SERENDIPITY

SERENDIPITY
Goyah


__ADS_3

Sudah mulai masuk konflik ya, yang gemes sama kelakuan Kahfi bisa tonjok dia nanti, pas pinky udah selesee nulis hehehe, happy reading !!


Kahfi menyeret tangan Killa dengan cepat, dirinya tidak peduli dengan Killa yang mengaduh sakit karna pergelangan tangannya yang memerah karna ia tarik, yang Kahfi tau, semua masalahnya harus diselesaikan dengan cepat dan tanpa basa-basi, ia bisa muak dengan kelakuan Killa yang seenaknya kembali setelah menimbulkan masalah hingga membuat hubungan keduanya hancur.


"Masuk!" Kahfi mendorong Killa memasuki mobil gadis itu, lalu melangkah mendekati bangku kemudi, ia membawa mobil dengan kecepatan penuh, mengabaikan teriakan Killa yang memohon untuk tidak membahayakan mereka berdua. "Fi, jangan gini, kita bisa bicarain baik-baik." Killa memohon sambil mencoba menyentuh tangan Kahfi yang sedang menyetir.


"Baik-baik? tidak ada yang baik-baik saja setelah kamu pergi dan sekarang datang tanpa merasa bersalah, dan sekarang kamu bilang kita bisa bicara baik-baik?" sinis Kahfi sembari menepis tangan Killa yang ingin menyentuhnya.


Setelah 30 menit, mereka akhirnya sampai pada sebuah danau, tempat satu-satunya Kahfi melepas penat dan segala lelahnya, tempat ini juga yang menjadi saksi bagaimana ia begitu terpuruk setelah Killa pergi tanpa alasan.


Kahfi menatap tajam Killa, dirinya bisa melihat bahwa mantan kekasihnya ini terlihat lebih dewasa dari 2 tahun terakhir, tidak, Kahfi tidak boleh jatuh dalam pesona bola mata coklat gadis itu lagi, ini tidak benar.


Killa memegang tangan Kahfi, ia menatap Kahfi sendu, seolah tengah menahan rindu.


"Fi, aku mau jelasin kenapa dulu, aku pergi ngilang gitu aja" Killa menghela nafasnya sebelum melanjutkan bicaranya "Aku sakit." Killa tercekat setelah mengucapkannya, ia berusaha mendapatkan kekuatan untuk mengatakan kejujuran tentang penyakitnya ini "Leukimia."


Kahfi menaikkan sebelah alisnya, masih belum percaya pada omongan gadis itu.

__ADS_1


"Penyakit ini sudah lama, dan dari awal aku mengetahuinya, tidak pernah ada sedikitpun niat untuk memberi tahu kamu , apalagi meninggalkanmu untuk berobat sejauh mungkin, aku lebih baik mati daripada membuat kamu sedih." Killa mengusap matanya yang mulai mengeluarkan cairan bening . "Tapi, hari itu, aku pingsan di kamar karna udah gak kuat nahan sakitnya, Fi, dan tanpa sepengetahuanku , Mama sama Papa membawaku berobat ke Singapura, setelah itu aku bahkan gak diizinin untuk megang handphone buat hubungin kamu, aku bener-bener dipaksa untuk fokus pada pengobatanku karna penyakitnya udah sangat serius, maaf, maaf kalo aku udah ngilang begitu aja ninggalin kamu, aku bahkan gak pernah sedetikpun ngelupain kamu, Fi, kamu tau betapa susahnya aku ngebuat kamu suka dan menerima perasaanku, dan saat aku berhasil dapetin cinta kamu, mana mungkin aku ninggalin kamu dengan setega itu , Fi?


Killa menjeda kalimatnya sebentar, menghirup oksigen yang mulai menipis di rongga dadanya , "Disana bener-bener gak enak, aku harus sering minum obat padahal aku gak suka obat, aku juga gak bisa meluk kamu, tapi.. tapi aku juga gak bisa nolak , Fi, aku mau secepatnya sembuh biar bisa kembali dan meluk kamu sepuas yang aku mau." Killa menangis sesenggukan setelah berbicara panjang lebar dan menjelaskan alasannya selama ini, ia merasa lega setelah menyampaikan kebenarannya dan ia juga berharap Kahfi mau memaafkannya kali ini.


Kahfi menatap Killa dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, jadi, selama ini Killa sakit dan ia tidak tahu? jadi selama ini ia sudah berprasangka buruk pada Killa? sekelabat pikiran berlalu-lalang di otak Kahfi, ia merasa lega karna Killa sudah sembuh dari penyakitnya dan juga merasa marah karna dirinya tidak tau apapun dan malah ditinggalkan tanpa penjelasan. "Pergi, Kill, aku udah gak butuh penjelasan lagi." Kahfi mengalihkan tatapannya pada danau yang berwarna hijau terang, ia tidak bisa bersikap sekarang, terlalu rumit, terlalu sulit untuk dicernanya.


Killa menggelengkan kepalanya, menolak perkataan Kahfi yang memintanya untuk pergi "Fi, aku bahkan belum liat wajah kamu dengan dekat, aku gak tau kamu bisa berubah secepat ini." Killa menatap Kahfi dan menyentuh wajahnya dengan lembut.


Kahfi diam dan masih memusatkan pandangannya pada danau yang terihat tenang, seolah mengejek dirinya yang saat ini mulai goyah dan tidak bisa berpikir jernih, ia berjanji, bahwa mulai sekarang dirinya tidak boleh menatap Killa, lagi. Semua sudah berakhir, bahkan sejak kali pertama gadis itu pergi, semua sudah selesai.


Cup


Kahfu membulatkan matanya dan menatap Killa tajam, dirinya kaget dengan perbuatan mantan kekasihnya ini. "Killa! apa apaan!" sentaknya terkejut.


Cup


Kahfi terdiam karna merasakan bibirnya merasakan sesuatu yang lembut. Killa mencium dan mengalungkan tangannya pada leher Kahfi , gadis itu masih dengan posisinya bahkan mempererat pelukannya rapat, merasa tidak ada balasan dari sang mantan, Killa berucap di sela-sela ciumannya untuk memastikan apakah Kahfi benar-benar melupakannya selama ini atau lelaki itu hanya berkilah, "Fi, aku mohon bales." lirih Killa pelan.

__ADS_1


Kahfi melihat Killa meneteskan air matanya saat mencoba menciumnya, tidak, ini sangat tidak benar, ini sudah diluar batas, Ya Tuhan, Killa? mengapa gadis itu membuat semuanya menjadi rumit? kelemahannya dalah air mata, apalagi untuk seorang yang sangat berarti dalam hidupnya, wanita ini sangat berharga untuk Kahfi, dulu, tetepi mengapa sekarang ia harus peduli? ia kembali bertanya-tanya dalam hati, apakah selama ini ia sudah benar dalam melupakan, atau hanya berusaha lupa tanpa dan membohongi diri sendiri?


Kahfi memejamkan matanya pelan, tanpa ia sadari, perasaan yang dulu ia rasakan saat bersama Killa, kembali tanpa bisa ia cegah, Ya Tuhan, kenapa ia merasakan rindu, lagi? Kahfi bohong bahwa ia tidak menikmati ciuman Killa, bohong bahwa Killa tidak berhasil mengusik pertahannya saat ini, dan bohong bahwa ia bisa menolak dan mendorong Killa lalu melepaskan tautan bibir mereka.


Kahfi seakan melupakan janjinya beberapa menit yang lalu, melupakan orang-orang yang akan terluka dengan sikapnya, dan melupakan satu orang manusia yang sedang menunggunya.


Tangannya perlahan memeluk Killa dan membalas ciuman gadis itu, ia bahkan mempererat pelukannya dan membuat jarak mereka kian menipis.


Pada hakikatnya manusia tidak benar-benar bisa menepati janji, entah dengan Tuhan, pada sesama, atau dengan diri sendiri.


***


Haifa mondar-mandir di kamarnya sejak 10 menit yang lalu, ini aneh, dari semalam Kahfi bahkan tidak mengirimkan satu pesan pun padanya dan sampai sekarang, gawainya tidak kunjung menampilkan panggilan masuk dari kekasihnya itu, Haifa tengah merasakan perasaan yang asing, tidak pernah begini, ia tidak pernah merasa sedih karna sesuatu hal yang tidak jelas penyebabnya, Haifa hanya merasa tidak nyaman dengan perasaan barunya ini, apakah mungkin ia harus datang menemui Kahfi? mengingat akhir-akhir ini ia sangat jarang mengunjungi kediaman laki-laki itu, oke, Haifa sepakat untuk mengunjungi Kahfi dan memberi kejutan kecil untuk kekasihnya , ah bukan, Kahfi kan calon suaminya, bahkan sebentar lagi mereka akan membangun keluarga bahagia.


Haifa sedikit merasa tenang setelah menyebut kata keluarga, ia memasang senyuman manis dan bertekad akan menjaga suasana hatinya agar nanti saat bertemu Kahfi, wajahnya tidak menunjukkan kegelisahan apapun.


Ya, Haifa hanya perlu merasa baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2