SERENDIPITY

SERENDIPITY
26. Sean, Ocha dan Freya


__ADS_3

"Dok gimana kondisi istri saya ? "


Air mata Sean berderai padahal dokter belum mengatakan apapun.


"Tuan mohon tenang saya akan menjelaskan secara rinci. Anda tolong tenang "


Sean melihat ke arah nenek dan papa, mama nya.


"Istri anda kondisinya kritis. Saya tidak bisa memastikan kapan istri anda akan sadar. Kita hanya bisa berdoa karena luka yang di derita cukup parah luka luar dan dalam. "


"Dan istri anda begitu luar biasa. Dalam kondisi nya yang sekarat ia memberikan seluruh kekuatan yang tersisa untuk kedua bayinya. Namun----"


"Namun apa dok ? "


"Kami dengan berat hati harus mengatakan jika putra anda tak dapat kami selamatkan. Kami hanya dapat menyelamatkan putri pertama anda karena saat mengambil putra anda kondisi jantung nya lemah. "


Sean bergeming tak tau harus bagaimana. Senang dan sedih sulit dibedakan sekarang.


Bayi laki-laki milik Sean yang meninggal dibawa oleh perawat lalu disusul oleh sang kakak yang berada di inkubator dan Freya yang terakhir keluar dengan banyak alat penunjang hidupnya. Tangan di pasang Pen kemudian kepala di perban. Luka-luka di bagian wajah dan dada tidak ditutup.


Freya masuk ke ruang isolasi berbeda dengan sang anak yang berada di ruang sebelah ibunya.


Sean memperhatikan dari luar para dokter memasang alat-alat penunjang Freya.


"Sean, sebaiknya kamu temui putramu dulu. Kami akan menjaga disini. "kata sang papa.


Sean mengangguk. Ia pergi ke ruang tempat putranya di letakkan.


Sean dengan langkah perlahan memasuki kamar mayat, Namun ternyata disini hanya ada putranya yang tubuhnya diletakkan di tempat bayi.


Tangan Sean mengempal kuat berusaha menahan kesedihan dan perasaan berduka nya. Kaki melangkah selangkah demi selangkah.


Kain putih di sibak Sean perlahan. Menampilkan wajah kecil putranya hingga ke perut.


Sean bersimpuh ia melepas sarung tangan dan masker dengan air mata terus berderai.


"Halo, perkenalkan saya adalah papa mu "kata Sean dengan nada getar memperkenalkan dirinya pada putranya.


"Tubuhmu dingin sekali "


"Kamu tau, hari ini papa dan mama seharusnya pergi mengecek dirimu dan saudari mu. Hari ini kejadian sungguh tidak terduga. Papa tidak menyangka jika kita harus bertemu dalam keadaan alam yang berbeda setelah menantimu lama di perut mama mu"


"Tujuh tahun delapan bulan papa menunggumu dan saudarimu. Ini waktu yang tidak sebentar hingga bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini. Harusnya hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks kamu tidak mengalami hal seperti ini. Harusnya kamu tetap hidup dan tumbuh bersama saudarimu di dalam keluarga yang baik "


"Kalau di perhatikan wajahmu persis sekali denganku. Makasih ya nak sudah lahir meski hidup mu harus sampai disini. "


"Kamu adalah kebahagiaan ku juga anugerah yang Tuhan kasih. Beristirahatlah dengan tenang, jadilah pangeran di surga yaa. Kami akan menyusulmu dan kita akan berkumpul lagi nanti. "


Selanjutnya hanyalah kontak fisik yang berbicara dari sang ayah. Sean memeluk putranya dengan penuh kelembutan, mencium dan mengusap tubuh mungil nan dingin itu. Pria itu menangis kembali.


Sean melantunkan adzan yang terbaik untuk pertama dan terakhir kalinya.


"Tanah, bumi dan langit tolong peluk anakku yang mungil dan mengemaskan. Tolong Terima dia yang masih suci ini kembali kepada kalian. Makasih ya nak, delapan bulan adalah waktu yang baik untuk ku"


Di tempat parkir Sean memeluk mama dan papanya. Darlen ikut nimbrung memeluk begitu dengan Nenek.


...________________...


"Freya sayang, hari ini tanggal 7 hari sabtu. Ini jam 11. Maaf yaa aku tinggalin kamu kurang lebih empat jam. Aku harus kebumikan anak kita dulu. "


"Berapa lama pun kamu tidur aku akan disini menunggumu. "

__ADS_1


Sean memperhatikan Freya dari atas hingga bawah.


"Umm, kejadian kemarin membuatku tak habis pikir. Kemarin di dalam mobil ambulan kamu dinyatakan meninggal namun hari ini aku justru mengubur anak kita. Aku minta maaf ya, belum bisa jadi suami dan papa yang baik."


"Aku belum menemui putri kita sejak ia lahir. Aku sibuk sekali mengurus ini dan itu. Kata mama dia cantik. Dia ada di ruang inkubator karena lahirnya secara prematur jadi sulit untuk dibawa kemari "


"Semoga kamu cepat sadar yaa saat anak kita keluar dari inkubator "


Sean pergi mengunjungi putri nya.


Pria itu memasukkan jarinya di dalam lubang kecil itu. Bayi perempuan mengeliat ketika Sean menyentuh pipinya.


"Anak pintar "


"Sepertinya kamu tau yaa ini papa "


"Kamu disini dulu yaa sampai berat badan mu memenuhi syarat. "


"Selamat datang di keluarga kami."


Sean beruntung sebab anak nya terlahir dalam kondisi lengkap tanpa kecacatan sedikitpun hanya saja anaknya harus lahir sebelum waktunya.


Darlen melihat dari kaca Sean sedang bercerita pada Freya. Terhitung sudah hari ke 10 Freya dinyatakan koma.


"Bangun yuk yank, Anak kita besok keluar dari rumah sakit masa ibunya enggak. "


"Aku tadi pulang ke rumah. Di perjalanan aku liat orang tua bawa anaknya yang masih usia satu tahun mungkin jalan keluar anak lucu banget pakai topi pink "


"Nanti kita gitu juga yaa "


Sean meminta papa nya menjaga Freya sedangkan mama nya menjaga cucunya.


Sebagai papa mertua tentu papa Sean begitu menyayangi menantunya.


Sesibuk apapun papa mertua beliau akan tetap datang setiap harinya menjaga sang menantu malam hari.


"Freya anakku, bangun yuk. Kasihan suami dan anakmu menunggu kamu disini. Saya, mama Sean dan juga nenek menunggu kamu. Jangan lama-lama tidurnya. "


"Kamu pasti menderita sekali waktu kejadian. " Papa Sean mengoleskan saleb di wajah Freya.


"Saya kasih saleb dulu ya. Supaya pas kamu bangun bekas goresan pada hilangan jadi kamu tetap cantik. Tapi walaupun begitu kamu cantik kok. Istri anak saya cantik kok "


"Kasih seorang ibu memang tidak ternilai saat hidupmu di ujung tanduk kamu tidak membiarkan kedua anak mu kenapa-kenapa. Semua luka mu ini menjadi saksi betapa hebatnya menantu saya. "


"Nanti kalau kamu bangun, Kita perlu jalan-jalan, saya akan membawa kamu pergi ke salon dan naik kapal pesiar "


Plak


Ocha terkejut bukan main Sean datang langsung menampar nya dengan keras.


"Mana selingkuhan mu itu ! Katakan dimana ! "


"S.. Sean kau bisa berjalan ? "


"Dimana Wiliam ?!! Katakan dimana Ocha ?!!! "


"Kau tau Wiliam ? "


"Aku melihat semuanya termasuk kebohonganmu tentang kehamilan mu. "


"Jadi kau yang menangkap ku ? Kau melakukan itu padaku, aku ini istrimu Sean ! Aku ini perempuan yang kau cintai Sean, sadar "

__ADS_1


"Kamu bukanlah istriku sejak satu bulan yang lalu. Aku sudah membayar uang perpisahan kita senilai 7 milyar. "


Ocha terkejut jadi cap dan tanda tangan yang ia berikan waktu itu adalah surat cerai.


"Aku memang mencintaimu sebelum aku mengetahui jika kau mengugurkan anak kita. Aku tak perlu mendengar alasan mu. Dulu aku mencintaimu karena kamu sederhana, baik dan pintar juga cantik. Sampai menikahi mu aku bertengkar dengan papa dan nenekku. "


"Kau itu tidak tau berterima kasih sekali bahkan orang tua mu juga ku bantu agar bisa buka usaha. "


Sean mendapat telfon hingga membuatnya terkejut. "Baik-baik aku segera kesana "


"Sayang, Freya sayang kamu sudah sadar "


Freya membuka matanya. Mata Freya masih sayup-sayup.


Hal itu menjadi kabar baik untuk semua keluarga.


Sean memeluk Freya menyalurkan rasa bahagia.


Freya bergeming. "Kata dokter kondisi Freya berangsur membaik. Kemungkinan beberapa minggu lagi ia akan pulang jika kondisi stabil "ucap papa


"Kau dengar itu sayang. Syukurlah "Sean mengecup kening Freya.


" Terima kasih sudah bangun dan kembali padaku "


"Freya syukurlah kamu sudah sadar. Aku senang mendengar kamu akhirnya bangun " kata Darlen yang ikut bahagia.


Di ruang isolasi tersebut hanya ada Freya dan Sean.


Freya belum mengatakan sepatah kata pun namun begitu Sean mengerti mungkin Freya belum mau bicara. Sesekali Freya melirik ke arah Sean namun ia hanya diam saja.


Sean belum bisa menjelaskan mengenai anak-anak takutnya Freya bisa drop.


Pagi hari...


Mama, nenek dan Darlen juga Sean berdiskusi mengenai kepulangan Valencia Indira kusuma putri Sean.


Sean berat hati harus membawa pulang putrinya padahal ia ingin menitipkan Valencia ke Darlen namun mama bersikukuh katanya sebagai tanggung jawab sebagai papa.


Sean masuk ke dalam ruangan Freya.


"Freya, aku izin pulang dulu ya. Aku mau pulang ke rumah antar anak kita. Nanti siang aku kesini. "


Sean mencium kening Freya lalu pergi.


Dengan dikawal pengawal Sean, Darlen, mama dan nenek pulang membawa anggota keluarga baru mereka.


Mobil-mobil miliaran rupiah itu pergi meninggalkan rumah sakit.


"Selamat datang di rumah baru Valencia. Ini kamar mu " kata Sean pada putrinya.


Sean menidurkan Valencia di tempat bayi. Ponsel berdering.


"Kirana, ada apa dia menelfon ku "


"Siapa yang menelfon ? "Tanya Darlen yang masuk ke kamar Valencia.


" Kirana. "


"Kirana, istrinya Wiliam ? " Sean mengangguk ia lantas mengangkat telfon Kirana.


"Sean, Freya diculik Wiliam. Aku tidak tau ini dimana ? Aku sedang mengejar mereka sekarang. Aku akan mengirim alamatnya. Terus terhubung denganku "

__ADS_1


__ADS_2