She is Missing

She is Missing
Chap 26: 20/02 [3]


__ADS_3

~Seperti bumerang, semuanya kembali padamu~


 


Awalnya Tiana tidak terlalu ambil pusing ketika kemarin Rin menghabiskan sebagian besar waktu luangnya di teras depan. Hingga tengah hari, Rin baru beranjak pergi. Itu pun karena dia harus kuliah. Tiana malah senang kalau anaknya itu keluar kamar dan menghabiskan lebih banyak waktu di ruang terbuka. Baik untuk sirkulasi udara dan penyegaran diri. Ketika Tiana mengutarakan keheranannya, anaknya itu hanya menjawab kalau dia bosan di kamar, ingin udara segar.


Tapi jika melihat kejadian hari ini, Tiana justru jadi bertanya-tanya. Rin langsung duduk di teras setelah pulang kuliah tanpa mengganti pakaian atau makan terlebih dahulu. Jika saja pada saat itu Tiana tidak keluar rumah untuk membuang sampah, ia tidak akan menyadari kalau anaknya itu sudah pulang.


“Ganti baju dulu, Rin,” tegur Tiana.


“Entar dulu, Ma. Rin masih kepanasan, ngangin dulu,” jawab Rin sembari mengipasi dirinya dengan tangan.


Tiana membiarkan Rin melakukan apa yang ingin dilakukannya. Ia sendiri sedang sibuk membereskan dan membersihkan dapur sembari mencari pisau yang Jun berikan padanya. Oleh-oleh dari perjalanan Jun ke Madura. Seingatnya, terakhir kali Tiana menggunakan pisau itu ketika acara tahun baru. Suaminya mengundang beberapa teman dari kantor untuk acara barbeque menyambut pergantian tahun. Setelah itu, Tiana tidak ingat pernah menggunakannya lagi.

__ADS_1


Dapur hampir selesai dibereskan tapi pisau yang dicarinya belum juga ia temukan. Menanyakan pada penghuni rumah lainnya pun percuma karena pada akhirnya pertanyaan itu akan kembali padanya. Tubuh Tiana akhirnya terkapar tanpa tenaga di atas kursi.


Tiana tidak beristirahat lama, apalagi setelah melihat jam dinding. Setengah jam berlalu semenjak Rin pulang tapi dia masih duduk saja di teras depan. Tiana mengintip melalui jendela, mencari tahu apa yang sebenarnya Rin lakukan. Tidak banyak yang dilakukan anak bungsunya selain duduk sembari memainkan ponsel. Sesekali Rin terdiam seperti sedang memperhatikan sesuatu. Tiana sampai harus menempelkan kepalanya pada jendela untuk melihat apa yang anaknya lihat. Mata Rin berulang kali menatap rumah Mbah Sekar.


Apa yang menarik perhatian Rin untuk terus memperhatikan rumah seorang wanita tua? Lagi pula mereka sudah bertetangga cukup lama. Semenjak Mario membawanya pindah ke tempat ini, Mbah Sekar adalah tetangga pertama mereka.


Tiana tidak bisa berlama-lama memperhatikan Rin, dia harus mempersiapkan makan sebelum suaminya pulang. Masalah Rin bisa Tiana tanyakan nanti.


Setengah jam kemudian, Tiana mendengar suara orang bercakap-cakap di depan rumah. Salah satunya milik Rin tapi seorang lagi, suara seorang pria. Sebelum Tiana sempat membersihkan tangan dari adonan dan mengangkat pisang yang sudah ada dalam penggorengan, Rin masuk bersama seseorang yang sudah lama tidak dijumpainya. Rin masuk menuju dapur dengan wajah sumringah sembari menggandeng lelaki itu.


“Jeff, apa kabar?” Tiana buru-buru mengelap tangannya sebelum Jeff menyalaminya.


“Sore, Tante. Lagi sibuk, ya?”

__ADS_1


“Ya, biasalah pekerjaan ibu rumah tangga. Kapan pulang?”


Tiana mengakat pisang goregnya yang matang lalu mematikan kompor. Ia menggiring anak dan tamunya itu ke ruang tengah.


“Sebenernya kemarin, Tante. Aku sempet hubungin Rin, pake hape orang sih.”


Perkataan Jeff mendapat timpukan dari Rin. “Ya, ampun itu kamu? Aku kira siapa. Orang asing pake topi sama masker di stasiun, ugh!”


Tiana tertawa melihat tingkah kedua orang di hadapannya. Sedikit beban terangkat bersamaan dengan tawa yang menguap ke udara. Tiana sendiri tidak ingat kapan terakhir kali dia tertawa selepas ini hanya karena hal kecil.


“Tan, anaknya saya pinjem dulu, ya. Boleh, kan?”


Tanpa pikir panjang, Tiana mengijinkan Jeff. Lagi pula Rin sudah lama tidak menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri. Dia sudah memberikan cukup banyak beban pencarian Jun padanya. Sedikit refreshing tentu akan sangat membantu.

__ADS_1


“Tapi ingat, pulang jangan terlalu malam, ya?”


Jeff mengacungkan jempolnya sedangkan Rin merangkul dirinya lalu segera pergi. Rumah seketika menjadi sunyi.


__ADS_2