SERENDIPITY

SERENDIPITY
15. Saudara angkat ku dan istriku


__ADS_3

"Ayok buka mulutnya " Sean mengeleng.


"Heh kamu ga mau ? Nanti ada ulat loh keluar malem-malem dari sela gigi terus dia makan giginya Sean perlahan dan pas bangun beuh Sean sakit gigi " kata Freya.


"Jadi buka mulutnya supaya ga ada ulat "


Sean tetap menutup mulutnya rapat-rapat.


"Ehmm kalau begitu Sean mau sakit gigi. Ga dengerin omongan Freya ? Sean senang mulutnya bau begitu ? " Sean mengeleng.


"Nah, ayok bukan anak ganteng. Kita ga boleh biarin ada ulat bukan "


Sean tak menjawab. "Tentu saja, ayok di gosok "


"Sudah selesai. Sekarang istirahatlah besok kita akan melakukan tes dan mencari solusi supaya kamu segera sembuh kembali "


Sean memperhatikan segala hal yang dilakukan Freya. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan handuk dan peralatan kebersihan Sean.


Ocha meraba-raba di bawah ranjang.


"Ahh ini dia "Ocha membuka ponsel banyak pesan dan panggilan dari Sean juga Darlen.


"Kenapa Sean menelfon ku tumben sekali "


"Ahh sudahlah nanti aku hubungi lagi "


"Siapa sayang ? "Seorang pria dengan gambar tato di dada menghampiri Ocha.


"Suamiku "


Wiliam menyeringai "Ada apa dengan nya ? "


"Aku tidak tau ini kali pertama dia menelfon ku berulang kali padahal aku sudah bilang akan pergi dua minggu "


Wiliam menyesap leher Ocha yang menjadi titik sensitif perempuan itu. Ocha mendesah tangan nakal tak tinggal diam mulai menggoda wiliam.


"Aku pasang kamera "


"Untuk apa ? "


"Malam ini aku ingin melakukan malam panas bersama mu dengan hebat sayang. Dan jangan lupa ini " Ocha memamerkan dua bungkus putih satu bubuk dan satunya pil.


Wiliam tertawa. "Astaga jadi kamu ingin kita minum ini untuk gila-gila *** begitu "


Ocha tersenyum. Bubuk putih itu ia masukkan ke mulut Wiliam semua lalu wiliam bekerja untuk saling transfer dan menelannya.


Kamar itu bagaikan kapal pecah belah tidak di tinggalkan oleh kedua insan itu bahkan beranjak keluar mereka hanya sibuk saling melepas kerinduan satu sama lain.


Obat-obatan juga suntikan mereka gunakan untuk saling melakukan *** dengan hebat dan nikmat.


Kembali ke Sean dan Freya.


"Sudah tidur, pasti obatnya sudah bekerja " Freya menarik selimut untuk Sean dan kemudian mematikan beberapa penerang ruangan.


"Sean..Semoga kamu tidak mendengar dan memang kamu sudah tidur. "


"Tadi siang Ocha menjawab telfon ku tapi yang ku dengar adalah ******* wanita dengan seorang pria bahkan bunyi menjijikan aku tidak mau berspekulasi tidak-tidak. Semoga itu bukan Ocha ya Sean. Kasihan kamu begitu mencintainya tapi dia malah melakukan hal sebaliknya. "


"Selamat tidur, Cepat sembuh ya papa "Freya mencium kening Sean.


Freya tidur di sofa yang bisa jadi ranjang juga. Sean kemudian membuka mata perlahan ia memastikan jika ternyata Freya sudah tidur.


Menyetel dzikir untuk memecahkan keheningan di ruangan itu. Freya tak tau lagu apa yang mesti ia setel.


"Kamu harus mulai dzikir di hatimu. Ikuti terus liriknya, Kembali ke Tuhan Sean. "perintah tegas Freya. Setiap kali mengingat Sean yang ingkar janji Freya gemas sekali.


Sean menurut. "Kita sarapan terus jam delapan kita harus tes "


"Jangan khawatirkan apapun. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan. "


Freya menyuapkan makanan ke mulut Sean. Sean mendorong piring itu "Kamu ingin aku makan juga. " Sean mengangguk.


"Baiklah, tapi apa gapapa kalau kita satu sendok ? "Sean mengangguk.


" Yasudah "


"Kamu jangan khawatirkan kondisi ku. Nenek dan ibu mu selalu membawa makanan sehat untukku "


"Papa mu harus mengurus kantor supaya kita punya uang buat bayar rumah sakitmu. Jadi tolong mengerti ya "


Sean tersenyum Freya begitu manis seolah dirinya adalah putra Freya yang sedang diberi nasihat.


Sebelum pergi ke ruang pemeriksaan, terlebih dahulu Freya membersihkan kateter urine Sean.


Freya melihat di balik kaca besar bagaimana tes mulai berjalan.


Bodyguard Sean menghampiri Freya.


"Bagaimana apa sudah ketemu Nyonya Ocha nya "


"Seperti dugaan anda jika benar nyonya Ocha sedang di salah satu hotel yang ada di Indonesia. Tepatnya di Bali "


"Lalu apa lagi ? "


"Maaf nyonya, Nyonya Ocha bersama kolega dan mereka menginap satu ruangan " Bisik bodyguard itu.


"Pak, tolong rahasiakan ini ke siapapun ya. Anggap saja bapak dan saya tidak pernah tau hal ini "


"Pak Sean sedang sakit dan Nyonya Ocha adalah istrinya sangat tidak etis buat kita memberitau " Bodyguard tak mengerti jalan pikir Freya yang memilih bungkam tentang aib ini.


Bodyguard itu patuh dan tidak mau ikut campur. Juga keputusan Freya ada benarnya.


Freya membalikkan badan ia tersenyum dan menunduk kepala pada suster yang sudah mengatur infus dan selang oksigen. Sean sudah siap kembali ke ruangan.


"Sebentar lagi kita akan liat hasilnya kamu lapar ga ? "


Sean mengangguk. "Makan buah dulu ya "


Ibu dan Nenek sama-sama mendengarkan hasil tes dari dokter.


"Kelumpuhan mencapai 90% karena di samping kejepit juga ada alkohol yang diminum Pak Sean kadar tinggi dan banyak, kalau untuk kesembuhan kita adakan terapi seminggu 3 kali, terapi di rumah pun akan di lakukan dan juga di rumah sakit. "

__ADS_1


Dokter pamit setelah memberi arahan dan penjelasan terkait makanan dan terapi yang bisa dilakukan Freya.


"Kondisi mu berangsur pulih kemungkinan kita akan pulang "


"Kamu bosan kan disini " Sean mengangguk.


"Tentu saja aku pun bosan disini "balas Freya dengan mengubah suaranya menjadi laki-laki.


"Freya mama bawain ayam rica-rica ayok makan dulu biar Sean mama yang jaga "


"Oke bu "


Freya duduk bersama nenek di sofa yang membuka tantang untuknya.


"Kamu pulang saja Freya. Kamu pasti lelah selama Sean ada disini kamu tidak meninggalkan nya sama sekali "


"Jangan khawatir Nek. Aku baik-baik saja. Lagipula aku hanya ngatur ini dan itu tidak berat "


"Nak kamu harus pulang ayok nurut sama nenek. Istirahat di rumah nanti sore kamu boleh kembali. Kamu bawa cicit nenek loh kasihan. "


"Yasudah kalau begitu, "Freya tak mau membantah.


"Habiskan makan mu baru pulang ke rumah istirahat ya " Freya menurut.Nenek membelai rambut hitam lurus Freya.


Freya menghampiri Sean melihat Freya mendekati.


"Aku pamit pulang yaa. Nanti sore atau malam aku kembali kesini. Gapapa kan " Sean mengedipkan mata.


Freya meraih tangan dan mencium tangan laki-laki itu.


"Aku pamit ya "


Freya pulang bersama bodyguard yang mendampingi nya.Bodyguard tersebut menunduk hormat pada Sean.


Akhir-akhir ini Freya tidur di kasur yang kurang nyaman namun meski begitu Freya tak mau protes, sebentar lagi ia akan jadi ibu dan dirinya akan jadi contoh bagi anaknya untuk hidup dimana saja bisa.


Waktu terus berjalan hingga perempuan itu lupa jika ia akan kembali jam 5 sore.


Freya buru-buru turun dari tangga ia baru keluar kamar pukul 8 malam.


"Nyonya makanan sudah siap ? "


"Ahh makasih bi, maaf ngerepotin yaa "


Freya keluar bertepatan dengan Darlen yang hendak masuk.


"Nyonya "


"Pak Darlen. Ngapain disini ? "


"Loh kok nyonya ada disini ? "


"Loh kok balik nanya. Saya ketiduran janjinya mau balik ke rumah sakit jam 5 tapi ini justru jam 8 malam. Saya buru-buru, permisi "


"Sama saya aja mau ? "


"Ehh tapi ? "


Freya mengangguk.


"Pak, saya pergi sama Pak Darlen saja "


"Oh begitu baiklah Nyonya. "


"Jaga rumah ya pak. Saya tinggal "


Freya mengenakan lipstik di dalam mobil dan hal itu tak lepas dari pandangan Darlen.


Freya melirik ke arah samping Darlen kembali fokus ke jalan.


"Eumm tidak masalahkan ? "


Darlen menoleh kilat "Hah ? Apa ? "


"Aku memakai lipstik "


"O.. Ooh silakan. Lagian udah ke tempel di bibir juga kan "Freya menunduk malu.


"Iyaa sih "


Freya mengikat rambutnya dan menurunkan poninya.


"Saya rasa Nyonya tidak perlu mengikat rambut "


"Kenapa ? Aku gerah melihat rambutku menjuntai. "


Karena Nyonya terlalu cantik.


"Anda sudah menikah tidak baik saja leher anda dilihat orang "


"Aku sedang mencari gebetan "


"Anda ingin selingkuh "tanya Darlen begitu kaget.


Freya tertawa. "Untuk apa berselingkuh kalau saya sudah jadi selingkuhan orang "


"Lalu untuk apa mencari gebetan ? "


"Aku dan Sean akan berakhir. Jadi aku harus mempersiapkan semuanya. Kalau bisa aku cari pria tajir dan ramah "


"Memang selama lima bulan menikah apa Nyonya dan Tuan Sean tidak ada benih-benih cinta "


"Ini perutku bukan benih " Darlen mengerutkan kening.


"Pftt hahahahah "


"Cinta. Itu hanya di novel dan drama saja. "


"Padahal kalau saya perhatikan setelah Tuan Sean dan Nyonya menikah hubungan kalian lebih dekat bahkan Tuan Sean sering tidur di kamar Anda. "


Freya terdiam. Darlen yang menyadarinya kemudian menambah.

__ADS_1


"Itu hanya penilaian saya. Namun jika salah Anda bisa mengkoreksi saya "


"Tidak.. Tidak.. Sudah ku bilang aku tidak mudah tersinggung "


"Wajar Sean ke kamarku. Ocha kan sering bekerja di luar negeri. Lagipula jika dia tidak dapat jatah dari Ocha dia akan meminta padaku. "


"Memang tidak ada cinta diantara kalian saat melaksanakan kewajiban "


"Aduh.. Aduh kamu terlalu polos anak muda. " Freya menepuk pundak Darlen keras.


"Argh "


"Anda kecil tapi kuat juga ya "gumamnya.Darlen mengusap pukulann.


"Aku tidak mau baper pada orang yang jelas tak bisa kumiliki. Dia memperlakukan sebagai pemuas nafsunya bukan sebagai istri. "


"Kalau pun dia melakukan hal-hal yang romantis aku kira itu semata-mata hanya untuk anaknya tidak lebih. Aku tau ke depannya bagaimana hidupku jika aku jatuh cinta pada orang yang sulit ku raih "


"Aku tak suka menambah luka dan mencoba berharap jadi aku bodoamat "


"Kenapa Anda berpikir jika Tuan Sean mencintai Nyonya Ocha saja,bisa saja Tuan Sean mencintai Anda juga atau cinta nya beralih ke Anda seutuhnya ? "


"Aku ingin ngakak sebenarnya tapi aku takut pipis di mobilmu. Orang bodoh mana yang masih mempertahankan seseorang yang tidak ada effort nya lagi ke kita kecuali cinta. Semua orang itu tau kok kalau sih lawan atau pasangannya mulai ga ada effort lagi cuman yaa dia membohongi dirinya"


"Orang itu tau kok mana yang dia bosan atau mana yang dia pengen akhiri hubungan ini "


"Jika Sean tidak mencintai Ocha dia tidak mungkin bertahan selama 7 tahun bahkan aku pernah melihat mereka bermain anehnya Sean selalu menggunakan pelindung, Ocha membuat banyak aturan. Ocha seperti polisi saja. "


Darlen tertawa.


"Pria bodoh itu bahkan memohon agar Ocha mau hamil. Laki-laki mana yang mau mempertahankan perempuan yang tidak mau hamil anaknya. "


Freya lanjut memakai bedak sembari membalas ucapan Darlen.


"Dia itu kaya, bodoh dan tolol. Gimana bisa seorang laki-laki yang memohon, harga dirinya kemana juga Sean itu. "


"Kami juga pernah bertengkar saat itu dan aku menjelekkan Ocha kamu tau Sean bahkan rela menamparku dan berteriak agar aku jangan menghina Ocha. "


"Setelah mendengar banyak point penting lantas bagaimana caranya aku bisa mencintai Sean. Aku tak mau ambil resiko dan enggak mau suka Sean. Ribet dan cowok itu terlalu banyak drama "


Darlen terkekeh, jika Sean dengar ini mungkin ia akan mengajak Freya berantem dan adu mulut.


"Jadi tipe cowok seperti yang anda inginkan ? "


"Entahlah "


"Ketimbang mencari laki-laki aku lebih ingin fokus pada anakku saja. "


"Tapi kalau kamu mau menjadi calon suamiku, kamu bisa mendapat daftar tunggu paling awal "


"Huh ? " Darlen tiba-tiba mengerem mendadak.


Keduanya saling berpandangan di dalam mobil.


"Hahahahahhaa.. Kamu bertanya terus tentang laki-laki. Aku sedang pede nih, lagian aku tidak pernah disukai pria waktu aku sekolah "


Darlen mengeleng kepala. Ia kemudian menjalankan mobilnya lagi.


"Jangan bohong "


Ini cewek lagi rendah diri atau memang ga ada yang naksir yaa


"Tidak aku tidak bohong. Dulu aku suka pria dan pria itu justru jadian dengan temanku. Saat aku SMP, aku punya kekasih, kekasihku selingkuh. Jadi tiap deket sama cowok itu pasti ga dapat entah aku yang salah atau cowoknya yang ga mau. "


"Aku ingat kata seorang ustad jika keadaan seperti itu berati kita sedang di jaga oleh Tuhan, Tuhan pengen dia aja yang di cintai. Tuhan ga pengen cinta hambanya lebih besar ke ciptaan nya. "


"Aku ga bekerja cuman dirumah terus minta jodoh, gimana juga dapatnya juga. Sebenarnya uang tuh dikirimin aja sih tapi yah ga enak lah. Udah lulus sekolah tapi ga bisa ngehasilin uang gitu setidaknya kan kalau ga bisa bagi ke orang tua bisalah kita ga ngerepotin orang tua dengan biaya hidup kita "


Darlen tersenyum mendengar ucapan Freya.


"Ya intinya seperti itu "


"Bagaimana perasaan Nyonya waktu dinikahi oleh Tuan Sean ? "


"Perasaanku sedih dan marah. Rasa-rasanya aku berdoa ga buruk deh apalagi dalam perkara minta jodoh. "


"Jadi maksud anda Tuan Sean itu buruk "


"Tentu saja "Darlen tertawa.


" Siapa juga yang mau dengan pria beristri, pemarah, ga mau ngalah, dan gila juga tukang mabok "


Darlen akhirnya sampai ia mengantar Freya menuju ke ruangan Sean.


"Bagaimana dengan toko ku ? Apa semua baik-baik saja. Toko ku masih berjalan kan "


"Alhamdulillah semua baik. Ramai pengunjung karena kan malam minggu "


"Ohh begitu syukurlah "


Freya menekan lift, di belakang Darlen tersenyum memandangin Freya yang berdiri di depannya.


"Oh ya tadi kamu ke rumah ngapain ? "


"Ada berkas penting milik Sean yang di minta papa nya. "Freya mengangguk.


"Nyonya tidak pegal kakinya "


"Pegal sih "


"Lepas saja sepatunya "Freya menurut ia melepas sneakers putih dan langsung memberikan pada Darlen.


Darlen mengeleng kan kepala.


" Berat pak Darlen. Bawa tas, rantang ini lagi. Itung-itung ini ide nya Pak Darlen sendiri "


Freya tersenyum tanpa Darlen ketahui. Kedua orang itu tak menyadari jika mereka dapat dilihat oleh satu sama lain.


BRUK


Frenda, nenek dan Sean melihat ke arah pintu.

__ADS_1


__ADS_2