari ini Sean benar-benar stres.


"Hei tuangkan lagi,cepat " Perintah Sean pada seorang wanita yang di tugaskan melayani nya.


Perempuan itu tersenyum menggoda dengan pakaian yang hanya menutupi sebagian tubuh.


Perempuan tersebut naik dengan sensual ke pangkuan Sean. Tangan nya bergerak aktif menyentuh kejantanan.


"Punya mu besar sekali sayang aku tau karena kamu bukan orang Indonesia, tapi kenapa dia tidak tegang sayang humm "


Sean tersenyum. Perempuan itu mulai membuka celana Sean.


Sean menepis perempuan itu hingga mendorong jatuh.


"Aww "


"Berani nya perempuan sepertimu menyentuhku. Milikku sudah ada yang punya dia hanya bisa tegang pada wanita mulut manis itu. Dia hanya menyukai nya begitu pun dengan aku. Aku hanya milik Freya Anastasia. Camkan itu " Dengan sempoyongan Sean berjalan keluar dari ruang VIP tersebut.


"Freyaaaa Anastasia "


"Freyaaa "


"Sayangg, aku pulang "


Penjaga keamanan di depan menghampiri Sean. Penjaga keamanan itu menangkap Sean yang hampir jatuh.


"Mr.Sean. Apa anda baik-baik saja ? "


"Ya.. Ya saya baik.. Hehe baik "


"Pak, apa perlu saya panggil pengawal anda ? Sepertinya anda mabuk berat "


"Tidak.. Tidak usah.. Saya oke "


Sean dengan kesadaran yang tidak ada lagi nekad membawa mobil nya sendiri.


Mata pria itu terbuka dengan air mata yang terus mengalir.


"Apa bisa kau jelaskan mengenai ini semua ? "


Dokter yang namanya tertulis di kertas tersebut mengambil kertas yang Sean bawa.


"Ohh itu benar. Nyonya Ocha Calista pernah mengugurkan kandungan tiga kali disini."


"Aku ingin datanya "


"Maaf Pak tapi sudah menjadi kebijakan kami jika harus merahasiakan data pasien---"


Dokter tersebut diam ketika Sean melempar gepokan duit bernilai dari bank 10 juta.


Sean melempar ke meja itu sebanyak lima kali.


Pria itu mendekatkan wajahnya ke dokter.


"Kurasa untuk sebuah data ini cukup "


Air mata pria 29 tahun itu mengalir dengan deras rupanya Ocha sudah mengugurkan anak mereka sebanyak tiga kali di usia anak mereka diantara 12 minggu, 20 minggu dan 16 minggu.


Lalu foto-foto Ocha bersama pria lain bergandengan tangan dan beradegan panas lainnya.


Sean mencari anak buahnya yang ia suruh mencari informasi mengenai Ocha.


"Ma.. Ma.. Maafkan saya Tuan Muda Pak Darlen yang memberikan informasi tersebut dia mengatakan pada saya jika mencari tau lebih lanjut maka dia tidak segan-segan membunuh saya "


Freya keluar dari taksi begitu dengan Darlen.


"Saya pulang dulu "


"Iya hati-hati ya Darlen "Darlen mengangguk. Freya melambaikan tangan pada Darlen.


Freya menghampiri salah satu pengawal Sean yang menjaga di pintu. Freya melihat ke arah parkiran mobil.


" Pak Sean belum pulang ? "


"Belum Nyonya "


"Tumben apa dia sibuk ya ? "

__ADS_1


"Tuan muda meninggalkan kantor pukul 2 siang tadi "


"Apa dia kembali ke rumah ? "


"Tidak Nyonya. "


Freya mencari ponsel di dalam tas.


"Keluyuran kemana lagi sih bernad itu "


Sean melajukan mobil nya tiba-tiba saja ada pedagang bakso di depan sontak Sean langsung banting stir menabrak pohon.


Dada Freya tiba-tiba sakit hingga membuatnya terjatuh begitu dengan ponsel yang jatuh di lantai teras.


"Nyonya ada tidak apa-apa ? "


"Argh !! " Freya meringis kesakitan di bagian dada.


"Ya.. Ya saya tidak apa-apa. "


Sean memegang dadanya ia meringis kesakitan begitu dengan Freya yang memegang dadanya.Tukang bakso tersebut meminggirkan rombong nya dan berlari membuka pintu mobil Sean.


"Astaghfirullah " Pria itu terkejut melihat wajah Sean yang penuh darah.


"Tuan.. Tuan.. Tuan.. Tuan sadarlah "


Ponsel Sean berdering tertera nama istriku


tukang bakso itu menjawab.


"Assalamu'alaikum bu "


"Waalaikumsalam, maaf ini siapa ya ? "


"Bu, suami nya kecelakaan "


"APA ? Kecelakaan dimana ?"


Tukang bakso memberi alamat dan dia sedang menelfon ambulan.


Freya meminta bodyguard menyiapkan mobil dan membawanya ke alamat tersebut.


Bodyguard Sean menenangkan Freya mungkin saja pria tersebut menjebak istri bosnya bisa jadi.


Tenaga medis datang lebih cepat dari mobil Freya.


"Maaf Bu, ibu siapa ? "


"Sa.. Saya istri nya "ucap Freya ragu.


"Yasudah ibu bisa ikut naik " Bodyguard membantu Freya naik ke ambulans.


Freya menangis di dalam ambulans saling memegang tangan Sean.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks Sean. Sean sadarlah "


"Ya Allah Sean sadarlah "


10 menit akhirnya mobil Ambulans sampai di rumah sakit. Sean langsung di periksa.


"Nyonya Freya "panggil seorang suster.


"Ya saya "


"Dokter bagaimana kondisi suami saya ? Dia masih bisa selamatkan dokter "


"Iyaa suami Nyonya Freya akan selamat. Tapi kemungkinan kelumpuhan terjadi itu ada karena benturan di beberapa organ penting cukup keras. Kami harus lakukan operasi "


"Lakukan yang terbaik dok. Bahkan kalau dokter bisa membuat suami saya yang baring itu langsung bisa berdiri dan ketawa saya akan bayar lebih "


Dokter tersebut bingung perempuan di hadapannya ini dialog nya bercanda namun ekspresi nya menangis. Dan kalau pun bercanda di situasi seperti ini pasti mengerikan sekali.


Bayangkan saja, suami mu berjuang pada hidup dan mati sedangkan kamu ngelawak di rumah sakit.


Perempuan makin hari makin susah ditebak.


Freya menyelesaikan administrasi di rumah sakit.


"Ya Allah baru masuk aja udah ditagih 300 ratus juta. Apa-apa aja ini dibayar " Kata Freya melihat rincian.


"Kamar, operasi perbaikan, tranfusi darah, obat, makan, kamar lagi subhanallah "


Admin rumah sakit itu menatap aneh pada wanita muda di hadapannya.


"Sean cepatlah kamu sadar. Ini bertaruh pada duit Sean "


Bodyguard Sean datang menghampiri Freya. Selesai menyelesaikan administrasi Freya menghubungi Darlen namun tak diangkat.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menghubungi Darlen. Aku tidak tau banyak tentang keluarga Sean apa kamu mengetahui nya ? "


"Nyonya tidak mengenal keluarga Tuan Sean ? "


Freya dongkol. Freya menendang kaki pria tersebut.


"Kau kan tau aku ini istri kedua bos mu. Di nikahi saja aku tidak tau, hubungi saja "


"Baik.. Baik nyonya "


Sean langsung dibawa menuju ruang operasi.


"Sean bertahanlah, kau harus bangun. Kamu belum membaca buku nama-nama anak yang kamu beli aku tidak mau membaca nya. Ingat itu "


"Kalian boleh membawanya pergi " Kata Freya dibalas anggukan oleh empat orang suster.


Freya duduk di ruang tunggu waktu berlalu begitu lambat baginya, air mata terus mengalir dengan tangan terus berdzikir yang tak henti ia panjatkan.


Enam jam akhirnya Sean keluar dari ruang operasi dan langsung di pindahkan ke ruang yang telah di sediakan.


Dokter kembali memeriksa keadaan nya.


"Operasi berjalan lancar. Kemungkinan yang tadi saya katakan akan ada kelumpuhan terutama di kaki dan tangan itu prediksi saya. Kita hanya bisa menunggu sampai Tuan Sean sadar "


"Terima kasih dokter "


Dokter itu mengangguk lalu pamit.


Bodyguard Sean datang masuk ke dalam ruangan menghampiri Freya.


"Selamat malam nyonya "


"Ini bahkan sudah jam setengah 3 pagi. "


"Jadi saya harus bilang apa ? "


"Lupakan, kamu mau apa ? "


"Dari rekaman CCTV di tempat kejadian Tuan Sean berkendara dalam kondisi mabuk dan Tuan mencoba menghindari sih tukang bakso "


"Tukang bakso tersebut sedang dimintai keterangan di kantor polisi "


Freya memijat pelipisnya.


"Pak bisakah anda memastikan bapak bakso itu bebas. Ini murni kesalahan Sean. Berikanlah dia lima juta untuk uang terima kasih "


"Baik nyonya akan saya laksanakan "


"Terima kasih "


Freya berjalan mendekat ke arah Sean ia mengelus tangan suaminya. Freya mengenggam tangan Sean.


Air mata Freya jatuh mengenai kulit tangan Sean.


"Hei ! Kata orang, orang yang koma itu hanya tidur dan masih bisa mendengar. "


"Jangan lupa nikahi aku secara sah habis ini, habis kamu bangun yaa. Kalau ada kejadian seperti ini aku bisa membuat keputusan lebih mudah. Orang-orang melihatku dengan tatapan tidak suka. Mungkin ada yang kenal. kamu "


"Semoga kamu lekas bangun, "


Freya mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam. Ia meminta pada sang pencipta langit dan bumi agar dapat memberi kebaikan dan kasih sayang pada suaminya.


"Ya Allah.. Engkau adalah pemilik dunia yang kami pijak dan tinggalin juga engkau pemilik setiap jiwa manusia yang sudah mati atau masih hidup. Beberapa jam yang lalu suamiku mengalami kecelakaan dalam keadaan dia sedang mabuk. Aku tak menyerah atas nya Ya Allah. Namun jika memang suamiku harus engkau panggil tolong panggilah dia dalam keadaan baik dan mulia tetapi jika dia belum saatnya meninggal tolong bangunkan suamiku dan aku berjanji akan membuatnya tobat kalau bisa akan ku patahkan lagi satu kakinya agar ia tidak pergi ke club "


Selepas berdoa Freya duduk di kursi melihat Sean yang masih tidur pulas di ranjang dengan alat-alat aneh menempel di tubuhnya.


Tangan mulus dan putih itu mengelus wajah Sean.


"Kamu harus sadar. Kamu sudah menghamiliku dan menjadikanku istri kedua mu. Aku menahan malu untuk itu jangan lagi kamu ninggalin kami. Aku jadi bingung kalau kamu meninggal bilang apa aku sama anak.. K.. K.. Kita. "


"Kamu senang kan aku bilang seperti itu "


Freya tidur memegang tangan Sean.


Keesokan paginya.


Nenek, mama dan papa Sean serta Darlen pergi ke rumah sakit setelah mengetahui keadaan Sean mereka langsung berangkat.


Darlen mengatakan jika Freya berada disana sendirian tanpa siapapun dan Freya yang mengambil alih hingga meminta menghubungi keluarga Sean.


Sehabis menunaikan sholat shubuh Freya kembali tidur sampai perawat disana yang masuk mengirim sarapan dan menganti infusan saja bekerja dengan pelan agar tidak menganggu suami-istri yang sedang tidur itu. Apalagi istri nya yang kemarin menangis terus tanpa henti.


Freya menautkan tangan pada tangan Sean.


Perempuan hamil itu terbangun dari tidurnya.


"Sudah jam 9 ternyata. Sean selamat pagi."Sean masih terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2