SERENDIPITY

SERENDIPITY
Keping masa lalu


__ADS_3

Drtt drtt..


Ting..


"Kahfi, bagaimana kabarnya?"


Kahfi mengernyit heran melihat satu pesan masuk ke gawainya, pesan itu dikirim dari nomor yang tidak ia kenal, dirinya mencoba mengingat kembali kapan dan dimana ia memberikan nomor ponsel kepada orang lain, dan sejauh ingatannya sampai detik ini, ia hampir tidak pernah memberikan nomor ponselnya kepada sembarang orang, hanya kepada orang-orang terdekatnya atau pada teman sekelasnya, itupun hanya beberapa teman seperti kawan nongkrong Kahfi yang berjenis kelamin laki-laki , dan jika untuk keperluan tugas kelompok lainnya yang harus melibatkan interaksi dengan perempuan, ia akan meminimalisir sebisa mungkin, biasanya para gadis di kelasnya akan mengirim pesan padanya dengan dalih kerja kelompok, kalau dalam situasi seperti ini, Kahfi akan mengacuhkan bahkan akan memblokir mereka yang sudah diluar batas dalam mengganggu kenyamanannya.


"Siapa sih?" batin Kahfi bermonolog


Ia memilih untuk mengabaikan pesan aneh itu, lalu berjalan ke kamar mandi karna sudah merasa gerah dan lengket, Kahfi baru saja pulang dari mengantarkan Haifa setelah ia dan kekasihnya itu menghabiskan waktu selama 4 jam di mall. Hanya membutuhkan 15 menit bagi Kahfi untuk membersihkan badannya , ia melangkah menuju walk in closet yang berada di kamarnya, dan mengambil jeans pendek dari atas lemari dan kaos putih polos serta pakaian dalamnya, setelahnya, ia kembali ke kamar dan berniat untuk rebahan sebentar sembari bermain game atau mengganggu Haifa dengan mem-video callnya. Betapa ia sudah rindu bahkan hanya berselang 1 jam setelah bertemu kekasihnya itu.


Ponselnya bergetar dan menampilkan panggilan masuk oleh nomor yang sama dengan pengirim pesan aneh tadi, Kahfi memilih untuk mengangkat telvon dan bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah balkon kamarnya


"Halo, ini siapa?" Tanya Kahfi sedetik setelah menerima telpon


"Kamu udah lupa sama suara aku, Fi?" ucap seseorang diseberang sana


"Maaf, kamu kenal saya?" jawab Kahfi seraya mengingat-ingat suara si penelpon, dari suaranya, Kahfi bisa menebak kalau lawan biacaranya ini adalah seorang perempuan


"Aku kembali, Fi. Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi" suara perempuan itu bagaikan bencana bagi Kahfi, ia mengenali suara ini, ya, sangat mengenali sampai-sampai hidup Kahfi hancur karna sebuah kalimat dari bibir perempuan ini.

__ADS_1


"Killa?" suara Kahfi terdengar lirih berucap, ia merasa lututnya goyah dan pandangannya memburam, bagaimana bisa, bagaimana bisa perempuan itu kembali lagi setelah meninggalkan luka dengan tega pada dirinya


"Fi, aku mohon, aku mau ketemu sama kamu sekarang" suara perempuan itu menggema ditelinga Kahfi


Kahfi buru-buru mematikan sambungan telponnya, ini tidak benar, ia tidak bisa menemui wanita itu lagi. Dirinya sudah menemukan wanitanya dan akan segera mengikatnya dalam janji suci pernikahan.


Kahfi berusaha memejamkan matanya setelah merebahkan diri di kasurnya, ia akan beristirahat dengan baik dan esok akan menemui Haifa dan mengajak gadisnya untuk membicarakan rencana pernikahan mereka.


Ya, Kahfi butuh tidur.


Haifa membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, ia merasa gelisah sedari tadi karna tidak mendapat kabar dari Kahfi bahkan hanya sekadar chat, biasanya Kahfi tidak pernah seperti ini, laki-laki itu selalu menghubunginya bahkan setelah mereka bertemu, ia akan menelvon Haifa dan mereka akan mengobrol hingga salah satu dari mereka tertidur. Tetapi hingga tengah malam seperti ini, Kahfi tidak menghubunginga sama sekali, Haifa berpikir ia tidak boleh negative thingking, ia berusaha men-doktrin dirinya sendiri untuk selalu berprasangka baik pada Kahfi, mungkin Kahfi-nya kelelahan hingga tertidur, atau mungkin ia ada keperluan dengan keluarganya. Ya, mungkin seperti itu.


"Eh ada Bang Kahfi, enak tidurnya semalem, Bang? sapa Mamanya


Kahfi mencium pipi wanita yang telah melahirkannya itu, lalu beranjak pada Audi, mengelus kepalanya dan mengecup pipinya yang gembul, Adiknya itu tampak semakin menggemaskan dengan gaun pendek serta jepit rambut yang tersemat di rambutnya "Nyenyak kok Ma, Abang malahan nambah tidurnya abis subuhan tadi, hehehe." Kahfi menyengir diakhir kalimatnya


"Kurang-kurangin Bang, udah mau jadi Suami bentar lagi, kasih contoh yang baik sama Istrinya" suara Papanya terdengar menasehati, Kahfi hanya bisa mengiyakan tetapi tidak berjanji. "Papa gak tau aja, kalo tidur abis subuhan itu enak banget." jawab Kahfi dalam hati, ia tidak berani membantah perkataan sang kepala kepala negara secara langsung, bisa bisa uang jajannya dibabat habis, ngeri.


"Gimana persiapan pernikahan kamu sama Haifa, Bang? beneran deh Mama udah gak sabar mau punya mantu, udah pengen nimang Cucu" seloroh Mamanya sambil memberikan sepiring nasi goreng pada Kahfi


"Mmm baru mau dibicarain Ma, Abang belum hubungin WO-nya" Kahfi mengunyah makanannya pelan

__ADS_1


"Kalau bisa secepatnya ya Bang, niat baik gak boleh ditunda" suara Papanya menginterupsi lagi


"Iya Pa, nanti Abang bilangin ke Haifa lagi" ujar Kahfi


Den.. Den..


Kahfi melengoskan pandangannya pada wanita bertubuh gempal yang datang dari ruang tamu, wanita itu adalah Mbok Yum yang sudah lama mengabdi dikeluarganya


"Iya Mbok, kenapa?" ujar Kahfi


"Itu di depan ada eneng-eneng, Mbok gak tau namanya tapi kayaknya pernah kesini deh, wajahnya gak asing" seloroh si Mbok kepada Kahfi


"Ma, Pa, Abang ke depan dulu liat tamunya ya" Kahfi pamit dan beranjak dari ruang makan tanpa menunggu jawaban Mama dan Papanya


Kahfi melambatkan langkahnya setelah melihat sesosok perempuan yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya, matanya membola setelah tau siapa yang sedang bertamu ke rumahnya pagi-pagi begini


Perempuan itu berdiri, menatap Kahfi lekat lalu menerjang Kahfi dengan memeluknya begitu erat, Kahfi mematung merasakan pelukan di tubuhnya, sejenak memory 2 tahun lalu berserakan di kepalanya, luka yang semula ia sembuhkan kembali mengaga, tubuhnya kaku menegang, perempuan ini kembali, setelah berhasil membuat roda hidup Kahfi berputar menjadi tak terkendali. Ya tuhan, kenapa disaat dirinya sudah jauh melangkah, perempuan ini datang dan menghancurkan pertahanan yang ia bangun kokoh?


Tidak, ia tidak boleh gegabah, gadis ini tidak boleh mempunyai satu kesempatan pun dari dirinya, sudah semestinya masa lalu tidak ikut andil dalam rancangan masa depan, begitu keingian Kahfi. Dan tanpa kita sadari, bahwa tak semua keinginan berbanding lurus dengan kenyataan.


"Killa! ikut gue!"

__ADS_1


__ADS_2