SERENDIPITY

SERENDIPITY
Perempuan itu, siapa?


__ADS_3

Hangat sinar mentari menyapa di awal hari, memancarkan keelokannya pada semua penduduk muka bumi, angin pagi nan sejuk senantiasa berhembus seolah membagi bahagia kepada berjuta-juta manusia, mengatakan bahwa nikmat Tuhan nan kuasa benar adanya, sudah semestinya kita sebagai makhluk penumpang bersyukur dan menjalani detik per detik pergantian hari dengan baik, menikmati pahit hidup yang mencekik, dan berusaha mengubah segala kekurangan hidup menjadi lebih cantik.


Ah, bicara tentang cantik, hari ini Haifa sendiri sudah berdandan rapi dan apik, flatshoes hitam dan sligbag yang berwarna senada menemaninya hari ini bepergian, tak lupa dengan blouse putih simple nan elegan serta dipadukan dengan celana kulot berwarna mokka, membuat tampilannya semakin cantik dan ayu, Haifa juga sedikit memakai riasan pada wajah putih bersihnya, seperti pelentik mata atau biasa dibilang orang-orang mascara , dan perona bibir yang dia aplikasikan pula sedikit pada pipinya yang putih, ia mematut dirinya di depan cermin kamarnya dan berdecak kala melihat penampilannya yang simple tapi menarik ini. Selanjutnya, Haifa turun dari kamarnya menemui sang Mama untuk berpamitan karna hari ini ia akan berkunjung ke rumah Kahfi.


Haifa memusatkan atensinya pada sang Mama yang sedang duduk di sofa depan tv, seperti biasa, Mamanya sedang menonton sinetron yang dulu Haifa katakan alay, ia lantas memutar bola matanya malas melihat wanita yang melahirkannya itu begitu khusyuk dan khidmat dalam menghayati film, padahal adegannya tidak semenarik itu, baginya.


"Ma, Haifa jadi pergi, ya?" Haifa mengambil duduk di sebelah kiri sang Mama, menggoyang-goyangkan lengan Mamanya untuk meminta perhatian sedikit dari kefokusan wanita itu dalam menonton.


Mamanya melengoskan pandangan pada putri semata wayangnya, lalu memindai penampilan anaknya yang terlihat cantik, tidak ada rambut kusut seperti sarang burung, dan juga muka kusam berminyak sehabis tidur, sekarang tampilan putrinya lebih baik. "Yaudah sana, udah cantik gini pasti nanti Fi klenger liat kamu, hati-hati ya jangan nyelap-nyelip dijalan, mobil Mama lho iki." ujar Mamanya seraya berdiri dan mengantarkan Haifa menuju mobil yang sebelumnya sudah dipanaskan.


Haifa hanya manut-manut saja menuruti kata Mamanya, daripada membantah, yang ada ia bisa gulat dengan Mamanya.


"Mama hati-hati di rumah, kalo bosen nanti bisa ke toko, atau nonton seharian deh biar gak gabut" Haifa terkikik di akhir kalimatnya, ia memasuki mobil dan mulai menstarternya, lalu melambaikan tangannya ke arah sang Mama yang sudah geleng-geleng kepala.


***


"Assalamualaikum" salam Haifa setelah sampai di rumah sang kekasih, ia mengetuk pelan rumah Kahfi sambil berdiri canggung, setelah satu tahun berhubungan dengan Kahfi dan ia juga seringkali bolak-balik di rumah kekasihnya ini, tetapi sampai sekarang rasa canggung masih menggelayuti Haifa, dirinya cenderung malu apabila mengobrol bersama Mama Kahfi, atau sekadar bersapa ria dengan Papanya, tetapi dengan Audi, Haifa dekat sekali, karna ia pribadi sangat menyukai anak kecil, dan calon adik iparnya itu sangat menggemaskan, Haifa merasa jika nanti ia mempunyai anak, seperti Audi saja, sangat lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


"Eh, ada Haifa, masuk Sayang." Mama Kahfi--- Reni menatap calon menantunya itu, ah, cantik sekali, batinnya, anaknya beruntung mendapatkan gadis sopan dan cantik seperti Haifa.


"Iya Tante." Haifa berjalan di samping Reni, setelah Mama dari kekasihnya itu menggandeng tangannya lembut ke ruang makan.


"Kamu udah makan Sayang? ini Mama kebetulan masak banyak tadi, makan yuk?"


"Haifa udah makan kok Tante." ujar Haifa pelan.


"Haifa? ada apa nak? sapa Wijaya sambil meletakkan korannya, pikirnya tumben sekali calon anak menantunya ini berkunjung apalagi sepagi ini.


"Panggil Mama Papa aja ah, Mama gak suka denger panggilan Tante tu" Reni mengelus lengan Haifa yang dari tadi tampak malu-malu.


"Ehh--- iya Ma, Pa" sahutnya pelan, lalu mengalihkan perhatiannya kepada gadis kecil yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang menurut Haifa sangat polos sekaligus menggemaskan, rasanya ia ingin memeluk calon Adiknya ini, "Hai Audi, makan apa cantik?" tanyanya ramah, Ya Tuhan, gemas sekali, pikir Haifa.


"Kak Fa, mam ni?" Audi membalas pertanyaan Haifa dengan balik bertanya, sambil mengarahkan piringnya yang berisi bubur bayi itu.


"Audi makan aja ya Sayang, nanti kita main" Haifa mencubit pipi gadis kecil itu, dan Audi balas tertawa geli karna mendapat cubitan manja dari wanita di depannya ini.

__ADS_1


Reni dan Wijaya hanya tersenyum lembut menatap interaksi Haifa dengan Audi, Haifa sangat keibuan, penuh kasih sayang dan menyukai anak kecil, poin ini sangat cukup untuk kriteria menantu idealnya.


"Tadi Haifa cari Kahfi ya, Nak?" Reni bertanya setelah Haifa selesai meminum sirup jeruk yang ia siapkan tadi.


"Emmm, sebenarnya dari pulang kemarin Kahfi gak ngehubungin Haifa Ma, Haifa jadi mikir gak enak gitu, trus Haifa kesini aja biar kasih Kahfi kejutan." Haifa tersenyum kecil setelah menyudahi kalimatnya.


Mama dan Papanya Kahfi saling pandang, ia juga baru sadar bahwa setelah menerima tamu tadi, Kahfi tidak kembali dan mereka juga tidak diberi kabar apapun oleh anaknya itu.


Reni berdehem sebentar sebelum berbicara, "Sebenernya tadi Kahfi sarapan juga, trus tiba-tiba ada tamu perempuan dateng kata mbok Yum, Kahfi yang liat ke depan, abis itu Mama gak liat dia masuk lagi, kemana ya dia."


"Hmm---? oh mm gitu ya Ma, heheh." Haifa hanya bisa tersenyum canggung setelah mendengar ucapan Reni--- Mama Kahfi, dirinya berpikir siapa perempuan yang mengunjungi rumah Kahfi sepagi ini dan kenapa lelaki itu tidak di rumah setelah menerima tamu perempuan tersebut."


Reni mengelus lengan Haifa, ia ikut merasakan apa yang Haifa rasakan, setelah tidak dihubungi semalaman oleh anaknya, pagi ini calon menantunya itu juga berkunjung dengan niat memberi kejutan, tetapi niatnya tidak terlaksana karna anaknya yang entah pergi kemana. "Kamu disini aja dulu, main sama Audi, ya Sayang? sambil nunggu Kahfi, mungkin dia ada perlu banget tadi" ujar Reni menenangkan.


"Iya, disini aja dulu, bentar lagi Kahfi pulang kok." ujar Wijaya , Papanya Kahfi itu juga ikut menenangkan.


"Hehe iya Ma, Pa, Haifa nunggu aja bentar, Audi, main yuk?" ajaknya pada calon adik iparnya itu. Audi kemudian mengangguk dan menerima ajakan Haifa, ia merentangkan tangannya pertanda ingin di gendong. Haifa memeluk Audi dan menggendong gadis kecil itu gemas, lalu berjalan ke ruang keluarga untuk bermain setelah berpamitan pada kedua calon Mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2