
Perempuan hamil itu terbangun dari tidurnya.
"Sudah jam 9 ternyata. Sean selamat pagi."Sean masih terlelap dalam tidurnya.
"Kenapa kamu belum bangun juga. Sepertinya kamu banyak minum semalam hingga sulit seperti nya kamu bangun. " Freya mengelus rahang Sean.
Bodyguard Sean mengetuk pintu ruangan lalu kemudian masuk.
"Permisi Nyonya, ada yang ingin bertemu dengan anda "
"Siapa ? " Tanya Freya.
"Tukang bakso semalam di datang bersama putrinya. Apa saya persilakan masuk ? "
Mata Freya beralih ke Sean sang bodyguard pun begitu.
"Tidak perlu, Tuan Sean tidak boleh di ganggu kasihan dia. Katakan pada nya aku akan keluar sebentar lagi "
"Baik Nyonya "
Freya pergi ke kamar mandi mencuci wajah lalu mengambil blazer hitam nya.
Freya menghampiri tukang bakso dan istrinya itu yang membawa putrinya. Rupanya sekeluarga.
"Selamat pagi Nyonya "Mereka bertiga menunduk hormat.
"Selamat pagi ibu dan bapak. Mohon maaf saya tidak bisa menerima kalian di dalam karena suami saya sedang istirahat. Kita akan mencari tempat santai dan nyaman. Mari kita ke kantin rumah sakit disini "
Ketiga orang itu mengangguk.
"Tolong jaga suamiku. Dua orang disini "
"Baik Nyonya "
"Saya akan menemani anda " Ucap bodyguard satunya. Freya mengangguk saja.
Bodyguard Sean berada di posisi belakang.
Pria bersetelan kantoran mengikuti mereka juga. Ia menepuk pundak sih bodyguard tersebut yang memberi kode mengusir. Bodyguard itu menundukkan kepala dan pergi.
Pria yang mengikuti Freya tadi duduk di samping belakang kursi sambil mendengarkan percakapan mereka.
"Jadi ada yang bisa saya bantu ? "
"Sebelumnya kami berterima kasih banyak. Karena Nyonya sudah membebaskan suami saya dari kantor polisi "
"Tidak masalah. Ini murni kesalahan suamiku karena dia mabuk dan membawa mobil dengan kecepatan tinggi "
"Kami pun berterima kasih juga atas kompensasi yang ada berikan. "
"Mohon maaf sebelumnya ibu. Saya harus segera menemani suami saya apa pembicaraan ini bisa ke topiknya ? "
"Baiklah " Suami istri itu tertawa dan saling berpandangan membuat Freya mengerutkan kening.
"Karena ini juga kesalahan saya. Saya harus bertanggung jawab atas kecelakaan ini. Saya mendengar dari dokter jika suami Nyonya mengalami kelumpuhan karena kecelakaan jika boleh sebagai gantinya putri saya akan jadi perawat suami Nyonya kebetulan putri saya lulusan perawat nilai nya pun juga bagus dan dia memiliki sertifikat "
Freya memijat pelipisnya.
"Disini ada perawat bu pak "
"Kalau semisal Nyonya butuh perawat pribadi putri saya bisa. Putri saya akan berhenti dia akan berhenti dari klinik dan akan merawat suami Nyonya. Begitu jika di izinkan "ucap sang ibu malu-malu tapi ga tau malu.
Suami-istri yang tidak tau malu itu memandang wajah Freya. Freya mulai melipat kedua tangan di dada
"Maaf ibu, Saya yang akan merawat suami saya sebagai Istri saya bertanggung jawab atas kesembuhannya "
"Ohh begitu, "
"Tapi--ahh begini saja ini kami tinggalkan kartu nama anak saya jika sewaktu-waktu Nyonya berubah pikiran "
Freya pamit meninggalkan suami-istri tidak waras itu. Kartu nama perawat itu pun di robek dan di buang Freya ke tong sampah.
Pria itu beranjak dari kursi dan mengikuti Freya.
Sebelum pergi Freya mendengar jika tukang bakso itu bilang bahwa suami Freya adalah pria yang tampan dan kaya raya.
"Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah "
"Aku belum melahirkan aja sudah ada kandidat yang mencalonkan jadi istri suamiku. "
"Salah aku berbuat baik. Orang miskin memang suka melunjak "
"Perawat tapi ga bermoral memang pantas perawat pakaian seksi seperti itu. Dia mau merawat atau mau menggoda suamiku "
Pria di belakang Freya terus mendengar gerutu dan umpatan.
"Ya Allah semoga tidak ada lagi masalah setelah ini. "
"Mana lagi si kuntilanak. Aku sudah menelfon nya hampir 200 kali, sumpah ya suaminya kecelakaan dia ga angkat-angkat telfon padahal aku sudah pakai ponsel Sean. Ini beneran istri ga sih. Kacau kamu kuntilanak, "
__ADS_1
"Nyonya Freya "panggil seorang dokter menghampiri Freya.
"Ya dokter "
"Bisa ikut saya sebentar ada yang ingin saya bicarakan mengenai kondisi suami anda. Mari ikut saya ke ruangan "
Freya mengangguk ia mengikuti dokter tersebut yang pergi ke arah kanan. Pria di belakang Freya jalan lurus dan masuk ke ruangan Sean.
"Mas darimana saja kamu ? "
"Aku tadi ke toilet lalu bertemu Freya "
"Oh yaa ? aku pikir Freya lagi cari angin "
Nenek Sean menghampiri anak dan menantunya.
"Tidak, Ada tukang bakso dan keluarganya yang datang. Tukang bakso tersebut adalah saksi kecelakaan Sean jika aku simpulkan. Sekilas aku dengar Freya tidak mengizinkan mereka masuk karena katanya Sean harus banyak istirahat. "
"Mereka menawarkan putrinya jadi perawat Sean kebetulan putrinya perawat. Tapi Freya menolak karena banyak alasan "
"Pertama ini ga ada sangkut pautnya sama sih tukang bakso karena Sean murni menabrak pohon akibat mabuk. Kedua, karena perawat itu tidak menunjukkan dirinya perawat melainkan seperti perempuan yaah kurang baik, ketiga mereka sekeluarga itu memanfaatkan kebaikan Freya. Freya memberikan kompensasi uang lalu terakhir Mas rasa Freya cemburu "
Darlen yang duduk di sofa memilih diam sembari membaca majalah disana. Ada rasa nyesek namun tak dapat di jelaskan saat papa nya mengatakan jika Freya cemburu pada perempuan yang menyukai Sean.
Freya masuk ke dalam ruangan Sean dalam keadaan wajah yang kusut seperti keset kaki.
Ketiga orang itu akhirnya bertemu dengan Freya. Freya melihat ke arah tiga orang tersebut yang sedang mengumpul.
"Siapa kalian ? "
"Kenapa kalian bisa masuk ke ruangan ini ? Ini kamar Sean, Suami saya " Freya meneliti wajah ketiga orang itu.
"Loh ibu, nenek, om ngapain disini ? "
"Kamu kenal saya ? "balas papa Sean.
"Iya om kan tadi ngikutin saya mulu. Saya kira ajudan Sean "Istri dan ibu nya terkekeh.
"Nona muda sepertinya kamu salah bicara "
"Kami ini adalah keluarga Sean. Ini ibu saya yang juga Nenek Sean, istri saya dan saya papa nya apa wajah ku dan putraku tidak mirip ? "
Freya membulatkan mata.
Freya ini memalukan bisa-bisanya mertua mu kamu bilang ajudan. Ahh aku ingin nyelam di air aja.
"Jadi apa wajahku tidak mirip dengan putraku ? "
"Tidak, Anda sangat tampan pak bahkan Sean hanyalah ukuran kripik kentang. Maaf jangan tersinggung Sean semakin jelek saat dia mengenal minuman keras dan rokok "
"Tidak masalah saya paham sekali "
"Senang bertemu kalian, aku tidak menyangka orang yang selama ini ku kenal adalah keluarga Sean "
"Bukankah kami juga keluarga mu ? "
"Nyonya Frenda anda terlalu baik. Saya ini hanya istri kedua putra anda. Jadi saya sangat canggung jika anda dan keluarga anda memperlakukan saya layaknya Nyonya Ocha "
"Aku suka anak ini " Frenda memeluk menantunya.
"Kamu sangat cantik dan pandai bicara. "
Freya akan mencari muka di kesempatan kali ini. Gunanya apa ? Heh tentu saja Freya tidak tau. Tapi lebih baik berinvestasi di awal kan lagipula berpegangan pada Sean hanya akan membawa nya ke titik ke hancuran. Freya pikir mereka bertiga ini adalah sumber keuangan yang sesungguhnya.
Nak, mama ga matre kok. Mama hanya ingin menyelamatkan kamu dan mama agar kita tidak susah. Doakan mama yaa biar jadi jajaran mereka.
Darlen dan Freya membahas toko roti.
"Pak Darlen saya bisa minta bantuan ? "
"Apa itu Nyonya ? "
"Tolong jaga toko saya untuk sementara waktu. Saya tidak bisa kemana-mana untuk sementara waktu karena Sean kan masih belum sadar "
"Baiklah Nyonya Freya, apa ada lagi yang bisa saya lakukan ? "
"Untuk sementara itu saja. Terima kasih atas bantuan Pak Darlen "
"Tidak masalah. Saya tau Nyonya kan istrinya harus menemani Pak Sean saat seperti ini "
"Ya begitulah. "Freya tersenyum namun Darlen hanya datar.
Hari kedua telah berlalu Freya menunggu Sean untuk sadar. Sebenarnya Freya tak berharap lebih pada Sean dengan kondisi sekarang.
Hari kedua pasca kecelakaan Ocha masih belum bisa dihubungi. Freya sangat geram sekali apa wanita itu tidak mengenggam ponsel sama sekali apa sesibuk itu dia hingga melupakan suaminya.
"Huft, Sean aku menyerah istrimu benar-benar tidak bisa ku hubungi. Aku sudah menelfon tiap jam tapi ponsel nya selalu ia reject. Aku rasa istrimu memang sudah di telan paus atau hiu "
Rambut Freya berantakan dan wajahnya pun sudah tak karuan.
__ADS_1
Freya menyentuh tangan Sean ia mengelus dengan lembut seolah Sean adalah sesuatu yang berharga.
"Sadarlah Sean. Aku menanti mu disini. Kembalilah ke dunia temanin aku melahirkan disini "
"Aku tau kamu bisa mendengarkan ku. Sebenarnya jika kamu di panggil sang maha kuasa. Aku berharap kamu bangun dulu dan meminta untuk bersuci atas perbuatan mu. "
"Kau tenang saja, Aku akan menceritakan segala hal yang baik tentang dirimu padanya. Bahwa papa nya adalah orang yang baik sekali, dia penolong dan begitu mulia akhlaknya. "
"Aku memang menggilai uang dan harta mu sebab ya itu hak ku aku punya anakmu darimu kamu berhak memberiku banyak warisan. Namun aku sadar hubungan pernikahan kita hanyalah di belakang panggung. Juga anak ini tanggung jawabku. Mau di bawa kemanapun aku tetaplah salah. "
"Keinginan ku hanya satu bangunlah. Kondisi ini hanya akan membuat aku dilema. Jika kamu harus meninggal aku ikhlas kok dan jika kamu masih mendapat taubat dari Allah tolong berusahalah untuk bangun dan perbaiki dirimu. Jadilah Sean yang baru "
Mukjizat Allah kemudian datang di tengah keheningan itu mengerakan tangan Sean perlahan kedua mata Sean.
"S.. Sean kamu sadar syukurlah. Alhamdulillah "
"Aku panggil dokter dulu " Freya menekan tombol yang letaknya di atas ranjang.
Ibu, nenek dan papa Sean masuk ke dalam ruangan Sean setelah mendapat telfon dari Freya jika Sean sudah sadar.
"Dok, bagaimana kondisi suami saya ? "
"Sungguh mukjizat yang luar biasa. Tuan Sean dapat bangun setelah kami nyatakan koma. Kondisi stabil dan kami harus melakukan pengecekan karena "
"Karena apa dok ? " Tanya Frenda.
"Karena Tuan Sean mengalami cedera di pita suara yang menyebabkan tak bisa berbicara " Freya membulatkan mata ia menutup mulutnya yang terbuka.
Sean memukul-mukul namun tak bisa karena tangan pun ikut lumpuh. Freya menahan tangan itu ia mengeleng kelapa pelan.
Air mata Frenda jatuh melihat kondisi putranya sekarang cacat.
Keluarga berduka atas musibah yang menimpa Sean sekarang pria itu bahkan sepenuhnya harus dibantu oleh orang.
Selang penunjang hidup Sean mulai di lepas perlahan NGT, EKG dan lainnya setelah memastikan kondisi Sean membaik selama beberapa jam sejak Sean sadar dan hanya disisakan selang oksigen yang masih Sean butuhkan untuk pernafasan.
"Jari-jarimu masih bisa bergerak tidak apa-apa kita akan coba yang lain jangan menyerah " Kata Freya.
Sean membuang wajah ia tidak mau melihat Freya karena ia berusaha menahan tangis. Mata Sean mencari-cari seseorang yang dari tadi tak muncul dan Freya mengetahui nya.
"Istri mu belum datang sejak kamu kecelakaan. Aku sudah menelfon nya pakai ponselmu, ponsel Darlen, ponsel bodyguard mu "
Freya menunjukkan buktinya.
"Aku tidak bohong sudah 700 kali aku menelfonnya dalam tiga hari bahkan aku kirim pesan namun tidak ada jawaban. "
"Kamu jangan sedih, aku akan berusaha menghubungi nya terus. Aku tau kamu pasti membutuhkan nya tapi jika dia belum kembali kamu harus ikhlas mungkin istrimu di telan paus atau sudah jadi duyung di Samudera mana aku tak tau "
Sean memandang ke Freya dengan air mata berlinang. Freya menghapus air mata Sean.
"Aku tau aku keren. Karena kamu sakit akan ku jadikan kamu raja tapi jangan terlalu lama yaa. Pokoknya jangan belagu deh "
Freya menganti baju Sean dan membersihkan tubuh suaminya itu. Karena tadi dokter sudah mengajarinya.
Sudah selesai barulah Freya mengacingkan baju Sean.
"Kamu harus bersyukur kalau bisa kamu sujud syukur karena Allah menyelamatkan mu masih. Gimana jadinya kamu meninggal dalam keadaan kamu minum-minuman keras. Ingat Sean ini teguran keras dari Allah. "
Kepala Sean di toyor oleh Freya hingga membuat pria itu terkejut.
Aku ini baru sadar kenapa sudah di toyor aja.
"Aku kecewa sama kamu. Aku bahkan melayani mu tapi kamu justru ingkar. Setelah di periksa kamu mengalami tingkat stress tinggi aku mengerti mungkin ada masalah yang terjadi pada hari itu namun lain kali jangan di ulangin "
"Sekarang kamu makan dulu "
Freya menyipitkan mata sembari tersenyum penuh selidik.
"Gimana rasanya nafsu tapi ga bisa nyalurkan..sulitkan. Tubuhmu tak bisa bergerak tapi dia suka sekali tegang. Hahahahah kamu tak bisa menyentuhku, selama tersiksa lahir dan batin ya " Freya menjulurkan lidah.
Sean memayumkan bibirnya. "Aku bercanda . Mulai sekarang jangan masukkan ke hati ucapan ku tulus dari hatiku aku hanya ingin kamu terhibur dan melupakan apa yang kamu alami sekarang "
Sean bergerak ingin mengenggam tangan Freya justru mengenggam tangan Sean lebih dulu.
Freya tersenyum memamerkan sederet gigi putih.
"Tumben sekali mengenggam tanganku."
"Tanganku ini kasar loh, "
"Sean lihatlah, " Freya menunjukkan telapak tangan sebelahnya.
"Waktu aku liat Ocha aku sangat iri padanya. Dia cantik, putih bersih, wangi, pakaian mahal terus muka juga glowing. Pasti perawatan mahal. "
"Tapi aku tepis itu karena aku dan Ocha berasal dari ruang lingkup yang berbeda. Tanganku saja kasar, terkelupas ada kapalan nya. Nih lihat "
"Kamu pasti merindukan Ocha ya. Makanya mengenggam tanganku aku akan berusaha mencarinya jika kamu ingin "
Sean tak berekspresi ketika nama Ocha disebut. Ia justru benci dan kesal nama itu terus disebut Freya
__ADS_1