
~Apa yang direncanakan memang seringkali gagal, tidak perlu disesali~
Rencananya pagi ini Rin akan ke kantor polisi meminta bantuan dari salah satu anggotanya untuk mengecek transaksi terakhir kartu ATM Jun. Sementara itu, Rin bisa kuliah dengan tenang. Siangnya, dia akan datang kembali ke kantor polisi mencari tahu hasil penyelidikan mereka. Sore hari, Rin akan menemui Jaya untuk mendapatkan laporan pencariannya mengenai Agatha Kamila. Jadi saat pulang ke rumah, kedua orang tuanya akan mendapatkan perkembangan yang sangat pesat. Itu rencananya.
Nyatanya, Edna menghubunginya pagi sekali untuk memberi tahu kalau kelas jam sepuluh pindah jadi jam tujuh. Selepas kuliah, ketua kabaret menyeretnya ke ruang latihan untuk mempersiapkan pertunjukkan esok hari dan si ketua tidak menerima alasan apapun. Berkali-kali Rin mencoba melarikan diri tapi mata ketuanya seolah bisa melihat pergerakan yang mengarah pada kata kabur. Ketika akhirnya Rin bisa melepaskan diri, dia hanya punya waktu satu jam sebelum waktu operasional bank berakhir. Waktu satu jam tidak akan cukup bahkan untuk menyadari kebodohannya.
Seharusnya tadi dia bisa minta tolong pada polisi lewat telepon untuk mengurus masalah bank kakaknya. Seharusnya tadi dia bisa minta tolong Edna ikut bersama para polisi itu, memastikan sendiri data transaksi kakaknya. Menyesal sekarang tidak ada gunanya. Padahal dia sudah merencanakannya dengan sematang mungkin untuk mengganti hari kemarin yang dia habiskan seharian di kampus. Setidaknya, hari ini Rin masih bisa punya kesempatan mendapat informasi dari Jaya. Tapi kekecewaan lain yang Rin dapatkan.
“Bisa kita ketemu besok saja? Hari ini saya ada urusan lain.”
Jawaban itu melengkapi kehancuran rencana Rin.
Dari pada suasana hatinya semakin runyam karena tidak ada satu pun rencananya yang berhasil, Rin memilih pulang. Kasurnya bisa jadi tempat pelampiasan ternyaman.
__ADS_1
“Kusut banget Rin mukanya. Apa polisi ngasih tahu kamu kalau ternyata Jun itu kabur?” Tante Lala tersenyum melihat Rin yang baru turun dari ojeg.
Semenjak polisi datang ke lingkungan mereka untuk mengusut kasus Jun, setiap sore Tante Lala tidak pernah absen main-main ke blok rumah Rin. Sekedar menyapa Rin dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat hati memanas. Rin memberi senyum tanpa menanggapi. Ia mempercepat langkahnya meninggalkan Tante Lala yang masih menatapnya.
“Punya mulut jaga to La, wis ndak punya empati sanget. Jun itu anak baik ndak mungkin dia kabur-kaburan ndak jelas. Pikir anak gadismu itu yang justru sering keluar ndak jelas. Dia kelas tiga kan sekarang? Gimana kalau dia ngilang kayak Jun? Gimana kalau anak gadismu kabur karena ndak tahan ngadepin ibunya yang suka ikut campur urusan orang? Mbo ya doain biar Jun cepet ketemu.”
Suara nyaring Mbah Sekar menjadi penyegar hati Rin. Tanpa sadar, bibirnya melengkungkan senyum puas. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat reaksi Tante Lala secara langsung. Namun matanya justru terpaku pada satu sosok yang tengah berdiri di pintu rumah Mbah Sekar. Seorang gadis dengan tatapan tajam tengah memperhatikannya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, merasa tidak nyamana dengan tatapan gadis itu. Setengah berlari, Rin meninggalkan adegan yang sebenarnya tidak ingin ia lewatkan.
Untuk beberapa saat, Rin hanya terlentang di atas kasur, menatap langit-langit yang warnanya mulai kusam. Pikirannya benar-benar kosong. Tapi kemudian, Rin merogoh ponsel dari dalam tasnya. Ia mencoba menghubungi Jeff beberapa kali namun lelaki itu tidak mengangkat panggilannya. Dihubunginya Edna dan sahabatnya itu pun tidak mengangkat panggilannya.
“Bodohnya aku, dia kan lagi ke rumah sakit.”
Saat ini tidak ada seorang pun yang bisa Rin ajak bicara. Ia menghempaskan tubuhnya kembali lalu menatap layar ponsel yang membisu. Rin membuka selebaran yang ia bagikan di media sosial. Sudah tidak terlalu banyak yang berkomentar, hanya jumlah sharing yang bertambah. Beberapa temannya menanyakan perkembangan pencarian Jun, sekedar berbasa-basi. Begitu juga dengan teman-teman kakaknya.
__ADS_1
Terkadang Rin merasa sudah salah langkah karena membuat selebaran tentang Jun dan membagikannya di media sosial. Warga dunia maya lebih banyak ingin tahunya dibandingkan memberi bantuan. Tidak berbeda jauh dengan Tante Lala dan mulut nyinyirnya. Setidaknya itu yang Rin alami saat ini. Seandainya tidur bisa menghapus semua masalahnya jadi saat dirinya bangun semua keadaan sudah kembali normal.
Mata Rin hampir saja terpejam jika saja ponsel di tangannya tidak berbunyi dan bergetar kencang. Kantuk yang sempat datang pun langsung hilang entah ke mana. Meski kesal dengan orang yang meneleponnya, toh telepon itu tetap diangkat juga.
“Halo?”
Sapaan Rin hanya mendapat balas hening. Keningnya mengerut. Ia tatap layar ponselnya, penelepon itu tanpa nama, tanpa nomor. Di-private.
“Halo?” sapa Rin untuk kedua kalinya.
“Ha … halo …” kemudian telepon itu terputus.
Rin mengernyit. Selama hampir sepuluh hari ini dirinya memang sering menerima telepon aneh sehubungan dengan kakaknya. Tapi telepon ini bisa dibilang yang paling aneh. Memutuskan sambungan sebelum benar-benar mengatakan sesuatu.
“Aneh!”
__ADS_1