
Haifa bermain dengan Audi hingga beberapa jam, dan matahari juga mulai terik pertanda hari sudah beranjak siang, bahkan Audi sudah mulai mengusap matanya pertanda lelah dan mengantuk. Haifa menepuk lembut lengan Audi dan mengelusnya pelan punggungnya, memberi kenyamanan pada calon adik iparnya agar dapat menjemput lelap.
"Udah tidur ya Audinya?" Reni datang dengan membawakan cemilan kue kering, segelas lemon tea untuk Haifa lalu segelas susu untuk Audi, ternyata putri kecilnya sudah tertidur sebelum meminum susu, Audi memang terbiasa tidur siang tepat waktu.
Haifa tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya kepada Reni.
"Iya Ma, ngantuk banget kayaknya abis main."
"Yaudah, sini biar Mama pindahin ke kamar dulu, biar nyenyak tidurnya." Reni lantas menggendong putrinya dan membawanya menuju kamar sang gadis kecil.
Haifa beranjak membereskan mainan Audi yang berserakan, menyusunnya kembali di tempat hingga kembali rapi.
Setelah selesai, ia duduk sembari memainkan gawainya di ruang tamu, berusaha menghubungi Kahfi, sudah hampir siang tetapi lelaki itu masih belum pulang, Haifa kembali dilanda perasaan gelisah dan cemas.
Klik
Bunyi pintu utama terdengar, dibaliknya ternyata adalah lelaki yang Haifa tunggu sedari pagi, Haifa yang sedang duduk lantas berdiri dengan canggung dan menatap Kahfi yang juga balas menatapnya.
"Fi.." lirih Haifa sambil meneliti penampilan Kahfi.
Kahfi terdiam di depan pintu, mematung, serta terkejut mendapati Haifa berada di rumahnya, astaga.. kenapa ia melupakan Haifa bahkan dalam waktu sehari semalam? Ia bahkan tidak pernah sehari pun tanpa mengabari Haifa, begitu juga sebaliknya.
"Eh.. emm, kamu disini?" Kahfi menyapa Haifa dengan kikuk.
__ADS_1
Haifa melihat gerak-gerik Kahfi yang sama sekali berbeda, terlalu aneh dan kaku. Ia lantas melangkahkan kakinya menuju lelaki itu, dan tanpa aba-aba memeluk Kahfi, membenamkan wajahnya pada dada bidang Kahfi yang selalu hangat. "Kamu kemana? kok gak ada ngabarin aku?" Haifa berseru lirih mengutarakan kegelisahannya, apalagi mengingat ucapan Mama Kahfi yang mengatakan Kahfi pergi dengan wanita.
Kahfi termenung, berusaha menetralisir degup jantungnya, ia mengulang ingatannya beberapa jam yang lewat, bahwa tadi, ada wanita lain yang berada dipelukannya, dan itu bukan Haifa.
Seketika rasa sedih dan perasaan bersalah bersarang di benak Kahfi, bagaimana bisa dia menyakiti wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya? wanita ini bahkan mencarinya disaat ia malah berduaan dengan wanita lain, bahkan... mereka tadi bukan hanya berpelukan.. Kahfi merasa pusing dan bingung, ia berada pada dua keadaan yang berbeda tetapi keduanya sangat berharga. Baginya.
Kahfi mengurai pelukan Haifa pada tubuhnya, dirinya bahkan tidak membalas pelukan Haifa pada tubuhnya, ia terlanjur bingung, dan tidaj tahu akan melakukan apa. "Maaf, gak ada ngabarin kamu, aku ngantuk tadi malam, dan pagi tadi hapeku lowbate, lupa nge-charger."
Lelaki itu mengatakan alasannya dengan nada berbeda, setidaknya bagi Haifa, suara Kahfi terdengar.. lebih dingin? dan penuh kefrustasian. Dan apa? lupa? Bahkan dulu saat mereka akan ujian kenaikan kelas dan handphone Kahfi disita Mamanya agar fokus belajar, Kahfi rela meminjam handphone satpam rumahnya untuk mengabari Haifa, satu lagi, ketika dulu handphone pria itu lowbate ketika mereka sedang Ldr dan Kahfi berada di rumah neneknya yang kebetulan juga padam listrik, Kahfi bahkan rela mencari pom bensin demi mengisi daya ponselnya.
Dan sekarang Kahfi bahkan tidak ingat untuk mencharger hapenya ketika seharusnya ia memberi kabar kepada Haifa. Ini terlalu sulit untuk dipahami, bagi Haifa, dan perempuan itu, siapa? kenapa Kahfi tidak memberi tahu dirinya? sekelebat pertanyaan muncul di benak Haifa.
"Kamu tadi pergi sama siapa, Fi? kata Mama abis nerima tamu, kamu gak balik lagi, makanya aku kesini, niatnya mau kasih kejutan, taunya kamu gak ada." Haifa menatap wajah Kahfi, sekilas melihat jejak lipstik di bibir lelaki itu, Ya Tuhan, Kahfi-nya tidak melakukan apa-apa, kan? ia tidak bodoh untuk mengerti situasi apa yang terjadi pada kekasihnya ini, bahkan ketika ia memeluk Kahfi tadi, harum parfum wanita juga tertangkap di indera penciumannya.
"Fi, ka--mu kenapa?" cicit Haifa di akhir kalimatnya, suaranya bahkan tercekat di tengah-tengah ucapan, air matanya sudah menggenang, dan ia berusaha menggapai wajah Kahfi untuk balas menatapnya, demi Tuhan, Haifa sudah benar-benar akan menangis.
Kahfi menoleh, pada wajah cantik yang berada di depannya ini, sekilas terlihat guratan lelah di wajah kekasihnya, juga tatapan sendu dan kesedihan yang teramat dalam.
Mereka berdua saling menatap, dengan posisi yang sama, Haifa berada di depan Kahfi dan mereka seolah saling menyampaikan sesuatu melalui tatapan, sesuatu yang menjadi awal ketidakpercayaan, sesuatu yang menjadi sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi, karna, akan banyak air mata setelah ini.
"Aku kenapa? aku gak apa-apa, Fa." ujar Kahfi seraya mengelus lengan kiri Haifa.
"Ki--ta, bakal tetap nikah, kan?" Haifa melontarkan kalimat tersebut dengan nada ragu, ia ingin memastikan sesuatu, bahwa situasinya akan tetap sama, Kahfi-nya, akan selalu menjadi miliknya.
__ADS_1
Kahfi gelagapan, ia melupakan sesuatu, bahwa sebentar lagi mereka akan menikah, dan Killa? akan ia kemanakan wanita itu? Haifa dan Killa sama-sama penting bagi hidupnya, bolehkah ia egois untuk memiliki keduanya?
"Iya, kita menikah." hanya itu. Hanya itu ucapan yang terlontat dari bibir Kahfi, seakan ia setengah hati dalam berbicara.
Haifa menggelengkan kepalanya, lantas menundukan pandangannya ke bawah, mencoba bersikap tenang tatkala hatinya sudah patah dan berdarah.
"Kamu... aku gak tau kamu kenapa , Fi, bahkan kemarin malam kita masih baik-baik saja, dan sekarang , disaat aku udah jatuh se-jatuh jatuhnya sama kamu, kamu malah menghancurkan harapan kita, sebentar lagi kita menikah Fi! demi Tuhan jangan kayak gini!
Haifa membentak Kahfi di akhir kalimatnya, wajahnya sudah berurai air mata, menandakan kesedihannya yang sangat kentara.
"Maksud kamu apa? kenapa ngomong kayak gini?" ujar Kahfi sambil mengguncang lengan Haifa dan mencengkramnya erat, bahkan ia tak sadar jika telah menyakiti Haifa pada lengannya.
"Bilang sama aku kalo bekas lipstik di bibir kamu, dan parfum wanita di baju kamu ini bukan apa-apa, bilang!" sarkas Haifa tajam, dirinya ingin terlihat kuat di mata Kahfi, tetapi air matanya sama sekali tidak bisa diajak kompromi, selalu mengalir deras, padahal Haifa sudah menahannya sekuat yang ia bisa.
"I--ni, bukan apa-apa, ya.. kamu salah paham, Fa." lirih Kahfi pelan, ia merasa bersalah setelah Haifa meminta penjelasan tentang bekas lipstick dan parfum itu. Kembali ia tatap Haifa, Kahfi benar-benar tidak sanggup melihat wajah wanita yang menemaninya selama setahun ini begitu rapuh dan sedih. Tetapi ia juga tidak bisa berkata jujur, setidaknya untuk sekarang. Karna Kahfi.. ingin bersikap egois demi mempertahankan mereka.
"Aku anter kamu pulang, Fa."
Haifa menggelengkan kepalanya pertanda menolak, ia menghapus air matanya di pipi, dan berusaha tersenyum, "Sebaiknya kamu istirahat, aku pamit." setelahnya, Haifa membuka pintu dan pulang tanpa memberi kabar kepada orangtua Kahfi.
Untuk sekarang, biarkan seperti ini dulu.
Ia dan Kahfi butuh kata tenang, dan waktu untuk memahami keadaan.
__ADS_1