
Rintik hujan masih betah membasahi bumi sesore ini, beberapa orang memilih bergelung dalam selimut tebal ataupun sekedar menyesap teh hangat dan cemilan ringan, namun berbeda dengan Kahfi, ia memilih bersiap- siap untuk meluncur ke kediaman kekasihnya, karna sedari tadi gadis itu tidak berhenti mem-spam di room chat whats app miliknya agar segera datang karna calon mertuanya tengah menjaga toko dan meninggalkan kekasihnya itu sendiri dirumah.
Kahfi mendial nomor handphone Haifa, ia ingin bertanya apakah Haifa mau menitip sesuatu untuk dibawakan karna nanti ia akan singgah sebentar di minimarket untuk membeli cemilan karna faktanya, ia dan cemilan adalah kolaborasi yang tak terpisahkan, ditambah dengan serial kartun upin dan ipin, lengkap sudah kenikmatan hidup Kahfi.
Bipp
"Halo, Sayang?"
"Eh bilang apa kamu?" tutur Kahfi geli
"Hah, apa Fi? Haifa menggigit bibir bawahnya menahan malu karna keceplosan memanggil Kahfi dengan panggilan Sayang
Kahfi tergelak sendiri mendengar ucapan Haifa, ia bisa membayangkan sekarang gadisnya pasti sudah memerah menahan malu "Ciee, ada yang sayang sayangan yaa udah mulai berani hahaha" ia tertawa sendiri mengingat panggilan Haifa barusan
"Ihh apasih kamu, gak jelas banget, akutuh gak sadar tadii" Ujar Haifa mengelak
"Yaudah iya, aku mau ontheway nih, kamu ada mau nitip sesuatu?" Kahfi sengaja mengalah karna malas memperdebatkan sesuatu yang ujung ujungnya akan merusak mood kekasihnya itu
__ADS_1
"Mmm bawain aja coklat sama permen mint yaa Fi, aku lagi badmood banget seharian ini" Haifa menghembuskan nafasnya diakhir kalimat
"Yaudah, nanti aku beliin, gaada lagi kan? see u Sayang" Kahfi menekankan kata Sayang diakhir ucapannya sebelum mematikan telvon
"Jail banget sih!" Haifa berseru gemas dan malu sendiri mendengarnya
Beberapa menit kemudian, terdengar suara deru mobil dipekarangan rumah Haifa, Haifa turun dari lantai atas kamarnya karna ia menebak yang datang itu adalah Kahfi calon suaminya, Haifa yang sudah mandi dan mengenakan jumpsuit bermotif Shabychic dan mencepol rambutnya dengan gaya Loose Ponytail, serta memoles wajahnya tipis-tipis dengan Loose powder dan Liptint pink cherry dibibir mungilnya, ia tampak menggemaskan dan fresh.
Ting nong
Haifa beranjak dari sofa mungil rumahnya yang berada didepan Tv untuk membuka pintu
"Hai Fi, emm yuk masuk!" Haifa tersenyum manis pada Kahfi apalagi setelah melihat jinjingan Kahfi yang pastinya berisi pesanannya dan cemilan yang banyak, memikirkan cemilan seketika membuat mood Haifa kembali naik, ia sudah membayangkan betapa nikmatnya coklat yang akan lumer dimulutnya nanti, Haifa memang suka coklat untuk mengembalikan moodnya yang berantakan, itu sudah menjadi kebiasaanya sejak SMP.
Kahfi memandang rumah Haifa sekeliling, benar Haifa hanya sendiri, ia merasa kurang enak jika dilihat tetangga nanti karna mereka hanya berdua dirumah
Kahfi memegang lengan Haifa ketika mereka melangkah masuk "Fa, pintu rumahnya dibuka aja , kita nonton film aja yuk, aku udah download film kemarin, kalo ditutup nanti gak enak sama tetangga, dikira ngapain nanti"
__ADS_1
Haifa mengerjapkan matanya lucu , menatap Kahfi dalam "Ini beneran Kahfi? kok bisa mikir gitu?" ujar Haifa polos
Kahfi mendengus malas melihat reaksi Haifa yang sangat aneh "Nanti kalo aku nyosor kamu marah, malu, ini giliran dijagain kek gini malah balik nanya, maunya gimana hm? seloroh Kahfi gemas sambil mencubit pipi Haifa
"Hehehe iya, dibuka aja Fi gapapa, aku cuman ga nyangka kamu bisa berfikir kaya gitu, biasanya kan suka nyosor gak jelas, sekarang sweet banget mau jagain aku dari pandangan orang orang, makasi AlKahfi-ku" Haifa berujar manis sambil memeluk lengan kiri Kahfi, ia merasa senang dengan sikap Kahfi yang penuh perhatian ini.
"Aku cuman gamau berbuat semakin jauh, sebentar lagi, sebentar lagi kamu bakalan jadi hak milik aku, untuk sekarang aku bakalan jaga jarak sampai kita halal" Kahfi memelankan suaranya diakhir kalimat, ia merasa kurang yakin akan kooperatif dengan janjinya ini, karna Haifa dan segala tingkah menggemaskannya adalah hal tersulit yang bisa Kahfi acuhkan, maunya tuh peluk kamu terus, Fa.
Haifa tersenyum tulus sambil menatap Kahfi, ia merasa sangat dihargai dan disayangi. "Bisa sweet gini ya si Kahfi" ujarnya dalam hati seraya menggigit pipi dalamnya untuk menahan senyum.
"Yaudah yuk nonton" Kahfi melepaskan pelukan Haifa dilengannya sambil berdehem
"Mau nonton film apa sih? siniin cemilannya ih aku mau Fi" Haifa meraih satu kantong dan langsung mendapatkan coklat batangnya, ia lantas mengambil tempat duduk disebelah kiri sofa yang langsung berhadapan dengan tv
"Gatau juga , kayanya nonton channel tv aja deh ya soalnya aku lupa kemaren download film horror, kan kamu gak suka horror" Kahfi berucap sambil duduk disamping Haifa dan meraih kepala gadis itu untuk disandarkan didadanya yang bidang, Haifa hanya bisa menurut karna ia juga tidak tau ingin menonton apa, dirinya tidak menyukai aktivitas menonton karna ia mudah mengantuk dan suka tertidur , bahasa gaulnya sih ngebo.
Dua puluh menit kemudian setelah menganti ganti siaran tv, mereka tidak menemukan siaran yang menarik minat, adanya tuh cuman sinetron alay yang ditonton Mamanya Haifa, Haifa sih tidak mau nontonnya, takut terserang bahasa aneh dan dia akan sama anehnya dengan Mamanya, alhasil sekarang ia tertidur dengan posisi kaki kanan di paha Kahfi dan kaki kiri terulur ke lantai, tidurnya Haifa itu tidak pernah elite, selalu brutal, Kahfi geleng geleng kepala melihat gaya tidur Haifa yang seperti sedang pencak silat ini, belum lagi dengan sampah cemilan mereka yang berserakan, sepertinya Kahfi butuh tenaga ekstra untuk membereskan kelakuan kekasihnya ini yang seenaknya membuang sampah sembarangan.
__ADS_1
Kahfi menggendong Haifa ala bridal style , membawa Haifa ke atas kamarnya, ia meletakkan Haifa diatas tempat tidur dan menyelimuti Haifa hingga dada, ia mengecup kening Haifa dengan lembut, dan memandang Haifa dengan lekat. Gadis ini , gadis yang akan menjadi teman hidupnya nanti, orang yang akan menemaninya dimasa sulit dan bahagia, perempuan cantik yang akan ia tatap sebelum terlelap hingga awal membuka mata dipagi hari, gadis didepannya ini akan menjadi ibu dari anak anaknya kelak, mereka akan mendidik anak anaknya nanti dengan baik hingga masing-masing dari mereka sampai pada tujuan hidup yang hakiki, lalu menua bersama hingga salah satu dari mereka dijemput ke sisi-Nya. Rasanya dada Kahfi begitu berdebar menantikan moment itu tiba, ia sangat mencintai Haifa dan selalu ingin membahagiakan gadisnya
Selamat terlelap, Haifa-ku...