
Cia menangis terus menerus hampir satu jam lamanya tak ada yang bisa menenangkan nya bahkan kedua orang tuanya sekalipun. Entah mengapa bayi perempuan itu rewel sekali. Tidak ada angin, Tidak ada hujan ia tiba-tiba l menangis saja.
Seorang pria seumuran papa Cia menurunu anak tangga menuju ke pinggir kolam renang.
"Kamu kok nangis terus kenapa nak ? Siapa yang buat princess papa nangis "Sean menghapus air mata di wajah putrinya.
" Kenapa anakmu ? "
" Ehh kapan datang ? "Darlen duduk di sebelah Sean.
"Jam 2, "
"Tidur lagi sana. Aku tau kamu pasti mengantuk "
"Liat ke atas "Sean mengikuti titah Darlen.
" Liat situasi sekarang "
Sean mengaruk tengkuk yang tak gatal.
"Kamar ku di atas, aku baru tidur dua jam dan anakmu menangis tepat di bawah sini bagaimana mungkin aku ga denger "
"Sini cia biar sama om saja " Sean menyerahkan cia pada Darlen. Seketika Cia tenang hanya terdengar isakan saja.
"Cup... cup.. cup anak manis. Kalau gini kan kamu nya cantik, anggun dan mempesona. Sudah ya nak jangan nangis "
Sean dongkol bagaimana bisa putrinya langsung tenang di dekapan Darlen.
'Astaga putriku ini memang benar-benar menyukai Darlen'
"Kenapa yan ? "
"Hah ? "
"Kenapa liatin nya begitu "
"Ohh enggak "
"Nih anaknya udah tenang "
"Oek... oek.. oekk "
Sean dan Darlen tersenyum kecut.
"Aku ingin tidur lagi. "
"Bawa saja anakku "
"Bagaimana dengan Freya ? "
"Dia semalam menjaga Cia karena buang hajat terus. Sekarang paginya dia buat sarapan, aku akan memintanya istirahat. Aku juga ada meeting online. Kamu bisa membawa Cia bersama mu "
"Baiklah... baiklah. Ambil saja di kamarku jika sudah selesai meetingnya "
"Aku sarapan dulu ya " Sean mengangguk.
__ADS_1
Sean melihat Darlen masuk membawa Cia juga.
"Anakku baru saja berusia tiga bulan di dunia udah ketemu jodohnya. Tau banget sih dia kalau paman nya ganteng. "Sean geleng-geleng kepala.
Sean memulai meeting di ruang tamu, sejak semalam ia memutuskan menginap di rumah orang tuanya.
Setelah selesai meeting selama dua jam Sean memeriksa ke kamarnya.
" Masih tidur ternyata, pasti capek " Lalu Sean pergi ke kamar sebrang kamar Darlen.
Cia tidur lelap di pelukan Darlen, bayi genit itu sepertinya menyukai paman nya ini.
"Nak.. nak.. seneng banget namplok sama paman mu padahal paman mu belom mandi "
Gaya tidur Cia persis seperti Freya. Ketika tidur memeluknya tangan Freya memegang perut Sean dan kakinya menindih kaki Sean. Pokoknya Freya suka mendominasi gaya tidur.
...******...
Freya duduk sendirian di pusaran makam kecil putranya. Setelah sekian lama bungkam dan menghindar mengenai putranya barulah hari ini Freya mengunjungi putranya.
Selepas berdoa Freya mengusap Nisan tersebut seakan ia mengusap kepala anaknya.
Belum ada ucapan yang keluar namun Freya sudah berderai air mata.
"Aku.... emmm... aku.. aku perempuan yang mengandung dan melahirkan mu. Kuharap kau tau itu. Aku belum pernah dan tidak akan pernah bisa melihat wajahmu lagi. Aku belum sempat memegang mu. Saat aku menutup mata kamu membuka mata dan saat aku membuka mata kamu menutup mata. "
"Informasi kecil darimu itu adalah bahagiaku. Sebelum menghembuskan nafas terakhir kamu berada di dekapanku katanya kamu menyentuh leher dan mengeliat. Aku ingin menyaksikan saat itu.. aku ingin mengusap kulit lembut mu dan melihatmu. Bukan dari katanya melainkan aku ingin melihat sendiri "
"Maafkan aku, karena melahirkan mu dalam keadaan yang kurang baik. Harusnya kamu tumbuh bersama kakak perempuan mu. Aku minta maaf... Tolong maafkan aku. Aku sangat bersalah sekali padamu. "
"Anakku.. Putraku.. pangeran kecilku. Jadilah pangeran kecil di surga nak, bahagialah disana. Setiap helaan nafas ku adalah setiap doa yang selalu ku panjatkan untukmu. "
"Panggil aku ibu ya. Aku ingin di panggil ibu. "
Wanita dengan pakaian serba hitam-hitam itu mengusap dengan lembut nisan milik putranya tidur.
Mama Sean menemukan menantu sedang duduk di taman sendirian.
"Sedang apa dia malam-malam begini ? "
"Freya "
"Mama " Frenda duduk di samping Freya.
"Mama kira kamu di kamar sehabis cuci piring tadi "
"Sean sedang asyik bermain dengan Cia juga kakeknya "Freya mengangguk.
Frenda melihat ke arah langit yang gelap.
" Sepertinya akan turun hujan sebentar lagi, berangin juga "Frenda mengusap kedua lengan secara silang.
"Dari tadi kamu diam saja, apa ada yang kamu pikirkan ? "
"Tidak ada ma, "
__ADS_1
"Kamu terlihat tidak semangat, Mood berpengaruh besar pada Asi mu Freya "
"Dulu saya dengan sukarela menerima Ocha di keluarga saya, sebagai menantu saya. Saya suka dia anak yang baik, ramah dan lembut dalam berbicara. Anak itu ber attitude sekali. Saya mulai tidak menyukai ketika dia punya seribu macam alasan kenapa tidak hamil padahal isyarat tatapan Sean benar-benar mendambakan anak. "
"Lalu Sean menikah lagi denganmu. Ini semacam terobosan baru di dalam hidupnya. Sean itu anaknya bucin bahkan kami orang tuanya aja kalah kalau udah menyangkut Ocha. Jadi saat kami dengar kabar dia menikah lagi kami benar-benar menyambut baik. "
"Entah perempuan itu seperti apa kami tidak peduli. Kamu tau Freya, kami curiga saat Sean pergi ke Swiss selama tiga bulan disana, dia suka kasih kabar, nanya minta dibawa oleh-oleh apa atau dia minimal upload di story media sosialnya. Tapi waktu itu beda banget. Ternyata dia lagi bawa oleh-oleh bayi dan istri baru "
"Dari tatapan nya..saya ibunya yang melahirkan dia sangat tau. Apa yang berubah dari anak itu. Dia memang menyukaimu bahkan cintanya langsung berpindah kepadamu begitu saja. Hal-hal kecil yang tidak kamu ketahui itu semua Sean lakukan "
"Saya benci diri saya ketika saya tidak bisa menerima kamu yang mengalami masalah psikis. Sean bercerita apa yang kamu lalui dan beserta waktu kalian di Swiss. Hingga kehidupan mu. Saya kesal, marah dan jengkel pada diri saya sendiri bisa-bisanya saya kecewa pada orang yang mengalami cukup banyak penderitaan. "
"Dokter bilang pada Sean jika kamu nihil untuk di selamatkan tapi dia bersikeras dan akan memecat siapa saja yang mencabut alat pernafasan mu. Katanya jika kamu meninggal setidaknya dia sudah berjuang untukmu. "
"Kau harus mengerti Freya, Ada orang lain yang juga harus kamu pikirkan. Dia juga berduka atas kepergian putranya namun dia menyembunyikan supaya kamu lekas sembuh dari trauma. Saya ingin kamu sembuh dengan hadirnya banyak cinta di sekitarmu. Agar kalian berdua pun bisa melanjutkan rencana hidup yang baik "
Freya menoleh ke belakang dari kejauhan ia melihat betapa senangnya Sean pria itu memberikan banyak ciuman di wajah Cia sambil mengayunkan bayi genit itu.
Sean masuk ke dalam kamar, sudah pukul 11 malam rupanya ia melihat istrinya belum juga tidur.
"Cia bangun ya ? "
"Enggak kok, "
"Tidur sayang, kamu perlu istirahat juga "
"Kamu minum obat apa ? "
"Obat Sakit kepala, beberapa hari ini aku sering pusing kepala "
"Aku pijitin mau ga ? "Sean mengerutkan kening.
"Sini tiduran "
"Ohh okey.. aku minum obat dulu "
"Tapi udah makan tadi " Sean mengangguk masih sibuk mencerna apa yang terjadi.
Sean berbaring di paha Freya. "Kalau aku tertidur bangunin ya biar kaki kamu ga kram "
"Iya, tidur yaa "
Dengan usapan dari Freya begitu mudahnya membuat Sean tidur. Pukul dua pagi Sean terbangun ia melihat posisi tidurnya masih sama seperti lima jam yang lalu.
"Astaga pasti kakinya kram "
Sean melihat Cia tidur diposisi sama yang dengan dirinya.
"Ya Allah, pasti anakku rewel sampai aku tidak bangun "
Ranjang Cia memang terpasang di ranjang orang tuanya jadi agar tidak turun lagi dari ranjang.
Cia tertidur lelap dengan memeluk dada Sean sedangkan sang ibu tidur dalam kondisi bersandar dengan piyama putih nya terpasang tak beranturan.Sean dengan perlahan pindah dari paha Freya lalu mengangkat Cia.
Terdengar rengekan kecil Sean buru-buru meletakkan Cia di dadanya dan tidur kembali.
__ADS_1
Sean menarik selimut untuk dirinya dan juga Freya. Ia takut memindahkan tubuh Freya yang akan membuat wanita itu menjerit akibat kram.