
Freya dan Ocha melempar pandangan tajam ke arah satu sama lain.
"Apa kalian sering bertengkar seperti ini ? "Tanya nenek.
Keduanya menoleh ke arah nenek.
Mati aku ! karena pertengkaran ini aku jadi lupa dengan mereka. Frey.. Frey. bisa lebih bodo lagi ga ?? Nak maafin mama ya. Mama lagi-lagi mentingin ego daripada kalian. Mama lupa kalo sih nenek ini yang kaya.
Gawat jika aku membentak Freya. Nenek pasti akan semakin membenciku. Aku kan belum menguras harta mereka.
"Tidak kok nek, kami hanya bersitegang saja sejak kemarin karena Freya marah aku tidak ada kontribusi merawat suami kami, mungkin juga karena hormon ibu hamil jadi Freya marah-marah biasanya kami tidak marah seperti ini kok "
"Freya aku minta maaf ya. Aku salah. Aku minta maaf ya. "Ucap Ocha pura-pura tulus. Freya dongkol.
Cih ! apa ? biasanya kami tidak marah-marah iya bahkan pertengkaran kami sudah siap melempar granat. Ihhh kalo ga hamil aja sudah aku sumpahin kamu Ocha. Ku cakar-cakar atau apapun lah.
Darlen tersenyum mengejek ke arah Sean.
Freya mencium kening lalu menarik selimut Sean. "Selamat malam " Sean tersenyum.
Nenek, Papa dan Darlen sudah pulang rumah jadi sepi. Hanya tersisa pelayan yang masih membersihkan meja.
Freya menutup pintu.
Ibu hamil itu tiba-tiba saja di tampar dan di dorong hingga jatuh.
Pelayan-pelayan yang melihat terdiam melihat Freya yang bahunya di injak oleh sepatu Ocha.
"Sudah mulai lancang kamu yaa. Sakit yaa , itu bukan apa-apa Freya. Kamu sangat-sangat berani sekali selama ini dan mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu berkuasa lagi "
"Ingat Freya, akulah yang membawa mu ke Sean. Apa yang kau miliki sekarang ini tidak ada apa-apa nya. Toko roti mu bisa saja ku bakar. "
Freya di duduk kan oleh Ocha dengan paksa.
Rahang Freya di cengkram kuat oleh Ocha. "Kau tidak bisa berkuasa lagi sekarang Freya karena disini ada benih nya Sean. Benar sekali, aku hamil anaknya Sean. Dia akan segera membuangmu dan juga mencampakkan anak yang di kandungan mu. Makanya sayang jangan terlalu menghalu "
"Roda itu berputar dan sekarang kaulah yang dibawah dan akan selamanya di bawah "Ocha menyeringai.
"Aku lah yang membawamu ke ranjang Sean dan aku bisa saja membuatmu dibuang Sean. Aku bisa membuatmu mati Freya, aku akan membuat kamu di gilir 10 orang pengawal ku bagaikan anjing kehausan melihat betina hamil yang menggoda. "
"Bukankah itu membangkitkan gairah laki-laki ? "
"Hahahahahah jika sampai kau berulah lagi aku akan mengirimu dan anakmu kepada kematian ingat itu "
"Jangan ada yang membantunya. Ku peringatkan pada kalian. Jika sampai aku tau maka kematian yang akan menjemput kalian! "
Ocha kemudian masuk ke dalam kamar. Freya menahan sekuat tenaga rasa sakit di pundaknya.
Para pelayan menatap iba padanya namun Freya tetap tersenyum seolah mengatakan Aku baik-baik saja ke pelayan itu.
Freya menaiki tangga dengan degupan jantung yang berdetak dan air mata yang masih ia tahan.
Wanita hamil itu masuk ke dalam kamar dan membuka dress panjang itu hingga jatuh ke lantai. Freya menangis melihat memar biru tercetak besar di kedua pundaknya juga pipi nya yang merah hingga ada darah di sudut bibir.
"Sabar.. Sabar.. Sabar.. Sabar Freya.. Sabar"kata penenang itu tak mampu membuat hati calon ibu mereda.
Bulir air mata keluar berjatuhan wanita hamil itu sekap lalu air mata itu keluar lagi lalu ia sekap lagi lalu keluar lagi dan di sekap lagi.
"Aku janji akan sukses. Aku akan kaya raya lebih kaya dari Ocha dan Sean. Aku janji "ucap Freya dengan penuh penekanan.
..._______...
Freya membuka pintu kamar ruang tamu dengan membawa nampan berisi makan. Freya baru turun ketika Ocha sudah pergi dari rumah.
Setelah kejadian tadi malam Freya masih merasakan trauma untung saja perutnya tidak apa-apa.
" Hai.... selamat pagi "Freya tersenyum terpaksa.
Sean memandangi Freya. Hari ini Freya nampak berbeda. Wajah nampak pucat, matanya juga sembab dan ada lingkar hitam dibawah mata.
"Kita mandi dulu yaa habis itu sarapan. "Sean mengangguk.
Freya merasa di pandangin terus oleh Sean.
" Aku tidak apa-apa Sean. Hanya sulit tidur semalam "bohong Freya.
Freya mengangkat tubuh Sean lalu memakaikan celana panjang dan kemeja.
__ADS_1
" Hari ini kita akan ke toko roti tapi sebelum itu aku pergi sebentar. Aku mau ke rumah sakit. "Sean menampakkan wajah bertanya.
" Vitamin kehamilan ku habis "
Mobil Alphard putih itu membawa Sean dan Freya pergi. Tujuan pertama mereka adalah ke rumah sakit.
"Tunggu disini dulu yaa. Aku hanya ingin ke apotik sebentar. " Sean mengangguk.
Pintu dibuka oleh sang pengawal yang duduk di samping supir.
Setelah Freya menghilang dari pandangan Sean. Sean kemudian memberi kode ke pengawal yang berada di pintu mobil.
Pengawal itu mengangguk dan langsung masuk mengikuti Freya.
Freya bergegas menaiki lift, pengawal Sean langsung memakai topi dan ikut masuk juga diantara kerumbunan orang.
Keluar dari lift pengawal Sean mendekat ke Freya menempelkan alat penyadap kecil yang melekat di tas Freya.
Alat penyadap itu terhubung ke ipad telinga Sean sudah di pasang earphone.
Freya masuk ke dalam ruangan yang sudah di janjikan itu.
Tak lama Freya muncul ia berjalan menghampiri mobil. Pengawal turun dan membuka pintu untuk Freya.
"Pak kita ke toko roti ya. "
"Ba.. Ba.. Baik nyonya "
Freya meletakkan tas di samping lalu melihat ke arah samping Sean duduk dengan mata fokus memandangnya.
"Ada apa Sean ? Apa terjadi sesuatu ? Apa aku lama tadi ? "
Bibir Sean bergetar ia melihat pipi istrinya yang tidak merah lagi namun Sean tau itu adalah bekasan dimana ada tamparan. Karena ada jejak luka di sudut bibir Freya.
"Ya ampun. Sean tangan mu kenapa. Kenapa merah ? Apa kamu----"
"Apa kamu tadi melatih dengan keras tangan mu, begitukah "
"Jangan lakukan itu Sean. Aku takut kamu kesakitan "
"Justru aku yang lebih takut kamu kesakitan. Maafin aku Freya.. Maafin aku.. Maafin aku "Sean menahan air matanya agar tidak jatuh.
Hati Sean rasanya remuk dan sakit sekali. Apalagi Freya tidak cerita mengenai masalah ini tumben sekali biasanya gadis itu akan melapor.
Mendengar Freya pendarahan apalagi matanya sembab pasti Freya menderita sekali.
Sesampainya di toko roti. Freya membawa Sean masuk ke ruang kerjanya.
"Nah kamu disini dulu yaa. Ada yang harus ku urus di luar. Sebentar saja, nanti aku bawakan kue dan minuman "
Sean mengangguk. "Anak baik " Freya mengelus rambut hitam milik suaminya.
"Mira "
"Iya bu "
"Tolong antarkan ini ke ruangan saya. Saya mau bantuin robi bersihin meja disana "
"Baik bu "
Mira membawa nampan ada sepotong pudding yang telah di siram Vla vanila juga lemon tea.
"Permisi Pak " Ucap Mira. Sean mengangguk.
"Bapak mirip seperti suaminya ibu Freya. "celetuk Mira yang memperhatikan wajah Sean.
Tampan meski lumpuh
"Suaminya ? "tanya Sean dengan suara yang dihasilkan dari elektron.
"Iya Pak Darlen. Apa bapak adik ipar Bu Freya ? "
Sean mengucap dengan remeh kalimat "Adik ipar kau bilang "
Mira tak mengerti maksud Sean.
"Sepertinya kau tidak tau aku yaa "
__ADS_1
"Aku ini suami nya "
"Maaf Pak.Maafkan atas ketidaktahuan saya "
"Kami mengira Pak Darlen dan Bu Freya suami istri, mereka selalu bersama. Pak Darlen sendiri sangat perhatian dengan bayi yang di perut dan Bu Freya"
Mira kemudian pamit dari ruang kerja Sean beberapa menit kemudian Freya masuk ke ruang kerja.
"Hallo... Hallo.. Hallo bandung. Maaf ya lama. Aku tadi bantu-bantu bersihkan meja "
"Freya "
"HOHH " Freya terkejut bukan main ketika Sean menyebut namanya dengan lantang.
"Ahh Maaf Sean aku terkejut. Aku belum terbiasa dengan suara baru mu itu. "
"Kamu seperti suara google "
"Freya "
"Hmm "
"Pundakmu kenapa ? "Freya menutupi memar.
"Ohh aku jatuh saat mengambil baju di atas lemari "
Perempuan ini bodoh atau bagaimana jelas-jelas aku membuat walk in closet tanpa sekat di atas. Pakaian Freya juga sangat sedikit.
"Sepertinya sakit sekali "
"Iya begitulah. Tapi sudah mendingan aku oleskan saleb "
"Sean "
"Hmm "
"Boleh aku bertanya ? "
"Silakan "
"Jika nanti aku sudah melahirkan apa kamu akan membuang ku dan anak-anak ini ? "
"Apa maksudmu ?"
"Ocha semalam bilang..... "
"Ya.. "
"Dia bilang.... "
"Iya bilang apa ? "
Jatung Sean berdegup kencang.
"Dia bilang kalau dia sedang hamil anakmu. "
Deg !
Deg !
Deg !
Deg !
Tubuh Sean menengang. Sean tak lagi mendengar apa yang dikatakan Freya selanjutnya seolah ucapan Freya mendengung di kupingnya.
Tangan Freya menyentuh lengan Sean. Perempuan itu duduk bersimpuh di hadapannya
"Aku tau jika anak dari Ocha yang kamu harapkan selama ini. Jika nanti anakku lahir bisakan kamu bersikap adil pada anakku. Aku janji tidak akan minta uang atau tanggung jawabmu. Aku hanya minta kasih sayang mu untuk anak-anak tidak lebih dari itu kok "
JDAR...
Sean memijat keningnya. Keadaan semakin kacau.
Besar juga nyalimu, memanfaatkan kondisi ku sekarang..Mengakui perselingkuhan memang tidak mudah tapi membanggakan perselingkuhan juga berati tak tau malu.
Kamu sudah melangkah terlalu jauh Ocha sayang. Berani sekali kamu mengakui anak di perutmu itu anakku. Jika itu memang anakku harusnya kehamilan mu sudah berusia delapan bulan. Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu sejak ada Freya karena aku meminta pada Freya terus.
__ADS_1