SERENDIPITY

SERENDIPITY
24. Kirana dan Freya


__ADS_3

Ocha menghampiri Freya yang sedang berdiri di pinggir kolam renang.


"Kau tidak bisa gunakan mulut mu yaa ? Datang-datang main nampar aja " Freya menghempaskan tangan Ocha dengan kasar.


"Katanya S2 di luar negeri tapi kok kayak berandal " Sindir Freya.


"Jaga mulut mu yaa. Elo tuh cuman lulusan SMA yang ga ada apa-apa sama gue ! "


"Oh yaa. Tapi orang berpendidikan kok perilaku nya memalukan sih. "


"Informasi hidup, Kau tidak bisa menilai pendidikan orang sarjana atau tidak, lulus sekolah atau tidak. Itu cuman legalitas. Makin kesini orang sepertimu makin tidak ada harganya "


"Aku ku balas kau Freya "


"Ingat Freya sebentar lagi kau akan dibuang oleh Sean. "


"Yakin sekali kalau aku dibuang. "


"Aku pastikan kau akan dibuang oleh Sean dan keluarganya "


"Bisa-bisanya kau ingin menyingkirkan pewaris ketiga perusahaan "


"Apa ? "


Freya menyeringai. Ocha terkejut ketika Freya menarik rambutnya.


"Dengarkan aku baik-baik, pasang kuping mu. Kebakaran yang terjadi saat itu kau pikir aku akan diam. Aku sudah kehilangan kesabaran atas mu. Jadi kalau masih mau hidup mewah patuhi aku! Ngerti ! " Freya menarik lebih kuat rambut Ocha.


Lalu setelahnya Freya pergi meninggalkan Ocha.


"M.. m.. u k.. kemana ? "tanya Sean melihat Freya yang sudah bersiap dengan memakai dress putih.


"Pergi keluar sebentar. Aku ingin bertemu perempuan yang menamparku kemarin "


"S.. s.. ma.. peng.. wal ya "


Freya mengangguk. Ia mencium punggung tangan Sean dan pipi pria itu.


"Pergi dulu yaa. Assalamu'alaikum "


"Waalaikumsalam " jawab Sean dengan terbata-bata.


Selepas mobil yang menumpangi Freya pergi. Sean lalu mengambil ponsel yang ia duduki.


"Awasi Kirana. Jangan sampai Freya disakiti. Jaga Freya dengan baik, aku tidak mau ada masalah "


"Nyonya disana tamu anda " ujar pengawal.


"Ahh ya benar. Kamu duduk disini saja yaa. Ada yang harus saya bahas dengannya."


"Baik nyonya. "


Freya melepas tas merek ternama. Kirana tau bahwa pakaian yang dikenakan Freya harganya ratusan juta dan limited edition semua.


"Darimana kau dapat nomor telfon ku ? "


"Tentu saja meminta tolong suamiku "


"Cihh ! kau itu benar-benar murahan sekali. Bisa-bisanya kau merebut suami Ocha. Apa tidak ada pria lain selain Sean. "


"Bukannya malu kau menunjukkan dengan rasa bangga pakaian mu, tas bahkan kehamilan mu. "

__ADS_1


Freya terkekeh. "Kau akan menyesal mengotori mulutmu dengan menilaiku "


"Terus terang perempuan yang kamu bela itu merebut suamimu "


"Apa ?! omong kosong macam apa ini ? "


"Aku mengatakan ini karena kau perempuan baik. Kamu pantas dapatkan yang terbaik "


"Tutup mulutmu! "


"Itu tidak benar "


"Itu benar "


"Pernahkah kau berpikir apa yang terjadi kepada keduanya ? Aku memang tidak mengenal Ocha, Wiliam bahkan kau. Apa tidak aneh dengan mereka. "


"Kau mencoba mengadu domba ku yaa. Ocha itu temanku dari sejak kami kuliah hingga sekarang "


"Lama atau sebentar pertemanan tidak menjadi alasan untuk memaklumi perasaan mu curiga lah, penasaranlah, melangkahlah agar kamu tau. Sekalipun Wiliam tidak selingkuh dengan Ocha, Wiliam memang bukan pria yang baik. "kata Freya dengan pelan.


"Apa maksudmu ? "Tukas Kirana yang mendengar apa yang Freya katakan.


"Aku menyadari sesuatu saat itu "Kata Freya lagi mengingat sesuatu. Keanehan yang ia temukan dari Wiliam.


"Pikirkan kembali tentang Ocha dan Wiliam. Bayi yang berada di kandungan Ocha bukan anaknya Sean melainkan anak nya Wiliam "


"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan mu. "


"Terserah lah, Yang terjadi malam itu adalah. Aku menemukan Ocha dan Wiliam di tangga tapi sebelumnya ada suara ******* di kamar Ocha. Lalu aku teriak maling.. maling.. Wiliam sempat melukaiku dia mencekikku jadi aku terpaksa melempar teko kaca di kepala nya dan menendang miliknya. Itulah yang terjadi. Dan kesungguhannya. "


"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. "


Freya mengambil tasnya lagi.


"Jangan sampai menyesal. Aku pamit yaa "


"Aku bukan temanmu! "


"Suatu saat kita akan berteman "kata Freya sumringah.


"Cih! "


...______________...


Wiliam pulang kembali ke rumah. Kirana masuk ke dalam rumah ia melihat ada Ocha dan Wiliam di ruang tamu.


"Mbak Ocha ? "


"Eh kirana, datang juga kamu "


"Darimana Kirana ? "


"Tadi keluar sebentar belanja " Ocha mengangguk apalagi ada belanjaan Kirana.


"Mau masak yaa. Aku bantuin yaa "


"Enggak usah mbak "


Kirana pamit ke dapur. Tangan Ocha menempel di paha Wiliam namun Wiliam tak mengusir tangan itu sama sekali.


Keduanya nampak bahagia saling bercerita satu sama lain di ruang tamu.

__ADS_1


Mata Kirana tertuju ke arah perut


"Mas Wiliam ini aku masak sayur yang bagus untuk kesembuhan----"


Brak


Brak


Brak


Mangkuk tersebut terlempar ke lantai.


"Tidak usah sok baik padaku ? "


"Kau itu tuli yaa ! Aku bilang tidak perlu menyiapkan ku makanan atau berlaku layaknya seorang istriku. Aku tidak suka ! "


"Bibik juga ! Jangan pernah biarin dia buattin saya makanan paham !!! "


"Pa.. paham tuan "


"Mas, kamu jangan marah-marah. Kamu baru aja keluar dari rumah sakit "


"Yang buat aku marah itu ya kamu !!! Kalau kamu ga mau liat aku mati mending kamu pergi deh sana. Jangan muncul di hadapan ku kalau bisa sekalian loe minggat dari sini ! "


Wiliam pergi dari hadapan Kirana sebelum emosi makin menjadi. Pelayan yang bersama Kirana mengusap pundak Kirana.


"Sabar Nyonya "


"Terima kasih "


Kirana mengambil pecahan mangkuk itu sekedar membantu pelayan.


Usia pernikahan sudah lima tahun namun Kirana belum juga melihat perubahan Wiliam. Sikapnya masih sama.


Papa Wiliam sangat menyukai Kirana hingga akhirnya mereka menikah karena desakan. Kirana tak pernah bercerita apapun pada kedua orang tuanya mengenai perlakuan Wiliam.


Ketimbang Kirana Wiliam lebih suka dengan wanita di Club untuk menuntaskan nafsunya. Perempuan berbeda terus datang ke rumah dan Kirana menahan rasa sakit itu.


Kirana percaya Wiliam akan berubah sebelum akhirnya Freya patahkan semangat itu.


"Aku ini bodoh atau apa yaa ? " kata Kirana pelan sembari menyekap air matanya.


Kirana dulunya teman satu kelas dengan Sean sewaktu di sekolah menengah pertama hingga atas. Hanya satu kelas, Sean hanya memiliki teman yaitu Darlen dan ketiga lainnya.


..._____________...


Entah apa yang ada di pikiran semalam. Kirana terus memikirkan perkataan Freya hanya perkataan Freya.


Seperti kata Freya.


Curiga lah, penasaranlah, melangkahlah agar kamu tau.


Kirana merasa jika itu adalah motto hidup barunya.


"Perempuan itu tidak salah juga. Tidak ada salahnya aku maju. "


Di sebuah ruang kerja seseorang menempel satu lembar lagi foto di ruang kerja.


Foto Freya Anastasia.


Berbagai macam foto Freya menghiasi dinding seseorang.

__ADS_1


"Memang sangat cantik sekali "


__ADS_2