
Katakanlah aku bucin, ya memang aku bucin, Haifa dan segala tingkah lakunya yang menggemaskan berhasil menarik perhatianku dari awal aku melihatnya, teringat waktu itu dia sedang ditaman, mengobrol dengan balita dengan mimik seriusnya, melihat raut mukanya yang seperti sedang memikirkan sesuatu, seolah olah dia mengobrol bersama orang dewasa padahal hanya dengan bayi ,membuatku tertarik dan mendekatinya, setiap mengingat itu rasanya aku ingin menariknya kepelukanku sekarang juga, dia benar benar cantik dan imut dalam satu waktu. Mungkin besok aku perlu menyambangi rumahnya dan memeluknya sepanjang hari, padahal baru kemarib kami menghabiskan waktu bersama sepulang ia membeli buku, namun sekarang rinduku sudah tak tahan, Sekarang aku butuh tidur, agar besok mempunyai tenaga untuk menggodanya, bukan hanya menggoda, aku juga ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting, penting bagi kewarasan hidupku.
Haifa tunggu Kahfi, ya?
"Mmhh mmhh.." Haifa menggeliat resah ditempat tidurnya , ia merasa terganggu saat seseorang memeluknya erat dan lehernya dikecup beberapa kali
"Morning, Fa" bisik Kahfi ditelinga Haifa dengan lirih
" Emm, Fi kok udah disini? lepasin dulu aku sesek ih " ujar Haifa sembari berusaha melepaskan tautan tangan Kahfi dipinggangnya
"Kangen kamu"
"Masa udah kangen aja, kan baru tadi malem ketemu" Haifa berkata sambil beringsut mundur dan duduk bersandar bantalnya
" Trus gaboleh? " Kahfi bertanya dengan menatap Haifa tajam
" Emm bbb-ooleh kok Fi, tapi aku belum mandi, masih bau bobok Fi, kan malu " cicit Haifa diakhir kalimatnya, dirinya benar benar malu dilihat Kahfi dalam keadaan pagi begini, Haifa hanya memakai kaos tipis dan hotspant pendek, dengan rambut acak acakan dan keadaan muka yang tidak tau bagaimana, entah ada beleknya atau bekas iler dibagian mana, yang jelas Haifa malu! walaupun ini bukan pertamakalinya Kahfi melihatnya bangun tidur, tapi kan Haifa mau terlihat selalu cantik dimata Kahfi.
__ADS_1
" Kenapa malu sama aku? aku pacar kamu-ralat , calon suami kamu " ujar Kahfi seraya mengelus pipi Haifa yang memerah malu
" Calon suami? " lirih Haifa sembari mengangkat pandangannya kearah mata Kahfi
" Iya calon suami, habis lulus ini kita menikah, aku udah bilangin ke mama papa aku, sisanya tinggal minta izin mama kamu " jelas Kahfi dengan panjang
" Tapi Fi, kan aku masih mau kuliah, mau nerusin citacita aku, nanti abis nikah aku gabakal punya waktu lagi , Fi " Haifa mengeluarkan pendapatnya tentang rencana Kahfi yang mengajaknya menikah muda, dirinya baru 18 tahun dan akan menikah? Hell, nanti bagaimana dengan citacitanya yang ingin menjadi sarjana ekonomi dengan perusahaan toko roti yang sukses? nanti bagaimana dengan rencana masa depannya yang sudah ia susun matang matang, Haifa berpikir rencana Kahfi sangat egois dan tidak memikirkan pendapatnya dulu, ia kesal sekaligus senang karna Kahfi benar benar membuktikan bahwa ia serius memiliki hubungan dengan dirinya, tapi dengan menikah diumur segini, rasanya Haifa belum sanggup untuk mengemban beban rumah tangga yang kata orang berat itu.
" Kenapa kalo menikah? aku bakalan tetap ngebolehin kamu kuliah, kita sekampus nanti, aku bisa jagain kamu, dengan menikah aku bisa milikin kamu secara utuh, Fa. Aku bisa gila kalau nanti kalo kamu pergi, kamu cuman milik aku "
" Aku mau pergi kemana? aku hidup dari kamu, Fi. Kok kamu gini sih! " Haifa mencebikkan bibirnya sedih, Kahfi tau bahwa ia selama ini hidup dari Kahfi, namun ia masih bersikap seakan Haifa akan meninggalkannya , setiap mengingat hal itu, Haifa kesal dengan dirinya yang hanya bisa menyusahkan Kahfi, memang ia dan mamanya mempunyai toko roti didekat komplek perumahannya untuk menunjang kehidupannya karna papanya telah meninggal akibat kecekalaan tunggal 5 tahun silam. Tetapi toko itu dimodali Kahfi dan keluarganya , meskipun Kahfi meminta untuk tidak mengembalikan modalnya, namun Haifa dan mamanya bersikeras untuk tetap mengembalikan modal tersebut, bahkan ia dan mamanya sudah mempunyai cukup uang untuk membayarnya, tetapi Kahfi masih terus menunda menerima.
" Ihh kok udah ngomongin anak aja sih! Haifa memerah malu dan mengalihkan tatapannya kesembarang arah, "tapi Fi, menikah itu butuh persipaan jiwa, kamu sanggup ngadepin sikap aku ini seumur hidup kamu?" sambungnya lagi
" Aku sanggup kalo sama kamu, aku mau kamu Fa "
" Yaudah" lirih Haifa
" Yaudah apa? " tanya Kahfi jail
__ADS_1
" Yaudah itt-u " Haifa berseru gugup sambil memilin ujung bajunya
" Yaudah nikah? " bisik Kahfi ditelinga Haifa
" I-yaa " ujar Haifa gugup karna sekarang Kahfi mengecup lehernya dan mengusap punggungnya pelan
" Aku gasabar, Fa "
CUP
Kahfi beranjak dari ranjang Haifa setelah meninggalkan Haifa dengan satu kecupan di pipi gadis itu.
###
**Haii! ini cerita pertama pinky, mohon dukungannya teman teman😊
- 2 april 2020-
Dari pinky yang sedang gabut**.
__ADS_1