SERENDIPITY

SERENDIPITY
Haifa, maunya apasih?


__ADS_3

Pernikahan adalah suatu moment dimana dua pemikiran disatukan, dua keluarga di pertemukan dan dua cinta dihalalkan, tolak ukur umur tidak menjadi acuan karna menikah adalah menyempurnakan separuh agama, tetapi kadang mental dan emosi seseorang masih belum ditaraf baik dalam membina rumah tangga, selalu terjadi cekcok dan perpisahan menjadi tak terelakkan. Itulah yang menjadi pemikiran Haifa beberapa hari belakangan ini. Ia menjadi sangat linglung dan dilema karna memikirkan status lajangnya yang akan dicopot selepas masa SMA .


Ia kembali memikirkan tujuan hidupnya, apakah ia hidup hanya untuk memenuhi kemauan salah satu makhluk-Nya? atau hanya menjadi objek pemenuhan egoisme makhluk bernyawa, Haifa menipiskan bibirnya perih, ia menyesap kopi yang mulai mendingin setelah 1 jam hanya dibiarkan mengepul sendiri, ia kembali berpikir apakah yang ia lakukan ini benar benar keinginannya atau hanya diperbudak cinta Kahfi. Ah, Kahfi. Rasanya Haifa seperti buah simalakama , mau menolak ajakan Kahfi untuk menikah diusia belia , ia tak tega dan tak punya daya, mau menerima pun Haifa merasa ragu dan linglung sendiri memikirkan nasib pernikahannya kelak, padahal hal yang belum terjadi semestinya tak usah dipusingkan dan dicemaskan, cukup beri rasa percaya pada diri sendiri bahwa semua yang terjadi hanya perlu dipersiapkan dengan matang, selebihnya biarkan Tuhan yang mengambil alih.


Tok tok tok


Klik


"Mama boleh masuk gak sayang?" kepala Heni Mama Haifa menyembul diantara dua pintu berwarna putih itu


"Boleh kok Ma, masa Haifa larang sih" ujar Haifa sambil tersenyum tipis


"Haifa lagi ngapain? sambil ngopi gini sore sore, Mama gak diajakin nih" ucap sang wanita paruh baya tersebut

__ADS_1


" Gapapa Ma, Haifa cuman lagi pengen duduk aja disini, udah lama gak ke balkon kamar rasanya kangen deh, biasanya dari sini tuh Haifa bisa liat papa dibawah sambil mandiin mobil, sekarang udah enggak ya, Ma" Suara Haifa semakin melirih diakhir kalimatnya, ia tercekat sendiri karna bayang banyang lelaki nomor satunya terngiang dipikirannya, rasanya kembali sakit mengingat kejadian naas yang menimpa keluarganya, bahkan Haifa belum mengecup pipi lelaki Papanya hari itu, tetapi Sang Pencipta sudah mengambil nyawanya dahulu.


"Haifa kangen Papa ya , Nak? Sang Mama menatap anak semata wayangnya itu dengan sedih, sambil mengusap rambut Haifa


"Haifa kan bentar lagi menikah Ma, tapi Papa gak bisa anterin Haifa disaat terakhir Haifa menjadi tanggung jawabnya, Haifa cuman masih belum bisa menerima, kenapa dari sekian banyak takdir Allah, Haifa harus merasakan bagian yang paling pahit" Haifa menangis dipelukan Mamanya dengan isakan yang menyayat hati, ia menumpahkan segala keluh kesahnya pada wanita yang mengasihinya tersebut


"Sstt gak boleh gitu Sayang, ketetapan Allah adalah sebaik baik bentuk ketetapan, kematian bukan dalam kapasitas kita Nak, Haifa harus tegar ya Sayang " Heni memeluk anaknya dengan erat, tangannya mengusap punggung Haifa lembut, memberi ketenangan pada putri kecilnya


"Gak papa kok, Mama gak papa Sayang, udah ah sedih sedihnya nanti Papa sedih juga disana, mendingan Haifa mandi, terus dandan yang cantik, ini rambut udah kayak sarang burung bentukannya, heran anak perawan mbok ya rapi, bersih wangi gitu lho, nduk" Mamanya kembali ke mode cerewet , melupakan kejadian bahwa bebedapa detik yang lalu mereka baru saja menumpahkan air mata, namun sekarang sudah merepet saja.


Haifa memutar bola matanya malas, Mamanya gak bisa manis manis gitu tiap hari kayak tadi, membuat kepalanya pusing saja, padahal kan ia mau rebahan seharian ini, tanpa memikirkan Kahfi dan pernikahannya yang menghitung bulan, duh Haifa kembali mulas mengingat ia akan menikah dalam waktu dekat ini.


"Kok melamun, sana mandi Haifa! Tak telpon Kahfi nih ya suruh kesini biar kamu kelimpungan sendiri" ujar Heni sambil mendorong dorong Haifa menuju kamar mandi

__ADS_1


"Mama ih, apa apa Kahfi, dikit dikit Kahfi. Gak seru"


"Biarin, Kahfi kan Mantu kesayangan Mama, masalah getoh buat kamu? Sentak Mamanya berapi api


Haifa melongo mendengar kalimat yang dilontarkan Mamanya, Mamanya bisa gaul gitu bahasanya, dapat dari mana? tolong ingatkan Haifa nanti agar menghapus channel tv yang berisikan sinetron sinetron alay , ia tidak mau Mamanya semakin mengoleksi kata kata tidak jelas itu.


***


Haifa keluar kamar mandi setelah setengah jam menghabiskan waktu mandinya, ia membuka gawainya dan mendapatkan pesan dari Kahfi yang menanyakan bahwa lakilaki itu akan datang kerumahnya untuk melepas rindu karna tidak bertemu 2 hari ini. "lebay banget sih Fi, baru aja dua hari udah mencak mencak" Haifa memeluk handphonenya erat dipangkuan, pipinya merona merah karna merasa bahagia begitu Kahfi mengatakan rindu, padahal Kahfi sendiri mengatakannya setiap hari, namun Haifa tetap merona malu.


"Huh, bentar lagi nikah, bentar lagi bagi kamar sama Kahfi, bentar lagi Kahfi mandi disini sama tidur disini, aaaa Mama Haifa maluuuu" Teriak Haifa sambil berguling guling di ranjangnya


Haifa, maunya apasih?

__ADS_1


__ADS_2