
Kaki Freya tersandung pintu.
"Ooowwoowww "
BRUK
Frenda, Nenek dan Sean melihat ke arah Freya yang jatuh menindih tubuh Darlen. Darlen ikut terkejut sebab jarak wajah dengan wajah Freya begitu dekat. Hanya beberapa senti saja lagi.
Sean jangan tanya dong. Pastinya dia sudah terbakar-bakar di ranjang tak bisa berbuat apa-apa dan cuman melihat.
Freya terpana dengan ketampanan Darlen. Laki-laki yang menjaga nya itu tampan sekali. Lebih tampan dari Sean.
"Kamu baik-baik saja ? " Freya mengangguk.
Freya bangun dari tubuh Darlen perlahan.
Nenek dan Frenda terkejut. Sean memanas kembali mungkin kali ini lebih panas daripada sup di atas kompor.
Darlen mengendong Freya untuk sampai ke atas Sofa. Ia lalu membaringkan Freya disana.
"Pa.. pak Darlen. "
"Aku khawatir padamu. Jangan ceroboh kamu bisa saja kesakitan. Untung tadi jatuhnya tidur bukan duduk. "
Nenek tersenyum memperhatikan Freya dan Darlen. Darlen seperti ayah yang siaga menjaga istrinya.
"Kamu butuh minum atau apa ? "Freya mengeleng kepala.
" Aku baik-baik saja "
"Freya, tidak usah bangun. Tidur saja. "
"Nenek, mama. Maaf ya Freya baru datang. Freya ketiduran tadi "
"Gapapa sayang, kami paham kok kamu butuh istirahat. Maka dari itu kami tidak menghubungi mu "
"Mama dan nenek senyum-senyum apa ada yang lucu ? "
"Tidak.. Tidak mama tadi bercerita dengan nenek tentang masa kecil Sean dan Darlen makanya kami tertawa "
"Oh begitu "
Setelah Darlen pergi, Sean tak kunjung memejamkan mata.
"Kenapa belum tidur ? Kamu lapar atau mau pup ? "Mata Sean melirik kotak makan yang dibawa Freya.
Pasangan suami-istri makan malam diatas ranjang pasien sambil bercerita. Mungkin dalam kondisi seperti ini hanya Freya saja yang berbicara pada Sean.
"Baguslah makan ya banyak biar gendut cepet pulang juga ke rumah "
"Masakan di rumah sakit ga enak yaa " Sean mengedipkan mata.
"Untung tadi aku masak sebelum kesini. Untung juga aku bawa lauk dan nasi yang banyak karena yang hamil ada dua yaa " Freya menepuk perut Sean.
"Kamu tau ga tadi pas mau berangkat aku pas-passan gitu sama Pak Darlen. Akhirnya kami bareng kesini di mobil kami cerita. "
"Dia tanya tentang rencana ku setelah bayi ini lahir dan tipe cowokku begitu. "
"Aku akan hidup dari penghasilan dari toko kue, lalu membesarkan anakku, memberinya banyak pengetahuan dan pengalaman yang terbaik. Ku bilang aku tuh susah mau cari pasangan lagi lebih mau fokus ke anak saja "
"Kamu tumben tidak merespon. Apa ada yang salah ? "Sean mengeleng kepala.
" Ayok makan lagi "
"Aaaaaa "Sean menghindar.
" Kenapa, apa kamu sudah makannya ?"
Sean memalingkan wajahnya.
"Ohh mungkin kamu ingin tidur. Yasudah aku turunkan dulu posisi ranjangnya "
"Selamat tidur mimpi yang indah yaa " Kata Freya menarik selimut.
Freya melanjutkan makan malam sendiri di atas sofa. Selama hamil di pikiran Freya hanya makan, makan dan makan tidak ada yang lain.
Air mata Sean mengalir meski mata tertutup. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya ia tanpa Freya atau tanpa bayinya. Bagaimana menjalin hidup. Sean tak kuasa menghadapi itu semua.
Sean membuka matanya tiba-tiba. Uang dan kuasa ada di tangan nya. Dia pendiri beberapa perusahaan dan juga anak tunggal. Sean tidak akan pernah di tinggal oleh Freya apapun yang terjadi. Sean akan menjaga berlian itu di dalam hidupnya setidaknya Sean memiliki Freya sepanjang hidupnya.
"Sean... Sean... Seannn hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks hiks hiks "
"Sean hiks hiks hiks "
Freya terbangun karena ada suara tangisan kuntilanak. Samar-samar ia melihat sosok perempuan memakai pakaian merah jangan lupakan keminiman nya sangat-sangat minim jika boleh saran sekalian saja tidak usah pakai baju, duduk saja pasti akan kelihatan bentuk ****** ********.
Kembali ke topik.
__ADS_1
Rupanya Sean terbangun. Freya tidak tau kapan Sean bangun.
Freya melepas mukena menghampiri Ocha. Ocha mendongak melihat Freya yang matanya sayup-sayup.
"Bagaimana bisa ini terjadi Freya ? Hiks hiks hiks hiks ohh Sean ku yang malang "
"Sean pulang dari club dan kecelakaan karena mabuk. "
"Ngomong-ngomong darimana saja, aku telfon berkali-kali "
Ocha menyekap air matanya.
"Aku mengalami perampokan di Paris ponsel dan dompet ku semuanya hilang jadi aku harus mengurus data-data ku disana. Aku baru membeli ponsel dan Papa mertuaku yang menelfon pertama kali "Freya mengangguk-ngangguk.
Kita mah percaya-percaya aja lah.
" Aku meninggalkan pekerjaan ku selepas mengetahui keadaan suamiku. Hiks hiks Sean bagaimana ini ? Kenapa kamu jadi seperti ini ? "
Ocha mengeluarkan pandangan ke arah tas hitam.
"Freya itu apa ? "
"Oh itu tas isi baju dan peralatan Sean "
"Hari ini Sean akan pulang ke rumah "
"Apa ? Bukankah ini terlalu cepat. Sepertinya Sean mengalami banyak luka-luka. "
"Dia sudah hampir sebulan disini "
"Salah satunya dia tak bisa berbicara. Sean mengalami kelumpuhan hingga hanya mampu menggerakkan jari-jarinya saja. "
"APA ? BAGAIMANA BISA ? Sean Ya Tuhan sayang kita akan cari rumah sakit terbaik untukmu yang bisa menyembuhkan dirimu. Aku akan buat kamu bisa berjalan dan bergerak lagi tenang saja. "
"Kenapa tidak mengirim Sean ke rumah sakit terbaik sih Freya. Jangan pentingkan uang, bagi orang seperti kami kesehatan lebih penting "
Bagi orang seperti kami jujur saja Freya tersinggung mendengarnya seolah ia dan dua orang di depan nya ini beda.
"Hey nyonya desainer Sean dari kemarin bergantung pada alat penunjang hidup."
"Freya mulutmu bau sekali pergi makan sana ahh "
"Aku belum gosok gigi, ya sudah aku ingin mandi. Kau gantikan aku "
"Gantikan apa ? "
"Kenapa kau menyuruhku ? "
Freya membulatkan mata dan dongkol.
"Kamu kan istrinya bukankah seharusnya kamu...Huft Berbaktilah pada suamimu " Freya menepuk pundak Ocha lalu bergegas ke kamar mandi.
Ocha membersihkan bekas tangan Freya yang menempel di pundak.
"Ihh dasar miskin " Ujarnya.
Freya memperhatikan kamar mandi yang basah.
"Masa iya ada yang pipis disini. "Kata Freya.
"Freya.. Freya mikir apa sih kamu. Sean pipis, mana mungkin. " Freya mengelengkan kepala ia lalu menggantung handuk.
"Sayang apa ada yang sakit. Apa aku melukaimu. Kamu kesakitan yaa "
Sean mengeleng kepala "Aku akan coba pelan-pelan "
Sepuluh menit kemudian Freya keluar. Seperti di kamar rumahnya Freya berjalan santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Freya langsung duduk dan memainkan ponselnya.
Pandangan Ocha tak lepas dari istri kedua suaminya. Freya tau jika sedang di pandangin namun ia acuh.
Tok
Tok
Tok
Pintu di ketuk nampak lah Darlen disana.
"Selamat pagi nyonya Freya. "
"Pak Darlen selamat pagi "
Darlen duduk di sofa tunggal melihat Freya sedang berkemas.
"Pak Sean keluar hari ini yaa "
__ADS_1
"Iya jam 11 kalau ga ada halangan, bagaimana kondisi rumah ? "
"Mama dan papa sudah menyiapkan keperluan Pak Sean di rumah. "
"Baguslah, "
"Saya bantu Nyonya berkemas "
"Terima kasih Pak Darlen "
Ocha kesal melihatnya Darlen hanya menganggap Freya saja di dalam ruangan ini.
"Darlen aku juga nyonya mu bukan kenapa kamu tidak menyapaku. "
"Darlen itu cucu saya dia tidak pantas memanggilmu Nyonya " Darlen, Freya, Sean Dan Ocha melihat ke arah wanita tua yang baru saja masuk.
"Darlen kamu tidak perlu memanggil istri-istri Sean seperti itu. Kamu juga cucu nenek dan keluarga kami. "
"Jika kamu tidak tau pendiri kereta api terbaik di negeri ini itu milik Darlen. Nenek dan papa Sean hanya menjaganya saja sebelum itu diambil oleh Darlen sendiri. "
Freya menyenggol lengan Darlen.
"Wahh kamu ini keren juga "Freya memberi dua jempol pada Darlen. Darlen tersenyum malu Sean memutar mata malas.
" Dan kamu Ocha ini peringatan pertama dan terakhir dari saya. Jika kamu sampai memperlakukan Darlen seperti kacung kamu berhadapan dengan saya "
Ocha menunduk kepala.
Dokter masuk ke dalam bersama para suster dan mulai melakukan pengecekan pada Sean.
"Tuan Sean sudah bisa pulang ke rumah sekarang "
"Terapi akan dimulai dua minggu lagi sembari menunggu tolong di latih terus Tuan Sean untuk mau bergerak seperti yang saya ajarkan "
Freya mengangguk.
Ocha merebut segala hal yang ingin dilakukan Freya seperti memakaikan Sean baju dan menarik kursi roda.
"Freya kamu duduk saja, kamu kan sedang hamil "
"Baik nek " Ucap Freya kemudian duduk di sofa kembali.
Mata Sean tertuju terus ke Freya. Freya sibuk ngobrol dengan mama, papa dan Darlen.
Mereka sedang tertawa entah apa yang dibahas perempuan hamil itu.
Sean melirik ke arah Ocha. Sungguh Sean ingin bergabung bersama mereka. Justru Sean malah duduk disini bersama Ocha wanita yang ia benci itu malah memasangkan kancing bajunya. Benar-benar menyembalkan.
Dengan menggunakan kursi roda Sean keluar, Freya dan Darlen di posisi paling belakang.
"Freya bukankah hari ini jadwal cek kandungan "Kata papa.
"Iyaa benar "
"Jam berapa ? "
"Sebentar lagi "
"Yasudah kamu cek up saja. Apa perlu papa temanin " Freya mengeleng.
"Biar sama saya saja " Ucap Darlen.
"Bagaimana Freya, kamu mau ? " Tanya papa.
"Baiklah. Tapi sebelum itu bisa kita makan sebentar aku lapar nih "
"Kamu cepat lapar Freya."Celetuk sang nenek, Freya menyengir.
Sesampainya di mobil Freya menghampiri Sean.
" Aku tidak ikut, aku harus cek kandungan. Tidak apa-apa kan " Sean memegang tangan Freya.
"Sean kamu pulang duluan, aku akan menyusul yaa "Freya memberi pengertian. Justru Sean memegang jari tangan Freya kian erat.
Freya membisikkan sesuatu di telinga Sean yang membuat tubuh Sean menengang.
Ocha mendengus kesal melihat kedekatan Sean dan istri keduanya itu kian dekat.
"Freya pergi sana. " Usir Ocha. Perempuan itu memutuskan ikatan tangan Sean dan Freya.
Freya melambaikan tangan ketika dua mobil Alphard putih itu mulai berjalan keluar.
"Ayo baby kita periksa dirimu. Jangan sampai buat papa khawatir okey " Kata Freya pada perutnya.
Darlen terkekeh ketika Freya berjalan lebih dulu masuk ke rumah sakit lagi sambil bersenandung dan sesekali memainkan kakinya.
Benar-benar anak kecil.
__ADS_1
Sean melihat ke arah luar mobil. Lengan nya di usap lembut oleh Ocha. Rasanya tidak seperti dulu saat Sean belum mengetahui kebusukan istrinya mungkin jika belum tau Sean pasti begitu senang di perhatikan dan di sayang Ocha.