
Freya menaikkan tubuh Sean ke kasur.
"Sudah malam waktunya beristirahat. Selamat tidur "Freya menghadiahkan kecupan singkat di kening seperti biasa.
"K.. Kenapa ? "Tanya Freya. Sean menyentuh kelingking Freya.
" Kamu mau sesuatu "Sean mengangguk.
" Apa ? "
Sean memperagakan bentuk benda atau apapun dengan susah payah.
"Kamu mau makan lagi yaa " Sean mengangguk.
"Ya ampun selama sakit kamu suka makan yaa. Tapi ga gendutan beda banget sama aku yang makin hari makin gendut. " Freya memayumkan bibirnya ke depan.
Sean tersenyum, Ia melihat ekspresi mengemaskan Freya yang ingin ia cium seluruh wajahnya.
"Aku ambilkan dulu ya sebentar. "
Sean jadi lebih suka makan setelah keluar rumah sakit. Dia jadi pria yang tidak pilih-pilih makanan dan menyukai hal manis.
Ocha masuk ke dalam kamar dengan wajah panik.
Sean pura-pura menutup mata karena ia tau langkah kaki ini bukan milik Freya.
Sean membuka mata sedikit ia melihat-lihat rupanya Ocha sedang membuka laci dan lemari milik Sean.
Ocha kegirangan mendapat dompet nya.
Apa yang dia inginkan ?
Kartu-kartu di dompet Sean diambil oleh Ocha beserta uang di dalamnya.
"Maaf Sean aku harus menyelamatkan butik ku. "
Wanita itu mengeluarkan sebuah kertas yang ada materai disana.
Jari Sean di tarik pelan mengarah ke tinta merah. Namun Sean menolak.
"Sedang tidur kenapa masih menolak. Maaf Sean aku perlu uang mu tolong bertanggung jawab sebagai suamiku. Anggap saja ini nafkah "
Tangan itu berhasil menempel di cap merah lalu pindah di atas materai.
Freya.. Tolong.. tolong aku.Aku hanya bisa bergantung padamu sekarang.
"Bagus, Terima kasih Sean. Terima kasih "kata Ocha.
Freya mendorong kuat Ocha hingga mengenai badan lemari.
Ocha tetbentut dengan sangat keras.
" Argh "
Freya langsung merebut kertas itu dan merobeknya.
Ocha melihat dan langsung mencakar Freya namun Freya lebih sigap. Satu tangan mencengkram leher Ocha.
"Lepaskan Freya"
"Lepaskan!! "
Freya melempar vas bunga hingga mengenai dada Ocha.
"Apa yang kau lakukan dasar wanita miskin ?! "
"Aku yang harusnya bertanya apa yang kau lakukan dengan kertas dan ATM itu "
Ocha hendak menampar namun di tahan Freya yang justru meremas tangan Ocha.
"Aku tidak sudi tangan kotor mu menyakitiku. "
"Suamimu lumpuh bahkan ia pun tak bisa berbicara tapi kamu masih sempat-sempatnya menguras uangnya. "
"Ini bukan ATM nya ini ATM ku "
" Kau tidak bisa membohongiku, Dompet nya Sean ada disana "
"Kau keterlaluan wanita miskin, perempuan murahan "
"BODOAMAT "
"Aku bersumpah akan membuatmu takut "
Freya menyeringai. "Siapa bilang aku ketakutan memang kamu tau aku takut "kata Freya tanpa rasa bersalah.
"Apapun yang berakhir denganku tak akan selamat. Bisa jadi anakmu selamat tapi kau tidak selamat "
"Jika aku tidak selamat maka kau pun harus demikian. "
Ocha tersenyum. "Kau belum tau aku Freya. Aku bisa melakukan apa saja. Tunggu pembalasanku "
Freya menyeringai begitu dengan Ocha.
Freya menghampiri Sean yang membuka matanya. "Kamu pasti ketakutan. Maaf ya aku terlambat "
Freya mengambil lagi kartu ATM milik Sean yang jatuh berhamburan lalu memasukkan lagi ke tempatnya.
"Syukurlah aku bisa mengagalkan aksinya. "
"Kasihan sekali kamu. Sudah tidak bisa bergerak, bicara dan sekarang uangmu diambil bahkan dia tidak merawatmu sama sekali " Sean tersenyum pada istri keduanya.
Rupanya masih ada orang yang berhati baik yang tersisa.
Freya mengambil kertas-kertas yang ia rebut lalu di robeknya.
Freya menyusun kertas itu bagaikan menyusun puzzle.
Freya melotot ketika kata demi kata yang ia baca. Sean menaikkan sebelah alisnya ketika Freya menoleh.
__ADS_1
"Ini surat pemindahan ahli waris "Sean pun juga melotot.
" Surat ini berisi bahwa kamu akan menyerahkan seluruh harta mu padanya "
"Dasar wanita serakah! Awas kau "Kecam Freya.
Ocha mengacak rambutnya frustasi di sebuah kamar hotel.
Kehamilan ini membuatnya sulit. Tiap pagi muntah, cepat lelah dan mudah mengantuk.
Hingga semua pekerjaan Ocha jadi terganggu.
"Katanya desainer internasional tapi apa! Ini gaun pernikahan yang akan saya pakai kok beda sama konsep sih! mutiara di pinggang sih bukan di menyamping di badan. Bisa kerja ga sih !! "
"Dress saya kenapa bau gini sih.. Di cuci ga sih ! "
"Ini gaun 500 ratus juta loh saya bilang disesuaikan sama desain "
"Yang desain siapa yang ngerubah siapa. Kayak keliatan ibu-ibu tau ga sih ! "
"Mbak Ocha ini baju untuk desain ulang tahun saya kok bentuknya kayak kawinan gini. Ngerti konsep ulang tahun ga sih malah warna nya hijau lagi saya kan bilang nya pink ! "
Ocha menghabiskan banyak waktu dengan Wiliam, ketimbang pekerjaan yang membesarkan namanya. Akibat masalah yang terjadi Ocha harus mencari uang untuk menganti kerusakan yang ada apalagi karyawan harus di gaji.
Uang itu ia habiskan untuk ke Club malahan Ocha harus membayar seluruh gaji karyawan dua kali lipat sebab karyawan lembur semua.
"Dasar kau Freya !!!! Awas saja kau " Ocha melempar vas bunga di kamar hotel itu ke lantai.
"Eitss, Sayang ada apa ? "Wiliam menghampiri Ocha.
" Wili.. Sayang maafkan aku. Aku tidak tau jika kamu datang "
"Ada apa sayang ? Kenapa kamu bisa semarah ini ? "
"Tidak apa-apa hanya masalah kecil terjadi "
"Benarkah ? Sayang aku tau kamu sedang ada masalah. Katakan apa itu ? Aku akan membantumu "Wiliam memeluk tubuh ramping Ocha dari belakang.
"Kau selalu membantuku ketika aku sulit berbeda sekali dengan suamiku "Ocha membalas genggaman tangan Wiliam yang ada di perutnya.
"Aku lebih baik daripada Sean kan. "
"Tentu saja kau lebih menyenangkan dan lebih kuat di ranjang " Wiliam tersenyum.
"Jika ada yang bisa ku bantu katakanlah ? "
Ocha memayumkan bibirnya.
"Sebenarnya sih ada ? "
"Baiklah apa itu ? "Ocha kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Wiliam.
" Aku bisa lakukan itu untukmu "
"Benarkah ? "
"Itu bukan hal yang sulit. Tapi ada hadiahnya dong "Wiliam mencolek dagu Ocha.
Freya sedang menghitung keuangan di lantai atas. Syukurlah semakin hari rezeki untuk kedua bayinya semakin mengalir deras. Freya jadi tak perlu pusing memikirkan hidup kedepannya.
"Alhamdulillah rezeki kalian nih Twins. Biaya buat persalinan dan satunya lagi buat bikin rumah buat kalian. Mama semangat kerja nih supaya kalian bisa hidup dan makan yang enak "ujar Freya mengelus perutnya.
Hari ini Freya di temani oleh Darlen ke toko karena Darlen ada waktu senggang. Freya merasa canggung setelah mengetahui jika Darlen merupakan orang kaya juga. Bahkan derajatnya sama seperti Sean.
Di parkiran yang tak jauh dari toko Freya. Sebuah mobil membawa banyak gas elpiji di dalamnya sedang mengawasi.
Mobil itu melaju kencang menuju ke toko kue Freya.
Bom
Bom
Bom
Bom
Freya terkejut mendengar suara nyaring dari toko nya lalu kemudian disusul ledakan besar.
" Kebakaran... Kebakaran.. Kebakaran.. Kebakaran... Tolong kebakaran.. "Freya mendengar adanya kebakaran buru-buru membuka pintu kerjanya.
Freya melihat empat karyawan berlari keluar dari toko. Freya mengambil ponsel, tas dan uang.
" Uhukk...uhuk..uhuk Astaga kenapa kebakaran langsung membesar seperti ini "ujar Freya.
Freya segera berlari keluar namun ia mendengar suara seseorang dari dapur.
" Bu Freya tolong.. Tolong.. Tolong "
"Ibu tolongin saya bu.. saya mohon selamatkan saya bu "
"Ya Allah, Arif " Freya nekad masuk ke dapur menolong karyawan yang ketimpa kayu.
"Freya "
"Freya.. "
"Freya... "
"Freya "
Darlen memanggil Freya setelah memastikan semua aman ia masuk kembali mencari Freya yang belum keluar.
"Freya... Freya "
"Arif kamu bisa pegang pundak saya kan "
"Bisa bu.. "
Arif memegang bahu bos nya."Tolong "
__ADS_1
"Tolong "
"Tolong kami kejebak "
"Tolong kami "
Darlen memeriksa ke dapur karena ada suara dari sana.
"Freya.. Arif "
"Pak Darlen "
"Pak Darlen "
Darlen mengambil alih merangkul Arif.
Freya di belakang mengawasi jika ada yang tertinggal.
Bom
Ledakan terjadi lagi hingga membuat Freya menunduk.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk.. Uhuk.. Uhuk"
"Freya bertahanlah kita akan keluar lewat pintu depan " Freya mengangguk.
Kayu dari atas jatuh Freya mendorong Darlen dan Arif.
"Argh!! " Ringis Freya. Sebab kayu panas itu mengenai kaki nya.
"Freya !!!!!!!! "
"Bu Freya!!! " Api membesar di depan pintu padahal tinggal beberapa langkah lagi Freya akan keluar.
"Freya "
"Pergi... pergi.. pergi uhuk.. uhuk.. uhuk.. "
Pandangan Freya mengelap seiring berjalan waktu dikala ia melihat Darlen di tahan oleh petugas dan juga Robi karyawannya berusaha keras masuk ke dalam sembari meneriakkan namanya.
Cahaya lampu yang terang benderang masuk ke dalam penglihatan seseorang.
"Dok dia sudah sadar "Kata Darlen. Dokter langsung mengecek kondisi Freya.
"Syukurlah dia baik-baik saja. "
"Apa yang terjadi dok ? "Lirih Freya.
"Stsss argh kaki ku "ringis Freya.
"Nyonya jangan banyak bergerak dulu. Kaki anda mengalami luka bakar. Beruntung anda dapat selamat dan bayi anda dalam keadaan baik-baik saja. "
"Luka nya masih basah jadi akan saya resep kan saleb nya " Darlen mengangguk.
"Freya berbaring lah lagi " Kata Darlen. Freya di tuntun Darlen berbaring lagi.
"Bagaimana keadaan yang lain ? Arif bagaimana ? "
"Mereka baik-baik saja. Tidak ada yang terluka.Toko Roti mu terbakar tak tersisa. Polisi mengatakan jika ada jenis bom masuk ke dapur. Polisi sedang memburu pelaku nya "
"Astaga siapa yang melakukan ini ? "Kepala Freya pusing sekali.
Aku bisa saja membuat toko roti mu itu kebakaran.
Freya teringat akan sesuatu. Darlen memperhatikan perubahan wajah Freya.
" Ada apa Freya ? "
"Apa kamu tau siapa pelakunya ? Apa ada yang kamu curigai ?"
Freya mengeleng. "Freya "
"Tolong Darlen aku ingin istirahat " Putus Freya.
Wanita itu berbalik badan memunggungi Darlen. Freya memejamkan mata sembari menitihkan air mata.
Darlen mengusap pelan punggung Freya yang bergetar.
"Menangislah. Kalau itu bisa membuatmu lega. "
"Hiks... Hiks... Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks Hiks.. Hiks Hiks "
Lama Freya menangis mungkin selama setengah jam. Darlen menemani Freya di ruang UGD itu.
"Darlen "
"Ya Freya "
"Aku dulu punya mimpi bisa menikahi laki-laki baik dan kaya raya agar tidak ada lagi yang menghinaku atau meremehkan ku. "Darlen tetap mengusap lembut punggung Freya.
"Tapi menjadi orang kaya yang bergelimang harta tidak semudah itu rupanya. "Darlen mengangguk.
"Bukan aku yang melempar tubuhku pada Sean, Bukan aku yang menyerahkan keperawanan ku, Bukan aku juga yang menginginkan kehamilan ini. Bukan aku juga yang mau dinikahi Sean. Bukan aku. Bukan aku. Tapi bagi orang akulah yang salah "
"Meski aku tidak menginginkan ini semua tapi aku harus menerima keadaan. Menikahi Sean membuatku harus berpikir. Aku ingin memulai hidup baru bersama anak-anakku. Aku ingin merawat dan membesarkan mereka dengan kehidupan yang cukup. Aku berjanji pada diriku akan menjauhkan mereka dari namanya hidup kurang dan susah. "
"Toko Roti itu adalah hidupku. Cita-cita ku...tapi semua hangus begitu saja. Demi keegoisan dan kemarahan seseorang tak berpikir panjang bahwa ada orang lain yang tak bersalah bisa saja meninggal. "
"Ada karyawan dan pelanggan ku di sana. Bagaimana jika terjadi sesuatu tadi. Bagaimana aku menghadapinya. Bagaimana jika sesuatu lebih buruk terjadi. Aku bersyukur Allah masih melindungi dan menyayangiku "
"Aku tidak bisa hidup seperti ini. Mereka orang kaya bisa berbuat semaunya tapi mereka lupa ini tidak akan bisa bertahan lama "
Freya membalikkan badan.
"Aku harus bercerai dari Sean selepas anak-anakku lahir. Aku ingin membawa lari anak-anakku jauh dari Sean. Tolong Pak Darlen bisakah anda membantu saya. Saya mohon Pak. Saya akan ganti uang nya. Tolong bantu saya "Darlen terkejut ketika tangan di raih oleh Freya.
" Ocha yang melakukan ini "Freya mengangguk.
" Berati dia juga yang membuat pundakmu memar "Freya mengangguk.
__ADS_1
Darlen memeluk lebih dulu wanita hamil itu. Freya membalas pelukan Darlen.Freya menangis kembali dan Darlen menepuk pundak Freya dengan lembut.