She is Missing

She is Missing
Chap 1: 12/02 [1]


__ADS_3

~Orang lain tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu~




“Sudah berapa hari dia menghilang?”



Petugas di hadapan Rin menanyakan pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya. Rin menghembuskan napas keras-keras, memuntahkan kejengahan terhadap pertanyaan yang itu-itu saja. Lembar-lembar kertas yang ada di hadapannya ikut terangkat. Diabaikannya pandangan petugas yang kesal dengan kelakuannya. Di ruangan itu hanya Edna yang masih terlihat tenang. Dengan santainya, Edna menendang kaki Rin, mengingatkan sahabatnya untuk mengembalikan ketenangan.



“Dia sudah menghilang tujuh hari dari waktu yang seharusnya,” jawab Rin dengan suara lelah.



“Baiklah. Jadi, kakak Anda –Jun, berangkat dari rumah pada tanggal dua Februari. Menurut jadwalnya, seharusnya dia kembali pada tanggal lima tapi ternyata pada tanggal tersebut kakak Anda belum kembali. Anda beserta keluarga menunggu hingga tanggal tujuh Februari, namun dia masih belum pulang juga. Tidak ada kabar, baik itu dari kakak Anda ataupun teman-teman yang biasanya pergi bersama, sehingga akhirnya Anda memutuskan melapor pada kepolisian pada hari ini, tepatnya tanggal dua belas.” Petugas di hadapannya mengangkat wajah dari layar komputer, menatap Rin dan Edna bergantian hanya untuk mendapat anggukan lemah dari keduanya. “Pertanyaannya adalah kenapa baru hari ini? Kenapa tidak kemarin? Kenapa tidak pada tanggal tujuh? Bukankah itu sudah dua kali dua puluh empat jam? Kenapa harus menunggu lima hari lagi? Kenapa Nona?”



Tangan Rin mengepal kuat demi menahan mulutnya untuk tidak memotong perkataan petugas yang membacakan laporannya. Rin sudah memperkirakan pertanyaan semacam ini akan terlontar, tapi tetap saja ketika hal itu diucapkan membuat hatinya dongkol.

__ADS_1



“Sebelumnya dia pernah menghilang tanpa kabar, tapi pada saat itu ada beberapa kenalannya yang melihat keberadaannya. Sebagai bukti mereka bahkan mengirimi kami fotonya. Dua hari kemudian, dia kembali." Rin mengambil jeda sesaat sembari memikirkan kata-kata yang tepat. "Tapi untuk kejadian kali ini berbeda. Dia sudah mengirimkan foto tiket pulang pada tanggal lima. Jika seperti itu, seharusnya dia pulang sesuai jadwal. Pada tanggal itu, seharusnya dia pulang ke rumah,” Rin mengakhiri jawabannya dengan suara lemas.



Edna mengelus punggung Rin lalu menyunggingkan senyum pada petugas. Diliriknya jam dinding yang bertengger di sisi kanan. Sudah empat puluh lima menit mereka menghabiskan waktu di sini. Edna mendengus. Kenapa laporan kehilangan bisa panjang seperti ini?



“Oh.”




“Baiklah, laporan kalian sudah kami terima. Sekarang, pulanglah dan tunggu kabar selanjutnya dari kami,” petugas itu menggerakkan tangannya ke arah pintu tanpa beranjak sedikit pun dari tempat duduknya.



Rin menatap tajam orang di hadapannya. Ia tahu petugas itu mengabaikannya tapi tetap ia lakukan seolah ada api yang siap membakar.


__ADS_1


“Terima kasih atas bantuannya, Pak!” ucap Edna mewakili Rin yang masih berkeras diam di tempat.



Edna menarik Rin yang masih terpaku di tempat duduknya hingga keluar. Edna menghembuskan napas lega sedangkan Rin mendengus kesal.



“Pantas saja orang-orang malas melaporkan kehilangan”, umpat Rin. “Aku jadi ragu, apa mungkin akan ada kemajuan setelah melapor?”



“Semoga saja,” jawab Edna pendek.



Rin menatap dua orang petugas di meja tamu yang sedang mengobrol sambil tertawa lepas. Hentakan kaki Rin mengalihkan perhatian mereka sesaat sebelum akhirnya kedua polisi itu meneruskan obrolan dan mengabaikan Rin yang menempelkan selebaran di papan informasi. Gambar perempuan dengan rambut sebahu terurai, terpampang jelas. Nama Jun tertulis di sana beserta deskripsi penampilan terakhirnya.



“Apa tidak apa-apa?” tanya Edna ragu.


__ADS_1


Rin mengangkat bahu dengan acuh lalu berjalan menjauh meninggalkan kantor polisi.


__ADS_2