
"Aaaaaaa tidak... tidak... tidak... tidak... tidak "
"Aaaa lepaskan aku lepaskan aku "
"Argh!!!!!!!! tolong lepaskan aku "
"Freya ini aku Sean. Ini aku suamimu, Ini suami Freya "
"Lepaskan aku... Lepaskan aku hiks hiks hiks hiks tolong.. tolong "
"Freya kumohon tenanglah aku hanya ingin membersihkan milikmu, sudah waktunya untuk di ganti "
"Hiks.. hiks.. hiks hiks Lepaskan aku tolong lepaskan aku "Freya menolak dengan sangat keras ketika Sean ingin membersihkan darah nifas nya.
Yang membuat hati Sean semakin sakit ketika begitu ketakutan disentuh olehnya.
" Pak biarkan kami saja "
Sean menoleh ke belakang dua orang perawat perempuan tadi yang menawarkan bantuan.
Beginilah penampakan yang terjadi kedua tangan dan kakinya Freya di ikat lalu istri dari Sean itu merengek dengan keras.
Ketika telah selesai di bersihkan Freya masih saja menangis.
Sean duduk di ranjang Freya ia melihat air mata yang terus mengalir di wajah Freya.
Terdapat bekas guratan merah di kaki dan tangan Freya sebagai bukti pemberontakan.
Dokter psikiater mengatakan jika Freya mengalami gangguan kejiwaan di tubuhnya di temukan kekerasan dan perempuan tersebut mengalami pelecehan hingga membuat trauma yang mendalam.
Sean mengusap tangan Freya, Freya bergerak gelisah dan mencoba menghindar.
"Ini menyakitkan untukku Freya "
"Bagaimana bisa kamu pun takut denganku ? Bekas-bekas di tangan dan kakimu menjadi jawaban seberapa terluka nya kamu "
"Jangan melukai dirimu terus. Kau tidak salah, tidak ada yang menyalahkan mu. Kami menunggu disini. Suamimu dan putrimu "
Sean menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Freya.
"Aku tidak tau apa yang terjadi pada hari itu, tapi apapun nanti yang ku ketahui itu tidak mengubah pandangan ku padamu. Kamu tetap Freya "
Langkah Sean terhenti ketika Freya berkata,
"Sebagai apa ? "
Sean berbalik badan, Freya melepas perekat di tangan dan kakinya.
"Sebagai pemuas nafsumu atau sebagai simpanan mu atau sebagai perempuan yang pencetak bayi. Yang mana diriku ? "
"Bicara apa kamu, tentu sebagai istriku, "
Freya menitihkan air mata. "Bohong, "
"Tidak ada kebohongan untukmu Freya, aku hanya punya kejujuran "
Freya melempar vas bunga ke hadapan Sean.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA " Freya memukul kepala.
"Freya.. Freya ada apa ? " Sean memeluk Freya.
"ARGH !!!!!! "
"Tidak... tidak... tidak... lepaskan aku... aku ingin mati saja "
"Aku ingin mati saja Sean !!!!!! "
Sean memeluk dengan erat istrinya itu. Badan lemah itu Sean rengkuh ke dalam dekapan untuk ia kuatkan dan beri semangat kembali.
Mama Sean duduk di sebelah putranya.
"Jadi apa ini sungguh keputusan mu ? "
Sean mengangguk. "Aku ingin Freya punya ruang untuk anaknya. Mungkin anaknya adalah obat nya. "
"Sean, kamu tau kan jika kami tidak menghalangi Freya bersama bayinya. Keadaan nya memang seperti ini, ibunya koma dan bayi nya harus melanjutkan hidup "
"Sekarang ibunya sudah sadar dan sedang menderita dengan gangguan psikis nya. "
"Dia terluka parah ma, dan dua-duanya sedang aku perjuangkan untuk bisa sembuh raga dan jiwa nya "
Mama Sean menghela nafas berat.
Dua hari kemudian....
"Selamat datang di rumah sayang "
"Ini rumah baru kita ? "Tanya Freya.
"Kita tinggal di apartemen dulu untuk sementara waktu. "
"Duduk disini, kamu pasti haus kan sebentar aku buatin minuman "
Freya melihat ke sekeliling yang bisa matanya tangkap.
__ADS_1
Desain dan perabotan yang diletakkan di ruang tamu cukup elegan dan mewah di pandu kan dengan warna coklat muda pada dinding.
"Jus jeruk nya "
"Terima kasih " kata Freya.
Ting... tong... ting.. tong
"Akhirnya datang juga "
"Sebentar aku ambil paket dulu "
Darlen tersenyum sumringah membawa keranjang kecil yang isinya adalah paket yang di tunggu Sean sejak tadi.
"Bunga mu "
"Terima kasih " Darlen mengangguk. Ia menyerahkan keranjang kecil bewarna pink itu dengan hati-hati pada Sean.
"Apa itu ? " tanya Freya melihat bunga besar di keranjang yang lucu.
"Buka lah, kau pasti bahagia melihatnya "
"Woahhh " Freya sumringah melihat isi hadiah tersebut yang rupanya adalah bayinya sendiri.
Air mata haru kembali jatuh membasahi wajahnya. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan sang anak.
Bunga matahari itu menutupi wajah putrinya hingga Freya sempat mengira jika itu sekumpulan bunga matahari.
Freya mendekap putrinya dengan penuh kehangatan dan kelembutan.
Di saat ibu lain melihat dan mendekap anaknya Freya justru tak bisa melakukannya. Bahkan ia harus menyerahkan putrinya untuk diberi ASI oleh Rosa.
"Sayang.. anak mama "
"Cantik sekali, kamu sayang "
Freya menyatukan hidung nya pada anaknya. Sean ikut nimbrung diantara kedua kesayangannya.
"Putri kita cantik sekali Sean " kata Freya yang tak henti memuji paras Valencia.
"Namanya Valencia Indira Kusuma, Panggilnya Cia "
"Hallo Cia yang cantik. Ini mama nak. "
"Cia sayang, ini mama kandung mu. Dia yang melahirkan mu ke dunia. Kau pasti bisa merasakan nya karena kamu selalu memeluknya "kata Sean memberitahu pada putrinya.
Cia memperhatikan dengan seksama wajah wanita yang baru ia lihat sekarang.
Cia tiba-tiba menangis " Sayang kenapa ? "
"Ada apa tidak penuh ? "
"D.. dia haus. Apa kamu bisa memberinya ASI atau aku akan membuat---"
"Jangan, Aku bisa memberinya ASI. Aku bisa kok "Freya membuka kemeja putihnya untuk memberi buah hatinya ASI pertama darinya.
" Syukurlah kamu bisa mengeluarkan ASI. "
"Awalnya ASI sedikit sekali tapi Wiliam waktu itu meremas nya hingga aku kesakitan "
"Maaf yaa "
Freya bertatapan dengan Sean lalu buru-buru memutuskan nya dan beralih ke Cia yang menyusu padanya.
..._____________...
Sean berdiri di depan pintu kamar yang terbuka dan mengetuknya.
"Sayang, "
"Iya, ada apa ? "
"Temanin aku sarapan. " Freya mengangguk. Ia kemudian membawa Cia yang sudah ia mandikan ke ruang tamu.
"Besok kamu dan Cia akan ada pemeriksaan kesehatan. Jadi------"
Sean melirik ke arah Freya yang memandangi tangan dengan intens.
"Ada apa ? "
"Huh ? "
"Tanganmu " Freya mengeleng kepala sembari tersenyum simpul.
"Aku pergi sebentar saja, jam 12 aku akan pulang "
"Baiklah "
Di sela menikmati sarapan yang dibuat Freya, Sean sesekali melirik ke arah Freya yang terlihat aneh hari ini.
"Aku berangkat ya, " Freya mengangguk.
Sean memeluk Freya tiba-tiba saja di depan pintu apartemen.
"Aku selalu menyayangimu. Aku akan terus menghormati. Tolong jangan lakukan apapun yang membuatku kehilangan mu. "
__ADS_1
"Jika ingin sesuatu kamu bisa kirim pesan padaku " Freya mengangguk.
Sean pergi ke rumah nya yang dulu tempat dimana terjadi insiden yang hampir saja merenggut nyawa istri keduanya.
"Bawa dia padaku "
"Baik Tuan "
Ocha dengan pakaian kusut, rambut acak-acakan dan wajah yang kusam sudah duduk di hadapan Sean. Wajah Ocha penuh memar hingga membuat tubuhnya lemas.
"Ini sudah dua bulan Sean, apa kamu tidak bosan menyiksaku ? "
"Bahkan selamanya pun masih tetap akan kurang. Setelah apa yang kau lakukan pada Freya mustahil aku membiarkan mu masuk penjara begitu saja. "
"Sean aku sedang hamil-----"
"Bacot ! Kau dan Wiliam sialan itu juga menyakiti Freya bahkan dia juga hamil dan segera melahirkan !!! "
"Tidak ada pengampunan untukmu dan sih brengsek itu "
Ocha menangis namun tangisan tak dapat lagi membuat Sean goyah atau merasa kasihan padanya.
"Jika kau bebas, kau juga akan di tangkap polisi atas pembunuhan Wiliam. Orang tua Wiliam mencari mu sekarang "
"Kau membunuh Wiliam ?! " Sean menyeruput lemon tea langsung menyiram wajah Ocha.
PRANG
PRANG
PRANG
PRANG
"Gilaaaaaaaaa kamu " teriak Sean. Barang-barang miliknya di lempar sembarangan.
"Iyaa aku gila kenapa. Kenapa memang nya jika aku gila ?!! "balas teriak Ocha.
" Apa salahku ?!! Sudah cukup menyiksaku Sean !!!!!!! "
"Dia ga seharusnya jadi korban keegoisan kamu. Kamu lihat !!!!!! Lihat !!!! sekarang ada perempuan muda yang mengalami depresi di apartemen ku karena ulahmu. " Sean menunjuk-nunjuk dada istrinya.
Ocha mendorong Sean.
"Mas kamu juga jangan nyalahin aku sepenuhnya dong. Dosa itu kamu juga yang lanjutkan sendiri kan. Kamu tidurin dia kamu jadikan dia fantasi mu. Ini juga ada campur tangan kamu lah. Ga usah sok suci deh mas "
"Freya, Sean tadi kemana ? "Tanya Darlen yang sedang menimang Valencia.
"Dia tadi pamitnya ke kantor sebentar "
"Oh begitu, Aku bawa Valencia ke bawa boleh ga ? Ke pinggir kolam renang "
Sedangkan di sebuah apartemen paling mewah di negara X seorang perempuan dengan kondisi berantakan tatapan mata kosong, lingkar mata yang menghitam, tubuhnya kurus , tulang pipi terlihat, wajah pucat tengah memegang cater dan di sebelahnya ada lengannya yang siap ia iris nadi.
Perempuan itu dengan mata kosong mulai mendekatkan cater itu ke nadinya.
"Argh !!!!!!!! "
"Cia, hari cuaca nya bagus ya. Kita coba berenang nanti deh pas kamu udah empat bulan "
"Cantik mirip mama nya "kata Darlen memperhatikan wajah Cia.
Tiba-tiba saja Cia merengek, " Oh kamu pasti kepanasan yasudah ayok kita temui ibumu "
"Hanya ibumu yang punya sesuatu yang kamu butuhkan "
Beberapa orang yang melewati tersenyum sembari menyapa ke Cia juga.
"Wah kamu dapat banyak sapaan. Kamu seperti ibumu saja yang bisa memikat perasaan orang "
"Freya aku datang "
"Freya "
"Freya "
"Freya "
"Bentar ya nak, kamu di Box dulu "
Darlen mengetuk kamar Freya.
"Freya ini aku Darlen. Kamu di dalam kan ? "
"Freya "
"Freya "
"Kok ga ada jawaban "
"Freya aku masuk yaa. Permisi "
Darlen mencari sang pemilik hingga ia menemukan seseorang perempuan sudah terkapar dengan tangan yang penuh oleh darah.
"*.. *... *... t... no.. Freya "
__ADS_1