
Freya bangun di pagi hari. Kehamilan sudah menginjak delapan bulan dan hari ini Freya akan mengecek kandungan bersama Sean.
"Tinggal satu bulan lagi kita akan bertemu anak-anakku sayang. Mama jadi ga sabar membawa kalian ke dunia ini. "
"Kita akan cek kalian yaa hari ini. Bentar mama siap-siap dulu "
Freya memasukkan barang-barang di dalam tas.
"Ahh botol minum ku kosong, isi dulu deh "
Freya menuruni anak tangga ia melihat ke sekeliling dapur.
"Tumben sepi pada kemana yaa orang-orang ? " tanya Freya.
Satu pelayan masuk ke dalam rumah.
"Loh bi, yang lain mana kok sepi ? "
"Ada yang ke pasar dan ada sebagian yang lagi bersih-bersih di taman belakang. Juga sebagian lagi ada yang dekor kamar "
Freya mengangguk-ngangguk paham.
"Pak Sean mana Bi ? Udah siap-siap kah ? "
"Sudah nyonya, "
"Oh tapi kok kamarnya masih ke tutup apa ada bu Ocha "
"Bu ocha pagi-pagi sekali tadi pergi. Kira-kira sekitar jam 5 pagi "
"Dih ! ngapain dia pagi-pagi pergi. "
Freya naik ke kamar nya.
Freya tiba-tiba terjatuh pintu kamar langsung ditutup.
Seseorang menyetel kedap suara di kamar itu.
"Siapa kamu ?! "
Freya di pukul oleh Vas dari belakang hingga kening berdarah.
Seseorang yang berpakaian seperti maling bahkan wajahnya pun di tutup oleh kain hitam.
"Siapa kamu ?!!!! "
Freya bergerak mundur dengan menyeret tubuhnya orang itu bergerak maju.
"Tolong.... TOLONGGGGGGGG !!!!!!!! "
Cermin itu di lempar ke arah Freya hingga wajah penuh seketika dengan goresan.
Orang tersebut mendekat dan menghajar Freya. Freya memberikan perlawanan dengan mencubit perut. Namun sayang tangan nya langsung di tendang.
"Hiks.. hiks.. hiks hiks... hiks hiks "
Disaat memastikan Freya sudah lemas dan tak berdaya. Dengan teganya orang tersebut menyeret kaki Freya menuju balkon.
"Tolong aku mohon jangan.. Kasihani anakku. Biarkan aku melahirkan nya lebih dulu..jangan anakku. Biar aku saja yang meninggal "
Kemarahan orang itu makin menjadi ia mencekik leher Freya.
Freya menggunakan tangan kirinya untuk melakukan perlawanan.
Perlawanan yang terakhir kalinya yang bisa ia lakukan.
Freya meraih apa saja yang bisa ia lakukan.
Di waktu yang bersamaan Freya ternyata menarik kain hitam di wajah orang tersebut dan bertepatan dengan jatuhnya dia dari balkon.
Ocha tersenyum ia bahkan melambaikan tangan pada Freya.
Sean sedang berada di ruang kerja. Dengan setelan kantor. Sean tengah berdiri melihat ke arah kolam renang mewah miliknya.
Sean membulatkan mata ketika melihat siapa yang jatuh dari lantai dua. Air yang baru saja dibersihkan kemarin tiba-tiba berubah menjadi warna merah darah sedikit demi sedikit.
"Tidak... tidak... tidak TIDAK "
Sean bergegas membuka pintu kaca nya dan menceburkan diri ke dalam kolam bewarna merah itu.
Para pelayan yang mendengar teriakan di kolam renang bergegas kemari.
Seluruh pelayan terkejut melihat air berubah jadi merah. "HAH ? "
Panik
Histeris
Sebagian lagi berteriak.
"ASTAGFIRULLAH "
__ADS_1
"AAAAAA "
"Ada apa ini ? "
"Tidak tau. Ada teriakan disini "
Sean langsung membawa Freya naik ke pinggir kolam setelah mendapatkan istrinya.
"Freya... Freya... Freya "
"Freya buka matamu !!! "
"Freya.. sayang buka matamu " ujar Sean.
Sean memeriksa nadi dan detak jantungnya.
Air mata Sean lolos seketika. "Freya.. tidak.. tidak.. tidak.. Tidak Freya "
Sean bergegas memberi nafas buatan pada istrinya dan memopa jantung Freya.
"FREYAA !!!!! " Teriak Darlen dari arah dapur.
"Sean apa yang terjadi ? "
"Panggil ambulan Darlen. Cepat panggil ambulan. Freya ga bernafas "
"Astaghfirullah Freya "
Darlen menelfon rumah sakit sementara Sean memberikan pertolongan berupa nafas buatan.
Sean merengkuh Freya ke dalam pelukan nya.
"Freya Anastasia.. Freya Anastasia.. Istriku bangun sayang "
Darah mengalir dari bawah Freya.
"Tuan nyonya Freya mengalami pendarahan "
Sean menangis dan menjerit.
"Tidak Freya.. jangan lakukan ini padaku. Tolong Freya hiks hiks hiks hiks hiks "
Darlen melihat sendiri bagaimana Sean memeluk Freya dengan erat bahkan Sean sesekali menciumi wajah Freya.
"Jangan tinggalkan aku Freya. Tolong "
Sean panik sekali ia terus memberikan nafas buatan tanpa henti.
"Freya jangan begini. Kumohon tetaplah bersamaku. Jangan tinggalkan aku "
Darlen juga ikut menangis. Hingga dibawa ke rumah sakit pun Freya belum kunjung juga bernafas.
"Pasien bernama Freya Anastasia. Berusia 19 tahun. Tidak bernafas kurang lebih 15 menit dan mengalami pendarahan "
Dokter memeriksa dada Freya laku ke perut.
"Siapkan ruang operasi. Kita harus selamatkan bayinya "
"Keluarga ibu Freya "
"Ya.. yaa saya " jawab Sean ia berjalan lunglai.
"Pak Sean " Dokter memberi hormat.
"Saya langsung saja yaa, Ibu Freya dan kedua anaknya dalam kondisi kritis. Kami hanya bisa menyelamatkan dua dari tiga nyawa jika itu memungkinkan. "
"Apa istriku akan selamat dokter ?"
Dokter tersebut hanya bisa diam. "Kemungkinan besar istri anda yang tak bisa kami selamatkan. "
"Tidak Freya. Tidak "
"Kami akan meminta persetujuan anda untuk melakukan operasi. "Sean merebut kertas itu dari tangan perawat.
Ia membaca secara singkat dan cepat. Hal yang paling menyakitkan bagi Sean adalah ketika ia harus memilih buah hatinya yang sudah lama ia tunggu atau perempuan yang di cintainya.
Sean mencentang sesuatu yang membuat Darlen yang ikut membaca nya menegurnya.
"Sean! "
"Lakukan operasi segera dok. "
"Bawa pasien ke ruang operasi segera. "
"Baik dokter "
Sean duduk di kursi kembali dengan wajah yang merah. "Kau gila ! bagaimana bisa kau masih memilih menyelamatkan Freya disaat dokter bilang jika Freya tak ada harapan. Mendingan kamu selamatkan dua anakmu "
"Darlen jika kau berada di posisiku kau akan mengerti. "
"Aku menunggu lama untuk anak tapi aku pun juga menunggu lama untuk dapat pasangan yang tepat. "
__ADS_1
"Jadi apa aku tanpa Freya. " Tangan Sean gemetar dan kaki terus bergerak gerak tanpa henti.
"Freya akan segera di operasi kita harus berdoa agar nyawa ketiganya selamat. "
"Freya... Freya.. Freya.. Freya "
Lampu operasi menyala, Sean dan Darlen menunggu di depan.
Darlen miris melihat keadaan Sean yang duduk di lantai depan pintu ruang operasi sembari memanggil nama Freya terus.
"Tuan Darlen. "
"Ini pakaian yang anda minta "
"Terima kasih. Aku ingin tau siapa pelaku yang sudah melakukan ini pada Freya. "
"Ibu Ocha berada di kamar nyonya Freya sejak pukul 6 pagi. Kami baru tau setelah memeriksa CCTV yang sempat dimatikan. "
"Dimana Ocha sekarang ? "
"Bu Ocha langsung dibawa ke markas oleh Gio. Bu Ocha sempat kabur dan tim berhasil menangkapnya tadi "
"Apa itu perintah dari Sean ? "
"Aku memberitau mereka jika Ocha bukan istriku lagi. Kami sudah resmi bercerai. Dan ku bilang pada mereka jika mereka bisa lakukan apa saja pada Ocha dan aku tidak peduli. "
"Jangan beri dia makan. Beri dia air putih saja "
"Baik Tuan " Sean mengambil tas yang berisi bajunya dan kemudian pergi.
Sean telah kembali dengan kemeja putih dan celana biru.
"Apa tidak kejam hanya memberi nya minum dia lagi hamil ? "
"Bersyukurlah aku masih ingin memberinya minum. "
"Dia membunuh Freya yang juga sedang hamil bahkan aku menyaksikan sendiri Freya jatuh dengan badan yang lemas dan luka gores dimana-mana " ujar Sean kembali menitihkan air matanya.
Di ruang operasi dokter bekerja keras. Mereka tidak tau siapa perempuan hamil ini namun karena Presdir Sean adalah walinya maka mereka harus mengeluarkan banyak kekuatan dan cara agar semua nyawa yang menempel di hidupnya juga dapat selamat.
Nenek dan kedua orang tua Sean tiba dalam keadaan panik juga.
"Darlen, bagaimana Freya ?"
"Freya masih di ruang operasi. Kami belum tau mengenai keadaan sekarang "
"Sean kau bisa berjalan ? " Tanya Nenek.
Adzan dzuhur tiba-tiba berkumandang. Sean berjalan dengan lunglai. Sean melirik ke arah jam tangan.
Ternyata sudah empat jam Freya berada di ruang operasi entah berapa lama lagi waktu yang diperlukan dokter. Rasanya empat jam begitu lama dilalui olehnya.
Setiap detik menit dan jam Sean habiskan dengan perasaan marah, sedih, khawatir dan sesak. Rasanya bernafas pun tak sanggup dilakukan Sean.
Bagaimana keadaan nya ?
Apa dia baik-baik saja ?
Apa Sean bisa melihat Freya lagi atau Freya harus di tutup kain putih ?
Apa saat sarapan tadi menjadi kenangan terakhirnya bersama Freya ?
Banyak pikiran yang hinggap di kepala Sean memikirkan bagaimana Freya ke depannya.
Sean berjalan pergi meninggalkan keluarganya.
"Sean mau kemana ? "tanya sang papa. Namun Sean tetap berjalan.
Disinilah Sean duduk termenung di dalam masjid.
Freya Anastasia dia adalah istriku dan hamba mu. Sudah empat jam ia berada di ruang operasi dan sama sekali saya tak tau apa yang terjadi. Jika memang istriku harus kembali kepada mu tolong biarkan aku menemui nya sekali lagi dan berbicara padanya. Namun jika belum saatnya kembali tolong jagalah istriku. Istriku adalah perempuan yang begitu mulia dan baik hati. Aku berjanji akan membahagiakan nya. Tolong selamatkan istriku. Amin.
"Sean "
"Papa " Putra nya itu memeluknya.
"Kuatkan dirimu Sean. Apapun yang terjadi nanti kamu harus kuat. Entah istrimu atau anakmu itu memang jadi suratan untukmu. Kematian dan kelahiran itu sudah menjadi takdir yang di tetapkan. "
"Freya itu milik Allah dia bukan milikmu. Jika dia harus kembali maka yang bisa kamu lakukan ikhlas. "
Sean memeluk papa nya lebih erat sembari menangis kencang. Sang papa hanya bisa menepuk punggung putra semata wayangnya.
"Dok bagaimana keadaan Freya ? Apa dia baik-baik saja ? Apa dia selamat ? Apa istrimu masih hidup ? "
"Sean tenanglah " ujar sang mama.
Dokter hanya diam sesaat para perawat mengeluarkan seseorang yang terbaring di brankar dengan kain putih.
"Tidak... tidak.. tidak... tidak "
Nenek menangis seketika ketika melihat siapa yang keluar dari ruang operasi.
__ADS_1
Darlen menutup mulutnya yang terbuka. Air mata juga lolos.